
Adel berjalan hendak meraih pereda nyerinya, namun langkahnya terhenti karna serangan hebat itu membuatnya hilang kesadaranya. Ia terjatuh ke lantai dan tak sadarkan diri. Hampir 1 jam Adel tak sadarkan diri, hingga sebuah tangisan bayi terdengar nyaring ditelinganya.
Bayi yang berusia 4 bulan ini, sudah mulai berpindah posisi tepat di pinggir bad. Cila hampir terjatuh, sedangkan Adel perlahan membuka matanya, dengan berat kelopak matanya ia buka, namun suara tangis itu membuat ia harus berdiri. "Cila..... " pekiknya lirih berusaha berdiri dari lantai namun apalah daya, badanya seperti mati, air matanya mulai bercucuran, ia takut anaknya terguling ke lantai.
"Cila...... " Dengan rasa berat Adel menarik tubuhnya, namun tidak dapat bergerak, ia menggulingkan tubuhnya dua kali hingga ia berada di bawah Cila. Cila yang berguling tepat di atas tubuh Adel hanya menangis. Perlahan Adel mendudukan tubuhnya, lemas itulah yang ia rasakan.
Ingin rasanya mengatakan kepada Kevin bahwa saat ini ia ingin melakukan operasi. Tapi apakah tidak terlalu jahat, biaya operasi dan biaya Adel di ruang ICU menggunakan ventilator menunggu flap yang dilepas sampai 2 hingga 6 bulan bukanlah waktu yang sebentar, bahkan ia membutuhkan ratusan juta demi melakukan operasi tersebut.
Deru mesin mobil memasuki garasi rumahnya, ia berharap Kevin tidak melihat keadaan Adel yang sedang lemas di lantai. Perlahan ia memindahkan posisinya ke atas ranjang. Ingin rasanya Adel jujur bahwa keadaanya sedang tidak baik, dan rasa nyerinya lebih sering muncul dibandingkan yang lalu. Tapi Kevin akan sangat panik jika tahu keadaanya, dan solusinya hanya ada satu operasi. Kendalanya juga hanya satu yaitu uang.
Sebenarnya bisa saja ia menghubungi Arion, namun mengingat kejadian beberapa hari yang lalu ketika Arion datang dan datanglah orang orang yang ingin mencelakainya. Adel urungkan niatnya, toh jika Adel meminta uang kepada Arion akan sangat melukai harga diri Kevin sebagai lelaki, suami, dan tulang punggung keluarga.
"Hai Cila sayang, kamu udah bangun ya? " Kevin mengecup kening istri dan putrinya, bibirnya pink karna sudah terpoles oleh lipstik miliknya.
"Beli apa?
" tanyanya mencoba ingin tahu apa yang dibeli suaminya, makanan cepat saji, yah saat ini Kevin hanya bisa membeli makanan cepat saji, karna harganya ekonomis, juga mengirit pengeluaran. Saat ini dirinya bekerja di klinik dekat rumah. Ia belum menemukan rumah sakit yang bisa menjadi ladang pencaharian kerjanya.
Dengan sabar Kevin menyuapi Adel makanan, karna Adel sedang menyusui sehingga Kevin dengan senang meladeni istrinya. "Ra..... " Kevin menatap Adel yang sesaat bola mata mereka menyatu.
"Kapan kamu akan operasi. " Satu kata yang selama ini ia tunggu, namun ia berharap tidak sekarang, ekonominya sedang buruk, tidak mungkin ia menyetujui hal ini. Meskipun Adel sendiri tahu 50% kegagalan dalam operasi kraniektomi dekompresi sudah jelas akan mengancam jiwanya dan melepas nyawa dari raganya
"Nunggu kita ada uang saja Kev. Lagian akhir akhir ini nyerinya jarang kambuh. " ucapnya bohong, bukanya Kevin tidak tahu, ia tahu betul bahwa akhir akhir ini obat anti nyerinya berkurang, menandakan Adel sering mengkonsumsi obat tersebut.
"Aku akan memcari pinjaman Ra, cepat tentukan kapan kamu akan melakukan operasi. Besok aku akan mengunjungi rumah sakit terdekat yang fasilitasnya lebih baik di sini. " jelasnya kepada Adel dengan mendesaknya.
"Aku gak papa Kev. " ungkapnya, makanan yang sedang disuapkan oleh Kevin belum habis, namun Kevin sudah duduk dibelakang Adel dan meletakan kepalanya di pundak Adel.
