Gadis Liar

Gadis Liar
92


__ADS_3

Malam berlalu, waktu sudah menunjukan pukul 21.00, Adel bahkan membayangkan makan malam romantis antara Kinan, Kevin, dan Cila, hatinya merasa sakit mengingat itu. Air matanya pun lolos dari kelopak matanya.


Namun tangisnya dikejutkan oleh sebuah dentingan di depan pintunya. Adel dengan cepat membuka pintunya. "Apa lagi yang tertinggal Saka.... " matanya membulat, ia kaget siapa yang ada di depan apartemenya.


"Ara..... " teriak seseorang yang bertamu. Bagaimana mungkin Ayra tau bahwa Adel ada disini. Apa putrinya yang memberitahu.


Yah seseorang yang datang bertamu adalah Ayra. Ia datang seorang diri. Ayra dengan cepat memeluk Adel. Air matanya lolos begitu saja membasahi pundak Adel. Tak lain halnya Adel juga demikian, sahabat seperjuanganya berada di pelukanya saat ini.


"Ini kamu.... Benar benar kamu Ra, apa aku bermimpi?" Ayra memutar mutar badan Adel, meneliti dari bawah sampai ke atas.


Adel menarik Ayra masuk ke dalam apartemenya. "Ayra.... Dari mana kamu tau aku disini? " tanya Adel cemas, ia takut ada orang lain yang mengetahui keberadaanya.


"Apa yang salah Ay? Aku mengikuti Cila yang sering kesini, aku takut Cila kenapa kenapa, karna kata temen Derrick ia suka datang ke sini sendiri." jelas Ayra. Ayra sedikit kecewa karna bahkan ia tidak memberitahukan keberadaanya kepadanya.


"Aku mohon sama kamu jangan beritahu siapapun keberadaanku Ay. " pintanya dengan sangat kepada Ayra. Ayra menggeleng bahkan ia akan berencana memberitahu Arion.


"Apa alasan kamu bersembunyi Ra? " tanyanya kepada Adel.


"Aku tak ingin mengacaukan segalanya Ay, mengertilah!" jelas Adel.


"Ra kamu tau betapa Kevin sangat terpuruk tidak ada kamu Ra." Adel menggeleng, yang ia tau dia sudah mempunyai calon, setidaknya Saka yang jelas tau bahwa Adel tidak akan menerimanya, selalu bersamanya, menunggunya dan hingga detik ini menemaninya disaat terpuruknya, namun Kevin, yang jelas tau bahwa bahkan jenazahnya tidak ada itu menandakan bahwa kematianya itu masih ambigu malah bersama orang lain.


Ada sedikit kekecewaan dalam hati Adel, mengetahui bahwa Kevin akan menikah, tapi apalah daya, ini semua keinginan orang tuanya sendiri dan mertuanya. Meskipun hubungan Adel dan orang tuanya bahkan mertuanya tidak baik, karna bahkan seumur Adel dan Kevin menikah ia tidak pernah sungkem dengan mereka.


Mengingat lagi bahwa terakhir kali ia bertemu dengan orang tuanya adalah ketika ia diusir. Memang ketika dirinya tidak sadar orang tuanya selalu mendatanginya, menamninya dan meminta maaf, namun memorinya sebagian memang hilang, dan Adel tak bisa mengingatnya, masa kecilnya juga ada sebagian yang hilang. Namun ingatan tentang Kevin utuh dari saat pertama kali bertemu hingga saat ia tidak sadar.


Adel menatap dengan tatapan kosong, ia tidak tau mana yang harus dipercaya antara ucapan seseorang yang selalu melihat keadaan Kevin, atau realita yang saat ini ia lihat tentangnya yang sudaha mempunyai pengganti.


"Jika kamu memberitahukan keberadaanku, aku akan pergi dan tak akan kembali lagi Ay." Ancamnya kepada Ayra.


"Sampai kapan kamu akan sembunyi seperti ini? "Adel menggeleng, ia tidak dapat menjawab pertanyaan Adel.


"Atau kamu memang berencana sembunyi sampai pernikahan Kevin? " tanyanya tepat sasaran.


"Entahlah, aku tidak yakin tentang hal itu. Bahkan aku saja ingin membawa Cila pergi jauh dari sini. " ungkapnya.


"Kamu tidak mau menceritakan bagaimana kamu hidup kembali padaku Ra? " Adel terdiam, bagi Adel Ayra saat ini termasuk orang asing karna identitasnya yang memang masih ia sembunyikan.


