
"Insyaa Alloh dad. " jelasnya, memang belum mantap, tapi ia berjanji setelah satu tahun ia akan mengambil keputusan.
"Na..... Ara akan bahagia apapun yang kamu putuskan, karna hanya kamu lelaki yang sangat dicintai, dan yang jelas Ara pasti menginginkan yang terbaik buat kamu dan Cila Kev" jelasnya dengan bahasa yang halus, ia tak ingin menyinggung perasaan menantunya. "Tapi.... Ara akan lebih bahagia Kev, jika kamu bisa mencari pengganti Ara"
"Deg" tak pernah disangka, bahwa mertuanya akan mengungkapkan hal demikian. Ucapanya seperti Adel ketika terakhir kali bersamanya, meminta Kevin untuk mencoba mencintai orang lain.
"Itu tidak akan pernah terjadi dad, dan Kevin tidak ingin membuka hati untuk siapapun" ungkapnya dengan menolak permintaan mertuanya. Ia tidak pernah membayangkan wanita mana yang bisa menggantikan Adel di hati Kevin.
Membayangkanya saja Kevin tak ingin, apalagi benar benar menjalin hubungan dengan wanita selain Adel. Sepeninggalanya, Kevin akan mencintai dan berusaha setia sampai mereka dipertemukan di alam yang berbeda nanti, fikirnya dan inginya.
"Na.... Kamu tidak ingin, tapi Cila butuh sosok ibu, dia butuh sosok perempuan agar dia juga bisa merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu Kev. Ini permintaan mommy kamu, dan menurut daddy ini juga yang terbaik buat kamu" jelasnya membawa nama momny Ara dalam percakapanya
"Ada ada saja mereka, Ara saja masih terbaring disini, dan aku disuruh mencari penggantinya." batinya tak terima dengan pendapat mertuanya. Tapi memang ada benarnya juga, Cila memang butuh sosok ibu mengingat sejak lahir ia mengenal mommy nya namun hanya dapat bercakap tanpa mendapatkan feed back dari mommy nya.
"Akan Kevin pikirkan permintaan mommy dan daddy. " aturnya lembut, ia tidak ingin menyakiti atau menyinggung mertuanya. Axel mengusap kepala Adel lembut, lalu beranjak meninggalkanya.
*
Kevin berangkat ke rumah sakit, seperti biasa setiap kali ia berjalan melewati IGD, karna begitu banyak kenangan manis bersamanya di ruangan itu. Ia menatap dengan senyum indah di meja dokter.
Tampak seorang wanita sebut saja ia dr. Andhara, dr. IGD yang sudah setengah tahun mengabdi di rumah sakit yang Kevin pimpin. "Maaf ada yang bisa saya bantu? " tanya dr. Andhara yang melihat Kevin menatap dr. Andhara dengan senyum penuh pesona.
Mendapat teguran dari dr. Andhara wajahnya sayup, lalu menutup matanya perlahan, tampak air mata yang mengalir walau hanya satu tetes. Nampaknya kenangan itu benar benar menyiksa batinya.
Desi perawat jaga yang ada di IGD menarik dr. Andhara lalu berbisik keras kepadanya. "Itu direktur kita dok. " ucapnya menarik tangan dr. Andhara yang sangat lugu dan ramah.
"Maaf dokter Kevin, dia tidak tau kalau anda direktur rumah sakit ini. " ucapnya. Kevin yang sadar bahwa kelakuanya membuat seseorang salah paham, beranjak tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
"Des... Itu siapa? Ganteng banget ya" pujinya yang membayangkan dr. Kevin tersenyum kepadanya. Desi melototkan matanya jengah kepada dr. Andhara.
"Dia direktur kita dok, dia sudah menikah dan punya anak. " jelas Desi membuat Andhara terbelalak. "Kalau sudah punya istri kenapa dia tersenyum dengan manisnya kepadaku" batinya, seolah menjadi chemistri bagi Andhara.
"Apa mungkin istrinya tak secantik aku. " ucapnya memuja diri sendiri. Desi hanya melotot lalu mengungkapkan ekspresi jengahnya pada dr. Andhara.
