
"Daddy.... " air matanya lolos, matanya mulai memerah. Sesak sekali rasanya. "Apa salah Ara dad? " masih berani Adel bertanya dengan lantangnya kepada daddinya.
"Angkat kaki dari sini, jika kamu masih sering bolos sekolah demi balap liarmu itu Ra. " air mata Adel semakin deras. Tatapan mereka seakan tidak lepas dari Adel, bahkan tidak ada yang berani membelanya.
Saka yang masih berada di garasi rumahnya, melihat dari jauh merasa kasihan dan bersalah, karna dirinyalah Adel seperti ini. Saka berjalan menuju tempat dimana keributan itu terjadi. Namun Kenan menggelengkan kepalanya, untuk tidak memperkeruh suasana.
Kemudian Adel berjalan masuk tanpa menghiraukan perkataan daddy nya. "Ara daddy belum selesai bicara. " suaranya masih berteriak. Langkahnya dipercepat tidak ada respon balik dari Adel kepada daddy nya itu. Dengan cepat Keyla meminta Axel untuk tidak memperpanjang masalahnya lalu membawa Axel masuk kedalam kamarnya untuk menenangkanya.
Bukan hanya Adel, mommy Adel kini juga menangis melihat putrinya sendiri diperlakukan kasar oleh suaminya. Ia berjalan menuju kamar putrinya, namun tidak ada jawaban dari Adel membuatnya mengurungkan niatnya menemui anaknya.
Keadaan sudah mulai mereda, Kenan hendak naik menuju kamar sang adik, tapi langkahnya ditahan oleh Kevin "Gue aja Ken yang kesana. "Kenan memberikan tas dan ponsel Adel kepada Kevin.
"Loe mau kemana? " langkahnya dihentikan oleh pertanyaan Kenan. Kevin menunjukan arah dimana dia bisa masuk ke kamar Adel. Tidak mungkin kan Kevin masuk lewat pintu depan, sudah pasti tidak dibukakan pintu.
Suasananya kalut, bahkan Saka yang sedari tadi diam tidak bereaksi sama sekali. Ia memijit mijit kepalanya dan menarik rambutnya dengan frustasi, seakan ia sedang dilanda kebimbangan. "Ini salah gue. " jelas Saka pada Kenan dan Arion.
Kenan menggeleng dan menepuk pundak sahabatnya "Dia memang seperti itu Sak, sejak di Amerika juga begitu, dan kalau disini seperti ini lagi, kadang pasti ada penyebabnya. Jadi jangan menyalahkan dirimu " jelas Kenan.
"Jadi loe udah tau kalau adik loe suka balapan? " keduanya menganggukan kepalanya. Mereka bukanya tidak tau kalau adiknya itu sangat dekat dengan Saka, namun mereka percaya bahwa Saka akan menjaga Adel dimanapun mereka berada saat bersama.
Antara Kevin dan Saka, mereka jauh lebih setuju jika Adel dengan Saka, tapi perasaan cinta Adel sudah mentok kepada Kevin, dan mereka tau penyebab utama Adel sering balapan liar akhir akhir ini ada hubunganya dengan Kevin.
Kevin memanjat pohon didekat kamar Adel, lalu masuk melalui balkon kamar lalu membuka jendelanya dengan perlahan. "Ra..... " Suara familiar itu menyapanya, suara yang akhir akhir ini sangat dirindukan oleh Adel. Suara yang membuatnya seakan gila menanti dirinya memberikan kabar.
Dengan malas Adel menjawab sapaan Kevin, bukan tidak mau melihat, tapi rasanya sesak didada masih tersirat sangat jelas dilubuk hatinya. "Pergilah.... Aku sedang tidak ingin diganggu. " usir Adel kepada Kevin.
Bukanya menjauh Kevin malah mendekati Adel, dan duduk di samping Adel yang sedang tiduran. Entah tidur atau menangis, yang jelas ia dalam keadaan tidak baik baik saja. "Ra.... "
Sapanya lagi membuat Adel mendesah kesal kepada kekasihnya itu.
"Gue minta loe pergi dari sini Kev. " kalimatnya sudah bukan aku kamu membuat Kevin yakin bahwa dirinyalah penyebab Adel seperti ini. Kevin dengan sengaja merebahkan tubuhnya disamping Adel, lalu masuk ke celah celah selimut yang sedari tadi dikenakan Adel.
Kevin memeluk Adel dengan erat, membuat sang pemilik kamar rasanya ingin sekali berteriak. "Kevin...... " Teriaknya yang kemudian melepas paksa pelukan Kevin dan mendudukan tubuhnya, membuat Kevin juga mengikuti langkahnya untuk menegapkan badanya.
