Gadis Liar

Gadis Liar
72


__ADS_3

"Sebentar Kev, ada yang bertamu. " ungkapnya dengan nada tergesa gesa. Ia berjalan menuju sumber suara. Siapa gerangan yang bertamu sepagi ini, sepertinya ia masih baru menempati daerah ini, sehingga sangat jarang Adel menerima tamu.


"Ceklek" Adel membuka handle pintu. Betapa kagetnya ketika sosok wajah yang ia rindukan muncul dihadapanya.


"Abang..... " Serunya, ia tidak bermimpi, juga tidak sedang berhalusinasi. Derrick dengan cepat melompat kepelukan Adel dan membanjiri pipinya dengan ciuman. Air matanya merembes begitu saja.


Sepertinya ia kemarin membayangkan mereka dan sekarang mereka ada di depan matanya. Suara langkah menyusul Adel dari dalam. Kevin memicingkan matanya, ia tatap sekali lagi siapa yang berada di depan pintu. "Ar.... " suara Kevin membuat semua yang ada di depan pintu menatap Kevin.


"Kev... "Salam hangat dari Arion yang menyatukan kedua tangan mereka tanda salam pertemuan. Ia mulai bertanya tanya, siapa gerangan yang memberitahu Arion dan Ayra bahwa mereka disini.


"Ra.... "Kevin menatap Adel dengan rasa ingin tahu. Ayra dan Arion hanya diam melihat suasana canggung ketika seorang perempuan diintimidasi oleh suaminya.


"Jangan salahkan dia Kev, kemarin siang Ara menelphone ku, dia menangis merindukan keluarganya." Kevin memindahkan kembali tatapan intimidasi tersebut ke arah Adel. Adel hanya menunduk merasa bersalah.


"Hanya kami Kev, kami janji tidak akan ada seorangpun yang menyusul kita kemari. "Timpal Arion meyakinkan Kevin. Kevin mengangguk pelan, ia yakin sudah ada yang mengawasi salah satu diantara Ayra dan Arion.


"Masuklah Ar, sudah terlalu lama kalian diluar. " Kevin menyalimi putra Ayra dan Arion yang sedari tadi diam mengekspresikan wajahnya, melihat Kevin yang kurang ramah dalam menyambut tamu, Arion dan Ayra juga merasa bersalah. "Hai boy... Ayo daddy gendong. " Derrick dengan lincah naik ke pundak Kevin.


"Ay...... " Adel memeluk Ayra dengan erat, air matanya membanjiri kelopak matanya, merembes hingga tampak seseorang yang benar benar merindu. Kevin terbuai, melihat istrinya yang begitu dekat dengan Ayra membuat Kevin yakin tidak pernah ada hal yang disembunyikan dari keduanya.


Mereka saling berkumpul di sebuah ruangan, ruang santai dimana berhias dengan lemari yang lumayan besar dilengkapi fasilitas sofa dan televisi LED. "Kembali lah Ra, daddy dan mommy benar benar frustasi kehilangan kamu. "


"Maaf Ar, alasan kita pulang juga harus mempertimbangkan keluargaku, aku tidak mau kejadian yang sama dilalui Ara, dipisahkan dan disemena menakan oleh keluargaku, keluargamu, dan Agni tentunya." jawabnya khawatir. Adel tak bisa menjawab, ia takut kalimatnya hanya akan membuat rasa sakit bagi Kevin.


"Agni sudah dipenjara Kev. " ungkapnya kepada Kevin dan Adel. Kevin mengetahui akan hal ini, bukan hanya media sosial dia memantau semua kejadian yang berbahaya bagi keduanya.


"Dia akan segera keluar dengan jaminan Ar, dan dendamnya akan lebih meresahkan buat kita. " jelasnya khawatir akan keadaan Adel yang begitu terancam. Adel memang bisa melawan Agni tapi untuk saat ini Adel punya begitu banyak kelemahan untuk menghadapinya.


"Benar juga, Agni adalah wanita yang bahkan tidak memikirkan reputasinya, ia hanya memperkirakan hasil akhirnya dengan menghalalkan segala cara." tebaknya, melihat dari kejadian yang sudah sudah, dia adalah gadis nekad sama seperti Adel, hanya saja Adel masih memikirkan perasaan seseorang sedangkan Agni tidak.


