
"Ra, Ra dengerin abang si, abang baru tau kalau Citra gak meninggal, dan bukan Kevin yang menghamili Citra. " Adel membelalakkan matanya menatap Kenan dengan marah.
"Maksud abang, semua yang dikatakan abang salah? " Syok, jelas saja syok, Kenan seperti orang kesetanan kemarin memastikan Adel membenci Kevin sebenci bencinya, dan fiks, semua itu sudah membuat Adel mematahkan hatinya dan hati Kevin. Bahkan ia sudah memutuskan hubunganya dengan Kevin.
"Abang juga baru tahu Ra. " melihat Ara termenung Ken gemas, dipeluknya gadis cilik yang selalu merepotkan itu. "Maaf Ra, hari ini abang baru tahu semua kebenaranya. " Ken menyerahkan sebuah buku kepada Ara lalu melepaskan pelukanya.
"Apa.... " Ara meraih buku berwarna pink tersebut, perlahan ia buka buku tersebut. Isinya adalah kedekatan antara Citra dan abangnya, serta sahabat -sahabatnya. Bahkan Ketika Kevin mengungkapkan perasaanya kepada Citra. Jauh lebih romantis dibanding saat menembaknya.
Hingga di halaman terakhir ketika Citra mulai melihat sosok bayangan lelaki yang memperkosanya. Seperti halusinasi penglihatan yang selalu membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya. Setelah itu dia dibawa ke rumah Sakit Jiwa.
Air mata Adel perlahan berjatuhan, betapa tragisnya kisah Citra, dan itu semua tidak ada sangkut pautnya dengan Kevin. Namun abangnya dan Zela lah yang membuatnya seperti ini.
"Apa orang tuanya Citra sebegitu malunya sampai Citra dibuat seolah mati bunuh diri bang? " Ara penasaran kenapa kedua orang tuanya tega melakukan itu. Ken menganggukan kepalanya, "bahkan berteman saja harus dari keturunan orang kaya" ungkap Ken, itulah mengapa Citra dimasukan ke rumah sakit jiwa tanpa sepengetahuan teman-temanya.
"Bang, apa menurut abang Kevin masih sayang sama Citra? " Adel bertanya tentang perasaan. Mengingat bahwa Adel hanyalah sebuah pelampiasan bagi Kevin.
"Ya, dia masih sering mengunjunginya, dan berhubungan baik dengan keluarganya. Tapi hanya sekedar sayang sebagai teman, cintanya sudah berpindah padamu " kalimatnya biasa saja, namun Adel merasa ada sesuatu yang membuatnya sedikit terbakar. Ya mungkin cemburu.
"Sudah sana temui Kevin. " pinta Kenan pada adik kecilnya. Adel menggelengkan kepalanya lalu menjatuhkan kepalanya diatas bantal. "Biarin aja, toh Ara cuma pelampiasan Kevin. " Ucapnya lemas
"Tidak Ra, dia benar - benar mencintaimu. " jelasnya meyakinkan adiknya, walaupun kesalahpahaman memang sudah lurus, namun kalimat Ken yang menyebutkan bahwa Adel hanyalah sebuah pelampiasan, memang benar. Begitulah jawaban Adel setelah menafsirkan cerita abangnya dan membaca buku diari Citra.
"loh anak daddy kenapa murung? " Axel menjatuhkan tubuhnya pada sofa empuk disamping putrinya. Lalu memainkan matanya pada putranya. Hanya dengan sebuah isyarat untuk menanyakan ada apa gerangan dengan putrinya.
"Putus cinta pa. " ungkap Ken lalu menyambar bingkisan yang dibawa papahnya.
"Ra..... " daddinya mengusap rambut putrinya lembut. Lalu menasehatinya.
"Mommy kamu dulu itu wanita yang tegar, apapun masalahnya. Bahkan ketika jauh sama daddy, mommy kamu tetap tegar. " jelasnya kepada putri kesayanganya itu. Ara menegakkan tubuhnya.
"Mommy sama daddy pernah putus gak? " Ara lagi lagi menanyakan masalalu pada daddinya, membuat Axel kewalahan menjawabnya.
"Tidak sayang mommy dan daddy tidak pernah putus. "Jelas Axel pada putrinya. Ken hanya mendelikkan matanya mendengar penuturan papanya.
"Putus gimana, pernah pacaran juga gak. " jelas Kenan yang tau masalalu orang tuanya. Axel menelan ludahnya ketika Ken mengungkapkan masalalunya.
