
Kevin mendorong stroler tersebut, dan mamasukanya ke bagasi mobil. Kevin menggendong Cila dengan erat seolah ia sangat takut kehilangan putrinya. Setelah selesai mengepak sesuatu yang mungkin mereka butuhkan nanti, mereka berjalan ke Bandara.
"Maaf Ra... Aku belum bisa membawamu kembali kepada orang tuamu" ungkapnya penuh sesal. Adel tersenyum kepada Kevin lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kevin.
"Aku istrimu Kev, apapun yang kamu mau, kamu berhak kepadaku dan juga putrimu." ucapnya yang menatap Kevin dengan penuh syukur. Mau kemana lagi mereka, entahlah ikuti alur saja dulu.
"Apa kamu menyesal menikah denganku? " Tanyanya dengan tatapan ingin tahu. Adel menggeleng cepat. Ia bersyukur bersama orang yang sangat ia cintai. Menerima segala kekuranganya dan kelebihanya, serta mau melewati masa tersulitnya bersama sama.
"Bagiku kamu adalah hal yang sangat aku syukuri keberadaanya Kev. Berada di sisihmu disisa sisa hidupku adalah hal terindah dalam hidupku. Apalagi ada malaikat kecil yang sangat cantik bersama kita Kev. '' apa maksud Adel mengungkapkan kalimat di sisihmu disisa sisa hidupku. Fikiranya memutar jauh, ia tidak mengerti dengan maksud yang diungkapkan Adel.
"jangan ngomongin itu lagi Ra, aku tidak mau mendengar kalimat itu. " ucap Kevin yang tak mau mendengar kalimat perpisahan.
"Kelak itu akan...... " kalimatnya belum selesai namun Kevin terlebih dulu memotongnya.
"Cukup Ra..... Jangan lanjutkan pembahasan ini. " Hatinya sesaat bergetar mendengar ungkapan kalimat Adel tentang kehidupanya. Ia tidak sanggup jika harus berpisah denganya.
"Maaf Kev.... Aku tidak bermaksud membuatmu takut ketika aku membahas tentang kebersamaan kita yang mungkin tidak akan lama. " Batinya...ia tidak bermaksud menakuti Kevin tapi akhir akhir ini rasa sakitnya hampir tidak bisa berhenti, ia memcoba untuk tidak mengkonsumsi obat analgetik, hanya demi Cila. Mengingat ia masih menyusui dan akan berefek pada bayinya.
Sesaat mereka saling terdiam, memikirkan sesuatu yang tidak ada faedahnya. Air mata Kevin perlahan turun membuat Adel menatap haru suaminya itu. "Kev...... Maaf. " Kevin dengan berat menganggukan kepalanya. Keduanya tak bisa berkata kata.
Sesampainya di bandara ia menelphone seseorang. Entah apa yang ia bicarakan, hingga akhirnya Kevin menggandeng tangan Adel yang memeluk Cila erat berjalan masuk beriringan.
"Kemana? " Kevin tidak menjawab, ia merangkulkan tanganya di bahu Adel, mempererat pelukanya. Seolah tidak mau kehilangan istri tercintanya.
"Kembali ke Bali. " jawabnya. Mungkin saat ini Bali tempat yang aman untuk mereka sejenak mengistirahatkan fikiranya. Seakan hidup seperti ini terjadi apa mungkin karna restu orang tua yang memang tidak menyertai sehingga hidup mereka kacau.
*
Kenan, Zela, mommy, dan daddy nya telah sampai di depan rumah Adel yang berada di Jl. Kaliurang, mereka turun dari mobil, lalu berjalan menuju alamat rumah yang Saka beritahu. Keadaan rumah rapi, sederhana namun di depan rumahnya terdapat pot pot yang terguling, pintu depan rumah terbuka.
"Assalamualaikum.... " daddy Kenan berjalan menuju pintu yang terbuka sedikit. Kenan tampak celingukan ke kanan dan kiri. Berharap ada penghuni rumah yang keluar.
"Kita masuk saja dad? " pinta Kenan, Kenan berjalan perlahan memasuki rumah Adel. Mengenaskan semua aksesoris berbentuk kaca, almari, dan perabot berserakan hancur tak berbentuk. Keyla menutup bibirnya ia menjerit melihat ada darah yang tercecer.
