Gadis Liar

Gadis Liar
80


__ADS_3

Perlahan mereka berjalan masuk, lalu mengitari ruangan yang sangat luas ini. Matanya menelisik kepada seorang gadis yang terbaring lemas dengan monitor, pupilnya melebar, benar benar pemandangan yang tak asing. Ia melihat putrinya tergeletak di sana. Hatinya bergetar hebat, sedangkan jantungnya berdebar seperti dihantam batu.


"Ara..... " mata Axel ikut menatap Keyla yang berlari menuju bad dengan dinding kaca yang memisahkan ruangan tersebut. Kakinya melemas, selama beberapa bulan mereka mencarinya, namun hanya raga yang terbaring lemas dengan monitor disana.


Keyla berhenti di luar kaca, air matanya sudah tidak bisa dibendung, hatinya menyesak. Bahkan Axel saat ini sudah membanjiri pipinya juga dengan air mata. "Ara mas... " isaknya lagi. Axel mengangguk pelan. Kemudian mereka ke ruang ganti untuk mengganti pakaianya dengan jubah khusus.


Setelah berada di depan pintu yang terbuat dari kaca, pintu secara otomatis terbuka. Keyla dengan cepat berlari menuju Adel. Ia meraih wajahnya menciumi kening dan rambutnya. Wajahnya kini penuh dengan air mata momminya.


Axel hanya berdiri di samping putrinya dirinya tak kuasa melihat semua ini. Dadanya menyesak, mengingat kenangan terakhir bertemu dengan putrinya. Sebuah layangan tangan yang mengenai pipi gadis cantik nan manja di depanya ini. Sesalnya tiada henti ketika mengingat dirinya mengusir putrinya.


Daddy Adel menjatuhkan tubuhnya. Lututnya melemas, tidak ada tenaga dalam dirinya. Kenanganya terngiang, melintas jelas kepergian putrinya. "Maafkan daddy Ra, maaf karna daddy kamu jadi seperti ini." Axel coba menahan tangisnya namun percuma, kini bahkan sesalnya tak membuat Adel kembali.


30 menit berlalu, Axel mengajak Keyla keluar dari ruangan tersebut. Diluar ruangan sudah ada Kevin dan Cila disampingnya tertidur pulas di dalam stroler. Melihat Kevin Axel juga merasa bersalah. Mungkin jika ia mendengarkan penjelasan putrinya dulu, tidak akan seperti ini.


Kevin membungkuk lalu bersimpuh meminta restu kepada kedua mertuanya. Dengan cepat Axel menantingnya. "Maafkan daddy na. " ucapnya menepuk pundak Kevin. Kevin masih berusaha menahan air matanya. Ia mencoba tegar dengan keadaanya. Ia saja lelah mengeluarkan air matanya. "Maafkan saya yang tidak bisa menjaga Ara dad. " ucapnya dengan menahan isaknya.


"Kami yang salah na, seharusnya dulu kami mendengarkan Ara... Tapi...." Kalimatnya tak bisa ia lanjutkan. Mereka beralih menatap bayi kecil yang sangat cantik. "Apa ini cucuku Kev? " tanyanya kepada Kevin. Melihat bayi kecil yang tidak terlalu gemuk namun berisi, mempunyai mata yang sipit dan bibir yang tipis. Bulu matanya sangat panjang, jarinya begitu lentik.


"Ia dad mom, dia cucu kalian. Ara mencetak putrinya dengan sangat cantik." Ucapnya memuji istrinya. Ia akui putrinya memang sangat mirip dengan istrinya, hingga ia selalu sedih melihat Cila karna mengingatkanya kepada Ara.


"Siapa namanya Kev? " tanyanya kemudian mereka menatap secara inci putri kecil yang sedang tertidur pulas. Kevin membuka tutup kain pada stroler sehingga seluruh tubuhnya dapat terlihat jelas.


"Arcila mom. Panggilanya Cila " ucapnya disusul dengan memapah Arcila dan diberikan kepada mommy nya. Axel dan Keyla mengusap pipinya yang cuby. Lalu membanjiri pipinya dengan ciuman dan air mata. Bahagia bercampur sedih itulah yang ia rasakan.


Kevin membuatkan susu formula untuk Cila lalu memberikan kepada mommy nya, sehingga Axel dan Keyla memberikan susu pada Cila. Melihat semua ini hatinya meneduh, begitu damai relung hatinya melihat mereka semuanya akur. Axel belum bertemu dengan ibundanya. Alfa kembali ke rumah untuk menjemput Anes. Ia sudah menceritakan semua tentang Adel dan Kevin.


