
"Yang keberatan silahkan angkat kaki dari ruang operasi ini. " Adel menarik nafasnya dalam dalam, dan menatap satu persatu personilnya.
Tidak ada yang beranjak dari sana, mereka tetap stay dan mengikuti operator "Pisau bedah" Adel mulai membuat sayatan di bagian tengah dada dan membuka tulang rusuk agar bisa memiliki akses ke jantung.
Adel mengambil pembuluh darah sehat dari paha untuk memperbaiki pembuluh darah yang rusak untuk membantu menyambungkan bagian pembuluh darah yang tersumbat disambungkan atau diperbaiki.
Sangat rumit karna pembuluh darahnya tidak cuma satu yang tersumbat. Operasi berjalan selama 3 jam, tanpa bergantian dengan siapapun. Setelah selesai menjahit Adel meminta seseorang untuk memindahkanya ke ruang ICU.
"Selamat dok, operasinya sukses. " puji kru operasi kepada dr. Shava, namun Adel hanya menganggukan kepalanya. Ponselnya sedari tadi berdering, ia sudah sangat lelah, sampai ponselnya tidak dipedulikanya.
Adel berjalan dengan langkah gontai menuju taman, disana ia mengembangkan paru parunya yang sesak, kakinya sangat lelah karna berdiri selama 3 jam.
Duduk merenung, fikiranya kalut mengingat seorang dokter lebih mementingkan kekasihnya daripada pasienya. "Cemburukah, tapi apa hakku. " Adel marah, tapi tidak tau marah kepada siapa. Kecewa karna ternyata Kevin tidak bisa professional.
Seorang lelaki tiba tiba berjongkok didepanya, mengeluarkan kaki Adel lalu memijatnya. Adel saja heran siapa gerangan yang rela memijat kakinya itu, tak lama lelaki itu mendongakkan kepalanya. Air mata Adel lolos begitu saja, rasa rindu yang menyeruak di hatinya selama ini. "Saka..... " teriaknya keras.
Saka mengusap wajah Adel dengan lembut, Adel ikut berjongkok menyetarakan tinggi badan Saka, lalu Adel dengan erat memeluk Saka. Tangisnya pecah dalam pelukan Saka, di ambang pintu terlihat Kevin yang menatap kedua insan sedang berpelukan. Tampak jelas sebuah tangisan Adel dan isaknya, membuat Kevin jengah memandangnya.
"Jangan menangis Ra, kamu jelek tau. " masih dengan isaknya Saka menanting Adel yang masih berjongkok. Mengusap kepala Adel hingga Adel merasa lega. " makanlah, aku akan menunggumu sampai kamu pulang bekerja " sebuah kotak makan dan bingkisan coklat Saka berikan untuk Adel, dengan lahap Adel menyantapnya, seperti orang kelaparan.
Waktu istirahat masih panjang baginya. "Kemana saja kamu Sak? " Adel cemberut melihat Saka yang menatapnya dengan senyum. Saka menarik hidung Adel yang mancung itu hingga sang pemilik hidung merengek kesakitan.
"Aku selalu ada dibelakangmu, kalau lelah bersandarlah! " lagi lagi Saka menarik pundak Adel kedalam rangkulanya. "Ada hal yang bisa kamu kendalikan, dan ada juga yang tidak Ra. Jadi jika kamu tidak bisa mengendalikanya, berbagilah Ra, ada aku disampingmu. " Sumpah nie cowo sweet banget, coba Adel bisa move on ke Saka, sayangnya hatinya mentok sama Kevin.
"Sudah 30 menit, waktu istirahatmu habis." Adel tersenyum, bisa bisanya ia lupa kalau dia masih bekerja. Adel beranjak dari duduknya, lalu berjalan dan mengibaskan kelima jarinya. "Tunggu aku pulang " pinta Adel. Saka dengan elegant menganggukan kepalanya.
Berjalan di koridor sendiri, wajahnya sudah tidak murung, ada semurat senyum yang mengembang di pipinya, deringan ponsel berbunyi dengan kerasnya menampilkan sang direktur tercinta memanggilnya. Wajahnya kembali murung, lalu panggilanya ia riject, berani sekali Adel menolak panggilan telephone nya.
Panggilan melalui telephone ruangan berbunyi. "Dok, ada telvon. " Adel lagi lagi menarik nafasnya kasar, lalu menghempaskan sekuat kuatnya.
"Bilang saja, besok bertemu di ruang rapat, aku malas menanggapinya. " jawab Adel yang sebenarnya tidak tau siapa yang menelfon, hanya menebak siapa penelfonnya.