"Jangan berbohong kepadaku Ra, kamu tau aku tak bisa hidup tanpamu." Jelasnya kepada Adel. Tak terasa air matanya turun. Ia takut kehilangan istrinya, meskipun Kevin sendiri tau hasil dari operasi DK hanya 50%, tapi itu adalah sebuah usaha, sehingga Kevin akan lakukan apapun demi istrinya.
Tidak ada jawaban dari Adel, sanggahan pun tidak keluar dari bibir Adel. Ia ingin menangis, namun ditahanya, karna akan lebih membuat Kevin sakit hati jika ia larut dalam kesedihan. "Aku baik sayang, jangan berfikir macam macam. "Adel mengusap kepala Kevin perlahan agar ia lebih tenang.
*
__ADS_1
"Ken.... " Sapa Alfa kepada Kenan, yah Alfa datang mengunjungi Kenan, dijam sibuk Kenan, memang sangat sulit membuat janji denganya. Mereka bertemu di salah satu cafe terdekat di kantornya.
"Om..... "Kenan meraih tangan kanan Alfa lalu menyaliminya. Ia tau pasti kedatangan Alfa ingin mencari tahu tentang keberadaan Kevin dan Adel.
"Maaf mengganggu waktu sibukmu. " jelas Alfa kepada Kenan, mereka berdua menjatuhkan tubuhnya pada kursi berwarna putih. Pesanan mereka pun tak lama datang.
"Tidak apa apa om. Ada yang bisa Ken bantu. " tanyanya kepada papa Kevin, lelaki didepanya adalah lelaki yang pernah mencintai mamahnya dan menyelamatkanya sewaktu kecil. Ia ingat, bahwa ia berhutang nyawa pada papa Kevin.
"Bisakah kamu ceritakan detailnya tentang Adel dan Kevin, serta putrinya, dan bagaimana itu terjadi Ken?l" ucapnya sangat ingin tahu keadaan putranya. Bisa saja Anes marah mendengar bahwa Agni mencoba melakukan percobaan pembunuhan kepada Kevin, Adel, bahkan putranya.
Kenan mengangguk, lalu menceritakan detail masalahnya kepada Alfa secara rinci dan jelas. Kali ini Alfa tidak ada alasan memihak Agni, wanita seperti ular itu setidaknya sudah tidak pantas menjadi menantunya.
Mendengar cerita Kenan membuat papa Kevin prihatin, bodohnya dulu ia memisahkan Adel dan Kevin demi kehidupan Kevin dengan wanita ular sepertinya. Ia menyesal telah mempersulit kehidupan putranya. Seandainya Anes tahu apa yang dilakukan oleh ayahnya dan suaminya kepada Adel dan Kevin, ia pasti akan sangat kecewa.
"Kira kira apa kamu tahu kemana Adel dan Kevin saat ini? " tanya Alfa pada Kenan. Kenan menggeleng, ada rasa kecewa ketika mengingat tidak ada petunjuk kemana mereka berdua pergi. Jelas saja Kevin menghapus riwayat penerbanganya.
"Kami sudah melihat riwayat penerbanganya, hanya saja sudah ada seseorang yang menghapus riwayat penerbangan tersebut." Ungkapnya, ia tidak tahu lagi harus kemana mencari adiknya itu, apalagi melihat kondisi Adel mungkin saat ini memburuk.
Alfa menghempaskan nafasnya kesal, ia bahkan menyesal atas kelakuannya kepada menantunya. "Sesulit apapun aku harus temukan Kevin dan Adel. " batinya, apalagi ada malaikat kecil nan cantik yang menguatkan ikatan mereka, membuat sesal itu bertambah.
"Adik saya sangat dekat dengan istri Arion, dan biasanya dia selalu mengabari Ayra, mungkin anda bisa mengawasinya atau menanyakan keberadaan Ara padanya. " jelasnya kepada papa Kevin.
"Benarkah Ken? "Tanyanya dengan semangat. "Baiklah trimakasih Ken atas informasinya." ucapnya tulus, Kenan menganggukan kepalanya dengan santun, mereka masih terdiam dengan fikiranya masing masing. "Ken...." Kenan menatap wajah papa Kevin, masih ada percakapan apa lagi diantara mereka.
"Bagaimana kabar mamah kamu? " tanyanya ramah, sebenarnya Alfa sangat penasaran dengan keadaan Keyla, sayangnya nyalinya begitu kecil untuk sekedar menanyakan kabar orang yang pernah ia cintai.
