Gadis Liar

Gadis Liar
64


__ADS_3

"Mas..... " panggilnya kepada suaminya, ia menatap jeli sebuah kertas pemeriksaan beridentitas Adellaura sehingga membuat tubuhnya terhuyung ke belakang dan jatuh di atas bad.


"Kenapa ma?" Daddy Adel panik melihat istrinya yang tiba tiba jatuh karna menatap kertas berwarna hijau itu. Axel menarik lembar kertas berlogo rumah sakit negeri dan hasil pemeriksaanya. "Ara hamil? "


"Jeder" seperti kilatan menyambar jantungnya, orang tua Adel seperti ditusuk tombak tepat di hatinya. "Dosa apa yang pernah kulakukan sampai anaku memberikan aib seperti ini. " Kertas tersebut sudah menjadi bulat karna remasan kuat dari tangan daddy nya, ia berjalan dengan kesal dan marah.


"Ken.... " Teriak daddy nya histeris memanggil Kenan. Kenan dan Zela menuju arah daddy nya, ada apa gerangan daddy nya berteriak sekencang ini disore hari.


"Dad ada apa? " daddynya memberikan secarik kertas yang sudah lusuh, dengan cepat Kenan membukanya, alangkah kagetnya melihat secarik kertas dengan hasil positive hamil. Zela dengan cepat membungkam mulutnya karna reaksinya melihat hasil laboratorium milik Adel tersebut.


Kegaduhan mereka belum selesai, sebuah dentingan terdengar bel berbunyi nyaring, dengan cepat Zela membukanya. Zela menatap Adel yang berada dibalik pintu itu, ia ingin mengatakan sesuatu, namun Kenan menyusul Zela yang masih berdiri di depan pintu. "Masuk Ra, kamu ditunggu daddy. " wajah Kenan seperti daddynya bahkan seperti dibelah dua, mereka sama persis ketika marah. Auranya seperti aura pembunuh dengan tatapan tajamnya.


Adel memasuki rumahnya lehernya penuh dengan perban, dan rasa sakit menyertainya. Ingin rasanya Kenan menanyakan apa yang terjadi kepada adik kecilnya itu, tapi egonya mengalahkan segalanya. "Ra leher kamu kenapa? " celetuk Zela kepada Adel yang menatap kassa tertutup hepavik di leher Adel.


Hepavik atau perban berwarna putih


Flash Back On


Setelah Agni berhasil membuat Adel bertekuk lutut didepanya dan berjanji untuk pergi meninggalkan Kevin, Adel diturunkan sembarang di jalan. Ia berjongkok di pinggiran jalan merasakan sakit di lehernya yang tersayat. Air matanya mengalir kembali. Namun bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


"Tunggu pembalasanku. " ia kepalkan jarinya, rasanya ingin sekali membunuh wanita iblis yang gila itu. Sayangnya Adel saat ini berada di titik dimana titik lemahnya sangat mudah diperalat seseorang.


Bahkan setangguh apapun seorang wanita jika titik lemahnya diketahui musuhnya maka akan bertekuk lutut. Apalagi hal itu mengancam jiwanya, suaminya dan bayinya. Kalau hanya raga, Adel sama sekali tidak takut, tapi 2 orang yang sangat ia sayangi, anak dan suaminya.


"Aku harus bertahan, demi kamu dan ayah kamu nak. " ucapnya mengelus perut yang bahkan masih rata. Sebuah mobil hitam berhenti, siapa dia, malaikat yang menolongku kah. Bukan dia adalah seseorang biasa saja yang ingin menolongnya lalu menbawanya ke rumah sakit.


Setelah mendapatkan perawatan dengan baik ia menelfon abangnya, sayangnya tidak ada jawaban dari Arion maupun Ayra. Adel mengirimkanya pesan singkat, berharap dengan cepat abangnya menjemputnya. Ia berjalan keluar dari rumah sakit setelah melakukan administrasi " Adel? " sapa seseorang berjilbab, ia ingat dr. Gean bekerja disini.