"Bagaimana kabar mommy bang? " satu hal yang selalu ia ingin tau sampai ia nekat menelphone Ayra adalah mommy nya, rasa cinta seorang putri kepada mommy nya begitu besar dan juga sebaliknya.


"Hancur Ra, mommy kamu benar benar hancur mengetahui kebenaran bahwa kamu merahasiakan penyakitmu." jelas Arion, membuat Adel sedih. Kevin mengusap pundak adiknya, mencoba memberi ketenangan kepadanya bahwa semua akan baik baik saja.


"Jika kamu sudah melahirkan anakmu pulanglah, kasian mommy kamu, bahkan daddy kamu merasa sangat bersalah kepadamu."

__ADS_1


"Mommy bunda aku lapar... " ucap Derrick membuat suasana sedih berubah menjadi kelucuan. Adel segera menangkupkan tanganya di pipi Derrick lalu mengacak rambutnya.


"Baiklah sayang, ayo kita makan." jelasnya kemudian hendak menggendong Derrick dari pundaknya.


"Aku saja Ra, kamu tidak boleh mengangkat beban terlalu berat." Ucap Kevin yang kemudian mengambil alih Derrick ke pundaknya dan membawa Derrick ke ruang makan.


"Sepertinya Kevin sedikit terkejut dan tidak suka kita disini Ay. " ungkap Arion kepada Ayra. Ayra menganggukan kepalanya, dari percakapanya sedari tadi memang menjelaskan bahwa Kevin terlalu khawatir dengan kedatangan kita.


Ketika Ayra, Adel dan Derrick menikmati makan siangnya. Kevin keluar dari rumah, ia duduk di teras rumahnya dan disusul oleh Arion. "Gue tau loe khawatir dengan keselamatan Ara." Ucap Arion sambil menepuk pundak Kevin.


"Gue takut dipisahkan dari Ara Ar." Kevin meraupkan tanganya di wajahnya dengan kasar lalu menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi besi yang berjejer di bawah pohon jambu. "Dan sekarang pun gue takut kedatangan loe ada yang mengikuti Ar. " jelasnya. Bahkan Arion tak berfikir sejauh itu.


"Siapa yang akan melakukan itu Kev?" Arion penasaran dengan ucapan Kevin.


"Kamu tidak kenal Agni, bahkan ketika raganya di dalam jeruji besi, mulutnya mampu mengintrupsi ke semua pesuruhnya." Arion kaget, kenapa ia tak berfikir sejauh itu. Kevin menatap Arion, lalu menepukan kembali tanganya ke pundak Arion "jangan difikirkan Ar ayo masuk, aku tidak mau Ara memikirkan yang tidak tidak dengan kita tidak bergabung bersama di ruang makan.


"Kev.... Aku mau jalan jalan. " ucap Adel manja kepada Kevin. Kevin menatap Adel yang saat ini seperti anak kecil manja yang menginginkan boneka barbie.


"Bagaimana kalau kita jalan jalan ke toko bunga yang katanya setengah harganya milik Ara, dan setengahnya milik lelaki tampan yang sedang mendekatimu. "Adel membulatkan iris matanya, ia jengah ketika Kevin menyinggung masalah perkenalanya dengan dr. Arkan.


"Adikmu ini selain pintar mencari uang, balapan liar, berbohong, mematahkan hati banyak lelaki, juga pandai tebar pesona Ar. " Sindir Kevin kepada Adel yang membuat Arion tertawa mendengar ucapan Kevin.


"Siapa lagi yang tertarik padanya? " tanya Arion kepada Kevin. Ayra hanya tersenyum mendengar dua insan antara sang suami dan istri yang sedang saling bertengkar lewat abangnya.


"Mommy bunda dulu waktu di Amrik juga tiap hari ada yang nganter pulang. "Celetuk Derrick yang sukses membuat Kevin menatap selidik pada Adel.


"Benar Ay? " Saat ini bukan hanya Arion, Kevin, dan Derrick yang mengintimidasi Adel, bahkan Ayra tidak akan bungkam tentang hal ini.


"Cukup banyak, dan keseharianya berganti lelaki, tapi sayangnya status mereka hanya teman. "Adel menarik ujung bibirnya sempurna, ia menang dipertandingan kali ini, pertandingan adu mulut yang membuat Adel mati kutu di depan Kevin.