"Behhh.... " ucap Topan mengejek, salah satu perawat laki laki di IGD tersebut. "Loe gak tau si, istri dr. Kevin itu tiada bandingnya disini, udah cantik, pinter, baik hati, pengertian, gak kepoan, gak pedean.... Dan yang pasti super perfec. " ucapnya memuji dr. Shava
__ADS_1
"Ia bener, dokter Shava itu cantik dan mirip Dilraba, artis papan atas di Cina. " puji Desi, yang memang dekat dengan dr. Shava. Namun wajahnya mulai sembab mengingat kabar dr. Shava akhir akhir ini. "Tapi miris juga dr. Kevin, bahkan sampai sekarang dr. Shava masih belum bangun dari komanya. "
Topan ikut mengangguk, mengingat betapa dr. Shava itu sangat baik padanya, ia juga merasa sedih dengan keadaan dr. Shava. " mudah mudahan dr. Shava cepet sembuh, kasian juga dr. Kevin dan putrinya. " jelas Topan dengan beribu harapnya.
"Memangnya istri dr. Kevin kenapa? " tanya Andhara penasaran. Ia tidak mengerti kemana arah jalan cerita Desi dan Topan.
"Sudahlah dok, ayo kita lanjut kerja. Ghibah mulu kerjaanya nanti gak beres. " ucapnya meninggalkan dr. Andhara yang masih terpaku menatap dr. Kevin yang bahkan punggungnya sudah menghilang.
"Iih kalian nyebelin. " keluh dr. Andhara. "Biar aku cari tahu sendiri aja. " ucapnya, ia masih membayangkan senyum indah dr. Kevin padanya.
Benar saja, Andhara berani menemui dr. Kevin yang sedang menuju ruangan operasi. Kali ini ia akan melakukan operasi by pass. "dokter Kevin. " Kevin berhenti mendapat teguran dari seorang perempun, ia menatap ke belakang dan ke samping. Kevin fikir gadis ini bukan menyapanya.
Usia Kevin yang saat ini hampir 32 tahun masih tetap berkharisma, tampan dan pesonanya masih terlihat keren. "Anda memanggil saya." tanya Kevin, Andhara dengan cepat mengulurkan tanganya, ia ingin berkenalan dengan dr. Kevin.
"Maaf saya tidak tertarik dan merasa jiji jika bersentuhan dengan perempuan selain istri dan putri saya. " jelasnya dengan nada angkuh dan sombong serta intonasi yang menghina, lalu ia berjaan melajukan langkahnya kembali ke ruang operasi. Andhara tampak marah, ia kesal kepada Kevin, bahkan belum ia berkenalan dirinya langsung mendapat hinaan sedalam ini.
"Tunggu.... " panggil Andhara membuat Kevin melambatkan langkahnya. Ia tidak berbalik, tanganya berada di saku celananya.
"Kalau masih betah di rumah sakit ini, bekerja dengan baik, jangan suka mencari masalah. Kalau masih mengganggu saya maka keluar saja dari rumah sakit ini. " ia melangkahkan lagi kakinya, dan kali ini punggungnya kembali menghilang karna ruangan operasi sudah terbuka.
"Lagian dr. Andhara si kepedean, dr. Kevin itu biasa ke IGD, ia hanya mencari tempat dimana bayangan dr. Shava sering terlihat dan dr. Kevin diam diam mengamatinya, bukan lagi senyum sama kamu. " jelas Topan yang mengerti kebiasaan dr. Kevin ketika berangkat sering mampir IGD hanya sekedar melepas rindu dengan sang istri.
"Kenapa gak bilang." tanya dr. Andhara. Topan hanya memainkan matanya pada Desi.
"Yah dr. Kan tadi udah tak kasih tau, apa perlu aku kasih bakso sama kuahnya. Jelas jelas istrinya itu tiada banding. Sudahlah jangan mimpi ketinggian mau dapetin dr. Kevin. " ungkap Desi. Andhara jelas saja manyunkan bibirnya kesal.
"Seperti apa si istri dr. Kevin?" Tanya Andhara. Desi dengan cepat mengambil ponselnya, lalu membuka galeri kamera lamanya.
Topan yang melihat potrer dr. Shava langsung terbelalak. "Dari mana loe dapet foto itu? " tanya Topan.
"Motret diam diam." jelasnya, yah Desi memang mengagumi dr. Shava, dokter yang benar benar ramah dan tidak suka membeda bedakan dirinya dengan perawatnya.
"Gimana.... masih mau maju?" tanya Topan kepada dr. Andhara. Pasalanya dr. Andhara itu tidak terlalu pintar, tidak terlalu cantik, dan kurang cepat dalam menentukan diagnosa pasien, disamping agak bodoh juga ia memang selalu kegatelan kalau ada dokter tampan.
