Gadis Liar

Gadis Liar
51


__ADS_3

"Coba saja Ra, jika kamu tidak memutuskanya, aku pastikan kamu tidak akan bahagia. " ancam Kevin pada Adel.


"Persetan dengan ucapanmu Kev. " Adel marah, jelas saja, Kevin berbuat seolah Adel masih kekasihnya.


"Hanya aku yang akan memilikimu seutuhnya Ra. Bahkan jika itu kutebus dengan NYAWAKU. " Kevin berjalan keluar dari ruang kamar dokter jaga, mereka para crew IGD yang sedang melakukan operan jaga hanya melihat tanpa berniat menegur.


dr. Orine yang sedari tadi menunggunya di depan pintu IGD tidak berani menyapa. "Ya kali, gila aja gue nanya mereka lagi ngapain sama anak yang punya rumah sakit, bisa kena SP aku. " keluhnya yang berbalik ke ruang nurse station.


Sp : surat peringatan


"dok.... " Adel masih terduduk sambil menelaah kalimat yang diucapkan Kevin. Snelli yang dipakai Adel lusuh, kancingnya terlepas, dan tampilan yang kacau. Rasanya hampir gila, Adel akui bahkan sedetikpun hati ini memang tidak pernah bisa berhenti memikirkan Kevin. Adel berjalan keluar berniat untuk menemui Ayra sepulang dari kerja.


"dok aku pulang, pasien aman insya Alloh" jelasnya tanpa ingin mendengar sapaan atau ucapan dr. Orine yang sangat agamawis, jelas saja dia akan mengatakan hal yang berhubungan dengan kerohanian, mengingat dr. Orine adalah dokter yang memakai jilbab besar, dan pengetahuanya sangat tinggi tentang agama. Begitu juga perawat yang melihat dr. Shava pun tidak berani berkomentar.


"Ra kamu kenapa? " Saka tampak khawatir melihat Adel yang murung, matanya menatap leher Adel yang merah yang menandakan sebuah kepemilikan, ingin marah, tidak, disini ia sadar bahwa menjadi kekasih Adel hanya sebuah pelarian Adel. Ia tidak berharap lebih darinya, ia hanya ingin memotivasinya untuk melakukan operasi dekompresi kraniektomi, demi kehidupanya kedepan yang lebih baik.


Semenjak Adel naik ke mobil, ia tidak mengatakan sepatah katapun kepada Saka. Saka hormati keputusanya, kalaupun didalam hatinya berkecamuk rasa cemburu, karna mengetahui Kevin yang melakukanya. Sesampainya dirumah ia hanya diam dan langsung masuk ke kamar.


"Kenapa Ara Sak? " Saka menggelengkan kepalanya, tanda ia tak mengerti. Ia jatukan tubuhnya pada sofa yang empuk disamping Kenan.


"Baru pacaran, udah musuhan. " ledek Kenan, Saka mengulum senyumnya, miris memang, tapi tak apalah, dia tidak tau akan menceritakan kepada siapa tentang penyakit Adel. Bahkan jika mereka tau mereka tidak bisa membujuknya. Saat ini semuanya hanya bergantung pada Adel.


"Sak kamu kenapa disini? " Arion yang baru datang langsung bergabung dengan mereka, sedangkan Derrick dan Ayra yang ingin menemui Adel langsung berlari ke kamarnya.


"Loe beneran jadi pacarnya Ara? " Saka menggeleng, mungkin itu jawaban hatinya yang tulus.


"Aku gak tau kenapa Ara menanyakan perasaanku kepadanya, mungkin karna ada masalah sama Kevin, sehingga dia menginginkan aku menjadi status pacar, hanya sebutan tidak untuk hatinya. Jelas hatinya masih untuk Kevin " Arion dan Kenan saling memanggutkan kepalanya.


"Gue balik ke RS ya, masih ada operasi, nanti kalo Ara nanya pamitin " Saka berlalu meninggalkan Kenan dan Arion.


"Mama masak apa? " Arion berjalan menuju ke meja makan lalu menyantap hidangan makanan disana. Kenan terkekeh dengan kelakuan Arion yang baru menikah sampai lupa makan. "Saking cintanya loe sama istri loe, sampai sampai jam segini kelaparan. "


"Nyindir istri gue gak bisa masak loe? " Kenan tergelak dengan tawanya sendiri. Pasalnya saudaranya ini sensitive banget.


"Ayra jago masak, sayangnya tadi itu Derrick gak sabar pengin ketemu mommy bunda Ara, jadi kita buru buru kesini," alasan yang masuk akal, jika didengar oleh Kenan. Zela yang baru bangun membuat Arion lebih tertawa. "Loe ngatain gue, istri loe aja baru bangun." ledek balik Arion pada Kenan.


