Gadis Liar

Gadis Liar
89


__ADS_3

Cila saat ini berada tepat di belakang wanita yang berbaju putih itu. Cila tidak paham, siapa wanita itu, sepertinya ia salah menduga, posturnya tak mirip dengan tante Kinan.


"Maaf apakah kamu mencariku." Suara itu membuat jantungnya bergetar, dengan cepat ia memalingkan wajahnya, gadis kecil yang sangat mirip denganya berada tepat di depan matanya.


"Cilaaaaaaa.... "


"Bunda......... "Cila berlari sekencangnya, lalu memeluk bundanya dengan erat. Air matanya begitu deras keluar dari kelopak matanya."Huuuuuu..... Huuu.... Huuu" tangisnya mengeras, membuat Adel juga ikut menangis. "Bunda kemana aja? "


"Cila....... Bunda kamarin berobat, dan sekarang bunda kembali. " jelasnya kembali memeluk gadis yang sudah mulai dewasa ini.


"Ra....." Panggil Saka dari arah lain, membuat keduanya menatap keberadaan sosok lelaki yang memanggil bundanya.


"Kita pulang saja, kamu terlalu menarik perhatian di taman ini." ajak Saka. Membuat Cila menatap lelaki yang memanggil lembut ibundanya.


"Siapa bunda?" tanya Cila, wajahnya kini ikut memanyun, ia takut ibundanya juga akan menikah lagi.


"Dia..... " Adel berdiri lalu mendekati Saka. "Sahabat sejati bunda." jelasnya, lalu Saka mengulurkan tanganya kepada Cila, hampir saja Cila tak mau mengulurkan tanganya.


"Cila..... Tenang saja om bukan calon papa baru kamu, om sahabat ibundamu." jelas Saka kepala Cila. Senyum Cila mengembang. Begitulah seorang anak yang ketika bertemu dengan seseorang lawan jenis dari teman orang tuanya, apalagi jika menyangkut hubungan yang lebih serius. Akan banyak hati yang terluka dari anak anak kita.


Sebuah rumah tangga seharusnya dibangun dengan pondasi yang kuat, saling mengimbangi dan saling melengkapi, harus ada yang saling memaafkan. Agar bisa selalu bersama, karna ketika kedua orang tua berpisah akan banyak putra putri yang terluka akibat perpisahan mereka.


Sesampainya dirumah, ya sebuah apartemen yang Adel sewa, tempatnya agak jauh dari tempat tinggal Cila. "Ra aku pamit ya...." Saka masih dengan lembut mengusap kepala Adel. Lalu membungkukan badanya dan mencondongkan badanya kepada Cila. "Cila... Om pamit ya. " ucapnya kepada Cila.


Cila mengangguk, ada sesuatu yang mengganjal di hati Cila melihat Saka mengusap kepala bundanya disusul oleh ibundanya yang juga mengantarkan Saka sampai depan pintu. Cila pun berjalan mengikuti keduanya.


Adel menarik nafasnya dalam lalu memanggil Saka. "Sak..... " air matanya mengumpul dipelupuk matanya, lalu menangis didepan Saka. Ia ingat betapa kejam dirinya yang memanfaatkan Saka hingga detik ini.


Saka menyeka air mata di pipi Adel. "Jangan merasa bersalah Ra, ini bukan salahmu, ini pilihan hidupku untuk tetap ada dibelakangmu" ucap Saka lalu menyisipkan anak rambut di pipi kanan Adel. Mesra satu kata yang Cila tangkap.


Pagi ini mereka sampai di Indonesia. Lalu mencarikan apartemen untuk Adel, bahkan semua perlengkapanya Saka yang memenuhi. Harus dengan apa Adel membalasnya, tidak akan bisa dibalas karna bahkan cinta Adel bukan untuk Saka.


Adel menganggukan kepalanya. Lalu mencoba tersenyum kepada Saka. "peganglah" sebuah kartu Atm milik Saka ia berikan kepada Adel. Adel dengan sigap menolaknya.


"Ini aku hitung hutang Ra... Terimalah " ungkap Saka tertawa mengejek. Membuat Adel tersenyum mendengarnya. Lalu menerima Atm tersebut. "Datanglah ke rumah sakitku, jika kamu mau membayar hutang, akan aku berikan pekerjaan." ucap Saka masih dengan senyumnya.


"Baiklah, tunggu aku di rumah sakit, aku akan membayar hutangku. " jawabnya dengan senyum yang mengembang.


Flash Back On


Malam itu setelah pulang dari Islandia Adel merasa sangat bersalah pada Saka. Satu kalimatpun tak keluar dari bibir Saka. Hingga beberapa minggu, Saka mengurung dirinya.