Arion berjalan masuk menuju ruangan tersebut, diikuti oleh crew operasi yang jelas lengkap dengan dr. Bedah syaraf, dokter syaraf, dan yang jelas dokter penyakit dalam serta dokter anestesi mendampinginya. "Om tante... Udah disini. " tanyanya menyalimi Axel dan Keyla, mereka mengangguk pelan.


"Kev, operasinya akan segera dilakukan, loe mau ikut atau.... " Kevin menggeleng, ia akan menjadi penontonya saja.


"Gue di atas aja." Jelasnya ruang operasi khusus memang didesain dengan CCTV besar yang merekam jalanya operasi, yang jelas banyak dokter lain yang memantau dan memberi saran dari cctv tersebut yang dilengkapi dengan pengeras suara.

__ADS_1


Mereka mengikuti beberapa perawat yang mendorong bad ke ruang operasi. Yah ruang operasi berada di lantai 4, sedangkan ruangan khusus rawat ICU keluarga Attala berada di lantai 7.


Sesampainya diruang opersi, semua kru sudah berganti lengkap dengan baju operasi, dokter anestesi melalukan anestesi umum atau biasa disebut bius total yaitu prosedur pembiusan yang membuat pasien menjadi tidak sadar selama operasi berlangsung. Anestesi jenis ini sering digunakan untuk operasi besar, seperti operasi jantung terbuka, operasi otak, atau transplantasi organ.


Jenis operasi yang akan dilakukan adalah operasi craniektomi. Berbeda dengan craniotomi, tindakan operasi pada kepala sebenarnya banyak jenisnya, diantaranya adalah craniotomy dan craniectomy. Keduanya sama-sama mengangkat sebagian tulang tempurung kepala/batok kepala, bedanya pada craniotomy, batok kepala yang diangkat langsung diletakkan kembali, sedangkan pada craniectomy tidak langsung.


"Messer" Asisten operasi mengambilkan pisau bedah dan memberikanya kepada pemimpin operasi. Kepala yang sudah tidak terdapat rambut itu disayat menggunakan bisturi bagian dari pisau bedah.


Bagian yang pertama tersayat adalah Durachmater berlanjut dengan Piamater dan Arachnoid . Ini adalah urutan bagian kepala dari luar sampai kedalam, dan banyak bagian lainya yang melindungi bagian kepala.


"Kita akan membuat sayatan di bagian pembengkakan dan juga perdarahanya. Lalu kita harus menyingkirkan kulit dan juga jaringan lunak agar dapat mencapai tengkorak. " mereka semua menganggukan kepalanya.


"CCH" asisten operasi memberikan alat yang diminta oleh pemimpin operasi. Dengan lihai pemimpin operasi mengebor tulang tengkorak.


CCH adalah Coupling Cros Head adalah alat untuk mengebor tulang tengkorak yang disambungkan dengan gergaji bedah untuk menbuat lubangbesar dan melepaskan tulang tengkoraknya.


Tanda vital masih dalam batas normal, "Perdarahan dok " ucap dokter yang memantau dari atas. Pemimpin operasi menganggukan kepalanya dengan santai. Crew operasi bahkan tidak panik sama sekali.


Setelah menghentikan perdarahan pemimpin operasi mengambil flap tengkorak pasien tersebut dan meminta meletakkan flap tersebut di tempat yang aman.


Adel sudah kembali ke ruanganya, Cila kerap masuk ke ruangan mommy nya. Disana Adel mendapatkan perawatan yang benar benar intensive. Mulai dari ROM, defisit perawatan diri, dan semua kegiatanya, dari mandi dan berdandan selalu delakukan oleh Kevin.


Range of motion (ROM) adalah tindakan atau latihan otot dan persendian yang diberikan kepada pasien yang mobilitas sendinya terbatas karena penyakit, disabilitas atau trauma.


Adel harus terbaring kaku selama 2-6 bulan, dan flap tempurung kepala harus dipastikan terbebas dari bakteri. Hasil dari pemasangan flap 6 bulan kemudian bisa saja sukses dan kegagalan mencapai 75%.


"Bagaimana keadaan Adel Kev? " tanya Anes ibunda Kevin memecah keheningan Kevin yang sedang memberikan susu formula pada putrinya, lalu ia langsung memeluk putranya tak lupa ia menepukan kedua tanganya. "Kamu harus kuat Kev, bunda yakin Adel akan sembuh. " terangnya.