*


"Ra kamu kenapa? " Ayra menarik pundak Adel yang masih menyatu dengan bantal. Adel membalikkan kepalanya menatap Ayra. Ayra membulatkan matanya melihat tanda merah di leher Adel. "Kamu sama Saka...." Ayra berfikir macam macam dengan hubunganya yang baru beberapa hari terjalin.


"Ini Kevin bukan Saka? " Ayra memekik suaranya yang spontanitas berteriak. Ayra ikut mendudukan badanya disamping Adel, ia penasaran apa yang dilakukan mereka berdua sampai ada bekas merah di leher Adel.


"Kalian... " Adel menggeleng dengan cepat. Untuk menghindari kesalah pahaman yang terjadi.


"Tidak!! Gila saja kamu Ay, jangan berfikir seperti apa yang kalian lakukan semalam. Kevin mengancamku, untuk memutuskan Saka? " jawabnya tanpa ekspresi.


"Lalu kamu bagaimana? " Ayra tampak khawatir.

__ADS_1


"Dia tidak akan melepaskanku Ay. Disisi lain tunanganya mengancamku untuk menjauhinya. " jelasnya membuat Ayra tau apa alasan Adel berpacaran dengan Saka.


"Saka akan sakit hati jika tau kamu memainkanya Ra. " jelas Ayra kemudian disusul oleh Arion yang ikut masuk ke kamar Adel. "Saka tau, kamu hanya membutuhkan status berpacaran." Adel menatap Arion dengan penuh tanda tanya. Namun ia urungkan pertanyaan keponya tentang Saka yang mengetahui semua niat Adel.


"Dasar pengantin baru, kalian mau pamer kemesraan kalian di kamarku?" ledek Adel kepada Ayra dan Arion sambil mengalihkan pembicaraanya.


"Ra abang nitip Derrick ya, Please! " Arion memohon dengan sangat kepada Adel, ia tau maksudnya Arion ingin berduaan dengan Ayra tanpa diganggu Derrick. Adel menepukkan jidatnya dikepalanya membuat Arion terkekeh.


"Jangan mau Ra. " pinta Ayra kepada Adel. Arion melebarkan matanya pada Ayra, tiba tiba terdengar suara teriakan Derrick. "Mommy bunda... "


Adel menjatuhkan lututnya untuk mensejajarkan dirinya dengan putranya. "Ya sayang? "


"Derrick nginep sini ya. " ucapnya membuat Arion tersenyum penuh kemenangan. Adel menatap abangnya yang saking girangnya sampai mendapat cubitan dari Ayra.


"Memangnya kenapa gak tidur di rumah daddy? " Adel menanyakan alasan kepada Derrick, kenapa gerangan ia ingin tidur dirumahnya malam ini.


"Berisik mommy bunda, daddy dan mommy semalam berteriak teriak sampai pagi, Derrick jadi gak bisa tidur " Adel menyimpulkan tawanya mendapat pengakuan dari Derrick, sedangkan Ayra dan Arion sudah mengulum senyumnya dan wajahnya mulai memerah.


"Kenapa mommy kamu berteriak Rick?" Adel ingin mengerjai abang dan sahabatnya itu.


"Kata Daddy, mommy sedang dihukum." ucapnya polos membuat Adel melanjutkan kejailanya.


"Dihukum seperti apa sayang? " Ayra dan Arion melototkan matanya melihat Adel yang memancing putranya.


Flash Back On


"Kamar Derrick mana daddy? " Arion menunjukan kamar putranya. Kamarnya bernuansa hitam, entah apa alasanya Derrick sangat suka dengan warna hitam. "Lalu kamar mommy dimana? " tanyanya penasaran, dan ternyata letaknya di sebelah kamar Derrick. "Derrick mau tidur ya daddy, kamarnya luas jadi Derrick ngantuk. "


"Siap daddy, mommy. " Derrick menghormatkan tanganya kepada orang tuanya.


"Cupp" Ayra dan Arion mengecup kening putranya secara bergantian. Lalu Derrick berpamitan masuk ke kamar. Arion dengan sigap memapah Ayra ke dalam kamar.


"Ar, lepas.... " Arion tak menghiraukan Ayra yang memberontak kepada Arion. Arion saja sudah lepas kendali dan membuka dasi serta jasnya.


"Kamu sudah berjanji Ay, kamu tidak akan menolaku jika sudah halal. " ucap Arion terburu kepada Ayra. Sesaat Ayra mengingat ucapanya pada waktu itu.


"Aku mandi sebentar Ar. " pinta Ayra yang menegakkan tubuhnya dan menghindar dari Arion, sayangnya Arion tidak memberikan celah.


"Kita mandi bersama nanti Ay. " kemudian kedua bibir mereka terpaut satu sama lain, membuat Ayra tidak lagi bisa menolaknya.


