
"Cupp" Kevin mencium kening Adel. Tak lupa Adel mencium pipi Kevin.
"Nanti aku jemput sekitar pukul 17.00” ucap Kevin mengingatkan janji mereka.
"Bugh" sebuah pukulan mendarat di pipi Kevin, Adel ternganga melihat abangnya memukul kekasihnya.
"Abang... " teriak Adel kepada Kenan
"Berani sekali kamu mendekati adekku Kev. " Kevin menghapus darah yang mengalir di sudut bibirnya. Akhirnya waktu yang ditunggu Kevin datang juga.
"Ara mencintaiku, dan juga sebaliknya, apa yang harus kutakuti? " kalimat Kevin seperti menantang Kenan.
Kenan menekuk sikunya dan hendak memukulkan genggaman tanganya pada Kevin. Adel dengan cepat menarik siku abangnya. "Abang jangan main kasar." Sebuah peringatan Adel kepada abangnya.
"Maaf Ra" Dengan cepat Kenan mendorong Adel hingga terpental jauh. Kevin yang melihat Adel terjatuh hendak berlari menolongnya. Dalam situasi ini Kevin sedang tidak fokus pada lawanya. " jangan kasar sama cewe... " kalimatnya terpotong oleh sebuah pukulan.
"Bugh"
"Bugh" tidak ada perlawanan sedikitpun dari Kevin. Sesaat penjaga rumah menjadi khawatir akan perkelahian mereka. "Abang Ken jangan berantem." pinta pak satpam dengan nada panik.
"Ken bilang jangan ikut campur pa" Kenan memperingati penjaga rumahnya untuk diam ditempat. Adel menegakkan tubuhnya lalu berjalan menuju abangnya.
"Bugh" masih saja Ken memukulkan bogemnya pada Kevin.
"Bugh" Kevin tersungkur di atas paving. Kenan hendak memukul Kevin lagi, namun langkahnya dihadang Adel. " Ara juga bisa kasar bang. " ungkap Adel yang sudah mulai emosi.
Ara melakukan gerakan palm to face atau serangan yang dilakukan dengan satu tangan mengenai dagu lawan. Seketika Kenan mengerang kesakitan, Adel menarik jempol abangnya, ia memlintirnya hingga berputar 180 derajat.
"Ahhh.... Ra sakit ra. "Lagi satu tangan abangnya ia tarik. Sehingga kedua tanganya berada dibelakang. Satu tangan Adel melepaskan dasinya untuk mengikat kedua tangan abangnya. Setelah terikat Adel mendorong abangnya kuat dan jatuh dipelukan penjaga rumah.
Adel berlari menarik tangan Kevin menuju mobilnya. Ia kemudikan mobil Kevin dengan kecepatan diatas rata - rata. " Ra pelan dikit naik mobilnya. " protes Kevin yang mendapati Adel mengemudi dengan kecepatan diatas rata rata.
"Ups.... Sori. " sesaat Adel mengurangi kecepatan kemudinya. Tak butuh waktu lama, ia sampai di apartemen Kevin. Masih teringat jelas beberapa minggu yang lalu mereka bertengkar di apartemen ini.
Melihat Adel yang merenung, Kevin merasa bersalah. "Jangan diingat Ra" Kevin meminta Adel membuang semua kenangan pahit bersamanya. Mereka memasuki apartemen Kevin yang luas dan sangat rapi.
Adel merangkulkan tangan Kevin di bahu Adel, lalu membawanya untuk duduk di atas sofa. Ponselnya ia keluarkan untuk menghubungi momminya.
*mom, Ara di apart Kevin, tadi bang Ken berantem sama Kevin. Bisakah mommy kesini, sepertinya lukanya sedikit parah*
*maaf sayang, mommy sedang ada pasien gawat. Bersihkan dulu dengan kassa dan Nacl lalu kompres dengan es Ra, nanti mommy jemput kamu dan bawa obat untuk Kevin. *
*baiklah mom*
Beberapa panggilan dari abangnya yang sedari tadi ia abaikan. Ia geser tombol warna hijau di ponselnya.
"📞 PULANG atau abang SERED kamu dari apartemen Kevin! " ancam Kenan pada adeknya.
__ADS_1
"📞Coba aja kesini kalau berani, Ara udah telvon mommy, dan mommy dalam perjalanan kesini. " jelasnya lalu Ara menutup ponselnya sepihak.