Kevin mengangguk cepat, "Kevin takut bun, takut akan kehilangan Ara. " jelasnya yang meletakan wajahnya di pundak sang bunda. Ia tak ingin terlihat sedih ketika bersama ibundanya, tapi.... Apalah daya.... yah harapanya saat ini sangat tinggi dan berharap Adel akan bangun dan menemani dirinya sampai akhir hayatnya.


Tapi keadaan Adel saat ini sudah parah, bahkan lambung dan ginjalnya rusak. Sehingga tak menutup kemungkinan, saat cuci darah atau operasi lanjutan akan membuat Adel terenggut nyawanya.

__ADS_1


*


Dua orang lelaki berjalan bersama menuju ruangan dimana Adel dirawat. Mereka berhenti di depan ruangan dengan pintu yang tertutup rapat. "Sak... " sapa Arion yang kebetulan akan masuk memeriksa Adel.


"Hai... Gimana kabar loe? " tanyanya ramah, yah ia bersama dengan Arkan yang sangat penasaran dengan keadaan Adel.


"Gue baik lah." jelasnya, lalu memencet tombol ruangan yang akan dimasukinya. Yah sistem ruangan ini adalah dengan finger, artinya tidak ada seseorang yang boleh masuk kecuali orang orang tertentu. "Ayo masuk! " ajaknya yang tau tujuan Saka tak lain adalah mengunjungi Adel.


Setelah sampai ruangan ia berjalan memasuki ruang ganti, lalu mengganti bajunya dengan baju khusus. Setelah berganti pakaian mereka memasuki ruangan Adel, Arion memeriksa catatan komputernya, melihat keadaanya. Secara keseluruhan memang tanda vitalnya baik, namun keadaanya masih sopor mendekati koma.


Hampir 15 menit mereka disana, Saka juga ikut mengobservasi Adel, yah ini adalah ranah bidangnya, berkali kali ia melakukan tindakan operasi DK. Banyak yang selamat namun tidak kurang yang meninggal membuat hatinya ikut meredup.


"Bagaimana kalau...." Fikiran Saka berkecamuk, ia tidak rela jika Adel pergi. Posisinya masih utuh di relung hatinya, bahkan dr. Gean belum bisa menggantikan Adel.


Arion mengajak Arkan untuk keluar ruangan. Ia tau bahwa banyak yang ingin Saka ungkapkan kepada Adel. "Kenapa mengajakku keluar." keluh Arkan, Arion masih menyered Arkan keluar.


Sesamapainya diluar ruangan ia melepaskan lengan Arkan. "Biarkan mereka berdua bercerita apa yang tidak kita ketahui. "Arkan masih tidak tau dengan arah pembicaraan Arion.


"Maksud kamu...? " tanyanya lugu


"Lelaki yang paling mengerti, memahami, dan begitu dekat dengan Ara adalah Saka, jadi biarkan Saka mengeluarkan apa yang ingin ia ungkapkan. Ayo kita ke ruang tunggu! " jelasnya dan ajaknya kepada Arkan, dan dengan cepat ia menganggukan kepalanya.


"Ra.... " Air mata Saka meluncur bebas, ia tak lagi bisa berkata kata, mungkin hatinya begitu sakit. Pertemuanya terakhir kali ketika bersama Gean. "Kenapa harus berbaring disini Ra... bisakah kamu mendengar suaraku... Aku sangat merindukanmu Ra." ucapnya dengan tersedu. Ia mengecup kening Adel hingga air matanya membasahi pipi Adel.


"Aku adalah lelaki yang selalu kamu sakiti Ra, lelaki yang kamu tinggalkan, dan lelaki yang selalu kamu pandang sebelah mata." kalimatnya mampu membuat Adel menumpukan air di pelupuk matanya.


Orang yang tidak sadar, pendengaran dan perasaanya masih berfungsi. Saka dengan sengaja mengeluarkan semua rasa bencinya, ia berusaha memancing emosi Adel. Berharap ia bisa bangun dari tidur panjangnya.


"Ra, dengar aku Ra, aku meminta pertanggungjawaban dan permintamaafanmu Ra, tidak pernahkah kamu berfikir perasaanku ketika kamu pergi dihari pernikahan kita Ra? Sakit Ra, sakit, malu dan kecewa."


Setelah lelah dengan unek uneknya dan berhasil membuat Adel mengeluarkan emosinya, terlihat jelas dari heatrate (nadi) dan pernafasanya yang meningkat. Air matanya juga menetes.

__ADS_1


"Ra aku pamit." ucapnya yang kemudian mencium pipinya dan berjalan keluar.


"Bugh" satu pukulan mendarat di pipi Saka.


__ADS_2