"Dokter.... " dr. Gean menatap Adel yang mempunyai luka di lehernya. Fikiranya menjadi campur aduk. "Apa gadis ini sangat kacau, hamil tidak ada suami dan sekarang berdiri dengan luka di leher. " batin dr. Gean. Ditepisnya pemikiran itu kepada Adel. Mengingat gadis ini memang sangat akrab denganya, sayangnya ia tidak tau menau tentang kepribadianya.


"Lehermu kenapa? " dr. Gean menanyakan keadaan Adel. Adel memegang lukanya, ia saja bingung ingin menjawab apa. Ditariknya sudut bibirnya berusaha merubah ekspresi sedihnya menjadi biasa saja.


"Hanya luka kecil, dr mau pulang? " dr Gean menganggukan kepalanya, tak lama sebuah mobil berwarna putih sepertinya keluaran terbaru berhenti di lobi. Kaki jenjangnya turun dari mobil, dan menampilkan wajah tampan dengan kacamata hitam.

__ADS_1


"Ge.... " Sapa seorang lelaki yang suaranya serasa familiar. Adel menatap lelaki itu, matanya membulat sempurna, keduanya terpaku dalam satu pandangan.


"Saka..... "Ucapnya lirih hingga tak terdengar oleh dr. Gean. Saka masih terpaku melihat gadis didepanya, setelah lari dari pernikahan hari ini ia dipertemukan kambali. Saka kembali ke Indonesia dengan catatan membawa tunanganya, dan pernikahan mereka akan segera dilaksanakan dalam hitungan bulan.


"Ka.... " sapa dr. Gean, Saka masih menatap lekat wajah Adel. Adel tidak berani menyapa, sepertinya Saka begitu marah kepada Adel, hingga ia membuang mukanya lalu menatap dr. Gean dengan penuh sayang.


"Ayo kita pulang Ge." ajak Saka kepada dr. Gean, tidak ada sapaan, bahkan sebuah tatapan saja enggan Saka lakukan. dr. Gean menatap Adel yang masih terpaku melihat Saka.


"Adel... Kenalin dia calon suami aku. " jelas Gean memperkenalkan Saka kepada Adel. Saka enggan menjabat tangan Adel, mereka hanya saling menganggukan kepalanya. "Adel ayo pulang bersama. "Ajaknya kepada Adel, dengan cepat Adel menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah dok, saya sudah dijemput. " jelas Adel yang berdiri dari tempat duduknya. Mungkin saja Saka enggan mengenal kembali Adel yang telah berkali kali melukainya. "Kalau aku diposisi Saka mungkin juga akan melakukam hal yang sama." ia menguatkan kembali hatinya yang menyesak ketika bertemu Saka namun ia tidak menganggapnya ada.


"Bang Ar.... " setelah menunggu 15 menit akhirnya Arion datang menjemput Adel. Arion tampak panik melihat Adel yang terpasang perban di lehernya. "Ra.. Kamu kenapa?" Arion nemegang leher Adel yang terpasang kassa.


Adel menceritakan kejadian yang dialami olehnya. Lalu ia menyerahkan sebuah kacamata yang sedari tadi ia pakai. Arion menggeleng tak mengerti kenapa kaca matanya diberikan kepada Arion.


"Ini kacamata berkamera dan bukti kejahatan Agni bang. Adel minta tangkap dia dengan bukti penculikan, percobaan pembunuhan, dan pastikan dia mendekam dipenjara." Arion terbelalak mendengar pembicaraan Adel.


"Kamu gila Ra, bagaimana kalau kamu dan janin kamu kenapa kenapa" Arion merasa tindakan Adel sangat gegabah. Sayangnya Adel malah tertawa dengan bahagianya.


"Lain kali kamu jangan senekat ini, nanti kalau kamu kenapa kenapa abang bisa dipenggal sama Kevin Ra. " jelasnya mengingatkan Adel. Adel hanya mengangguk dengan santun kepada abangnya.


Flash Back Of


"Hanya kecelakaan kecil Zel. " Adel berjalan masuk dan tak lama Arion menyusul Adel masuk. Langkah Arion terhenti melihat daddy Adel bersama mommynya dan Kenan berdiri dengan wajah marah.


"Kalian kena..... " kalimatnya bahkan belum selesai Adel ucapkan, sebuah tangan kokoh milik daddynya melayang mengarah ke pipi Adel.