Rasanya Kevin ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah Adel yang sangat menggemaskan. Ingin rasanya mencubit pipinya, namun keadaan sedang tak berpihak padanya. Hanya inilah salah satu cara membuat Adel mau berbicara dengan Kevin.
__ADS_1
"Maaf Ra...... " hanya itu yang diucapkan Kevin setelah berminggu minggu tidak ada kabar, awas saja.... rasanya sangat ingin membalas dendam kepada kekasihnya ini.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu. " Adel menarik Kevin turun dari ranjangnya. Kesal itulah rasanya kepada lelaki di depanya. Bahkan rasa kesalnya melebihi ketika ditampar oleh daddy nya. Adel paham watak daddy nya yang keras kepadanya, ia juga mengakui kalau dirinya memang salah karna melakukan balap ilegal lagi.
"Keluar Vin, pulang sekarang! " Adel masih menarik lengan Kevin yang bahkan tidak berpindah satu cm pun dari ranjangnya. Dengan jahilnya Kevin menarik Adel sehingga Adel jatuh dalam pelukanya.
Adel sesaat menikmati pelukan hangat Kevin, rindu yang ia rasakan. Tapi gengsinya jauh lebih besar dari rasa rindunya. Adel menggigit pundak Kevin dengan keras, membuat Kevin kesakitan. "Ahhh Ra sakit. " aksinya ini berhasil membuat Kevin menjatuhkan Adel disampingnya lalu berdiri menjauh dari Adel
"Pergi..... " pinta Adel lagi
"Tapi Ra, aku mau menyelesaikan masalah kita. " matanya membola mendengar penuturan Kevin. Kalimat Kevin sesaat membuat fikiran Adel kacau.
"Menyelesaikan masalah, masalah yang mana maksudnya, apa dia mau memutuskanku demi seseorang yang sudah meninggal. Kenapa sesaat memikirkan kalimat putus membuat hatiku berdenyut nyeri. " ditepisnya pemikiran sedemikian, jujur saja hari ini sangat melelahkan, selain menghadapi daddy nya ia harus menghadapi Kevin dan pernyataanya yang mau menyelesaikan masalahnya dengan Adel.
"Kita selesaikan besok Kev, aku lelah, aku mau tidur. " Adel kembali menutupkan selimutnya keseluruh tubuh, dan menutupkan bantalnya ketelinga.
"Ra.... "
"Pergi Vin " Adel mematikan lampu kamarnya membuat Kevin menyerah membujuk gadisnya. " Baiklah, aku jemput kamu besok pagi. " ia pamit meninggalkan kamar Adel.
"Menangislah, jangan berpura pura kuat. "Kenan menarik kepala Adel dan menaruhnya di bahu abangnya itu. Sedangkan Arion mengusap ramput Adel dengan lembut. Sedih yang Adel rasakan, namun melihat abangnya ada disampingnya membuatnya nyaman dan bahagia. "Jangan salahkan daddy Ra. " Adel menggelengkan kepalanya.
"Daddy mungkin sudah sangat marah sama Ara bang, Ara sadar Ara salah, dan Ara gak akan ulangi lagi. " Kenan mengecup pucuk kepala adiknya. "Iih abang jorok tau. " keluh Adel yang sesaat kesal karena perilaku abangnya.
"Jangan bandel makanya Ra, lagian kalau ada masalah sama Kevin itu, crita! Jangan lari sama Saka gak jelas, kebiasaan emang. " Arion menasehati Adel yang masih setia disampingnya.
"Kebiasaan..... Emang abang berapa kali tau kalau Adel sering pergi diam diam jalan sama Saka? " Adel memikirkan kalimat abangnya yang seakan tau tentang perilakunya.
"Yah emang sering kan, Ara kalau lagi ada masalah sama Kevin larinya pasti ke Saka. " Ken menimpali ucapan Arion yang ikut menyalahkan perilaku adiknya itu.
"Jadi abang udah tau kalau Ara..... " kalimatnya terpotong karna mereka berdua dengan kompak menganggukan kepalanya.
"Ya Ara, selain daddy, abang abangmu ini tau kamu suka kelayaban kemana. " Adel memukulkan kepalanya ke keningnya sendiri. Selama ini sia sia dia memboking Saka, kalau ia tau bahwa abangnya sudah hafal dengan kebiasaannya, Adel akan meminta Kenan atau Arion menemani kegilaanya itu.
"Makanlah, sudah malam, mandi terus istirahat. " Kenan berdiri dan menyerahkan kotak makan dan kantong yang isinya lengkap dengan coklat. Membuat Adel melebarkan senyumnya.
