Gadis Liar

Gadis Liar
24


__ADS_3

"Masih Zel, perasaan itu tetap sama. Maaf, karna aku tidak bisa mengatakanya padamu. " jelasnya merasa bersalah. Zela menggelengkan kepalanya.


"Bisakah kamu cintai aku lagi Ar? Kita mulai lagi dari awal, dan aku akan mencoba mencintaimu dengan tulus. "


"Apa perasaanmu tulus Zel? " Arion takut Zela masih mencintai Ken dan dirinya hanya sebuah permainan. Zela menganggukan kepalanya. Arion memeluk Zela dengan erat. Bahagia 1 kata yang Arion rasakan, bahagia mendapatkan sesuatu yang selama ini dipendamnya.


"Sekalipun aku adalah sebuah pelampiasan, bagiku kamu adalah hal terindah yang pernah aku punya. " batinya, tampak cairan bening bertetesan di wajah Arion.


*


"Sak bangun woi, ini udah subuh, loe mau berangkat sekolah kagak? " Saka membuka matanya perlahan. Badanya seperti tertusuk tusuk jarum. Ken saja sudah mandi dan wangi, memang Ken berbeda dengan Adel. Mungkin adik kecilnya itu jam segini masih tidur.


"Seragam loe gue pinjem donk. " ucapnya dengan mata tertutup ia masih bisa berbicara, dan berjalan ke kamar mandi.


"Seragam loe juga udah kering bego. Lengkap dengan celana boxer loe. " jelas Ken yang menunjukan seragam yang tergantung rapi di kamar Ken. Yah semalam Saka malas pulang, dan akhirnya tidur dirumah Adel.


"Selamat pagi abang - abangku. Loh bang Ar kemana? " Adel mengitari area makan namun tak terlihat batang hidungnya.


"Ra kamu kalo ngomong jangan ditelinga, kaya toa mesjid tau. " protes Ken pada Adel. Adel hanya mengunjukkan giginya. Mereka semua sedang asik mengoleskan selai pada rotinya masing masing. Tampak Saka yang tidak berkedip menatap Adel yang sangat cantik.


"Sak, kelilipan kamu ya? " Ken menoyor kepala Saka dengan keras. Barulah Saka protes akibat ulahnya. Axel dan Keyla tampak diam memperhatikan keributan putranya.


"Kenapa senyum senyum sayang. " tanya Axel pada Keyla. Keyla hanya melirik suaminya. "Mereka sangat mirip kamu dan Aldi dulu. " jelasnya yang kemudian memasukan potongan roti dimulutnya. Seorang Art menghentikan perdebatan kecil mereka.


"Non Ara.... Ada mas Kevin. " wajah Adel berubah, entah masalah yang belum selesai atau memang mereka belum berniat menyelesaikan. "Bawa Ra. " pinta Axel pada putrinya memberikan tupperware makanan yang isinya bukan sarapan melainkan roti dan coklat kesukaanya.


"Ara berangkat ya! " pamitanya lalu mencium tangan mommy daddy, abang dan Saka. Adel berjalan keluar diantarkan oleh daddy dan momminya sudah ada Kevin didepan pintu yang kemudian menyalami kedua orang tua Adel. "Tan berangkat dulu, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam, jangan ngebut Kev. " pesan Axel pada Kevin. Dipandanginya gadis kecil yang dulu sangat manja dan sekarang sudah beranjak dewasa. Bahkan sudah mempunyai kekasih.


Dengan tlaten Kevin membukakan pintu untuk Adel, lalu menjalankan kemudinya "Ra.... " panggilnya lembut. Ara memandang wajah Kevin yang menurutnya memang sangat tampan.


"Bisa bisanya loe mikir kaya gitu disaat kita masih berantem." batinya merutuki dirinya. "Jangan bahas masalah hubungan kita Kev, aku gak mau mood pagi ini rusak karna kita berantem pagi pagi. " jelasnya membuat Kevin bungkam.


"Sudah makan? " Adel menganggukan kepalanya. Tidak berniat bertanya balik atau sekedar basa basi. Malas jawab Adel, wanita seperti Adel bukan tipe ramah seperti Zela.


"Semalam tidur jam berapa Ra? " tanyanya kaku, Kevin saja bingung mendapat perlakuan sedingin ini dari Adel. Adel jauh lebih sadis dari pada wanita manapun.


"Semalam langsung tidur, bohongnya, padahal wajahnya saja masih sedikit bengkak karna tangisan. Untung Adel pandai berias, sehingga mata panda dan bengkaknya bisa ia manipulasi menjadi Adel yang ceria lagi.

