Gadis Liar

Gadis Liar
61


__ADS_3

"Sered dia dan kurung dia di ruang bawah tanah. " teriak seorang laki laki yang sudah berumur turun dari sebuah mobil jeep berwarna hitam. Ia adalah eyangnya Kevin.


"Ra tunggu aku. Aku akan kembali, aku janji. " Adel menganggukan kepalanya, lalu Kevin berjalan berbalik meninggalkan Adel yang menatapnya tak rela. Kevin menaiki mersi putih tersebut. Punggungnya mulai menghilang disertai wajah tampanya itu yang tak terlihat.


Tiba tiba ia meminta supirnya berhenti sebentar, dengan cepat Kevin berlari ke arah Adel lalu memeluknya. "Ra aku cinta kamu, kamu dengar itu, jangan pernah pergi dariku, tetap tunggu aku. "


Adel menangkupkan kedua tanganya di pipi Kevin ” Aku akan selalu menunggumu, aku janji Kev. " Kevin mengecup kening Adel lalu berjalan meninggalkanya. Meliat kepergianya ia mulai lemas badanya terhuyung ke belakang, sedih rasanya hati ini dipisahkan dari suami tercintanya.


Adel berjalan memasuki rumah abangnya itu. Fikiranya menerawang masa lalu yang indah. Kini ia sendiri lagi, kebahagiaan itu sangat singkat baginya. Memikirkan hidup tanpa Kevin saja ia tak sanggup, apalagi jika benar benar harus melepaskan Kevin selamanya. "Apa aku sanggup. " ia terkulai lemas diatas sofa di ruang tamu.


Tepat pukul 12 Ayra pulang dari operasi citonya. Melihat Adel yang begitu sedih Ayra ikut menjatuhkan tubuhnya di sofa, ia tatap wajah sedih adiknya itu. "Raa... Kamu kenapa? " Tiba tiba saja Adel menangis sedih, membuat Ayra memeluknya erat. "Dimana Kevin. " Adel menggelengkan kepalanya disertai isak tangisnya, lalu menceritakan kejadian siang tadi sepulang menjemput Derrick.


Tanpa terasa waktu sudah menjelang malam, tidak ada kabar dari Kevin, membuat hatinya sedih. "Ra... " sapa bang Ar yang masuk ke kamarnya, ia sudah mendengar ceritanya dari Ayra, "bang Ar turut prihatin ya Ra." Adel mendongakkan kepalanya, dengan tegar ia berusaha kuat didepan abangnya, karna Adel tau Arion akan sangat cemas ketika Ayra sakit hati seperti ini.


Arion menarik kepala Adel lalu meletakkan di pundaknya. "Menangislah Ra, jangan ditahan. " Adel menahan tangisnya hingga isaknya yang berat keluar dari cela cela tangisnya. Air matanya deras bagaiakan hujan lebat.


"Hiks.... Hikss... Hikss... " Arion merasa sangat bersalah kepada adiknya itu. Melihatnya sedih membuat hatinya ikut hancur. Diusapnya rambut Adel dengan lembut, dan menepukan tanganya perlahan di dadanya.


"Kevin pasti bisa kembali kepadamu Ra, aku yakin itu. " jelas Arion memberikan semangatnya. Ia ingin menanyakan apakah ia akan pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya atau tidak sayangnya ia tak sampai hati, keadaanya sedang kacau saat ini. Dan mungkin pertanyaan demikian akan membuatnya bertambah sedih. Belum lagi pertengkaran hebat yang akan terjadi antara abang dan daddy nya yang tidak mungkin dihindari setelah ia kembali.


*


"Eyang..... Keluarkan aku dari sini. " berontak Kevin kepada penjaga kamar di ruang bawah tanah. Eyangnya hanya menatap sinis cucu kesayanganya itu.


"1 bulan lagi kamu akan menikah dengan Agni, jadi tunggu saja disini dengan sabar. " ucapnya kepada cucunya. Mata Kevin tampak melotot, pupilnya melebar, skleranya mendadak sedikit memerah menandakan ia mulai tersulut emosi.


"Asal eyang tau, Kevin sudah menikah dengan Ara, dan sampai kapanpun Kevin hanya akan hidup bersama dengan Ara. " ucapnya memperjelas jawabanya.