__ADS_1
Singkat cerita para dokter yang memang sering mendekati Kevin, namun hatinya sedingin es yang memang tidak bisa ditakhlukan oleh siapapun.
*
1 tahun berlalu, usia Cila kini genap 6 tahun, dan setelah selesai merayakan ulang tahun Cila Kevin berjanji mengambil keputusan untuk kehidupan istrinya.
Sudah selama ini, bahkan sudah lebih dari 5 tahun ia terbaring lemas di ruang ICU. Mereka semua berkumpul, di ruangan tersebut. Melihat ekspresi mereka, tidak ada senyum, wajah mereka suram, sedih dan bahkan setelah menemui Adel mereka lebih sakit.
Adel sempat terlepas dari ventilator, beberapa pekan yang lalu ia dapat bernafas spontan. Namun 2 bulan ini keadaanya memburuk. Ia sudah tidak membuka matanya, namun tanda vital seperti saturasi, tekanan darah, respirasi dan nadi masih menunjukan keadaan yang stabil, hanya saja terkadang nadinya melambat, dan tiba tiba meningkat.
"Bagaimana Kev" kali ini daddy nya yang menanyakan hal demikian. Kevin berjanji setelah satu tahun ia akan memberikan jawabanya.
Mereka sudah ikhlas satu sama lain, meski berat, tapi tidak ada pilihan lain. Walaupun awalnya Kevin berjanji bahwa ia akan menunggunya sampai Alloh berkata lain dan mengambil nyawanya.
Tapi mungkin alat alat yang terpasang saat ini justru menghambatnya untuk kembali pulang kepada Yang Maha Kuasa jawaban ini Kevin dapat setelah berkonsultasi dengan ustad maupun ustadzah.
Kebanyakan dari mereka memang menganjurkan tindakan pelepasan alat, dan dari keluarga memang sudah berusaha semaksimal mungkin menyembuhkanya.
"Kita akan melepaskan alatnya sekarang." ucapnya dengan penuh keyakinan. Ada rasa sesak, ada juga rasa tak rela, namun setengah hati mereka lega, setidaknya Adel terlepas dari rasa sakit dan ketidaknyamanan selama ini.
Mereka berjalan menuju ruangan tersebut secara ramai. Keluarga inti dari Adel berada di dalam ruangan khusus ini, sisanya berada di luar ruangan. Kevin sendirilah yang akan melepaskan ventilatornya.
Perlahan Kevin melepas ventilator, sehingga membuat nafas Adel sesak dan berirama satu satu, menandakan bahwa Adel akan mengalami gagal nafas. Kevin mengambil spuit 3 cc, membuka kunci ETT dan melepaskanya sehingga wajah Adel terlihat jelas tanpa alat bantu.
Matanya perlahan menutup rapat, irama nadinya melemah, terlihat jelas gambaran nadi yang Asistole tanpa ada lengkungan di monitor yang menampilkan irama nadi, pupilnya midriasis (melebar maksimal). Menandakan bahwa Adel sudah meninggal.
Sudah ada dokter dan ustad, mereka secara bersama menyaksikan kepergian Adel. "Waktu kematian 12.32, pasien dinyatakan meninggal karna gagal nafas dan henti jantung." setelah itu Kevin tertunduk lemas, hatinya seperti ditusuk puluhan bahkan ribuan jarum. Kakinya menekuk dan turkulai di lantai.
"Mommy...... Jangan pergi mommy. " teriak Cila yang menggoncang tubuh Adel. Kenan dengan cepat memapahnya keluar ruangan, dan menenangkanya.
"Sebaiknya almarhumah dengan cepat dibawa ke rumah dan dimandikan." saran pak ustad kepada keluarga. Axel dan Keyla dengan cepat mengiyakan saran pak ustad.
Mereka serempak pulang dari rumah sakit, untuk mempersiapkan memandikan jenazah. Kevin masih frustasi, mengingat dirinyalah yang melepas semua alat penunjang yang terpasang pada tubuh Adel
Jenazah telah tiba dirumah, dan hendak dimandikan. Semua keluarga terutama wanita bersiap memandikanya. Kevin merasa ada yang aneh dengan jenazahnya, dengan cepat Kevin membuka resleting kain penutupnya.
__ADS_1
Kevin tersentak melihatnya. "Dimana jenazah Ara. " kalimatnya membuat suasana gaduh seketika di kediaman Axel.