__ADS_1


Sesampainya disekolah Adel diantarkan Kevin kekelasnya, tak lama Ken dan Saka juga menyusul mereka. "Belajar yang rajin, nanti pulang sekolah bareng. " ungkapnya, lagi lagi hanya anggukan kepalanya. "Ara masuk kelas. " pamitnya


Deru motor membisingkan sekolah Rajawali, pemandangan yang begitu langka, seorang Arion membonceng Zela, dan wajah Arion yang lebih fres dari biasanya. "Weih.... Jadian kalian. " sapa Ken pada Arion dengan wajah datar tanpa ekspresi sesekali ia paksakan senyumnya.


Arion dan Zela tampak canggung, bahkan Zela benci ketika Ken benar benar tanpa ekspresi menatapnya. Yang Zela harap Kenan cemburu tapi hasilnya nihil. Begitu pandai sang adik kaka (Adel dan Ken) menjaga wibawanya, biarpun sakit, mereka mampu melebarkan senyumnya.


"Ken.... " panggil Asha lembut padanya, lalu bergelayut manja. Semenjak ada Zela, perasaan Ken pada Asha luruh begitu saja, namun sifat manja Asha terkadang yang selalu mengingatkanya pada Adel, dan setidaknya berpura pura menjalin kasih denganya tidak terlalu membosankan.


Senyum Ken mengembang sempurna. Kalau Kenan jadi artis mungkin Kenan mendapat nominasi akting paling keren karna mampu menyembunyikan perasaanya begitu sempurna. Kenan merangkulkan tanganya dipinggang Asha membuat Zela memasamkan pandanganya.


Flash Back On


"Ken.... " Asha mendekati Ken, yang berada di belakang sekolah. Kenlah yang meminta Asha datang kesini. Ditempat mereka biasanya bersama.


"Apa kamu mau berpura pura jadi kekasihku. " bahkan hanya berpura pura Asha sangat bahagia.


"Ya Ken, bahkan kalaupun itu bukan pura pura aku akan dengan senang hati melakukanya. " jelasnya pada Kenan.


"Jadilah kekasihku ketika disekolah, dan datanglah jika aku butuhkan, sebagai gantinya kamu bebas meminta apapun padaku Sha. " ucap Kenan.


"Apa kamu benar benar sudah melupakanku Ken? " ujar Asha menanyakan perasaan Ken pada Asha.


Flash Back Of


"Sudah makan sayang? " Asha menggelengkan kepalanya, lalu membawanya kekantin sekolah. Arion memperhatikan raut wajah Zela yang muram, lalu dengan cepat mengajaknya masuk kekelas Zela.


Saka berjalan menuju kelas Adel, membawa buku cetak Adel yang tertinggal. Tampak Kevin yang menatap Saka penuh cemburu dan marah "Ra.... " Teriak Saka membuat sang pemilik nama berlari menemuinya.


"Buku cetak loe. " Saka memberikan buku tersebut dengan memukulkan di kepala Adel. "Iiiihh rese kamu Sak. " gerutu Adel yang dipukul menggunakan cetak.


"Belajar yang rajin. " ungkap Saka lalu mengacak rambut Adel hingga berantakan, dan berbalik meninggalkannya. "Saka..... nyebelin loe " Adel meneriaki Saka dengan wajah kesal. Saka berbalik menatapnya dan tertawa renyah melihat Adel yang rambutnya ia acak acak.Tawanya begitu lepas membuat hati Kevin sesaat merasakan lara yang mendalam.


Kevin menarik Saka ke belakang sekolah. "Gue minta jangan dekati Ara. " pesan Kevin pada Saka sambil mendorongnya ke dinding. Saka hanya terdiam menelaah kalimat demi kalimat Kevin.


"Kenapa? Gue tulus suka sama Adel. " bukanya takut Saka menantang Kevin. Bahkan posisi Kevin sekarang yang didorong oleh Saka. "Bahkan gue gak pernah bikin dia nangis sekalipun, kalau loe emang suka sama dia, buat dia bahagia, kalau gak dia akan kubahagiakan dengan caraku. "


"Brengsek loe. " Kevin mencengkeram kerah Saka, matanya menajam penuh dengan kemarahan. "Sekali lagi gue lihat loe...... "


"Lepas.....gag perlu loe ancem gue, gue tau diri, gue gak akan deketin dia kalau dia bahagia. NYATANYA dia berlari kepadaku hanya demi sebuah senyuman yang tidak bisa kamu berikan. " potong Saka dengan segala hinanya.

