
"JEDER.... " rasanya seperti tersambar petir. Asha tak percaya Ken memutuskanya hanya karena Adel.
"Tapi Ken... " Asha memelas meminta sebuah kesempatan kedua. Namun rasanya kekecewaanya sudah terlalu berat. Ken mengangkat tanganya tak ingin mendengar sanggahan dari mantan kekasihnya itu, yang jelas memang Ken masih punya rasa padanya.
Asha menjatuhkan lututnya. Ia memohon kepada Ken sambil memegang tanganya, namun keputusan Ken sudah bulat. Ken berjalan meninggalkan Asha. "Maaf Sha, sebenarnya gue masih sayang sama loe, tapi..... Keadaan lah yang harus memisahkan kita." Batinya
*
"Ara.... Kamu sudah sehat? " Ken menanyakan keadaanya. Pagi ini wajahnya sangat cerah. Langit pun mendukungnya, alam semesta yang memancarkan cakrawala dunia yang indah, seindah hati Adel yang berbunga bunga.
Meja makan malam telah lengkap dengan Adel, Ken dan Arion. Wajah Adel berseri semenjak Kevin mengecupnya pagi tadi. Ia langsung dibolehkan pulang oleh sang mommy.
"Besok Ara gak usah berangkat. " ujar Ken dan diiyakan oleh Arion. Namun berbeda dengan Keyla, Keyla tau bahwa Adel sedang jatuh cinta, sehingga ia membolehkan Adel berangkat sekolah.
"Ara besok mau berangkat. " ucapnya dengan semangat. Namun lagi lagi ditentang oleh Arion dan Ken. "Pokoknya Ara berangkat besok. "
"Biarin Abang, kasian Ara nanti gak ketemu pujaan hati. " Ken dan Arion melotot mendengar pengucapan mamanya. Namun yang bersangkutan wajahnya sudah memerah, dan berlari ke kamar.
Sesampainya dikamar sudah terdapat pesan chat dari Ayla. Pesan chat berisi image dan video ketika Adel terjatuh di kolam renang.
*Del, sumpah Kevin cool banget waktu nolongin loe di kolam renang. *
Wajahnya memerah mengingat pengorbanan yang dilakukan oleh Kevin padanya. Namun kebahagiaanya dirusak oleh 2 abangnya yang ikut masuk ke kamar.
"Hayoo mikirin siapa? " tanya Arion penasaran. Adel hanya tersenyum tanpa berniat memberitahu.
"Kepo kamu bang. " jelasnya, yang kemudian menjadi awal mereka ribut. Namun akhirnya Adel lah yang memenangkan keributan ini, ya biasa Adel meminta digendong di pundak abangnya, entah berapa putar Ken dan Arion menggendongnya.
"Ar gantian nie, berat. "Teriaknya meminta Arion bergantian menggendong Ara. Arion yang sudah lelah pun mengangkat tanganya.
"Cepetan ih bang Ar sini. " pintanya merengek seperti anak kecil. Keyla dan Axel hanya menggelengkan kepalanya.
"Dasar anakmu mas kalau diluar kaya preman, kalau dirumah kaya tuan putri Ara, sudah sayang, kasian abangmu. "
"Itu anakmu Key... "Axel merangkul pundak istrinya. "Mom kita pergi dulu ya, sudah meped waktunya . " ungkapnya memandang jam tanganya.
"Ajak kesini Aldi, Zara dan Zela Xel" pinta oma dan opa Ken. Yah seseorang yang akan Axel temui adalah Aldi. Mereka akan pindah ke Indonesia. "Siap mom" Jawab Axel singkat. Lalu berjalan menuju garasi mobil.
Setengah jam berlalu. Saat ini mereka sedang berpelukan hangat. Mengingat sudah hampir 2 tahun mereka tak saling bertemu. "Loe sehat Xel? " Aldi menepuk punggung Axel. Tak lupa Zara juga berpelukan dengan Keyla.
"Sehatlah, loe gimana? " Axel bertanya balik pada Aldi.
__ADS_1
"Sehat lah. " Aldi sangat bahagia bisa kembali ke Indonesia.
"wahh wahh wahh ini Zela, sekarang sangat cantik. " Zela tersenyum manis. Lalu menyambut pucuk tangan Axel dan Keyla.
Karakter Zela disini adalah gadis yang ramah, baik, halus, lembut, penurut, sopan, pandai memasak berbeda jauh dengan Adel yang liar, urak urakan suka balapan, manja. Bahkan gadis yang sangat pemalas.