Kenan menarik ujung bibirnya, ada sedikit gelak tawa yang membuat sudut bibirnya tertarik ke samping. "Berkunjunglah ke rumah, om dapat bertemu langsung dengan mamah saya. " jawabnya iseng, membuat wajah kesal Alfa kembali menghiasi.
"Om pamit Ken... " tepisnya disusul dengan pamit untuk meninggalkan Kenan. Ada rasa malu, karna Kenan jelas akan berfikiran macam macam terhadap pertanyaan itu. Namun ada rasa kecewa karna tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Alfa berjalan menuju arah pintu keluar. "Om... " langkahnya terhenti mendengar sapaan dari Kenan. "Mamah saya baik, dan sangat baik, datanglah berkunjung ke rumah jika om sangat penasaran dengan kabar mama saya, lagian kalian besan kan, tidak ada salahnya menyambung silaturahmi. " Ledeknya, Alfa hanya mengangguk lembut, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari pintu.
Awalnya Kenan tidak pernah tau seperti apa hubungan asmara antara papa dan mamanya, namun oma dan opanya menceritakan detail hubungan asmara papa dan mamahnya dulu.
__ADS_1
*
"Kita cari kemana Ara Ay? " tanyanya disela kebingunganya, candaan malam masih terasa hampa mengingat keadaan adiknya yang belum ada kabar.
Ayra mencoba menghubungi Adel sayangnya tidak ada jawaban. Nomornya sudah tidak dapat dihubungi. "Mas apa kita cek ke Bali. " saran dari Ayra kepada Arion. Bahkan Arion tidak berfikir sampai kesana.
"Kamu benar, dalam keadaan kondisi ekonomi yang tidak terlalu baik, kemungkinan mereka kembali kesana. " ucap Arion. "Mas coba minta seseorang untuk melacak alamat Ara disana. " Ungkapnya, kemudian ia mengeluarkan ponselnya meminta seseorang untuk melacak apakah Adel disana.
Detik dan jam belum juga memberi jawaban atas kegundahan Arion dan Ayra. Mereka begitu penasaran, apakah Adel dan Kevin kembali ke sana, atau pergi mencari tempat lain.
📞"hallo bos selamat malam. " sapa seorang lelaki dari sebrang. Detik waktu menunjukan pukul 03.45 dimana terdengar suara bayi, menangis, dan perempuan yang memanggil suaminya. Kebetulan sang suami keluar dari rumah untuk memgambil barang di bagasi mobilnya, sehingga lelaki tersebut dapat dipastikan seseorang yang sedang dicari oleh Arion.
📞" selamat malam, bagaimana apakah ada kabar? " tanyanya to the poin kepada seseorang yang disuruh oleh Arion
📞"disini ada seorang bayi, dan kedua orang tuanya, kami sudah memastikan siapa penghuni rumah ini, dan lelaki yang kami lihat pagi buta ini sama seperti foto yang diberikan oleh tuan. " jelasnya sambil memantau rumah di depan mereka yang nampaknya masih menyibukan mereka.
Memang belum dapat dipastikan bahwa wanita itu Adel, tapi suami wanita tersebut sudah terlihat sama persis seperti yang ada di foto. Arion mematikan ponsel secara sepihak. Ia berniat memberitahukan informasi ini kepada Kenan.
Dering ponsel menggema beberapa kali membuat Zela membuka matanya. Sebuah tangan melingkar di pinggang Zela. Zela dengan perlahan melepaskan lingkaran tangan Kenan di pinggangnya, lalu meraih ponsel Kenan dan menggeser tombol warna hijau yang tertera nama Arion disana.
📞"Assalaamualaikum... "
📞"Waalaikumsalam. Ya Ar.... "
📞"Zel... Bisa saya bicara dengan Kenan." pintanya kepada Zela. Zela menepuk pipi Kenan pelan, dan membangunkanya.
"Mas... Ada telvon dari Arion, mungkin penting." ucapnya, Kenan sesaat mengerjapkan matanya, ia yakin ini ada kaitanya dengan Adel adiknya.
"Siapa Zel? " tanyanya karna samar mendengar Zela menyebut nama Arion.
"Arion, sepertinya penting mas, soalnya dijam segini, kalau gak penting gak mungkin sepagi ini telphone. " jelasnya memberikan ponsel Kenan kepada pemiliknya.
📞"ya Ar... Ada apa? " tanyanya ramah kepada Arion, bahkan pertengkaran mereka belum berakhir dengan kata maaf. Namun sikap mereka seperti biasa tanpa ada masalah.
__ADS_1
📞" Adel dan Kevin ada di Bali Ken. "