__ADS_1


"Dia terlalu polos untuk loe mainin Sak." Saka berdecih, mendengar kalimat itu terucap dari bibir Kevin. "


"Harusnya gue yang ngomong itu ke elo. Dia terlalu polos untuk loe mainin Kev. Dia tidak tau cinta, baginya dia menggantungkan harapanya sama loe. Harusnya loe tau apa yang dia inginkan tanpa loe tanya." lagi Saka mengucapkan kebenaran yang selalu terjadi pada mereka.


"Kev... Gue gak pernah tau apa masalah loe sama Adel, gue gak pernah ingin tau, yang selalu gue tau dia selalu bisa melupakan loe disaat bersama gue. Jadi lepaskan dia kalau loe gak bisa buat dia ba.... "


"Bugh" kalimatnya terpotong oleh Kevin yang akhirnya memukul Saka.


"Bugh " Saka pun memukul Kevin. Sayangnya hanya sekali. Coba berkali kali seru kali ya. Penonton mulai berdatangan. Namun demi menghindari masalah Saka berlalu pergi dari hadapan Kevin, langkahnya ia hentikan tepat didepan Kevin "prioritaskan dia, bukan Citra, dia masa depanmu bukan Citra. "


Semua penonton bubar melihat Saka pergi meninggalkan Kevin, bahkan salah satu penontonya heboh di kelas Adel. Membuat Ayra dan Ayla ikut heboh ingin mendengar cerita mereka.


Setelah selesai mengghibah Ayla dan Ayra kembali ke tempat duduknya lalu mereka berdua menatap Adel "Ra.... "


Tegur Ayla. "Loe main dua hati ya? " Ara menaikkan alisnya tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.


"Pacar aja gak punya, dua hati dari Hongkong. " keluhnya yang masih setia dengan tupperware miliknya. Tanpa ingin tahu, Adel asik menyuapkan makananya kemulutnya lagi dan lagi.


"Saka dan Kevin beratem. " Adel menghentikan kunyahanya. Disambarnya minuman dingin yang ia bekal dari rumah. Setelah menelan makanan yang tadi sempat terhenti ia mulai mendekatkan tubuhnya, ingin tahu dengan detail cerita Ayra dan Ayla peroleh. "Siapa yang berantem? "


"Saka dan Kevin. " dengan cepat Adel berdiri lalu berjalan menuju kelas XII IPA 2.


Kevin diam termenung mengingat ucapan Saka. Ada benarnya kalimat yang diucapkan Saka. Lumunanya berhenti ketika temanya menepuk bahu Kevin. "Kev... Adel di depan kelas. " Kevin berdiri lalu berjalan menemui Adel. Ditatapnya wajah Kevin yang terdapat 1 pukulan di bibir, darah kering masih tertinggal disana. Adel menariknya menuju UKS.


"Mau jadi jagoan? " Adel menempelkan kassa di sudut bibirnya dengan keras. Membuat si pemilik luka mengerang kesakitan.


"Sakit Ra... " Adel mengoleskan obat dengan cepat. Lalu berdiri hendak menyudahi rasa khawatirnya dan kepedulianya kepada lelaki didepanya


"Ra, aku akan lakuin apapun demi kesempatan kedua Ra, sekalipun kamu melarangku untuk bertemu dengan Citra. Aku akan melakukanya, jadi tolong pertimbangin ucapanku kemarin. " Tangan Kevin mencekal pergelangan Adel membuat Adel menghentikan langkahnya.


"Mau bagaimana, akupun gak bisa kalau harus terus berjauhan dan berdiam diaman denganmu begini. " batinya. Adel kembali duduk disamping Kevin. Bahkan semalaman Adel sudah mempertimbangkan untuk menerima kembali Kevin.


"Beri aku kesempatan. Please!" pinta Kevin memelas sambil memegang tangan Adel.


"Ada syaratnya" jawab Adel jail. "Sekarang bawa kotak p3k ini, minta maaf sama Saka dan obati lukanya. " pinta Adel kepada Kevin.


"Tapi Ra. " tolak Kevin dengan malas. Adel memanyunkan bibirnya. Seakan tidak menerima sebuah penolakan. Lalu berdiri dari duduknya.


"Ya udah aku yang minta maaf sama Saka dan mengobati luka Saka mau? " tawarnya membuat Kevin menyambar kotak p3k nya lalu berjalan menuju kelas Saka.

__ADS_1


"Aku aja, jangan kamu pakai tangan kamu untuk menyentuh laki - laki lain. "


__ADS_2