"Daddy gak pacaran sama mommy? " tanya Ara. Axel menggelengkan kepalanya. Namun tidak ada penjelasan lain dari Axel. Membuat Adel mengerucutkan bibirnya.
"Gak pernah pacaran, mana tau rasanya putus. " Adel bergegas meninggalkan daddinya. "Daddy gak asik " jelasnya lalu berjalan meninggalkan Axel.
__ADS_1
"Wah Ra, papah bawa coklat kesukaan Ara ni, buat abang aja ya, Ara katanya gak mau makan." Melihat abangnya yang asik memakan coklat kesukaanya ia langsung merebutnya. "Ini punya Ara abang. " mereka saling tarik menarik bingkisan yang dibawa daddinya. Lalu Axel menengahi mereka berdua "abang kasih sama Ara. "
Ken tertawa terbahak - bahak melihat adik kecilnya yang sedang patah hati, tapi masih antusias jika berhubungan dengan coklat.
*
Rasanya sangat malas menatap matahari yang begitu ceria, bahkan jarum jam sudah menunjukan angka 06.45 Adel saja masih setia dengan selimutnya. Hingga sang mommy dan daddy nya sekaligus abang mereka yang join si Ar dan Ken sudah datang.
"Ara....... " teriak mereka kompak membuat Adel mengerjapkan matanya malas. Kudian Keyla membangunkan Adel untuk mandi, sedangkan yang lainya menyiapkan seragam, buku pelajaran sesuai jadwal dan buku cetak.
Adel sudah berada di mobil sang abang, wajah Adel masih saja cantik tanpa riasan, bahkan tahi lalat yang ada di bawah mata kanannya menambah keunikan tersendiri diwajahnya. "Ara kan masih pengin bolos abang. " ucapnya malas dan manja. Beginilah adiknya yang satu ini, bandelnya minta ampun.
Mereka sampai di gerbang sekolah. Ken dan Arion turun dari mobil. Adel hanya diam dibelakang, tanpa ada rasa ingin turun dari mobilnya. "Mereka kenapa si, kenapa harus turun didepan sekolah. "
Adel tak pikir panjang, ia masih sibuk dengan eyeliner, eyeshadow, maskara dan liftiknya. Tak lupa hand and body scarlet berwarna ungu ia ratakan diseluruh tangan dan kakinya. Mobilnya berputar lalu menjauh dari sekolah. "Tumben abang pinter, tau aja Ara malas belajar. "
Tidak ada jawaban, sanggahan, maupun celotehan dari kedua abangnya. Membuat Ara curiga, apa yang sedang direncanakan mereka berdua terhadapnya. Ara meletakkan semua alat make upnya lalu menatap seseorang yang mengemudi. Mata hazelnya membulat menatap siapa yang sedang memegang kemudi. "Kevin... " Kevin menatap Adel dengan senyum, lajunya ia percepat.
"Turunin gak, turunin Kev, aku mau turun. " Adel memberontak membuat Kevin gemas, Kevin memperlambat laju mobilnya lalu ia mengangkat Adel dan diletakkan di atas pangkuanya. Membuat Adel diam seketika.
"Nurutlah, semakin kamu gerak, laju mobil tidak akan stabil, tidak akan baik untuk keselamatan kita. " ucap Kevin dengan senyum yang penuh kelicikan.
"Bagaimana bisa dia sedekat dan seintim ini, dasar Kevin mesum. " gerutu Adel kepada Kevin, bahkan hembusan nafasnya menyisir bagian leher jenjang Ara. Membuat bulu kuduknya sesaat meremang.
Tak lama mereka sampai disebuah dermaga. Hari masih pagi dan waktu masih menunjukan pukuk 08.00. Mereka turun dari mobil, lalu berjalan hendak menaiki sebuah veri kecil. Mereka berpapasan dengan orang tua yang menatapnya heran.
"Bocah sekolah jaman saiki, wong tua golek duit nganti sirah kanggo sikil, sikil kanggo sirah, malah do kluyuran ra guna. "
"Mereka bilang apa Kev? " Adel keheranan mendengar ucapan orang jawa tadi yang seakan mengumpatnya.
"Mereka bilang kamu cantik. " goda Kevin pada Adel. Adel memanyunkan bibirnya malas kepada Kevin. Mereka berjalan ke ujung kapal veri yang tidak terlalu besar itu.