"Ayo pulang. " ucap Axel dan Keyla. Mereka menuju mobil Axel. Namun tidak dengan Zela. Ia menolak bergabung pasalnya ia akan pulang diantar temanya.
"Zel, jangan malam malam pulangnya. " pinta Aldi kepada putri semata wayangnya. Dia adalah anak satu satunya putra Aldi dan Zara. Axel mengantarkan Aldi ke rumahnya, rumah elit yang siap dihuni. Letaknya tak jauh dari rumah Axel.
Zela menanti sebuah mobil putih dengan plat nomor B0001KM. Tak lama kemudian mobil berplat nomor tersebut datang menjemputnya. Pemiliknya mulai menampakan wajah tampanya. "Sudah lama Zel? " tanyanya ramah. Zela menganggukan kepalanya. Lalu masuk kedalam mobil tersebut.
Lelaki tersebut memutar kemudinya pelan, sesaat Zela menatap wajah tampan sahabatnya itu. "Kenapa....tambah ganteng, gitu banget ngliatinyal? " ledeknya memuja dirinya sindiri. Zela terkekeh mendengar penuturanya.
"Masih sama aja kamu Kev. " sahut Zela. Lalu mereka kembali fokus pada jalanan. Kevin sesekali melihat layar ponselnya, seakan dia menanti pesan yang ia tunggu.
"Apa kamu mempunyai pacar, sampai segitunya melihat layar hp yang kosong, bahkan tidak ada satu pesan pun yang masuk. Kevin terkekeh dengan ledekan Zela.
"Hampir, doain. " pinta Kevin kepada Zela. Zela ikut tersenyum, pasalnya lelaki disampingnya sangat susah untuk jatuh cinta.
"Bagaimana kabar Citra? " Sesaat pertanyaan itu membuat Kevin mendatarkan wajahnya. Sebuah nama yang membuat Kevin dan Ken bermusuhan sampai saat ini.
"Masih gitu gitu aja, bahkan masih sering mencoba bunuh diri. " jelasnya tanpa ekspresi. Moodnya sesaat sirna karna harus mengingat persahabatanya hancur karna kesalahpahaman.
Mengingat kembali alasanya yang sedang mendekati adik Ken mungkin sebentar lagi ia akan meluruskan yang sesungguhnya terjadi kepada Ken, bahwa semua ini adalah kesalah pahaman.
"Seperti apa wanita yang kamu sukai. " Kevin tergelak oleh tawanya sendiri, mengingat wataknya yang hampir mirip dengan Citra. Lagi.... Apakah Adel hanya sebuah pelampiasan bagi Kevin karna dirinya yang sangat mirip dengan Citra.
"Nanti loe juga tau. " jelas Kevin pada Zela. Tak lama kemudian ia sampai di garasi rumah Zela. Zela beranjak turun dari mobil Kevin, lalu melambaikan tanganya.
"Ajak aku ketemu Citra Kev. " pintanya. Kevin langsung mengangguki permintaan Zela. Sebelum ia meninggalkan garasi rumah Zela, Kevin terdiam didalam mobil. Ia mencoba melihat layar ponselnya membuat Zela menggelengkan kelakuan sahabatnya itu yang sedang jatuh cinta. Kevin masih menunggu jawaban Adel yang mengajaknya bertemu sepulang sekolah di tempat basket.
Semalaman, Kevin dibuat tidak bisa tidur oleh Adel, pasalnya bahkan pesanya hanya dibaca saja. "Apa Adel masih marah sama aku. " fikiranya tak jelas membuatnya tak sabar ingin menemuinya.
*
Pagi buta, Kevin sudah menunggu Adel didepan rumahnya. Lalu mengiriminya pesan agar berangkat bersama.
*Del kutunggu di garasi depan rumahmu. *
Adel membaca pesanya. Ia berlari menuruni tangga dan melewati oma, opa, Ken dan Arion. Sejak ada Adel, Arion dan Ken lebih sering menghabiskan waktu bersama dirumah. Karna ada Adel, rumah terasa sangat hangat.
__ADS_1
"Mom, Ara berangkat dulu. " pamitnya tanpa salim dan sarapan pagi. Ken dan Arion mengangkat bahunya tak mengerti apa yang terjadi pada adiknya itu.
Masih pukul 5.45. Namun Adel sudah seperti akan perang dunia. Ia langsung masuk ke dalam mobil Kevin. Kevin melajukan kemudinya. Selama perjalanan Kevin hanya memandangi Adel. "Kev.... Perhatikan jalan. " ucap Adel mengagetkan Kevin. Pasalnya jalanan masih sepi. Tidak banyak mobil yang berlalu lalang.