"Ayo kita jalan jalan. " ajak Derrick kepada mereka. Setelah makan mereka berencana untuk berlibur ke Jogja, termasuk wahana di sampingnya yang memang dekat dengan tempat wisata gunung merapi, sorenya mereka menuju Malioboro.


Yah... Malioboro adalah jalan setapak yang sangat ramai dan indah ketika sore dan malam hari. Tempat dimana ada taman baca, pasar Bringharjo, dan sederet pedagang kaki lima yang menjanjakan kenikmatan makanan, serta busana murah khas Djogja. Terakhir adalah Bukit Bintang, dan berbagai wahana pariwisata malam yang begitu menampakan keindahanya.


Mereka sempatkan untuk memutari Universitas Gajah Mada yang begitu luas, dan memanjakan lidah lidah mereka di pinggiran jalan UGM di kota ini. Sekitar pukul 22.30 mereka baru sampai ke kontrakan. Setelah lelah dengan hari yang panjang ini.

__ADS_1


Sekitar pukul 06.00 pagi Arion dan Ayra pamit pulang ke Jakarta. Seperti janji Arion kepada Kevin bahwa mereka tidak akan sering berkunjung, mengingat keselamatan Adel menjadi taruhanya.


*


8 Bulan kemudian


Perut yang sudah membuncit, dan pinggang yang benar benar tidak dapat dikondisikan, membuat Adel sangat kelalahan dalam beraktivitas. Ia selalu menghabiskan waktunya di taman bunga ditemani oleh nenek dr. Arkan.


Dokter tampan berkharisma ini masih sering datang ke taman yang sejak 4 bulan yang lalu berpindah kepemilikan legal menjadi milik Adell. Pasalnya neneknya selalu ingin membantu Adel saat membudidayakan tanaman bunga tersebut.


📞"hallo Ra, bagaimana apa kontraksinya bertambah? " tanya Kevin penasaran, ditengah tengah visitenya ia begitu khawatir, pasalnya sejak tadi pagi Adel mengeluarkan lendir panjang bercampur darah. Itu salah satu tanda persalinan. Ditambah lagi memang perineum Adel sudah menonjol, vulva membuka, buang air Kecil yang lebih sering dari biasanya.


📞" Sepertinya kontraksinya masih 4x dalam 10 menit" jawabnya sambil melihat catatan kecilnya yang sedari tadi memantau kontraksinya sendiri.


📞"Sudah teratur Ra? "


📞"Belum Kev. "


📞"Tunggu aku 30 menit lagi visite selesai Ra. " jelasnya, fikiranya sudah tak jelas, bahkan rasanya ia ingin menemani detik detik kelahiran putrinya. Yah, anak pertama mereka seorang putri.


60 menit berlalu Kevin sudah berada dalam perjalanan membawa Adel, meskipun ia tenaga medis ia merasa khawatir terhadap istrinya yang baru pertama akan melahirkan.


Saat ini Adel berada di ruang tindakan dengan pembukaan 8. Adel tampak tenang, berbeda dengan Kevin yang wajahnya sudah panik, cemas, bahkan tidak ingat makan. "Ra kamu pengin makan atau minum? " tanya Kevin dengan nada protektif.


"Ara pengin minum teh. " Kevin dengan cepat mengambilkan tehnya. Sebenarnya dokter menyarankan untuk melakukan operasi Sectio Caesarea, hanya saja Adel menolak ia ingin seperti wanita pada umumnya melahirkan dengan normal.


Setelah air teh tersesap habis, Adel merasa sangat ingin meneran. Kevin dengan cepat memanggil dr. Obsgin beserta bidan jaganya. Pembukaan sudah lengkap, seorang bidan mempersiapkan oxytosin dan segera mungkin memimpin persalinan.


Meneran atau mengejan


Oksitosin adalah hormon pada manusia yang berfungsi untuk merangsang kontraksi yang kuat pada dinding rahim/uterus sehingga mempermudah dalam membantu proses kelahiran.


"Oek... Oek... Oek... "15 menit berlalu, proses meneran akhirnya terdengar suara bayi. Hatinya bergetar hebat, air matanya ikut berderai, ia bersyukur diberikan nikmat ini, dimana nikmat ini tidak ada duanya, nikmat diberikan keturunan dan kebahagiaan.


Tak lain halnya Adel juga bergelinang air mata mendengar suara bayi. Nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan.

__ADS_1


__ADS_2