
"Kevin juga cinta pertamaku Sak. " balasnya seimbang dengan jawaban Saka.
"Kevin sebentar lagi akan menikah dengan orang lain Ra" Lagi lagi Saka memperkeruh suasana antara Adel dan Kevin.
"Tak apa Sak, meskipun aku hidup kembali, maka akan aku simpan cinta Kevin tanpa harus memilikinya." ucapanya berpuluh puluh kali menyayat hati Saka. Saka tersenyum, penolakanya benar benar lebih kejam dari yang ia duga.
"Seharusnya aku merusak memori kamu Ra." ucapnya kacau, sungguh Saka begitu sakit karna sampai selama ini cintanya seperti bayangan.
"Jika kamu merusak memoriku, maka bisa saja aku kembali mencintai Kevin Sak." jawab Adel lagi. Sekeras kepala inikah wanita yang Saka cintai.
"Kevin.... Kevin.... Kevin.... dan Kevin yang terlihat dimatamu, padahal dia yang selalu membuatmu menangis dan sakit hati Ra." Saka iri dengan Kevin, jelas saja, setiap kali hatinya terluka namun akan ada seribu maaf untuknya.
"Di hatimu juga tak bisa berganti menjadi nama Gean padahal dia istrimu Sak, dia baik, cantik, muslimah, pintar, bertalenta, dan yang jelas lebih perfect dariku tapi dihatimu tetap ada namaku, dan hingga detik ini masih ada namaku padahal aku menyakitimu setiap waktu." ucap Adel membalik kalimat yang dilontarkanya.
"Pandai sekali kamu memutar balikan kalimatku." ucapnya dengan tawanya. Sungguh menggelikan, sebegitu jauh ia berjuang namun tetap hanya tersisa sebuah penolakan.
"Tidak bisakah kamu bersamaku hanya untuk sebuah balas budi." pintanya mengemis cinta Adel, Adel menggelengkan kepalanya dengan perlahan, sedari tadi air mata Adel tak henti mengalirkan cairan kristal tersebut.
"Sak...... "
"Baiklah aku mengerti, mungkin memang nasibku selalu mendapat penolakan darimu." Itulah kesimpulan dari akhir cerita perjuanganya. Selama empat tahun bahkan ia selalu memantau Adel melalui cctv, ia berharap dapat membantunya, disaat waktunya tiba, dan Adel berhasil diselamatkan. Tapi akhirnya jawabanya tetap sama, tidak bisa memilikinya. Hatinya tetap utuh untuk Kevin seorang.
Hanya sebuah angan, dan harapan yang tidak akan pernah tercapai. "Bahkan api dan air bisa hidup berdampingan tanpa saling membunuh. Tapi kenapa antara aku dan kamu bahkan tidak bisa hidup bersama Ra." batinya, ia sudah kehabisan kata untuk sekedar berdebat denganya.
*
Hari ini Cila bersama dengan keluarga besarnya menikmati makan malam di restoran, Cila heran kenapa ayahnya belum juga sampai. "Oma Anes.... Ayah kemana si, ko belum datang? " tanyanya penasaran, matanya ia telusurkan ke arah kanan dan kiri.
"Ayah kamu sedang menjemput temanya sayang." jelas sang oma. Wanita yang dijodohkan dengan Kevin atas rekomendasi orang tua Adel. Semenjak kepergian Adel, Kevin seperti anak kandungnya dan pengganti Adel, dan diperlakukan sama seperti Kenan.
Tak lama Kevin datang bersama dengan seorang wanita cantik. Seperti perkiraanya. Kevin tak bisa lagi menghindar, mengenai masalah perjodohan, dan segera mungkin akan masuk ke jenjang pernikahan.
"Sayang.... " panggilnya kepada gadis kecil yang sangat ia sayangi. Kevin mensejajarkan dirinya dengan putrinya, putrinya sangat anggun, cantik dan bagi Kevin tidak ada yang lebih cantik kecuali putrinya saat ini.
"Ayah dia siapa?" tanya Cila penasaran, Kevin menatap wanita di sampingnya, gadis cantik yang begitu anggun dan sopan. Keturunan darah jawa, dan asli dari Solo.