"Saka yang menolongku. Ia melakukan operasi DK 2 kali, dan mentransplantasikan jantung serta ke dua ginjalku. Melatih fisiotherapi sampai aku bisa berjalan seperti sekarang."


"Karna ini kamu akan meninggalkan Kevin demi Saka? "

__ADS_1


"aku menolak Saka, dan dia tetap selalu ada disampingku hingga detik ini bukan. "


"Kevin akan menikah bulan depan Ra... " ucap Ayra. Adel mengangguk, ia tau pernikahan Kevin dari Saka.


"Ay.... Jika kamu masih ingin melihatku, tolong jangan katakan kepada siapapun." pintanya kepada Ayra.


*


Suatu malam Cila menelvon Adel, ia mengatakan bahwa ia sakit. Siapa yang tidak khawatir, anak adalah segalanya bagi seorang ibu, bahkan nyawa saja akan ibu berikan demi mereka.


Adel menaiki mobilnya, ia telah sampai di rumahnya. Cila memang tidur dikamar Adel, sehingga Adel bisa masuk lewat pohon di dekat kamarnya.


Sesampainya di balkon kamarnya, ia membuka perlahan jendelanya. Sialnya Kevin masih di kamar, membuat Adel berdiam di samping jendela.


"Cila, ayah ada operasi mendadak, kamu tidurlah, jangan begadang, besok sekolah." pamitnya kepada putrinya. Waktu menunjukan pukul 23.30 malam. Kevin baru akan melakukan operasi cito. Yang ia tau, bahwa operasi jantung akan memakan waktu lama, dan setelah operasi biasanya ia akan menginap di rumah sakit.


"Ia ayah hati hati." Kevin hanya mengusap rambut Cila yang lebat dan berwarna agak pirang.


Setelah kepergian Kevin, barulah ia masuk ke dalam kamar. "Sayang...."


"Bunda..." panggilnya dengan girang


"Hussst jangan berisik, kunci pintu kamar sayang." pinta bundanya kepada Cila. Cila dengan cepat mengunci pintu kamarnya. Kamarnya masih sama, tidak ada yang berubah disana.


Lalu memberikan syirup paten Rhinos Syirup 5 ml dan vitamin syirup kepada Cila. Dengan cepat Cila tertidur karna efek obat. Adel memeriksa semua isi kamarnya. Semua fotonya lengkap berjejer di dinding dan meja. Air matanya selalu turun mengingat betapa hangat keluarganya dulu. Namun sekarang, ingin pulang saja rasanya sudah tidak diterima.


Handle pintu kamar bergerak, hingga Adel sontak terbangun dari lamunan lamunanya. Ia dengan segera mengambil tas dan ponselnya, lalu menaruh sepatunya di tempat yang aman dan ia masuk ke dalam lemari baju Cila.


Ponselnya ia silent, agar tak membuat seseorang panik. Samar ia melihat Kevin dari celah kamarnya. "Kenapa Kevin bisa kembali, padahal waktu masih menunjukan pukul 02.30 dini hari.


Kevin menyambar handuknya lalu membersihkan badanya. Adel ingin keluar sayangnya serangan mengantuk menimpanya. Hingga Kevin keluar kamar mandi Adel terbangun. "Bodoh kamu Ra, kenapa kamu masih disini." ucapnya, ia melihat ponselnya detik waktu menunjukan pukul 03.00


Gelap, kamar ini sudah dimatikan oleh Kevin, hanya penerang ruangan dengan lampu tidur membuat Kevin tampak lebih tampan." Kenapa sangat rindu." batinya melihat Kevin bersama Cila.


Bahkan Kevin tidak memperhatikan obat yang ada di nakasnya, karna memang hanya lampu tidur sebagai penerang kamarnya. "Ra... "Adel tersentak mendengar panggilan Kevin. "Bisakah kamu melihat putri kita dari surga. Dia sangat cantik sepertimu Ra." ucapnya membuat Adel sesaat ikut merasakan hawa sedih.


"Ra.... Aku akan menikah dengan seseorang yang bahkan sama sekali tidak aku cintai. Aku tidak tau harus apa, aku hanya berharap putri kita akan menolak pernikahanku dengan Kinan agar aku tidak menikah." ucap Kevin yang saat ini bergelimang air mata.


Mendengar ucapan Kevin sesaat membuat air mata Adel terkuras habis. Waktu pernikahan tinggal dihitung dengan jari, haruskah ia menggagalkanya. Bukanya ia akan jadi pengacau jika muncul di saat saat seperti ini.