__ADS_1
Setelah turun dari kamar Adel, mereka melapor kepada mamahnya, bahwa misi sudah selesai. Membuat senyum indah dibibir mamahnya merekah. Mereka semua sangat menyayangi gadis kecilnya, jadi seberapa besar masalahnya, mereka akan selalu menjadi penyemangat yang menguatkan ikatan persaudaraanya.
*
*Ra kutunggu digarasi. * sebuah pesan masuk di ponsel Adel. Sayangnya Adel sudah sampai sekolah. Ia biarkan pesan itu dengan status warna biru bercentang dua. Kesal jelas, dengan mudahnya meminta maaf setelah apa yang terjadi. Mimpi saja, tidak semudah itu Kevin.
"Loh na Kevin" Sapa Axel yang bersiap berangkat ke kantor. Kevin keluar dari mobilnya lalu menyapa kedua calon mertuanya, dengan mencium pucuk tangan mereka. " Aranya sudah berangkat dari pagi Kev. " jelas Keyla membuat Kevin menelan ludahnya, semalam bahkan pesanya diabaikan, pagi ini juga.
Kevin bergegas ke kelasnya. Dimana semua anak sudah bersiap dengan pensilnya, hari ini ada pelatiahan ujian nasional sehingga Kevin tak bisa mencari Adel karna waktunya yang sudah meped.
Sepulang sekolah, Adel sengaja menunggu Kevin didepan mobilnya, ia ingin menyelesaikan masalahnya. Membuatnya pusing jika harus digantung seperti ini. "Tadi aku ke kelas kamu. " hanya sebuah anggukan, Adel seperti cuek sekali kepada Kevin. Kevin meneliti jari Adel untuk memastikan cincin yang ia beri masih melingkar indah dijari manisnya.
"Dimana cincin kamu? " Kevin memelankan kemudinya, ada rasa kecewa ketika cincin yang ia cari tidak ada. "Entahlah" singkat jawaban Adel dengan wajahnya yang datar. Dialihkanya pandangan Adel ke luar jendela.
Mobilnya berbelok di tempat parkir apartemen Kevin. Sesampainya didepan pintu apartemen, langkahnya memberat membuat Kevin menatap Adel dengan amarahnya. "Masuk. " Adel masih terpaku didepan pintu. "Masuk Ra. " kali ini Kevin membentak, membuat Adel berjingkrak kaget.
"Apa maksudnya kamu melepas cincin itu Ra, bukankah kamu berjanji akan menungguku. " Ada sedikit rasa frustasi pada diri Kevin.
"Menunggu..... " senyumnya tampak begitu jelas dengan sebuah keterpaksaan.
"Maksud kamu menunggumu memikirkan wanita lain, bahkan wanita itu tak layak bersaing denganku. " Nada Adel meninggi, bahkan kalimatnya terlalu kasar didengarkan, menurut Kevin. " Kevin hendak melayangkan tanganya mengarah ke pipi Adel.
"Pukul Kev.... Pukul..... " ucap Adel memiringkan wajahnya dan meminta Kevin memukulnya.
"Ra cukup.... Jangan memperpanjang masalah, kamu sudah dewasa, jangan seperti anak kecil yang tidak berfikir rasional " bentak Kevin yang menurunkn kembali tanganya.
"Rasional..... Anak kecil" kalimat itu terngiang dikepalanya, tidak terima dikatakan anak kecil yang tidak bisa berfikir rasional.
"Aku malas membahas ini.... Aku pulang. " Adel berbalik meninggalkan Kevin. Namun dengan cepat Kevin menarik pergelangan tanganya hingga Adel berbalik menatapnya. "Ra..... "
"Aku akan memaafkanmu setelah kamu tau rasanya diabaikan selama satu minggu olehku. " jelas Adel yang kemudian melepas cengkraman tanganga di pergelangan tangan Adel.
"Ra.... Satu langkah kamu keluar dari sini, aku anggap kamu memutuskanku. " Kali ini air matanya sudah tidak bisa dibendung. Bibir bawahnya ia gigit dengan kuat untuk menahan isaknya. Adel berbalik membuat Kevin mengembangkan senyumnya. Namun harapanya sirna ketika Adel mengembalikan cincin yang diberikan oleh Kevin. Adel berjalan membuka pintu dan membantingnya kuat kuat.
"Brak" cairan bening yang berasal dari sudut matanya mengalir begitu saja. Awalnya Kevin hanya ingin menggertak Adel, tapi pada akhirnya, hal yang tidak pernah terlintas, terucap seperti mimpi.
__ADS_1