"Pernikahanmu hanya lelucon Kev. " eyang Kevin meremehkan pendapat dari Kevin. Kevin menarik sudut bibirnya, senyumnya yang penuh dengan kemarahan itu ia tampilkan.


"Sampai matipun Kevin tidak akan pernah menikah dengan orang lain kecuali dengan Ara." Ya ini janji Kevin, meskipun ia harus memutuskan hubungan darahnya dengan keluarganya. Baginya itu tak ada apa apanya, setelah ibunda dan ayahandanya meninggal ia memang tidak punya siapapun. Itulah mengapa ia enggan untuk hidup bersama keluarganya di Inggris.

__ADS_1


Mengingat kembali bahwa Alfa dan Anes mempunyai seorang putri, yang usianya tak jauh berbeda dengan Adel, dan putranya yang masih berumur 2 tahun. Tidak mungkin jika tahta kerajaan diberikan kepada Cellin Audreanandita Markle. Sehingga tahtanya akan diturunkan terhadap Kevin dan dilanjutkan oleh putra ibunda dan ayahanda yang merupakan paman dan bibinya itu.


"Satu bulan lagi kamu akan menikah dan menetap di Inggris, jadi persiapkan dirimu menjadi raja di Inggris. " eyangnya berlalu meninggalkan Kevin. Ia sangat frustasi mendengar rencana eyangnya itu.


"Tuan muda silahkan makanan dan minumanya. " seorang maid datang membawa nampan berisi nasi dan lauk lengkap dengan buah dan minumanya. Desela selanya terjepit sebuah surat. Ia heran kenapa tissu yang membungkus sendoknya sangat tebal.


"Surat.... " perlahan Kevin membukanya, tertera sebuah nama Cellin disana. Bahwa Cellin akan membantu Kevin kabur. Kevin tersenyum, ia akui bahwa niat baik adiknya itu membuatnya bahagia dan saat ini sangat ia harapkan.


Cellin adalah adik Kevin yang sangat dekat, apalagi mengingat kedekatanya 9 tahun lalu ketika Kevin menempuh masa residensinya bersama di Inggris. Kedekatan mereka bahkan melebihi hubungan adik dan kaka kandung.


Cellin tau betul perasaan abangnya kepada Adel yang bahkan setiap malam diidam idamkan dan diimpi impikan oleh Kevin, ia sangat paham terhadap Kevin yang tidak mau hidup di Inggris, sebenarnya Cellin juga malas hidup didalam istana itu. Karna aturan yang tiada habisnya, dan terlalu memaksa baginya.


Setelah menikmati makan malamnya, ia merebahkan dirinya, tadi malam ia masih bersama Adel, memanjakannya tertawa bersama, menatap wajah cantiknya, mata hazelnya, bahkan senyum indah yang selalu membuat Kevin bahagia menatapnya.


"Ra aku rindu kamu. " Rindu ini lebih menyiksa, terpisah dari seorang istri yang selama satu bulan ini mendampinginya, menemaninya membuat hatinya begitu sesak mengingat Adel tak lagi bersamanya. Tak terasa air matanya mengalir sama seperti Adel yang sedang menangis saat ini.


"Ra... Kamu sedang apa? " bahkan kabar saja ia tak bisa berikan kepada Adel. "Suami macam apa aku Kev. " ia mengacak rambutnya frustasi, ini bahkan baru malam pertama ia terpisah dari Adel. Andai saja ia menetap di Bali, mereka saat ini masih bahagia di sana. Bercumbu mesra bersama, bercerita tentang masa lalu yang tidak bisa mereka lewati bersama.


*


"Kenapa seperti ini.... Kev... hiks... Kevin aku rindu kamu... hiks " Adel berjongkok menelungkupkan kepalanya di lutut yang ia tekuk, hatinya teriris, rindunya menyesakkan, dan membuat kepalanya sesat berdenyut nyeri, lalu ia berjalan menuju nakas, diambilnya sebuah kotak transparan berisi obat berwarna biru. Belum sempat ia meninumnya gelas yang ia pegang jatuh.


"Prankk.... "


"Ara.... "Kevin terperanjat kaget dari tidurnya, rasa khawatir meliputinya, hatinya ikut gelisah memikirkan apa yang terjadi pada istrinya. Ikatan batin mereka begitu kuat. "Ra kamu kenapa.... Mudah mudahan kamu baik baik saja Ra. " doanya kepada istri tercintanya.