__ADS_1


Suatu hari Saka datang menemui Adel yang begitu giat melakukan fisiotherapi. "Lakukan dengan baik Ra, jika kamu pulih dengan cepat kita akan balik ke Indonesia" ungkapnya membuat Adel tersenyum bahagia.


Benar saja hampir 1 tahun Adel menjalani fisiotherapi, bahkan Saka mengajarkan Adel memetik gitar, cara ini lumayan bermanfaat dan dapat menghibur diri.


Seseorang yang terkena stroke akan sangat susah kembali ke keadaan semula, apalagi seseorang yang selama 7 tahun di tempat tidur, jika perawatanya tidak benar maka Adel hanya akan menjadi pasien badrest yang tak mampu melakukan apapun. Penuh dengan luka dekubitus, tulangnya mengalami kontraktur, dan atropi.


Luka dekubitus adalah luka terbuka pada permukaan kulit yang sering muncul pada pasien yang mengalami hambatan dalam pergerakannya (mobilitas).


Kontraktur atau kekakuan otot


Atrofi otot adalah kondisi di mana terjadi penurunan massa otot. Hal ini biasanya akibat dari cedera atau adanya suatu penyakit, sehingga bagian tubuh tertentu tidak digerakkan dalam jangka waktu yang cukup lama.


Segala alat musik Adel gandrungi untuk melatih jemarinya, bahkan setiap hari Adel bersusah payah berlatih untuk berjalan. Untung saja kakinya tidak mengalami pengecilan, karna ahli fisiotherapis rutin melakukan ROM kepada anggota gerak Adel setiap 2 jam sekali.


Fisioterapi adalah tindakan rehabilitasi untuk menghindari atau meminimalkan keterbatasan fisik akibat cedera atau penyakit.


Range Of Motion (ROM) adalah latihan menggerakkan bagian tubuh untuk memelihara fleksibilitas dan kemampuan gerak sendi.


3 tahun sudah Adel bersama Saka, hingga dirinya benar benar pulih lalu Saka mengajaknya pulang kembali ke Indonesia.


"Bersiaplah Ra, pagi ini kita akan kembali ke Indonesia." ucapan Saka mampu membuat Adel tersenyum dengan girang. Adel pelukan tubuhnya pada Saka tanda terimakasihnya karena begitu sabar merawatnya, padahal ia selalu menyakitinya.


Adel menatap punggung Saka yang sudah tak terlihat hingga lamunanya terbangun karna teguran Cila. "Bunda..... " Adel masih menatap bayangan punggung yang sudah tidak terlihat.


"Bunda.... "Panggilnya manja, Cila sedikit kesal karna bundanya terlalu memperhatikan Saka.


"Ia sayang." ucapnya dengan penuh senyum, Adel mendorong Cila masuk ke dalam apartemenya. Cila melihat koper yang masih utuh dan makanan yang tertata di meja makan dengan rapi.


"Bunda baru sampai yah? " tanyanya, bahkan furniturenya masih tertutup kain putih." Adel menganggukan kepalanya.


"Om Saka langsung mengantar bunda untuk bertemu dengan Cila. " jelasnya, yah selelah apapun memang Saka sejak dulu selalu memprioritaskan Adel.


"Bunda suka sama om Saka? " tanyanya kepada Adel dengan wajah kepo. Tapi tetap saja memperlihatkan raut wajah yang tidak suka.


"Tidak sayang, om Saka adalah sahabat sejati bunda, dia adalah lelaki yang sangat baik, bahkan ayahmu tidak sebanding dengan om Saka. " lagi lagi Adel memuji Saka.


"Berarti bunda cinta sama om Saka. " judgenya membuat Adel tersenyum kepada Cila.


"Dia sahabat bunda sahabat sejak SMA, beda dengan ayah, dihati bunda cinta sejati bunda hanya ayahmu. Kamu akan mengerti kelak jika dewasa." jelasnya mengusap wajah Cila lembut lalu mengecupnya.


"Cila telphon ayahmu.... Bunda takut ayahmu mencarimu." pinta Adel ia menjatuhkan tubuhnya pada sofa empuk di ruang tamu di samping Cila. Cila lalu membuka ponselnya dan memanggil ayahnya.

__ADS_1


Hampir saja lupa memberitahu Cila. Adel dengan cepat menarik ponselnya dan menggeser tombol merah. "Kenapa bunda. "


"Katakan kamu berada di rumah temanmu. " pinta bundanya kepada Cila. Cila heran kenapa harus berbohong.


