
"Tidak dia pulang bersamaku. " Saka menarik Adel dari papahan Kevin.
"Denganku"
"Denganku"
"Denganku" mereka berebut seperti anak kecil. Membuat Adel pusing.
"Cukup aku pulang sendiri, kalian bisa pulang bersama."
Akhirnya mereka pulang bertiga, dengan Saka menjadi supirnya, Adel dan Kevin berada di tempat duduk penumpang. Sesekali Saka melihat Kevin dan Adel dari spion, tampak keduanya diam tanpa sepatah katapun.
"Antarkan aku ke alamat ini. " pinta Adel kepada Saka. Saka memicingkan matanya, pasalnya rumah yang ia tuju bukan apartemen abangnya atau rumahnya. "Itu rumahnya Ayra. " jelas Adel. Mereka menganggukan kepalanya dan masih tetap diam membisu. Sesampainya di rumah Ayra, Adel langsung masuk ke dalam rumah.
"Makasih, kalian jangan berantem ya, aku masuk. " Adel mengibaskan tanganya kepada mereka berdua. Lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Saka dan Kevin tampak diam, tidak ada percakapan diantara mereka. "Depan, gue bukan supir loe. " keluhnya dengan nada super jutek. Kevin berpindah di samping Saka.
Sepanjang perjalanan mereka tidak ada satu patah katapun. Hingga sampai di bassement rumah sakit ketika Saka mengantar Kevin mengambil mobilnya barulah mereka mulai mengobrol.
"Loe sama Adel balikan"
"Loe sama Adel jadian"
Kedua kalimat ini terucap secara bersamaan, tanpa perlu menjawab mereka tau jawabanya masing masing. "Kenapa loe putus sama Adel, sangat jelas kalau Adel masih sayang banget sama loe. " tanya Saka yang sangat ingin tau permasalahanya.
"Gue gak tau, dia mutusin gue sepihak, dan gak pernah ada kabar sampai sekarang. "Jelasnya lalu beranjak pergi meninggalkan Saka.
"Apa kamu masih mencintainya? " Kevin menganggukan kepalanya, namun tidak berniat membahas hubunganya dengan Adel, walau bagaimanapun Kevin sekarang mempunyai tunangan, yang dijodohkan oleh orang tuanya.
*
"Kamu gak pengin kerja?" Ayra menatap Adel dengan serius karna tiba tiba Adel memberikan pertanyaan itu, sepertinya Adel akan menawarkan pekerjaan.
"Di rumah sakit kamu kerja? " Adel menganggukan kepalanya. Ayra mendesah dengan berat, haruskah satu rumah sakit dengan Arion. Sedangkan bertemu denganya saja ia tak ingin. Tapi ia benar benar butuh pekerjaan.
"Cepat atau lambat bang Ar akan tau Ay, jadi percuma loe sembunyi juga. " Ayra memikirakan ucapanya. Adel meninggalkanya menuju kamar Derrick lalu ikut meringkuk disampingnya.
Pagi ini Adel mendapatkan jadwal libur, ia mengajak Derrick jalan jalan ke mall dan membiarkan Ayra istirahat dirumah. Setelah membawa Derrick berjalan jalan Adel pamit untuk pulang ke rumah, karna daddy nya mengomel, putri kesayanganya tidak mau tinggal dirumah, dan malah tinggal bersama temanya.
"Gue pulang ya Ay." pamitnya sambil menenteng ransel kecilnya. Ayra tampak diam, membuat Adel gemas kepada sahabatnya itu. "Ra nitip ini sama bang Ken. " Adel meneliti sebuah amplop coklat berisi surat lamaran kerja. Senyumnya mengembang mendengar Ayra bersedia untuk bekerja bersamanya.
__ADS_1
Adel sampai dirumahnya, tampak sepi, mungkin karna momminya masih bekerja, dan daddinya belum pulang. "Bi pada kemana? " Adel menyambar jus yang sedang dibuat Art nya dirumah.
"Dibelakang non, ada mba Zela juga. " Adel langsung berlari ke belakang rumah, pasalnya ada calon kakak iparnya disana. "Mba Zela. " teriak Adek kepada Zela lalu berhambur ke pelukanya.
"Ra kamu kemana aja, sejak pulang gak pernah ketemu kamu. " tanya Zela yang sejak kepulanganya tidak pernah bertemu denganya. Daddy Adel menyikukan kedua tanganya melihat putrinya pulang. "Ingat pulang kamu Ra? " ledek deddy dan momminya. Adel menghamburkan ciumanya kepada kedua orang tuanya.
