
Jadi kamu tau semua Ar? " Arion menganggukan kepalanya, baginya kepergian Zela waktu itu jelaslah karna Kenan menolaknya. "Kembalilah pada Kenan Zel, aku tidak keberatan. " pintanya tulus kepada Zela.
"Tapi kamu Ar"
"Aku baik baik saja, dan aku sudah terbiasa hidup tanpa kamu Zel. Jadi kumohon kembalilah pada Kenan, dia masih sangat mencintaimu. " jelas Arion.
*
Hari kelulusan akhirnya tiba, setelah melewati ujian nasional yang begitu mendebarkan akhirnya mereka lulus dengan nilai yang sempurna. Kevin menduduki peringkat pertama, Arion menduduki peringkat kedua, Kenan peringkat ketiga. Zela peringkat ke 4.Saka peringkat ke 7.
Kelulusan kali ini menjadi acuan dari berbagai universitas ternama sebagai penawaran untuk melanjutkan study nya di universitas mereka.
Para orang tua mereka juga hadir, karna pengumuman kelulusan diagendakan menjadi hari perpisahan yang dihadiri oleh siswa dan wali siswa. Ketika nama mereka dipanggil dengan bangga wali mereka masing - masing menaiki podium. Dimana dipanggung ini mempertemukan 2 keluarga yang sedari dulu berselisih tentang cinta. Ada Alfa dibarisan pertama, ditemani degan Anes sebagai wali Kevin, ada Attala ditemani Lea mewakili Arion, dan ada Axel ditemani Keyla mewakili Axel.
"Kenapa mas, natap Keyla gitu? " tanyanya heran kepada suaminya yang menatapnya dengan memainkan matanya. "Hanya menatap seseorang yang sedang reuni dengan mantan. " ledek Axel kepada Keyla. Keyla hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat Axel. Lalu mencubit pinggangnya erat. "Jangan meledek, nanti gak aku kasih jatah. " Axel mengerang kesakitan lalu menganggukinya. "Ya sayang, maaf. " ucapanya maaf tapi masih memainkan matanya kepada Keyla.
"Mas lagi godain aku apa ngledek adik mas si? " mengingat seseorang yang pernah menjadi mantan kekasih Alfa adalah Lea. Namun Axel tersenyum menggoda istrinya. "Kamu lah Key, kan Alfa cinta mati sama kamu. " jelas Axel yang masih saja menggodanya.
Anes mengingat wajah Keyla adalah wanita yang pernah dicintai oleh suaminya, lalu Anes berjalan mendekati Keyla dan menanyakan kabarnya. "mba Keyla? " sapanya sopan.
"Anes kan? " tanyanya dengan basa basi. Anes menganggukan kepalanya. "Kevin keponakan saya mba. " jelasnya membuat Axel dan Keyla membulatkan matanya. Mengingat putrinya adalah kekasih Kevin. "Kenapa dunia begitu sempit." Axel tersenyum mendengar ucapan Keyla.
Alfa mendekati Anes lalu menyapa Axel. "Xel..... gimana kabar kalian? " sapanya basa basi. Axel melebarkan senyumnya, yang ia tangkap bahwa Alfa sudah berubah, mungkin perasaanya sudah berpindah kepada istrinya. "Alhamdulillah baik, gimana dengan kamu Fa? " tanya balik Axel. Alfa hanya menganggukan kepalanya tanpa berniat menyapa Keyla. Masa lalu sudah terkubur bersama mimpi, saat ini mereka sudah saling bahagia bersama keluarganya.
Begitu juga Lea dan Attala yang hidup bahagia bersama kedua anaknya yaitu Arion dan Letta. Alfa dan Anes mempunyai seorang putri yang sangat cantik bernama Cellin Audreanandita Merkle.
Bagi Alfa menjalin silaturahmi sangatlah penting, meskipun bisa dibilang sangat kaku. Namun masa lalu akan menjadi masa lalu, dan akan lebih baik jika masa depan tak dikorbankan hanya karna masa lalu.
__ADS_1
*
"Abang selamat ya, kalian berdua lolos dengan nilai terbaik. Adel memeluk ke dua abangnya itu dengan erat. Tampak Saka memanyunkan bibirnya karena tidak disanjung oleh Adel. "Kan yang dapet nilai terbaik pacar kamu Ra. " ledek Arion. Kemudian disambung oleh Saka. "Ia Ara ngejek ini mentang - mentang gue dapet nilai paling jelek. " keluhnya dengan ekspresi sedihnya.