Gadis tersebut bernama Kinan, mirip seperti nama tembang Jawa. Dia seorang guru play group. Pilihan terakhir Kevin setelah berkali kali dijodohkan, Kevin sudah mengatakan bahwa ia menjalani perjodohan demi Cila, bukan untuk dirinya.
Kemungkinan nanti akan sering menyakitinya, tapi itulah kejujuran yang harus Kinan ketahui. Bahwa hatinya hanya untuk almarhumah istrinya. Ia tidak tahu apakah Adel masih hidup atau sudah meninggal
__ADS_1
"Sayang kenalkan dia calon ibumu." ucap Kevin tanpa basa basi. Mendengar itu Cila langsung memanyunkan bibirnya, ia merasa sedih ketika harus memanggil seorang wanita asing dengan sebutan ibu, ibunda bahkan mommy.
Cila berpaling lalu duduk disela sela oma dan opanya tanpa mempedulikan Kinan yang sudah menjulurkan tangan kananya dan memperkenalkan namanya, hingga Kinan menarik kembali uluran tanganya. Sombong itulah keturunan Adel, dia mewarisi sebagian sifat liar ibundanya.
Mereka melanjutkan makan malam megah ini dengan hikmat, namun Kevin yang sedari tadi memperhatikan wajah Cila yang murung, membuat Kevin sakit hati. Ia juga tidak enak dengan Kinan karna akibat ulah Cila Kinan menjadi pendiam.
"Maaf" lirih satu kalimat yang terlontar dari bibir Kevin hanya sekedar menenangkan Kinan, lalu ia usapkan tanganya di punggung tangan Kinan.
Mata Cila menatap dengan penuh marah dan dendam, belum pernah Cila melihat ayahnya begitu baik terhadap seorang perempuan. Membuat Cila menghantamkan keras antara sendok dan garpunya di atas piringnya.
"Cila kelas berapa?" tanya Kinan ramah, sayangnya Cila tidak menjawab pertanyaan Kinan, sesaat membuat Kevin geram, sebenarnya apa isi otaknya sampai ia tidak sopan seperti itu kepada seseorang. Padahal gadis kecilnya ini biasanya sangat ramah.
"Cila..... " panggil Kevin dengan nada yang sedikit meninggi, ia memainkan matanya kepada Cila, berharap Cila tidak bersikap angkuh kepada Kinan lagi.
"3" hanya sepatah kata yang ia ucapkan. Namum tidak membuat Kinan berhenti mendekati gadis kecil ini. Gagal baginya jika tidak bisa menakhlukan seorang anak kecil. Mengingat profesinya adalah seorang guru play group.
"Cila paling pinter ngerjain pelajaran apa?" lagi lagi Cila diam ia enggan menjawabnya.
"Cila.... " lagi... Kevin seolah meminta Cila mengakrabkan dirinya kepada Kinan.
Cila berdecih kesal."Maaf Cila gak suka ngomong sama orang asing." jawabnya spontan membuat Kevin naik darah. Tanganya berhenti memegang garpu dan sendok, matanya ia edarkan pada anak gadisnya yang tidak sopan.
Tangan Cila mencengkeram pucuk gaunya dengan erat, tanganya saling meremas, ia takut diteriaki oleh ayahnya lagi, seumur hidup Cila, tidak pernah mendengar ayahnya berteriak seperti ini. Suasana menjadi hening hingga pesanan makanan terhidang memecah keheningan mereka.
" sudah mas gak papa. " Kinan mengusap pundak Kevin dengan lembut, mencoba menenangkan calon suaminya itu. "Cila makan yang banyak. " Kinan mengambilkan makanan untuk Kevin dan Cila, Cila tidak protes, ia takut ayahnya akan meneriakinya kembali.
Setelah selesai menyantap makan malam, mereka saling bertukar cerita, namun tidak dengan Cila, ia diam menatap ayahnya yang begitu menikmati waktunya bersama Kinan.
"Kinan bagaimana kalau pertunangan kalian dipercepat?" celetuk Anes kepada Kinan, melihat Kinan yang ramah dan tak pantang menyerah membuat Anes ingin cepat cepat menikahkan Kevin dengan Kinan.