"Kenapa bunda, bunda gak pengin kembali bersama ayah lagi. " pertanyaan ini membut Adel bingung, statusnya saat ini bukanlah istrinya, setelah 3 tahun Adel dan Kevin berpisah maka itu setara dengan perceraian.


"Sayang kali ini bunda gak bisa jelasin, dan Cila harus nurut sama bunda, maka Cila akan bertemu bunda kembali. Jika Cila mengatakan keberadaan bunda, maka bunda akan pergi meninggalkan Cila" Cila dengan cepat menganggukan kepalanya, ia tidak mau berpisah dengan bundanya lagi.


"Lalu kapan bunda akan menemui ayah? " Adel menarik nafasnya dalam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan putrinya. Sebenarnya sangat ingin bertemu dengan Kevin, tapi ia urungkan setelah tau bahwa Kevin akan menikah dalam waktu dekat.


"Ada saatnya bunda akan bertemu ayah." jawabnya tanpa kepastian. Hingga Cila mendesah dengan kesal.


"Ayah mau menikah bunda." ucap Cila, wajahnya sayu, bahkan Adel juga sudah mengetahui ini. Saka sudah memberitahukan detail informasi Kevin yang akan menikah dengan wanita yang menurutnya baik.


Adel sudah mecari tau silsilah Kinan, dan dia wanita baik baik menurutnya. "Cila sayang.... dengar bunda! Bunda akan selalu ada buat kamu dan ayahpun demikian, jadi tidak ada alasan Cila tidak menerima tante Kinan."


"Tapi bun. " sanggah Cila. Cila bahkan tidak ingin menerima, dan akan menggagalkan pernikahan ayahnya.


"Kamu akan mengerti ketika kamu dewasa sayang. Diusia ayahmu saat ini memang harus ada pendampingnya" ucap Adel meyakinkan. "Tante Kinan juga orang yang baik " pujinya pada Kinan.


"Pokoknya Cila gak mau. Cila maunya cuma punya satu bunda " Cila berlari menuju sembarang ruangan dan Adel mengejarnya.


Adel dengan sigap memeluknya. Adel pun sama ia tidak bisa melepaskan Kevin, tapi.... Ia tak bisa egois, jika Adel muncul tiba tiba bukanya hanya akan merusak suasana. Padahal pertunanganya akan dilaksanakan minggu depan.


"Cila.... Kamu tidak harus menerima tante Kinan, tapi kamu harus hargai ayah kamu, karna ini adalah keputusanya. "


"Apa bunda juga akan menikah dengan om Saka? " Adel menggeleng, sebagai jawaban tidak.


"Sudah jangan bahas itu lagi Cila, sekarang makan, lalu bunda akan mengantarkan kamu pulang." ucapnya sambil mendorong Cila ke ruang makan. Setelah makan dan mandi, Adel bersiap siap mengantarkan Cila menggunakan jasa grab.


Sebenarnya Saka menawarkan mobil untuk Adel, tapi Adel sungkan ia sungguh sudah terlalu banyak berhutang padanya. "Bunda.... tidak bisakah Cila menginap di rumah bunda? " tanyanya dengan harapan bundanya akan mengijinkanya menginap.


"Nanti kalau Cila libur, Cila bisa menginap bersama bunda." janjinya kepada putrinya. Ia akan mengikuti alur entah kapan ia akan bertemu dengan orang orang yang ia rindukan, tapi setidaknya untuk saat ini hingga pernikahan Kevin dan Kinan, ia akan berusaha menghindarinya.


Setelah sampai di kediamanya, ia memarkirkan mobilnya jauh dari rumah, ia tidak mau ambil resiko, karena keberadaanya akan menghancurkan semuanya. "Cila selamat malam putri bunda yang cantik." Adel dengan gemas mencium putrinya yang cantik jelita ini.


Cila turun dan berjalan memasuki rumahnya, hari sudah hampir gelap, sehingga Adel meminta Cila untuk cepat memasuki rumahnya, ia takut akan membuat masalah untuk Cila nantinya jika ia mengantarkan terlalu larut.


"Pa.... Jangan puter balik dulu" pintanya pada tukang grab mobilnya. Adel menikmati suasana rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan. Setelah ia rasa sudah cukup mengenang masa lalunya, ia meminta bapak supir tersebut berjalan meninggalkan rumah tersebut.


Tak lama mereka berpapasan dengan Kevin di lampu merah, ia melihat Kevin dengan Kinan, mereka tampak diam tidak ada canda diantara Kevin dan Kinan. Perlahan air mata Adel turun, rasa sakit, rasa rindu, rasa sesak dan emosi yang sesaat menyeruak di lubuk hatinya bercampur menjadi satu.

__ADS_1


__ADS_2