
"Ia Kev, kamu akan tahu nantinya dan nyawa Cila sekarang yang lebih penting." timpal Zela, kenapa dengan wanita wanita ini, kenapa mereka seperti kompak namun tidak ada yang menjelaskan keambiguan ini.
"Ia benar sebenarnya ada apa ini? " timpal Arion dan Kenan yang ikut bingung.
Saka membalikan tubuhnya, ia lagi lagi kesal kepada mereka semua. "Jika kalian ingin Cila cepat selamat maka diam dan ikuti aku! "
Ia berjalan sembari berlari. Langkahnya belum juga sampai, Saka sudah sangat cemas karna yang disana ada Adel, wanita yang keadaan kesehatanya masih selalu dipantau.
Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu padanya. Langkahnya dipercepat, ia ingin memanggil Ara, tapi takut Kevin malah menjadi lebih gila.
"Cila.... "
"Cilaaa.... "
Arion dan Kevin mengikuti Saka, langkahnya terlalu cepat sehingga keluarga mereka berada jauh tertinggal di belakang.
Kini Ayra dan Zela berjalan berdampingan, namun mereka masih terdiam. "Sejak kapan kamu tau Ay? " Ayra menghentikan langkahnya. Ia ingin bercerita namun tempat dan situasi tak mendukung.
"Sudah lama, kita harus cepat Zel, aku takut mereka kenapa kenapa." ucap Ayra. Ini adalah pekarangan rumah yang sangat luas, entah milik siapa namun seperti pekarangan bebas tak berpenghuni.
*
Seorang wanita menepukan kedua tanganya, membuat Cila dan Adel menatap wanita tersebut."Ha... Ha... Haa... " tawanya tergelak mengisi pekarangan bebas tak berpenghuni tersebut.
"Agni.... Brengsek kamu." ucap Adel marah.
"Sekali dayung tiga pulau terlampaui." ucapnya dengan nada bahagianya. "Pernikahan Kevin gagal, aku dapat anaknya, dan bisa balas dendam padamu Ra, karna kamu wanita ****** yang memasukanku ke dalam penjara."
"Wanita sepertimu memang pantas membusuk di penjara." ucap Adel kesal. Agni melangkah mendekti Adel, ia seperti orang kesetanan kali ini.
"Plak"
"Plak"
Adel meringis kesakitan, tamparanya membuat Adel tersungkur di tanah.
"Bunda.... " teriaknya membuat Agni lagi lagi tertawa
"Ini putrimu dan Kevin.... Ia? " tanya Agni lalu mendekati Cila.
"Jangan sentuh dia aku mohon jangan sentuh dia, aku rela melakukan apapun Ag, asal kamu melepaskanya " Adel mengemis, ia tidak berani melawan. Agni adalah orang gila yang rela melakukan apapun demi keinginanya.
Agni kembali berjalan mendekati Adel, ia menjambak rambut Adel yang terurai lalu menghempaskan berulang ulang hingga tubuhnya terjungkal jauh dari sana. "Argghhhhh.... " rintihnya kesakitan.
"Bunda..... " teriaknya begitu kencang hingga membuat Saka, Kevin dan Arion membelokan arah tujuanya.
"Sayang... Jangan menangis bunda gak apa apa. " Ucap Adel menenangkan.
__ADS_1
"Sini kamu.... " pintanya kepada Adel, tangan dan kaki Adel terikat, anak buah Agni pun tak tampak. Mereka semuanya pergi dan tersisa 2 bodyguard.
Adel mendekat, Agni mengeluarkan pisaunya, dan memainkan di pipi mulusnya. Tampak sedikit goresan di wajah Adel.
Saka berlari sangat kencang meninggalkan Arion dan Kevin. Sesampainya disana Saka kaget melihat Agni yang memainkan pisaunya di atas pipi Adel, lalu menggoreskanya lagi secara perlahan. "Jangan sentuh dia. " jeritnya membuat Adel dan Agni menatap Saka.
"Saka... Selamatkan Cila Sak! " teriak Adel membuat Agni marah lalu mendorong Adel hingga menabrak pohon dan terkapar di tanah. Lalu Agni mendekatkan pisaunya kepada Cila.
"Om Saka." tak lama Kevin dan Arion datang. Mereka terfokus pada Cila yang ditodong lehernya oleh Agni. Sedangkan Adel berada di samping pohon besar dan posisinya tertutup pepohonan besar, ia sedang mencoba membuka ikatan di kakinya namun ikatan di tanganya belum juga terlepas.