Sesampainya di area parkir Kevin membukakan pintu untuk Adel. Lalu berjalan menuju kelas Adel bersama. "Gue tunggu pulangnya dilapangan basket" Adel hanya menganggukan kepalanya.
"Cie cie pasangan baru. "Ledek teman temanya kepada Adel. Pasalnya Ayra dan Ayla belum berangkat sekolah, membuatnya malas meladeni sorakan demi sorakan. IGnya penuh dengan fotonya di acara pesta kemarin.
*
Waktu pulang sekolah tiba. Semua siswa berhambur keluar kelas. Ara sendiri sudah menghubungi abangnya untuk tidak menunggunya, pasalnya ada sesuatu yang harus ia urus dengan temanya. Teman apa pacar.
Adel berjalan menuju ruang basket. Waktu sudah menunjukan pukul 14.15.Tampaknya Kevin sudah menunggunya. Jantung Adel sudah seperti maraton dikejar Anjing.
Sebelum membuka pintu, Adel menetralkan kondisinya. Selama beberapa kali Adel menarik nafas panjang. "Ceklek" pintu dibuka perlahan. Adel mengedarkan pandanganya, dilihatnya sosok Kevin yang terbaring di lapangan basket dan memejamkan matanya. Adel berjalan menuju tempat dimana Kevin terbaring.
Adel tampak terpesona melihat wajah tenang Kevin. Ia mengambil ponselnya lalu mengabadikan momen langka tersebut. Beberapa potretan tak membuat Kevin bangun. Kali ini bukan hanya kagum, namun rasa ingin menoel pipinya pun muncul.
Lagi - lagi 2 cubitan dipipi tak membuatnya bangun, kali ini berpindah ke hidungnya. Bertambah jelas ketika hidungnya ia tarik namun tak ada reaksi.
"Kev bangun ihhh.... Kalau gak bangun kutinggal nie. " keluhnya kesal karna beberapa kali mencoba membangunkan Kevin namun tidak ada hasil.
"Aku pergi nie ya. " jelasnya, nadanya ia tinggikan 1 oktaf. Adel duduk didepan Kevin dan membelakanginya. Ia buka layar gawainya, namun tidak ada yang menarik.
"Sial aku dikerjain. " rutuknya, Adel hendak berdiri namun sebuah tangan meraih pinggangnya, memeluknya dari belakang. Jantung keduanya sudah seperti musik DJ di club malam. Janggut kevin ia letakkan di pundak Adel, membuat desiran nafas terasa hangat mengenai telinganya.
"Del.... Aku minta maaf, maaf atas segala sikap dan perilakuku, maaf untuk ucapanku. Maaf untuk semua kalimat yang sudah membuatmu menangis. " bisiknya lirih tepat di telinganya.
"Ada apa dengan posisi ini, kenapa jantungku tidak bisa berdamai. " batinya lagi dan lagi Adel terfokus pada jantungnya yang frekuensinya sudah tidak karuan.
"Kev lepasin dulu... " Adel melepas tangan yang melingkar di pinggangnya. Sesaat terlepas, namun Kevin melingkarkanya lagi dengan erat.
"Kev..... " panggilnya lembut. Lalu mencoba melepaskan tanganya. Setelah terlepas, Adel membalikkan tubuhnya, sehingga wajah mereka saling bertatapan.
"Kenapa gue bego banget, dengan posisi tadi saja membuat gue grogi setengah mati, apalagi berhadapan seperti ini, rasanya seperti ingin mati saja gue. " Adel mengumpat tindakanya yang membuatnya mati kutu dibuat Kevin.
"Ya gue maafin. " ucap Adel singkat tanpa ekspresi. Bahkan menatap matanya saja Adel tak berani.
"Huaaa..... Sekarang dialog apa yang harus kuucapkan. " batinya bingung, wajahnya ditatap intens saja oleh Kevin membuat degupan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Cupp" Kevin mendaratkan bibirnya dikening Adel. Membuat Adel setengah tak sadar. Mata Adel mulai kosong, ia coba netralkan segalanya, namun lagi lagi sebuah kecupan hangat dibibir menyusulnya. Membuat mata Adel membulat maksimal.
__ADS_1
"Ingin menolak tapi hati ini menginginkanya, ingin tetap seperti ini, rasanya bisa mati aku dibuatnya. " ungkapnya dalam hati.
Tidak ada penolakan dari Adel. Membuat Kevin mencecap ranum bibir milik Adel. Adel memejamkan matanya kali ini dan tidak ada penolakan darinya.