"Yeee gak gitu kali Sak, pokoknya selamat ya dapet peringkat ke tujuh, jadi lanjut di luar negeri kan? " tanyanya membuat Saka mengerucutkan bibirnya. "Jadi lah Ra, dan pasti bakalan kangen banget sama kamu" ucapnya tepat disamping telinga Adel, membuat seseorang yang sedang memperhatikan mereka berdua mengerutkan wajah dan bibirnya.
"Ishh dasar kamu gombal. " Adel menarik telinga Saka yang menggodanya. Lalu Saka memainkan matanya dan memberi tahu Adel bahwa ada yang sedang cemburu. "Ra Kevin kebakaran jenggot tu. " liriknya kepada Kevin yang urat tanganya terlihat akibat kepalan tanganya.
Adel berjalan menuju Zela dan Kevin, yang sedang berkumpul di depan kelas X11 IPA 2. "Mba Zela selamat ya" ucap Adel sambil memeluk Zela. Kevin masih saja cemberut, pasalnya ia dinomor duakan. "Terus aja dicuekin" ucap Kevin yang berjalan meninggalkan kerumunan menuju ruang kelas XII , dengan berpura - pura marah.
"Kejar Ra, dari tadi sudah cemberut terus, lihat kamu bercanda sama Saka. " jelas Zela memberitahu Kevin yang sedari tadi wajahnya tampak bad mood. "Siap mba, Adel tinggal bentar ya. " ucapnya sambil memperlihatkan tanda jempol pada Zela. "Shiip Ra. " balas Zela yang menggelengkan kepalanya melihat Kevin yang sedang merajuk.
Melihat Kevin berjalan, Adel melebarkan senyumnya, lalu menyusul Kevin masuk ke ruang kelasnya. Diselurupkanya tangan Adel di pinggang Kevin, membuat langkahnya terhenti bukan karna sebuah instruksi, namun terhenti karna sebuah pelukan hangat kekasihnya.
"Selamat ya sayang atas pencapaianmu mendapatkan peringkat terbaik di sekolah. " ucapnya dengan lirih sehingga membuat Kevin berbalik dan langsung memeluk Adel. Adel membelalakan matanya melihat Kevin yang memeluknya di kelas. Untung saja keadaan sepi, tanpa ada seorangpun yang berada dikelas.
"Ini karna kamu berusaha mati matian Kev, aku hanya sebagai penyemangat buat kamu. " jelas Adel kepada Kevin. Kevin menganggukan kepalanya lalu merapikan anak rambut Adel yang tersisa dikeningnya. "Ikut aku Ra. " Kevin menarik lengan Adel lalu mengajaknya kerumah. Mereka meninggalkan kerumunan di sekolah.
Tak lama mobil Kevin sudah terparkin di garasi rumahnya. Sesampainya dirumah, Adel berbincang bincang dengan bunda Kevin. Sedangkan Kevin naik ke kamar untuk mengganti bajunya dan membersihkan tubuhnya.
"Sayang apa kamu tau, kalau papa Kevin dulu pernah suka sama mama kamu. " sesaat ucapan itu membuat Adel mengtubkan bibirnya seolah tak percaya kepada ucapan bunda Kevin.
"Benarkah itu tante? " Adel ingat kesan pertama waktu ketemu ayah Kevin memang kurang baik, sepertinya memang memberikan kesan yang berbeda, bukan penolakan, lebih tepatnya mungkin sebuah pertanyaan kenapa percibtaan mereka selalu dilingkup lingkup keluarga yang sama.
"Ia benar, tanya saja sama daddy kamu, pasti tau. Soalnya dulu ayahnya Kevin cinta banget sama mama kamu. " sejenak Adel menelaah kata demi kata yang diucapkan oleh bunda Kevin. Rasanya aneh saja orang tuanya dulu pernah menjalin kasih, dan sekarang turun temurun kepada anaknya, membuat fikiran Adel bercampur aduk tak jelas.
"Oh ia Del, boleh minta tolong bilangin Kevin suruh nelfon oma dan opanya di Inggris. Soalnya dari tadi nungguin Kevin pulang " pinta bunda Kevin kepada Adel.
__ADS_1
"Ya tante" Adel berjalan hendak naik ke atas namun langkahnya terhenti karna ia tidak tau kamar Kevin. "Tan.... Kamar Kevin yang sebelah mana? " Adel membalikan tubuhnya mencari bunda Kevin yang sedang menyiapkan makan sore.