"Ra..... " Adel menatap lautan yang luas namun mengabaikan Kevin yang sedang menatapnya. "Ra.... Tidak bisakah kamu serius dalam hubungan ini? " Kevin membalikkan tubuh Adel yang membelakanginya.
"Nikahin aku kalau kamu serius sama aku. " ucap Adel tanpa pikir panjang. Bahkan kalimatnya tidak disaring terlebih dulu.
"Baiklah, akan aku nikahi kamu, sekarang ayo pulang. "Ajak Kevin menarik tangan Adel.
"Aku becanda. " Adel menghentikan langkahnya membuat Kevin berbalik menatapnya. Padahal Adel hanya bercanda. Tapi tanggapan Kevin seserius itu.
__ADS_1
"Apa menurutmu aku main main Ra? " Adel menggelengkan kepalanya. Wajahnya mulai serius melihat Kevin yang bahkan tidak ada senyumnya. "Lalu kenapa sampai sekarang kamu tidak ada kepastian. "
"Kamu masih mencintai Citra Kev. " Kevin mengacak ranbutnya frustasi, entah dari mana Adel mempunyai fikiran itu, dan apa alasanya mengira Kevin masih mencintai Citra.
"Apanya yang masih cinta Ra, hatiku milikmu, bahkan saat ini fikiranku hanya terisi tentang dirimu. Dari mana kamu bisa menyimpulkan kalimat seperti itu Ra. " Kevin dibuat kesal dengan pernyataan yang tidak masuk akal yang diucapkan Adel.
"Aku hanya sebagai pelampiasanmu, karna perilakuku mirip dengan Citra. " jelas Adel semena mena dengan kesimpulanya. Kevin tak habis pikir, selama ini Adel berfikir bahwa dia hanya dijadikan pelampiasan. Harus seperti apa Kevin menjelaskan kepada Adel.
"Ra bagiku kamu ya kamu, Citra ya Citra, dia sudah memutuskanku hampir 3 tahun yang lalu, apa menurutmu aku masih mencintainya. Tidak Ra, entah sejak kapan perasaanku ada untukmu, tapi setelah pertemuanku denganmu, wajahmu tidak pernah hilang dari fikiranku. " Adel terdiam, fikiranya bimbang tak jelas. Ada rasa senang karna Kevin mengakui perasaanya sejak pertama bertemu. Tapi......
"Please aku mohon, beri aku kesempatan Ra sekali lagi. "dengan nada memelas, Kevin meminta sebuah kesempatan. Hatinya mulai hangat, bahkan sedari tadi Adel memang ingin mengatakan bahwa ia akan kembali bersamanya.
Sebuah dering ponsel membuat Kevin mengalihkan perhatianya. Sebuah panggilan dari rumah sakit jiwa, yang Ara yakini adalah menyangkut Citra.
"📞Ya Hallo" Tampak wajah Kevin berubah seketika, entah apa yang terjadi namun mungkin kabar ini adalah kabar yang akan merusak suasana Adel dan Kevin.
"📞baik saya akan segera kesana" Benar saja dugaan Adel, bahwa suasana akan dirusak oleh seseorang.
"Ra.... Bisakah kamu temani aku, atau kamu aku antar pulang dulu, atau..... " Wajah Kevin tampak pucat dan bingung, entah apa berita apa yang ia dapat, namun sudah pasti terjadi sesuatu padanya.
"Ada apa? " Ara dengan wajah yang masam menanyakan tentang apa yang terjadi pada Citra.
"Citra mengamuk, dan nekat akan bunuh diri. " Wajah Kevin semakin cemas. Membuat Adel merasa bahwa Kevin memang masih peduli padanya.
"Bukanya disana ada perawat, kenapa harus Kevin, kenapa tidak orang tuanya saja. "Batinya tak terima bila lelaki didepanya memang masih sangat peduli pada mantan kekasihnya. "Apa aku terlalu egois jika harus menahanya disini. "
"Bisakah kamu tetap disini dan mengabaikan telfon itu Kev! " suaranya lirih, namun membuat Kevin menatap wajah Adel tajam. Seperti tidak ikhlas jika ia tetap disini bersamanya.
"akan aku berikan kesempatan kedua jika kamu tetap disini. " itulah kalimat yang keluar dari bibir Adel.
Bonus Visual
Adellaura
Kevin Keyndra
__ADS_1