"Ayah.... " teriak Cila membuat Adel menatap kedatangan Kevin, Arion, disusul Zela, Ayra dan keluarganya.
Untung saja dirinya berlindung di samping pohon yang besar membuat mereka tak melihat Adel. Tapi saat ini yang Adel pikirkan bukan identitasnya, tapi putrinya.
"Kalian sudah datang ternyata. " ucap Agni senang.
"Gila kamu Ag. " ucap Kevin yang melihat Agni menaruh pisaunya di leher Cila dan menggoreskanya sedikit.
Posisi Adel berada di samping kiri Agni, belum ada yang melihat Adel saat ini, hanya Saka yang melihat Adel karna jarak Saka sangat dekat dengan Adel, Agni dan Cila. Adel memainkan matanya pada Saka karna Adel akan mendorong Agni dari samping kiri agar pisau yang ada di tangan kananya terlepas dan tidak melukai Cila.
"Bunda......sakit " teriak Cila ketika ujung pisau menggores bagian kulit terluar, lalu menusuk lebih dalam, hingga lehernya mengeluarkan darah.
"Kalian maju maka pisau ini akan lebih menusuk ke dalam. " Agni tertawa seperti orang gila.
"Bunda sakit.... Sakit bunda" suaranya melirih karna rasa sakitnya yang bertambah ketika Cila berteriak lebih keras.
"Aku mau keluarga kecilmu mati ditanganku.
Adel tak pikir panjang, ia berdiri dan mengambil ancang ancang, lalu menubruk Agni hingga Agni terpental jauh, sayangnya goresan lukanya membuat Agni menusukan terlalu dalam.
"Brughhh" Agni, Adel dan Cila pun terjatuh, barulah mereka melihat siapa wanita yang menolong Cila. Adel dengan cepat berdiri lalu menginjak Agni yang bersiap mengambil pisaunya kembali.
"Brengsek kamu Ag." makinya kesal, Adel menarik rambut Agni kasar, mencekiknya dan hampir membunuhnya. Saka memeluk pinggang Adel dan menariknya kasar. "Ra... Sadar, dia bisa mati. "Jelas Saka. Adel tidak peduli jika Agni mati.
"Dia memang pantas mati. " Adel lagi lagi menarik Agni, namun Saka menghalanginya. Nafas Adel tersenggal, lalu ia teringat pada putrinya. Barulah wajahnya terpampang jelas dihadapan keluarganya.
"Ara.... " teriak mereka histeris, mereka baru sadar ada Adel disana. Suasana menjadi hening, mereka masih terpaku pada Ara, dikuceknya matanya berkali kali karna tidak percaya ada Ara didepan matanya.
Saka berlari menahan Agni dan Adel mencoba melepaskan ikatanya dengan pisau, setelah terbuka sepenuhnya ia berlari menuju arah dimana Cila tergletak dan darah yang mengalir deras dari leher Cila.
"Cila..... sayang bertahanlah. " ucap Adel yang sudah mengeluarkan air matanya, ia menarik ujung gaunya dengan pisau lalu menutupkan di lehernya. Menekan daerah tusukan yang mengenai vena jugularis.
Vena jugularis adalah vena terbesar di dalam tubuh kita, sehingga ketika tergores akan mengeluarkan darah sangat banyak.
Darahnya begitu deras hingga gaun yang Adel sobek sudah basah dengan darah. Mata Adel tak henti dari tangis histerisnya. "Sayang bertahanlah.... Bunda mohon bertahanlah. "
"KEVIN..... " teriak Adel pada Kevin, membuat Kevin tersadar dari lamunanya. "Ambilkan kotak p3k di mobil Saka." Kevin melihat tangan Adel yang berlumuran darah, serta gaun yang compang camping, berubah menjadi warna merah membuat dirinya terhenti dari lamunanya "Kev.... CEPAT! "
__ADS_1
Kevin berlari menuju mobil dengan cepat mengambil kotak p3k, air matanya mengalir deras mengingat istrinya di depanya dan membentaknya untuk mengambil kotak p3k. Bukan karena bentakanya ia menangis melainkan karena ia bahagia melihat Adel masih hidup.
Disisi lain ada Saka yang sedang mengikat Agni, namun dari belakang Saka ada 2 bodyguard Agni yang hampir memukul Saka.