"Plak"


Pipinya memanas, pipinya seperti mati rasa, sepertinya belum lama perdebatan antara daddy nya dan Adel terjadi, masalah lalu saja belum terselesaikan ditambah lagi sebuah tamparan yang belum tau jelas akar masalahnya.


"jelaskan ini semua Ra. " Adel menatap hasil laboratorium pp test nya, hancur sudah semuanya, jelas saja daddy nya marah, mana ada orang tua yang tidak marah, putrinya hamil di luar nikah.

__ADS_1


Adel hanya tertunduk, rambutnya saja menutup sebagian wajahnya, ditemani air mata yang berjatuhan di wajahnya. Mommy Adel hanya menangis dengan sesegukan, melihat putrinya ditampar bahkan hatinya ikut merasakan sakit yang luar biasa.


"Jawab Ara....! " teriakanya begitu melengking di telinganya, membuat Adel takut. Tidak ada jawaban dari Adel, ia akui kelakuanya salah, Adel tak bersuara hanya sebuah isakan yang keluar dari bibirnya.


"Dadd.... " Adel memanggil daddy nya dengan segukan, ia mencoba menatap wajah daddy nya.


"Angkat kaki dari sini kamu Ra. " Air matanya ia redam agar tidak jatuh, sayangnya air mata itu masih saja mengalir. Ia berdiri melangkah ke kamarnya mungkin merapikan kopernya, tak lama ia turun menarik sebuah koper. Mommy Adel tidak bisa berkata apapun, begitu juga dengan Kenan.


"Ara... " Arion menahan Adel yang hendak berjalan meninggalkan rumah tersebut lengkap dengan kopernya. Kenan menarik Arion yang tanganya sedang menahan Adel.


"Ken dia adek kamu. " ucapnya dengan mata merah dan rasanya ingin menghantamkan kepalan tanganya kepada Kenan. Kenan tidak bergeming, ia bahkan tidak merasa sedih sama sekali.


"Ara yang sekarang bukan Ara yang dulu yang suka membuat ulah. " jelasnya, membuat Arion geram kepada Kenan.


"Kalian akan menyesal." Arion berjalan mengikuti Adel, ia coba tenangkan Adel sayangnya ia hanya diam. Arion membawa Adel kerumahnya, tidak ada penolakan darinya.


*


" Kevin." Adel memeluk erat tubuh suaminya itu, air matanya sudah berjatuhan di pundak Adel. Baginya hanya Kevin saat ini yang bisa ia andalkan, Arion sudah mempunyai kehidupan sendiri dan sepertinya tak pantas kalau ia menempel kepada mereka.


"Ara, kamu baik baik saja? " Kevin sangat khawatir terhadap Adel, mengingat lagi bahwa Adel saat ini tidak sendiri ia bersama janin yang sedang tumbuh. Kevin menjatuhkan lututnya, diusapnya perut Adel dengan lembut, lalu menciumnya perlahan.


"Apa disini ada jagoan kita? " Adel menganggukan kepalanya. Lagi lagi Kevin mencium perut Adel yang masih rata itu.


"Non, cepat, kita harus kabur" sebuah teriakan dari laki laki yang sedari tadi memperhatikan kemesraan mereka. Adel menanting Kevin dan menariknya pergi.


"Kev kita harus cepat keluar dari sini. " jelasnya kepada Kevin. Kevin menggenggam erat tangan Adel, ia tidak tau apa yang terjadi, sepertinya ada banyak sesuatu yang terjadi yang membuat Adel senekad ini.


Setelah keluar dari rumah Kevin, Adel menuju bandara "Ra kita mau kemana?" Kevin menghentikan langkah Adel. Adel menatap wajah Kevin yang seakan meminta jawabnya.


"Kita akan meninggalkan negara ini Kev, dan tidak akan pernah kembali lagi kesini. " Jelasnya membuat Kevin bertanya tanya ada apa gerangan.


"Tapi kenapa Ra? "

__ADS_1


"Aku akan ceritakan nanti Kev, yang aku minta jawaban kamu saat ini, maukah kamu pergi dari sini dan hidup hanya bersamaku? "


__ADS_2