"Dimana kotak p3knya. " Kevin menunjuk kotak p3k yang terletak di belakang kepala Adel. Adel dengan cepat mengambilnya. Lalu mengguyurkan Nacl pada kasa, dan membersihkan darah yang mengering dari sudut bibir Kevin.
"Aah aah.. Ah pelan Ra. Kamu kaya lagi dendam aja sama aku. "
"Sakit? Sukurin, lagian jadi cowo cemen banget dipukul diam aja. " keluh Adel pada Kevin. Setelah selesai membersihkanya. Ia mengambil es batu untuk mengompresnya.
Adel menekankan es batu pada bibir Kevin yang lebam dan mulai membiru. "Ahhh... Pelan dikit si yank.... Perih tau "
"Ia ia maaf, " Adel meniupi bibir Kevin yang lecet. Sesaat Kevin menatap wajah Adel. Adel yang sadar bahwa posisinya terlalu intim, mendongakkan kepalanya, benar saja Kevin saat ini hanya berjarak beberapa inci didepan wajah Adel. "Mesum" Adel menekan dengan keras bagian sudut bibirnya. Hingga Kevin mengerang kesakitan lalu menjauhkan kepalanya ke posisi semula.
"Sebenarnya apa si masalah kamu sama abangku? " Adel ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.
"Nanti ada saatnya akan kuluruskan masalah ini dengan abangmu, dan ingat jangan pernah percaya kalimat abangmu, karna disini abangmu yang membuat masalahnya menjadi sangat rumit. " Adel menganggukan kepalanya tak mengerti.
Adel melepas sepatu Kevin, lalu melepas tas dan jaketnya, posisi ini jelas membuat Kevin menghirup aroma parfum milik Adel. "Ganti baju sana, dilemari ada baju pakailah seadanya dulu " pinta Kevin pada Adel yang bajunya sudah kotor, sebenarnya bukan bajunya yang kotor, tapi posisi Adel yang membuat Kevin tak bisa mengontrol hasratnya.
Adel berjalan menuju lemari, sesaat ia terfokus pada foto yang menampilakan wajah Ken dan Kevin yang sangat dekat, ada bang Ar dan Saka, Zela dan satu wanita cantik di samping Kevin dan Kenan.
"Ra ketemu bajunya? " Adel mengambil asal baju milik Kevin berwarna putih yang menurutnya kecil, lalu memakainya di ruang ganti.
Kevin terfokus pada dada milik Adel, baju yang ia pilih begitu transaparan, memang ukuran bajunya besar, namun tetap saja lekuk tubuhnya sangat jelas. "Apa dia tidak sadar berada di kandang Harimau? " batin Kevin lagi lagi menelan ludahnya.
Kevin berdiri dan berjalan menuju dimana Adel berdiri, langkahnya ia dekatkan pada Adel, sedangkan langkah Adel mundur menjauhi Kevin. Ia terhenti karna terpentok pada dinding dibelakangnya. Dua tangan Kevin mengunci pergerakan Adel.
Kevin berbalik meninggalakan Adel yang masih terbengong. Ia menatap baju yang ia pakai "kenapa setransparan ini? " bahkan dirinya bisa melihat warna bra yang dipakai Adel. Adel dengan cepat menyambar jaket miliknya, lalu memakainya.
Keduanya saling diam, Adel merutuki kebodohanya karna memakai baju yang seakan akan menggoda Kevin dan memancing hasratnya. Tak lama sebuah dentingan bel mengagetkan mereka. Adel berdiri membukakan pintu untuk momminya.
"Assalamualaikum Ara? "
Waalaikumsalam mom"
"Sayang, apa yang terjadi antara abangmu dan Kevin? " tanyanya heran. Adel menggelengkan kepalanya tak mengerti.
"Kev, bagaimana lukanya. " tanya Keyla dengan nada panik.
" gak papa tan, luka lecet sedikit. " ungkapnya meremehkan.
"Sedikit apaan, dari tadi aja teriak teriak kesakitan. " ledek Adel yang tak terima karna Kevin mengatakan hanya lecet sedikit. Bahkan wajahnya membiru semua.
"Kev ini salp lebamnya, dan ini salep untuk luka lecet di pipi. Jangan lupa antibiotiknya diminum sehari dua kali, tepat waktu sesudah makan. " Keyla memberikan salp bermerk trombopop untuk lebam, dan bioplacenton untuk lecet, dan Cefixime 200 mg untuk antibiotiknya.