__ADS_1
Sebuah bingkai foto pernikahan yang masih terpampang di meja depan tv tertata rapi. Ditatapnya perlahan lalu ia usap foto itu. Air matanya mengalir, hatinya sesak melihat putrinya yang hidupnya begitu keras. Axel merangkulkan tanganya. Lalu mengusap pundak istrinya. "Sabar sayang." ucapnya yang sebenarnya juga menahan isak yang dalam di relung kalbunya.
Kenan pun sama sesak yang ia rasakan. Gadis kecil yang sangat manja, nakal sekarang harus bernasib seperti ini. Mata mereka meleleh melihat gadis cilik yang sangat mirip dengan Adel di foto dengan gaya yang elegant.
Tak bisa ditahan, air mata dan isak mereka terpecah, bahkan cucu mereka sangat lucu. "Mas..... " Keyla merengek, hatinya seperti teriris, bagaimana tidak putrinya bersusah payah melahirkan gadis kecil dalam keadaan yang begitu sulit.
"Apa kita gagal sebagai orang tua mas, kenapa Ara sama sekali tidak menghubungi kita, dihari pernikahanya dan di hari kelahiran putrinya...... Hixss..... Sebegitu jahatnya kah kita sampai...... " kalimatnya di potong oleh Axel.
"Tidak Key... jangan berkata seperti itu, ini semua salah mas. Andai saja.... " ucapnya dengan penuh sesal.
"Cukup pa, papa tidak ada hentinya menyalahkan diri sendiri sejak kepergian Ara, sekarang kita cari Ara. " mereka berjalan masuk ke kamar milik Ara, terdapat mainan anak bayi, membuat hati mereka lagi lagi hatinya seperti diruntuhkan sekejap.
"Apa yang terjadi kepada mereka sebenarnya, sampai rumah mereka hancur seperti ini? "Kenan heran, sepertinya kejadian ini masih baru, karna dilihat dari kamar Adel tertata rapi dan belum ada debu.
"Kita tanya tetangga saja pa! " Zela mengajak Kenan untuk menemui tetangga sekitar, hanya ada kebun bunga yang sangat elegant dengan tatanan bunga yang begitu memikat hati, mereka menuruninya lalu mengunjungi seorang nenek yang sedang merangkai bunga anggrek.
"Permisi nek... Maaf mau tanya. " Nenek tersebut menoleh menatap Kenan dan Zela. Wajah Kenan begitu mirip dengan Adel, membuat nenek tersebut melamun sejenak.
"Nggih cah bagus ada apa? " tanyanya menatap balik dan menjawab ramah sapaan Kenan. Kenan mendekati ibu tersebut dan menuturkan kalimat yang lembut.
"Rumah itu? " Kenan menganggukan kepalanya, pandangan matanya mengikuti arah telunjuk nenek yang mengarahkan pada rumah Adel." Anda ini mirip sekali dengan mba Adel pemilik rumah itu." jelasnya membuat Kenan tersenyum karna seseorang yang ia tanya ternyata membawakan hasil.
"Saya kakak kandungnya nek." jelasnya membuat nenek tersebut mengangguk ramah, tepat dugaan nenek Arkan. Ia ingat kembali lelaki yang sering berkunjung ke rumah Adel adalah kakaknya beserta istri dan anaknya.
"Berarti na Adel punya dua kakak ya? " tanyanya membuat Kenan mengernyitkan keningnya, pertanda sebuah rasa heran dengan ungkapan nenek tersebut.
"Kami hanya 2 bersaudara nek." Jelas Kenan kepada nenek tersebut.
"Biasnya yang sering berkunjung seorang lelaki bersama istri dan anaknya, anaknya sering main ke toko bunga ini namanya Derrick. " mata Kenan membulat, ia kaget ternyata Arion selama ini mengetahui keberadaanya.
"Brengsek kamu Ar.... " batinya, urat nadinya tampak jelas akibat genggaman tanganya karna kesal kepada Arion.
"Ohh ia nek, namanya Arion dia adik saya ." Kenan masih menampilkan mood ramahnya, walaupun hatinya kacau mengetahui Arion membohonginya.
__ADS_1
"Cucu saya dekat dengan na Kevin dan nak Adel, karna mereka bekerja di rumah sakit yang sama? " ucapnya membuat Kenan berfikir apakah cucunya yang dimaksud adalah sahabat Saka di Singapore.