"Dok, "
"Apa lagi? "
"Pasien baru. " Adel terperanjat bangun dari duduknya, lalu memeriksanya. Seorang gadis muda berusia 23 tahun, pucat, lemas, mual dan muntah.
__ADS_1
"Nacl 20 tpm, RL 12 tpm, infus 2 jalur, ranitidin 2x50 mg, Ondancentron 3x4 mg, cek DL cito. Beritahu saya berapa jumlah Hbnya. " Adel bersante ria diruang IGD sambil mengkonsulkan pasien kepada dr. Penyakit Dalamnya.
Hemoglobin (Hb) adalah protein pada sel darah merah yang berfungsi mengikat oksigen.
"Dok golongan darah A rhesus negative. Stok darah sedang kosong, HB 4.6 " Mata Adel membulat A rhesus negative adalah golongan darah yang sangat langka. Biarpun ada itu sangat jarang.
"Hubungi PMI pusat. " pintanya, Adel berjalan menuju gadis tersebut, ia tampak cantik, namun sangat pucat, dengan hb 2.6 dan dengan golongan darah langka, apa bisa bertahan. "Apa kamu mempunyai saudara cantik? " tanyanya dengan ramah. Gadis tersebut menggelengkan kepalanya, pasalnya gadis itu adalah anak adopsi sehingga tidak tau sanak saudaranya.
Adel kembali berjalan menuju nurse station, fikiranya berkelana, kasian gadis itu, masih sangat muda dan cantik. " Golongan darahku A rhesus negative. Bisakah kalian ambilkan darahku saja untuk gadis ini" ungkap dr. Shava, membuat kru IGD menggelengkan kepalanya.
"Ayolah, golongan darah ini sangat langka, pasien bisa saja mengalami penurunan kesadaran karna dehidrasi berat dan anemia berat, aku akan menghubungi ke dua abangku untuk mendonorkanya juga " pintanya dengan sangat
"dr. Shava ini...... Baiklah, akan saya lakukan," Yulia dengan malas mengambil torniqueet lalu menusukan jarumnya untuk melakukan donor darah. Adel masih sangat tenang, hingga kedua abangnya datang ke IGD.
"Ara.... "Teriak abang Ken dan Arion. Adel mendongakkan kepalanya disapa oleh kedua abangnya. Adel terbangun dari tidurnya, sesaat merasa lemas setelah mendonorkan satu kantong darahnya. Ken dan Ar menggelengkan kepalanya, Adel menarik lengan mereka meminta perawatnya mengambil darahnya masing masing satu kantong.
Setelah beberapa menit mereka selesai mendonorkan darahnya. Yulia terkagum kagum melihat kedua abang dr. Shava. Merasa nervous ketika mengambil darah Ken dan Arion. Ken dan Arion melototkan matanya kepada Adel. "Ra lain kali jangan seperti ini. Perhatikan kondisimu, kalau tidak bisa jangan memaksa" Kenan memperingati adiknya itu yang keras kepala. Lalu mereka berpamitan pulang, karna waktu menunjukan pukul 20.30.
Adel berjalan menuju bassement, tubuhnya loyo, sempoyongan, dan lemas. Sesaat ia berjalan dan hendak terjatuh. Kevin yang memang sedari tadi menanti Adel, langsung menangkapnya.
Kevin memapahnya sampai di ruanganya, lalu memasang infus di punggung tanganya, Kevin tampak panik melihat Adel seperti ini. Tak lama Adel mengerjapkan matanya, meneliti ruangan yang serasa asing baginya. Matanya menangkap sosok lelaki yang sedang memandang arah jendela.
"Kevin. " ucapnya lirih, lalu Adel menegakkan tubuhnya. Diambilnya kapas alkohol untuk melepaskan infus di tanganya. Kevin yang mendengar suara membalikan tubuhnya.
"dr. Shava...apa yang kamu lakukan?" Tanyanya dengan nada ramah. Adel tidak menjawab, ia menarik infus di tanganya, namun dicegah oleh Kevin.
"Mohon pertimbangkan kondisimu, saat ini tubuhmu butuh cairan." pinta Kevin dengan bahasa formal. Namun Adel tetap melepas paksakan infusnya, dan menekan bagian tusukan infus.