" ya sudah, tante sama Ara pamit dulu ya Kev, jangan lupa minum obat. " pinta Keyla pada Kevin
"Ia tant makasih banyak, maaf gak bisa anter Ara pulang. " jelasnya. Keyla dan putrinya keluar dari apartemen Kevin. Sesampainya dimobil Adel mencari ponselnya.
__ADS_1
"Mom, ponsel Ara kemana? " Adel mengeluarkan semua isi tasnya, dan mencarinya disaku jaketnya. Keyla menggelengkan kepalanya heran karna putrinya memang sering melupakan hal hal yang biasa ia bawa, seperti dompet dan ponsel.
"Udah sana ambil dulu, paling tertinggal didalam. Nanti kamu gag bisa tidur kalau gak ditelvon Kevin. " Keyla memainkan matanya meledek putrinya.
"Ishh mommy, ya udah Ara cari dulu kedalam," Adel bergegas menuju apartemen Kevin, dengan cepat ia memasukan sandi dan masuk kedalam apart Kevin.
"Ra... cari apa? "
"Ponsel. " Adel meneliti setiap ruangan. Namun hasilnya nihil.
"Kamu cari ini? " Kevin memperlihatkan ponsel milik Adel, dengan cepat Adel mengambil ponselnya, namun Kevin mengarahkanya ke atas dan Adel mencoba merebutnya dari Kevin. Lagi lagi Kevin mengarahkanya di belakang tubuh Kevin, membuat Adel menangkapnya dari depan.
"Grep" Adel merasa bahagia bisa menangkap ponselnya, namun ia tak sadar bahwa posisinya saat ini sedang memeluk Kevin. Ternyata memang Kevin sedang modus kepada Adel.
"Cupp" Kevin tak bisa menahan hasratnya. Adel membiarkan Kevin melepaskan hasrat yang mungkin sejak mereka datang ke apartemenya sudah Kevin tahan.
Adel melepaskan pautan bibirnya "sudah Kev. " pasalnya saat ini Adel sedang ditunggu momminya.
"Sebentar Ra" lagi lagi Adel membiarkan Kevin mencecap bibirnya sesuka hati. Tak lama mereka menyudahinya. Adel pun berlalu meninggalkan Kevin dengan wajah yang sudah memerah.
Sebelum membuka pintu Adel menarik nafasnya dalam dalam, menetralkan rasa gugupnya. "Sudah Ra? " Adel hanya menganggukan kepalanya
*
Sesampainya dirumah Adel sudah disambut oleh Kenan dengan amarah. Kenan menarik kasar pergelangan tangan milik Adel. "Abang jangan kasar. " Keyla menasehati putranya.
"Ini urusan Ken dengan Ara mam "Ken membawa Adel ke kamarnya lalu melemparkan Adel di atas bad.
"Siapa yang mengijinkanmu berpacaran dengan Kevin Ra? " amarah Ken meluap begitu saja.
"Ara gak butuh ijin abang, lagian mommy ijinin Ara pacaran sama Kevin. " jelasnya tak peduli pada abangnya itu.
"Ra.... " teriaknya pada Adiknya
"Abang, Ara cinta sama Kevin. " jelas Ara
"Persetan dengan cinta Ra, lupakan Kevin. " pintanya marah.
"Tidak bang, Ara tidak akan pernah melupakan ataupun meninggalkan Kevin apapun yang terjadi. "Adel berteriak kepada sang abang. "Dengan atau tanpa restu abang. " ancam Adel pada Kenan.
"Ara..... "
"Abang... Ara mohon, jangan tentang hubungan Ara dan Kevin. "Ara mencium tangan Abangnya dan meminta restu padanya dengan posisi duduk memeluk kakinya
"Kevin mengahamili seorang wanita dan wanita itu bunuh diri karena Kevin tak mau bertanggungjawab, apa alasan itu belum cukup untuk menghentikan perasaanmu pada Kevin Ra? " Teriakan Kenan mampu membuat Adel yang keras kepala, bertekuk lemas dihadapan Kenan.
"Menghamili seorang wanita,,, tidak mau bertanggung jawab... Bunuh diri" kalimat itu berputar memenuhi isi kepalanya. Seakan berteriak menggoyahkan pendirianya.
__ADS_1