"Apa cucu nenek bernama Arkan? " nenek tersebut tersenyum mengiyakan pertanyaan Kenan. Namun dari mana pemuda ini mengenal putranya.
"Maaf na, apakah nama anda Saka? " tanyanya yang memang kenal dengan nenek Arkan. Yah nenek Arkan tidak pernah bertemu dengan Saka membuatnya menanyakan apakah Kenan adalah Saka.
"Bukan nek, saya sahabat Saka, nek maaf kalau boleh tau kemana penghuni rumah tersebut saat ini? " Sesaat wajah nenek tersebut muram kembali.
"Kemarin banyak preman yang memporak porandakan rumah itu, namun mba Adel dan putrinya berhasil di tolong polisi. Lalu mereka tidak kembali sejak kemarin malam mas. " terang nenek Arkan menceritakan detail kejadianya membuat Kenan kaget, namun berlanjut mengembangkan dadanya sempurna karna nafas leganya mengingat Adel selamat dan ditolong oleh polisi.
Kenan berpamitan kepada nenek Arkan, lalu melajukan kemudinya menuju arah dimana kantor polisi berada. Sesampainya di kantor polisi mereka kecewa, bukan hanya kecewa, lagi lagi memang nasib tak mempertemukan mereka, sungguh berat cobaan adiknya itu.
"Kita harus menemui keluarga Kevin pa! " pintanya kepada kedua orang tuanya, mereka setidaknya tidak lagi memihak Agni karna kelakuan Agni yang gila itu, mengingat bagaimana keadaan Adel dan Kevin saat ini yang menjadi incaran Agni.
Pulang dengan rasa kecewa mengingat sang putri juga belum ditemukan, rencananya mereka akan berlanjut menemui orang tua Kevin. Namun Kenan urungkan, mengingat perjalanan mereka begitu melelahkan. Apalagi mamahnya yang begitu terpukul melihat keadaan Adel yang selalu dilingkupi masalah dan dalam keadaan bahaya.
Sesampainya dirumah Kenan meminta papa mama dan Zela untuk turim dan beristirahat. "Istirahatlah pa.. Ma... Kalian pasti lelah, Kenan ada perlu sebentar." Pamitnya kepada istri dan kedua orang tuanya.
Dengan kecepatan rata rata Kenan menuju rumah Arion. Kenan tidak menceritakan perihal Arion sering mengunjungi Adel di Jogja, karna mengingat masalahnya akan melebar jika mereka tau.
Sesampainya Kenan di rumah Arion, keadaan rumah sepi, hanya ada Arion dirumah tutur sang pembantu yang sedang merawat halaman depan. Langkahnya ia percepat, emosinya seakan memuncak. "Ar.... Keluar loe! " teriaknya marah kepada Arion. Arion yang mendengar teriakan Kenan segera berjalan keluar.
"Loe kenapa si teriak teriak? " tanya Arion polos, ia tidak tau titik permasalahanya.
"Bugh... "
" Brengsek loe Ar.... " makinya kencang kepada Arion. Arion mencoba melepas cengkramanya dari Kenan, dan hendak menanyakan apa masalahnya hingga ia marah dan membabi buta seperti ini.
"Ken... Loe bisa ngomong baik baik kan! "Pintanya kepada Kenan.
"Bugh... " lagi lagi tanganya ia daratkan di pipinya membuat Arion mengerang kesakitan.
"Ken..... " Arion melepaskan cengkraman Kenan. Lalu menangkis tangan yang hendak dipukulkan Kenan ke pipi Arion "Loe kenapa si? "
__ADS_1
"Bisa bisanya loe membohongi kita semua tentang keberadaan Adel! " teriaknya membuat Arion sesaat terpaku, Arion sadar, bahwa ia salah telah merahasiakan dimana Adel berada, tapi apalah daya ini permintaan adiknya. Ia sadar kenapa Kenan sebegitu marahnya mengetahui hal ini.
*Mohon maaf atas keterlambatan upnya, dikarenakan tuntutan kerja yang membuat Author tidak update. Tetap stay dirumah, usahakan selalu rajin cuci tangan, memakai masker dan menjaga kesehatan. Karna jumlah pasien di rumah sakit mwningkat akhir akhir iniππ