"Ar.... " mata Arion berbinar, ada rasa bahagia yang amat sangat juga tersirat begitu besar kerinduan dan ketidaksabaran. "Pelan." Arion melebarkan senyumnya. Tidak ada satu jengkal pun yang terlewat, membuat Ayra meleguh dengan lembut.


"Ahhh.... Sakit Ar. " ungkap Ayra yang matanya berkaca kaca. Namun Arion tersenyum dengan bahagianya dan melanjutkan kegilaanya, bahkan selama 8 tahun ini ia puasa, dan masih ia ingat malam gilanya bersama Ayra waktu itu.


Tidak sekali, juga tidak hanya 3 kali Arion membalaskan kerinduanya kepada Ayra. Bahagia, satu kata yang Arion rasakan.


"Makasih sayang. "Ayra sudah tidak bisa mengkondisikan badan yang serasa remuk dan mata yang sangat mengantuk. Berkali kali Derrick menggedor pintu kamar Ayra. Arion hanya mengatakan bahwa dirinya sedang menghukum mommy nya.

__ADS_1


Flash Back Of


"Ra please. Biarin Derrick nginep sini oke. " Arion memohon kepada Adel.


"Ya baiklah abangku yang sedang ngebet sama istrinya. " ucap Adel mengedipkan matanya kepada Arion.


*


Adel menekuk lututnya disebuah lantai. Tanganya terikat, beberapa lelaki ada disana. Sedangkan Kevin yang tak sadarkan diri bersandar di kursi dengan ikatan dan bungkaman matanya. "


"Ara? " panggilnya setengah serak, setelah melihat Adel yang bertekuk lutut membelakanginya. Adel memejamkan matanya dengan berat, lebam di pipi masih terlihat jelas, suara telephone berdering membuyarkan kesunyian mereka.


📞"hallo bos, Ucup disini. "


📞"Bagaimana keadaan gadis itu? " laki laki yang akrab dipanggil Ucup menjawab pertanyaanya.


📞 "Dia masih didepan kami dengan nada sombongnya" jelas Ucup.


📞" saya ingin bicara denganya. " suara di telefon yang Ucup pasangkan di telinga . "apa kamu masih sombong seperti kemarin dr. Shava? "


📞"lepaskan Kevin, Brengsek. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita. Jika kamu dendam padaku jangan libatkan dirinya. " Kevin yang mendengar itu memicingkan matanya dan menajamkan pendengaranya.


"siapa itu Ra? " Kevin menanyakan siapa yang menelfon Adel.


📞"jangan pernah kasih tau siapa gue. " sahutan dari seberang telephone.


📞"wah... Kamu takut Kevin tau siapa yang tega melakukan ini kepadaku? "


📞" ****** kamu. Awas saja kalau sampai Kevin tau" teriaknya kepada Adel dengan lantang. "Siksa dia, dan arahkan videonya, aku ingin menikmati pemandangan gadis yang sombong bertekuk lutut didepanku. " Ucup menyalakan panggilan videonya. Kevin mencoba melepas ikatanya sendiri.


"Plak" Adel terjatuh ke samping kiri. Lalu membangkitkan tubuhnya kembali.


"Ra....Brengsek kalian "Kevin mengeluarkan cairan kristal beningnya, melihat wanita satu satunya yang sangat ia cintai dipukul, hatinya semakin hancur.


📞"haaa, masih beranikah kamu Shava? " tawanya menggelegar melihat Adel yang bibirnya sudah berdarah.


📞"apa ada alasanku untuk takut padamu? " tantang Adel pada wanita tersebut.


📞" Siksa dia lagi. " pinta seseorang dari sebrang.


"Plak... " lagi sebuah tamparan di pipi kiri Adel membuat Adel terjatuh ke kanan. Adel masih dengan gayanya membangunkan dirinya tanpa rasa takut.


📞"aku ingin lihat, kalau yang dipukul Kevin. " pinta seseorang dari sebrang. Hatinya kembali takut, melihat lelaki yang sangat ia cintai akan disakiti.


"Tidak.... Tisak jangan lakukan itu, kumohon " teriaknya ketika melihat Ucup hendak menghantamkan sebuah balok ke tubuh Kevin. Kevin yang tidak mendengar percakapan antara seseorang yang mengancam Adel sedari tadi, hanya menebak nebak siapa gerangan wanita tersebut.


Sebuah balok yang diarahkan oleh Ucup kepada Kevin membuat Adel dengan susah payah mencoba mambangunkan tubuhnya untuk menyelamatkan Kevin.

__ADS_1


"Brak" sebuah balok menghantam dada Adel hingga ia jatuh dipelukan Kevin.


"Ara.... "


__ADS_2