"Ra.... " Ayra membuka pintu kamar Adel, dilihatnya Adel yang sudah terkulai lemas dilantai, membuat Ayra berteriak membangunkan Arion. "Arrr..... " teriak Ayra kepada Arion.


"Ara... " Arion mengecek respon Ara. Tidak ada respon, Arion mengecek nadi di karotisnya, melihat pergerakan dadanya yang masih simetris antara kanan dan kiri. "Kita bawa ke rumah sakit Ay. " titah Arion, Ayra berjalan menuju kamarnya lalu memapah Derrick yang masih tertidur.


Arion membawa Adel ke rumah sakit negri, ia tidak mau keberadaan Adel diketahui mommy, daddy Adel dan mama papanya. Sesampainya di rumah sakit seorang dokter umum melakukan anamnesa kepada Ayra dan Arion. Bahkan tentang obat yang biasa ia konsumsi dan riwayat penyakit dahulu.

__ADS_1


Seorang perawat yang selesai memasang infus dan hendak memberikan terapi obat, dengan cepat, namun Ayra mencegah perawat tersebut. "Tunggu, jangan berikan apapun, dimana dokter umumnya? " cegah Ayra membuat Arion keheranan kepada Ayra.


"Kenapa Ay....? " Arion mendekati Ayra yang menuju nurse station dimana ada dokternya yang sedang menulis status pasien. "dok.... "


dokter tersebut menatap wajah Ayra. "Ya... Ada yang bisa saya bantu? " tawar dokter tersebut dengan ramah. Melihat administrasinya yang menerangkan bahwa pasien adalah seorang dokter, dan kedua keluarganya ini juga pasti bukan orang biasa.


"Tolong cek pp test pasien sebelum diberikan terapi dok." mata dokter tersebut membulat, ia bahkan melupakan hal tersebut. Dengan segera dokter tersebut meminta perawatnya untuk memasang folley katether dan mengambil sample urinya.


Nurse station adalah ruang perawat


Folley catether adalah sebuah selang atau kateter yang dimasukan ke dalam kandung kemih.


Sample adalah bahan yang akan diuji


Urin adalah air seni.


Pptest adalah tes kehamilan


Setelah menunggu beberapa menit hasil pp test pun keluar. "Hasilnya positif dok, tapi masih samar. " ungkap perawat tersebut


Ayra menutup mulutnya, ia kaget padahal Ayra hanya berjaga jaga saja mengingat Adel memang sudah menikah, dan takut kalau ia mengonsumsi terapi analgetik berlebih akan membahayakan janinnya.


Terapi analgetik adalah terapi untuk mengurangi rasa nyeri.


Arion yang sedari tadi menemani Adel, berjalan menuju nurse station untuk memastikan hasilnya "Ayra.... Bagaimana hasilnya? " Ayra menunjukan sebuah hasil laboratorium tersebut. Bukan hanya Ayra, Arion saja kaget melihat hasilnya. Matanya sampai mau copot karna terlalu dipaksa melotot. "Ara hamil? " Arion memastikan jawaban Ayra.


"Ya.... " jawab Ayra singkat, rasa bahagia menyelimuti hati Ayra dan Arion, tapi mengingat hubungan antara Adel dan Kevin yang saat ini saja tidak jelas membuat mereka sedih. Mereka berjalan menuju ruang pesien dimana Adel terbaring lemas disana.


"Abang..... " suaranya lirih hampir tak terdengar oleh Ayra dan Arion. Membuka mata saja Adel kesulitan, rasanya badanya sangat lemas. Mungkin karna memang Adel seharian tidak makan nasi, semenjak Kevin pergi, Adel mengurung dirinya. "Bang Ara kenapa? "


Arion dan Ayra saling tatap, "setidaknya kehadiran janin di dalam perut Adel mampu membuat Adel bahagia, dan mungkin akan membuat ia benar benar kuat menghadapi masalah demi masalahnya." pikir Arion.

__ADS_1


"Ra..... " Adel menatap wajah abangnya yang entah dengan ekspresi apa, antara bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Seolah takdir Tuhan memang direncanakan seunik ini. "Kamu hamil. "


"Deg" ada rasa kaget, ada rasa senang, ada rasa sedih yang bercampur menjadi satu. "Ara hamil bang? " Adel mencoba memastiakan kembali kebenaran yang baru saja diungkapkan oleh abangnya.


__ADS_2