"Depan tangga pas Del. " jawabanya membuat langkah Adel melanjutkan langkahnya kembali. Adel mengetuk pintu kamar Kevin, sesaat tidak ada jawaban, namun suara Kevin kemudian terdengar sedang bersiul dan bernyanyi. Adel kembali mengetukkan tanganya dipintu kamarnya. "Masuk bun. " pintanya, mengira yang mengetuk pintu adalah bundanya.
"Ceklek" Adel membuka gagang pintu kamar Kevin dan membiarkan pintunya terbuka lebar. Karna bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya Adel masuk ke dalam kamar pacarnya. Dilihatnya Kevin yang sudah rapi dengan kemejanya, dan celana jeans nya, tampak mempesona membuat Ara terhipnotis sejenak dengan ketampananya " Ara.... Ada apa, kenapa kamu kesini? " tanyanya heran karna melihat Adel berada di kamarnya.
"Mmmmm.... tadi bunda kamu minta kamu untuk nelfon oma kamu di Inggris katanya disuruh nelfon sekarang. " Bukan hanya Adel, Kevin saja terpikat oleh wajah Adel. Membuatnya menatap lekat wajah gadis tersebut dengan hasrat. Pandangan mereka akhirnya menyatu, namun Adel segera memalingkan wajahnya.
Kevin mendekati Adel, entah itu sebuah magnet yang menariknya atau memang daya tarik yang membuat Kevin ingin mendekati gadisnya yang sedari tadi memalingkan wajahnya, dan tak mau menatapnya, padahal Kevin berpakaian rapi, ada apa dengan gadisnya.
"Kamu kenapa Ra? " bagi Adel menginjakkan kakinya di kamar seorang lelaki itu adalah hal yang tabu, makanya Adel tidak mau menatap Kevin. Takut saja kalau ada setan atau roh jahat yang merasuk, membuat mereka tak sadar apa yang dilakukan.
"Gak papa" melihat Kevin mendekat Adel memundurkan langkahnya dan hendak berbalik. " Aku keluar aja Kev tunggu kamu diluar sama bunda dan oma kamu " ungkapnya kemudian melanjutkan langkah kakinya keluar dari kamar Kevin. Namun lagi lagi langkahnya dihadang oleh Kevin.
Kevin menyelidik wajah Adel yang sedari tadi menunduk. Ia teliti secara inci wajah Adel yang ayu, tanpa satupun jerawat di wajahnya yang tampak memerah. Lalu pandangan matanya terfokus pada bibir Adel yang ranum. Membuat fikiranya tak fokus dan menggoyahkan imanya.
Kevin menarik dagu Adel yang masih tertunduk hingga wajah mereka saling bertatap dan hampir menyatu. Bahkan bukan hanya menyatu lagi, karna satu tangan Kevin yang lainya sudah menarik tengkuk Adel.
"Cup" mereka saling menautkan bibirnya, perlahan Kevin menggigit bibir Adel, untuk membukanya karena bibir Adel tertutup rapat. Disapunya bibir bagian bawah milik Adel dengan lidahnya, lalu mengabsen satu persatu bagian dalam bibir Adel.
Hangat itulah yang dirasakanya. Masih belum ada balasan, bahkan Adel hanya diam menikmati apa yang dilakukan Kevin. "Payah kamu Ra, bahkan ini ketiga kalinya, tapi kamu masih sangat kaku. " batin Kevin, yang kemudian memberikan gigitan kecil untuk memancing Adel mengikuti gerakanya.
5 menit, tapi Kevin masih belum melepaskan tautan bibirnya, membuat Adel sedikit memberontak, namun lebih banyak pasrah terhadap apa yang dilakukan Kevin, karna Kevin tidak melepaskan pelukanya. Mungkin ini yang disebut kerasukan jin atau roh yang mampu membutakan tekad.
Kevin memainkan lidahnya dengan liar, dan sesekali menggigit bibir Adel agar diberikan celah untuk memainkan lidahnya. Membuat Adel mau tidak mau juga mengikuti gerakan lidah Kevin.
"Khem.... " deheman bunda Kevin mengagetkan mereka berdua. Dengan spontan Adel melepaskan tautan bibirnya dibibir Kevin lalu mendorong Kevin keras. Rasanya saat ini Adel seperti seseorang yang ketahuan mencuri.
__ADS_1
"Bisa bisanya kamu Ra, kenapa melakukan hal bodoh kaya gini sampai ketahuan bunda Kevin, mau ditaruh mana mukaku. " Rutuknya kesal kepada diri sendiri yang tak bisa mengontrol tekadnya, malah mengikuti hasrat Kevin yang seakan sedang menggebu.