"Kalau dokter ingin membicarakan masalah operasi tadi sore, silahkan kita bicarakan di rapat besok pagi saja. " ungkap Adel yang berjalan menuju pintu masih dengan sempoyongan. Sayangnya pintu dalam keadaan terhalang oleh Kevin. "Tolong buka pintunya dok. "
"dr. Shava, apa kamu tidak bisa menghargai saya sebagai atasanmu, setidaknya jika tidak, hargai nyawamu yang sudah sangat lelah karna kamu paksakan bekerja diluar kendali. "
"Dia sedang khawatir padaku kah? " batin Adel.
"Saya bukanya mengkhawatirkanmu, tapi saya tidak mau karyawan saya sakit karena bekerja ekstra. " sudah dilambungkan tinggi tinggi lalu dihempaskan secara kasar. "Kufikir masih ada rasa khawatir, ternyata.... " batinya lagi.
"dr. Kevin yang terhormat, terimakasih atas perhatianya dan pertolonganya, saya mau pulang, jadi tolong bukakan pintunya."
__ADS_1
"Bisakah kamu jangan keras kepala, setidaknya kamu dirawat inap malam ini agar kondisimu membaik." sudah cukup jangan sampai nanti dipuji lalu dihempaskan lagi. Adel mendorong Kevin yang sedari tadi menghalangi pintu.
"dr. Shava... " Adel tak menghiraukan, ia mencoba saling dorong dengan Kevin. Membuat Kevin emosi menghadapi Adel.
"ARA...... Kesabaranku ada batasnya." Mata adel membelalak, panggilanya tadi adalah panggilan manjanya. Panggilan yang selama ini dirindukanya.
"Kupikir kamu amnesia, ternyata masih mengingat namaku." ucapnya lirih. Kevin meraih bahu Adel dengan kuat. Tampak emosinya mulai tersulut dari wajahnya.
"Kamu masih saja egois Ra, kamu selalu memikirkan dirimu sendiri, tidak pernah memikirkan orang lain. " Akhirnya Kevin ngomong juga. Adel masih diam membisu. Mencerna semua kalimat Kevin.
"Kamu yang meninggalkanku, memutuskan hubungan secara sepihak denganku, tidak pernahkah kamu berfikir sehancur apa hidupku Ra, segila apa aku melupakanmu dan sampai detik ini perasaan itu tak bisa terhapus, dan kamu Ra.... Kamu malah kembali kesini membuka luka yang lama Ra. " Air mata keduanya mengalir deras.
Adel menjatuhkan tubuhnya dilantai. Sesak dan sakit yang Kevin rasakan tak sebanding dengan yang Adel rasakan. "Sakit.... Sama aku juga sakit" batinya yang air matanya mengalir deras.
Sesaat mereka merenungi hubunganya bersama Kevin. "Jangan terlihat lemah Ra, kamu yang memutuskan, biarpun akan terlihat lebih jahat, tapi itu sudah pilihanmu. " tekadnya bulat dalam hati.
Adel berdiri dari duduknya dan hendak membuka pintunya. "Jangan mengungkit masa lalu Kev, semuanya telah berakhir. " Jelasnya kemudian melangkahkan kakinya keluar pintu. Kevin merengkuh tubuh Adel dengan erat dari belakang. Bisa ia rasakan betapa hangatnya pelukan itu, selama 9 tahun akhirnya bisa merasakan pelukan ini.
Pundak Adel basah oleh air mata Kevin. Ingin sekali rasanya memeluk balik lelaki yang sangat ia cintai, tapi segalanya sudah berubah. "Kev lepas, kita tertangkap cctv. " Adel mencoba melepaskan pelukanya namun Kevin membalikan tubuh Adel dan dengan sigap memeluknya erat.
"Sebentar saja Ra, izinkan aku memelukmu. " Adel membiarkan Kevin memeluk sesukanya. Entah apa nanti kata orang jika melihat cctv ini.
"Lepas Kev, sudah malam aku mau pulang. " Adel melepaskan pelukanya dari Kevin lalu berjalan masih dengan lemas dan sempoyongan. Kevin dengan sigap memapah Adel sampai dengan tempat parkir.
Disana masih ada Saka yang menunggunya. Waktu menunjukan pukul 21.45. "Berikan Adel sama gue." pinta Saka kepada Kevin.
"Dia akan pulang bersamaku. " jawab Kevin
"Tidak dia pulang bersamaku. " Saka menarik Adel dari papahan Kevin.
"Denganku"
"Denganku"
"Denganku" mereka berbut seperti anak kecil. Membuat Adel pusing.
"Cukup aku pulang sendiri, kalian bisa pulang bersama."
__ADS_1