"Daddy kaya gak tau Ara aja, Ara sibuk di rumah sakit. " belanya pada diri sendiri.
"Mba kapan nikah, biar mommy dan daddy gak kesepian dirumah." tanya Adel pada Zela.
"Bulan depan Ara sayang, abangmu akan menikah dengan mba Zela, kamu kapan? " Adel memanyunkan bibirnya, ia enggan jika membahas tentang hubungan percintaan. Sampai detik ini ia masih bungkam tentang penyebab hubunganya dengan Kevin kandas. Mendapat pertanyaan tersebut mata Adel mulai berkaca kaca.
Flash Back On
"Na Adel, bisakah kamu meninggalkan putraku. " Ya tepat 7 tahun yang lalu hubungan Adel dan Kevin kurang lebih dua tahun, ayahanda Kevin datang bersama kakeknya ke Amerika untuk menemui Adel.
"Beri saya alasanya tuan, jika menurut saya itu masuk akal, saya akan melepaskanya, namun sebaliknya, jika alasanya tak masuk akal, bahkan dengan nyawa saya, saya akan mempertahankanya."
"Kevin sudah dijodohkan sejak lahir dengan seorang putri bangsawan, dan jika perjodohan ini gagal maka keluarga saya akan terancam. Kamu tau sendiri kehidupan kerajaan sangatlah rumit. " jelas ayahanda Kevin, yang sebenarnya tidak tega memisahkan keduanya, tapi eyangnya lah yang meminta langsung kepada Adel.
"Kami sangat memohon kepada nak Adel, untuk pergi jauh dari kehidupan Kevin dan jangan pernah muncul dalam kehidupanya lagi. Karna kamu tau, Kevin sangat mencintaimu, dia pernah berkata akan menikahimu, tapi kami tidak berani mengatakan tidak untuknya. Maka dari itu hanya nak Adel lah yang mampu meninggalkan nak Kevin, agar Kevin mau dijodohkan.
"Apa kalian fikir saya mampu meninggalakan Kevin, tidak om, tuan, saya pun tidak bisa meninggalkanya. Bahkan jika harus hidup bersusah payah bersamanya, akan saya jalani, asal bisa bersama dengan Kevin. "
"Saya tidak berjanji, maaf saya pamit, saya ada kelas sore ini. " jelasnya yang kemudian pergi meninggalkan mereka, matanya sudah berkaca kaca, seperti reruntuhan batu menimpanya.
"Haruskah Kev, haruskah aku meninggalkanmu, bahkan aku tak akan mampu hidup tanpamu." air matanya sudah mengalir bebas dipipinya.
Flash Back Of
"Abang pulang" teriakan Arion dan Ken secara bersama. Membuat lamunan Adel terhenti seketika. Melihat Kenan yang pulang lalu mengecup kening Zela membuat Arion dan Adel menelan ludahnya.
"Jangan ngiri ya, para jomblo. " Kenan memamerkan kemesraanya. Kenan sangat menyayangi Zela, dan selalu tampil mesra dimanapun mereka berada. Ia sudah tidak memikirkan Arion lagi, pasalnya Arion hatinya telah berpindah kepada Ayra.
Adel menyodorkan amplop berwarna coklat kepada Kenan. "Apa ini? " Kenan meneliti amplop tersebut. Matanya ia mainkan dengan Arion. Membuat Arion penasaran apa isinya.
"Surat lamaran Ayra, abang kenal dengan orang dalam kan, usahakan dia bisa bekerja bersamaku. Ada seulas senyum dibibir Arion mengingat ia akan bekerja bersama dengan Ayra.
"Saka juga nitip lamaran. " Adel menyunggingkan bibirnya, pasalnya akan kembali bertemu dengan Saka lagi, dan kemungkinan akan berpartner mengingat mereka satu PPDS, Adel akan sangat membutuhkan Saka disana untuk membimbingnya.
PPDS adalah dokter yang sedang melaksanakan proses pendidikan dengan melakukan pelayanan di rumah sakit pendidikan.
__ADS_1
*
Shift pagi Adel dihiasi dengan senyum, karna hari ini, ada Ayra dan Saka yang akan menemani keseharianya. "Dok kemarin libur kemana? " tanya Bella.
"Kepo kamu Bel " Adel mengalihkan pandanganya kepada Desi yang sedang asik main game, namun layarnya menampilkan gambar Defeat. Ponsel Dessi di sambar Adel, lalu memainkanya. Berkali kali layarnya menampilkan gambar Victory, membuat Dessi bahagia.