Kevin berdiri ia menuju balkon, disana ia mengeluarkan korek api, dan sebatang rokok warna putih. Adel dengan saksama melihat bayangan Kevin yang sedang merokok.

__ADS_1


"Sampai seperti inikah kamu Kev? " ucapnya melihat sisi lemah lelakinya. Adel merasakan sesak, ada sedikit rasa iba di lubuk hatinya. Kevin menatap langit pagi, dan menghisap rokok yang mengandung nicotin, mungkin ia mencari sisi lain dari rokok yang terkenal sebagai penenang.


Tidak, ia kali ini kaget melihat Kevin mengkonsumsi obat, terlihat dalam bayanganya. Adel penasaran obat apakah itu. Setelah satu jam bahkan waktu sudah menunjukan pukul 04.00 pagi. Kevin tertidur di balkon. Adel beranjak dari tempatnya, ia mendekati Kevin, dalam jarak yang sangat dekat.


Digapainya korek tersebut, dan obat dengan dosis 5 mg itu, ada 3 sisa obat, "berarti ia rutin mengkonsumsinya." pikirnya, lalu Adel mengecup kening Kevin, dan memapahnya hingga ia tertidur di kamar.


Sebelum pergi Adel mengecup keduanya. Ia bereskan semua sisa makanan dan seseuatu seperti semula. Lalu bergegas meninggalkan kamarnya.


Saat melintasi pohon, ia melihat orang tuanya yang sedang menjalankan sholat subuh. Air matanya lagi lagi menetes, pemandangan syahdu itu, telah lama ia nantikan, ia benar benar merindukan sososk orang tuanya.


Abangnya juga terlintas dibenaknya. Anaknya mungkin seusia Cila, hanya selisih 6 bulan. Ia sangat rindu kegaduhan kegaduhan kecil bersamanya.


Ditepisnya ingatan itu. Lalu ia berjalan menuju mobil dan mengemudikanya. Semalaman ia tak tidur, matanya bengkak melihat keluarganya saat ini. Namun apalah daya ia tak bisa melakukan apapun.


*


"Ra.... Kamu kenapa? " tanya Saka, Saka memperhatikan Adel yang matanya bengkak, pucat dan lemas.


"Kurang tidur" jawabnya tak bersemangat. Pagi ini ia berangkat pagi, selain jadwal operasi pagi, Adel ada jaga di IGD.


"Aku butuh nasihat Sak." ucapnya. Membuat Saka menarik Adel menjauh dari ruang operasi. Ia membawa Adel ke roftop rumah sakit. Disana ia menatap langit bebas.


"Buat kamu" Saka memberikan Coffe instan dan makanan ringan untuk Adel.


"Makan dulu, baru kamu bercerita. " Lelaki seperti ini yang selama ini ia tolak. Lelaki sebaik dan sepengertian ini Adel sia siakan hampir 18 tahun.


"Makan! Diwajahku tidak ada nasi jangan dipandang terus Ra. " pinta Saka.


Setelah Adel menyantap makananya, barulah ia menceritakan bahwa semalam ia datang ke rumah diam diam, ia lihat apa yang ia lihat dan fakta keadaan Kevin. Bahkan untuk tidur ia menggunakan obat pengantar.


Bukankah rasa lelah mampu membuat seseorang menghempaskan dan menutupkan matanya hingga batas alam mimpi, kenapa dengan dia, rasa khawatir kepada Kevin menyelimutinya.


"Apa yang harus aku lakukan. " tanya Adel kepada Saka.


"Temuilah Kevin Ra, dengan itu kamu bisa memantapkan hatimu yang ragu, dan Kevin juga akan memutuskan apa yang harus ia lakukan" jawab Saka." Bukankah memendam rasa seperti ini sangat menyakitkan Ra, selesaikan urusanmu dengan orang tuamu, mertuamu dan suamimu Ra." tegas..... itulah saran Saka kepada Adel.


"...... " Adel terdiam


"Jangan menjadi pengecut seperti ini Ra" tantangnya kepada Adel.


Lelaki seperti apa Saka ini, kenapa ia malah menyuruhnya menemuinya dan menyelesaikan kegundahanya. Apa tidak apa apa bagi Saka. "Lalu denganmu? " tanyanya, Adel memang berniat membuka hatinya untuk Saka setelah Kevin menikah.

__ADS_1


"Ra aku akan menerimamu kapanpun saat kamu akan berbalik kepadaku."


__ADS_2