"Saka awas..... " teriak mereka, Arion dan Kenan berlari membantu Saka. Dan anggota keluarganya ikut mengeroyok bodyguard Agni.
Tak lama Kevin kembali membawa kotak p3k. Adel dengan cepat merebutnya. Tatapan mata Kevin bahkan masih terpusat pada paras cantik memar dan penuh luka milik Adel "KEV! Bisakah kamu serius. " bentaknya membuat Kevin tersadar.
Adel momotel ampulan therapi lidocain, lalu Kevin menariknya dengan spuit. "Sayang maaf... tahan sedikit bunda akan menjahit lukamu. " Adel menusukan spuit tersebut ke 3 arah di bagian luka.
Lidocaine adalah obat untuk menghilangkan rasa sakit atau memberi efek mati rasa pada bagian tubuh tertentu (obat bius lokal).
Alat suntik atau spuit adalah pompa piston sederhana untuk menyuntikkan atau menghisap cairan atau gas.
Cila bahkan sudah hampir kehilangan kesadaranya. Namun ia masih mengerang kesakitan dengan memanggil nama bundanya.
"Bunda.... "
"Bunda sakit. "
"Ia sayang sakit sebentar bertahanlah. " pinta Adel menenangkan, suasananya lebih kacau ketika 4 bodyguard Agni datang. Mereka memporak porandakan lokasi, Saka berjaga agar proses penolongan pertama pada Cila bisa cepat selesai.
"Buka jas kamu Kev, perdarahanya sangat banyak." pinta Adel, Kevin dengan cepat membuka jasnya dan memberikan kepada Adel. Setelah area luka baal akan rasa sakit, lalu Adel menusukan jarum dengan benangnya. Kevin mengambil gunting untuk membantu Adel dalam memotong benang yang telah selesai diikat.
"Deep" pinta Adel. Kevin menekan bekas jahitan yang masih mengucur dengan deras. Lalu Adel mencari pembuluh darahnya terlebih dulu, dan memulai hectinganya dari yang paling dalam yaitu bagian pembuluh darah terbesar dalam tubuh.
Deep adalah menekan bagian tertentu untuk menghentikan perdarahan.
Hecting (jahit)
"Kevin awas.... " teriak Adel kepada Kevin yang hendak dihantam dengan balok oleh bodyguard Agni. Adel dengan cepat melemparkan pisaunya hingga menancap di lengan bodyguard Agni. Kevin menatap pisau yang tertancap di lengan bodyguard Agni, ia kemudian menendang bodyguard tersebut.
Adel telah selesai menjahit leher Cila. Ia berdiri memapah Cila dan hendak membawanya pergi ke rumah sakit. "Sak kita kerumah sakit! " ajak Adel pada Saka. Saka yang sedari tadi berada di belakang Adel menganggukan kepalanya.
Adel sebenarnya ingin mengajak Kevin mengingat dirinyalah ayah dari putrinya, sayangnya ada Kinan disini, ia tidak mau masalahnya semakin runyam. Kevin melongo, ia sedikit kecewa karna Adel mengajak Saka bukan dirinya.
Kenapa harus Saka, kenapa bukan Arion atau Kenan. "Siapa aku dimata mereka. " batinya mengingat keluarganya selalu bahagia tanpa dirinya, lalu apakah ada posisi dirinya dalam rumahnya. Fikiran Adel tak jelas saat ini. Melihat berpuluh puluh mata menatapnya membuatnya mengurungkan niatnya menyapa mereka.
Saka melepas jasnya lalu memakaikanya di tubuh mungil Adel.Yah suasananya sangat dingin dan mencekam. Sesaat membuat Kevin cemburu terhadap perlakuan Saka kepada Adel.
"Na.... Apa kamu marah kepada kami?" ucap Axel yang membuat langkah Adel terkunci.
"DEG"
Adel menatapkan wajahnya kepada mereka, wajah cantiknya tak berubah, hanya sedikit jelek karna darah di bagian memar tamparan dan goresan pisau. Jantungnya berdenyut keras, seperti dihantam batu besar, sesak di dadanya ketika mendapat lontaran kalimat tersebut dari mommy dan daddy nya.
Air matanya mengumpul di pelupuk mata Adel, bibirnya seperti kelu untuk mengucapkan kalimat. Ingin rasanya memeluk kedua orang tuanya. Tapi kondisinya saja seperti ini, bahkan Cila saja mulai tak sadarkan diri
__ADS_1