"Wah dokter jago sekali mainya. " puji Dessi kepada dr. Shava. Topan yang sedari tadi sibuk dengan layar gawainya tak menggubris mereka yang sedang asik dengan gawainya masing masing.
"Pan lagi apa si? " tanya dr. Shava pada Topan. Topan menampakan wajah datarnya, dan wajah memelasnya. "Anak saya sakit dok, bisakah...... "
"pulanglah, nanti saya yang ijinkan pada karumu. Topan merekahkan senyumnya, lalu beranjak turun dari kursi nya. "Dok makasih. " Topan menuju ruang gantu untuk mengganti baju hijaunya dengan seragamnya. Disambarnya tas kesayanganya lalu berpamitan pada dr. Shava.
Karu adalah kepala ruang
"Oh ia dok, kemarin dr. Kevin mencari dokter. " Adel menatap topan dengan wajah penasaran. "Kayaknya dr. Kevin suka deh sama dokter. " godanya membuat wajah Adel memerah sesaat.
"Tau dari mana kamu dia suka sama aku, tunanganya jauh lebih cantik. " jawab Adel dengan senyumnya, mengetahui Kevin yang perasaanya masih sama membuatnya bahagia, tapi sayangnya dia sudah mempunyai tunangan. Mau bagaimana lagi, Adel sendiri yang menyerahkan Kevin pada wanita itu.
Pulang dari shiftnya Adel berjalan keluar dari ruang IGD, disana sudah ada seorang lelaki yang baginya tidak asing. Mantan pasien bernama Ervan putra pemilik perusahaan celluler provider. " dr. Shava " sapa lelaki tampan bertubuh atletis, rambut dibuat tipis di samping dan jabrig di atas.
"Anda siapa? "
"Saya Ervan, pasien yang pernah kamu tolong" Adel membulatkan bibirnya pertanda mengucapkan kalimat ooo
"Maaf dokter diijinkan kah saya mengantar anda pulang? " lelaki tersebut tanpa malu menawarkan jasa grabnya kepada Adel.
"Jangan mau" ucap Saka dan Kevin kompak, membuat Adel menatap wajah ketiganya. Sayangnya dari belakang Adel munculah Arion yang merangkulkan tanganya kepada Adel.
"Ra pulang sama abang aja." ajak Arion dengan mesra membuat ketiga lelaki didepanya merasa tertolak secara halus. Arion membawa Adel turun ke bassmen menghindari ketiga lelaki itu, lalu memasukan Adel kedalam mobilnya sendiri. "Pulang sendiri Ra, kamu kan bawa mobil kenapa mesti numpang sama orang lain. "
"Lagian siapa juga yang mau numpang balik bang. Oh ya bang, Ayra bentar lagi pulang, mending abang tunggu disini, Adel pake mobil abang, abang nunggu Ayra, yahh pura pura numpang pulang gitu." usulnya kepada Arion, Arion jelas saja tertarik dengan rencananya, yang menawarkan pulang dengan Ayra.
Tak lama Ayra berjalan menuju mobil Adel, langkah terhenti ketika menatap sosok Arion yang menyandar dipintu mobil Adel. Jantung Ayra sesaat seperti berhenti berdetak, memang mereka bekerja satu rumah sakit, tapi hari ini tidak ada operasi yang diikuti oleh Ayra. Membuat Arion tidak bisa berjumpa dengan Ayra.
"Gue mau numpang pulang." Ayra saja tidak menoleh padanya, ia hanya memberikan kunci mobilnya kepada Arion. Mereka mulai membelah jalanan yang padat dengan kendaraan lain. Lalu Ayra menyalakan GPS nya tanpa berniat mengatakan sepatah katapun. "Malam itu.... " kalimat Arion terpotong oleh Ayra, yang tak ingin membahas malam gila 8 tahun yang lalu.
"Sudah 8 tahun, seharusnya tidak perlu dibahas." Arion menganggukan kepalanya, dan menutup rapat bibirnya. "Suami kamu di mana? "
"Gag punya suami." begitu entengnya mengatakan tak punya suami. Arion terbelalak kaget mendengar jawabanya. "Lalu anak kamu?" Arion sangat penasaran dengan kehidupan pribadi Ayra.
"Itu..mmmm pacaran sama cowo brengsek, udah dapet enaknya ditinggalin gitu aja." jawab Ayra asal, membuat Arion menyesal karna melepaskan Ayra waktu itu.
__ADS_1
"Bisakah kita mulai dari awal lagi Ay. Aku akan menjagamu, dan anakmu walaupun dia bukan darah dagingku " celetuk Arion kepada Ayra, yang spontan membuat mata Ayra melebar maksimal.