Kevin tampak diam, ia tau cepat atau lambat akan sampai di tahap ini. Cila secara saksama menatap ayahnya, ada sedikit harapan ayahnya akan menolaknya.
"Kevin ikut ayah dan bunda saja." pasrahnya kepada kedua orang tuanya. Mata Cila penuh amarah, tanganya mulai meremas kuat gaun yang ia pakai. Kelopak matanya begitu berat karna menahan air matanya. Cila berdiri hendak berlari ke sembarang arah keluar dari restoran tersebut. "Ayah jahat.. " ungkap Cila sambil berlari.
"Cila.... "teriak Kevin. Kevin tau Cila akan kecewa, tapi mungkin ini adalah awal yang baik, mungkin nanti ia akan berdamai dengan Kinan. Kinan berlari hendak mengejar Cila, sayangnya Kevin menahan Kinan. "Biar aku saja Ki. "
Kevin berlari mengejar Cila yang sudah tak terlihat batang hidungnya. Apa yang harus dijelasan kepada gadis sekecil ini. Kelak Cila akan mengerti dengan keberadaan Kinan.
"Bruk" Cila menabrak sosok lelaki yang akrab baginya.
__ADS_1
"Cila.... " seru Abi, yah laki laki yang Cila tabrak ialah Abi, teman abangnya yang super duper jutek. Abi yang sedang berjalan jalan di mall dengan mama dan papanya.
"Ka Abi..... " Melihat Cila yang wajahnya berderai air mata membuat Abi penasaran, apa yang membuatnya menangis.
"Siapa Bi? " tanya kedua orang tuanya.
"Adik Derrick ma." jawabnya. Cila masih terpaku, ia tidak tau mesti apa. Hatinya hancur, dan sangat sedih mengetahui ayahnya akan menikah lagi.
"Kamu kenapa.... Kenapa menangis, dan kenapa semalam ini kamu sendiri disini." Cila tidak menjawab, ia malah menangis tersedu.
"Ma... Kita antar Cila pulang saja." Ajak Abi kepada kedua orang tuanya. Lalu Abi mengantarkan Cila ke rumahnya.
*
"De.... Apa kamu temanya Cila? " tanya seorang wanita, yang menurutnya sangat cantik.
"Ia tante cantik, saya teman sekelasnya Cila." ucapnya dengan nada halus. Anak jaman sekarang usia 8 tahun itu beda sama dulu, sekarang anak anak jaman now sudah mengenal make up, ponsel dan cinta di usia dini. Bahkan mereka tidak tau apa arti sosialisasi yang sebenarnya,yang mereka tahu mereka belajar dari ponsel.
"Tolong sampaikan ini kepada Cila ya." Pintanya dengan lembut.
"Baik tante cantik." jawab gadis itu lalu berlari meninggalkan wanita itu.
Sepulang sekolah Cila berjalan menuju taman dimana seseorang mengajaknya bertemu."Siapa si ngajakin ketemu di taman." batinya bertanya tanya siapa yang mengajak bertemu. "Katanya, wanita itu sangat cantik dan mirip aku, apa tante Kinan sudah berani menemuiku, awas saja sampai ia bertemu denganku, akan aku kerjain dia."
"Kamu yakin Cila akan datang." tanya seorang lelaki. Wanita itu menggeleng, ia tidak menjamin Cila akan datang menemuinya. Tapi ia akan tetap menemui Cila jika ia gagal kali ini.
"Sudahlah, sepertinya anak anak Sd sudah pulang, aku ke taman dulu." langkahnya berjalan menuju kursi yang tersender pada pohon besar nan rindang. Wanita itu berdiri membelakangi arah dimana Cila menemuinya.
"Sepertinya wanita itu deh" ucapnya karna dalam surat penulis surat mengatakan bahwa ia menggunakan baju berwarna putih dan rok bergaris hitam. Rambutnya terurai indah, menurut Cila wanita ini sangat perfect, ramping, sedikit berisi dan sangat menarik perhatian walau ia memandang dari belakang wanita itu yang saat ini posisinya sedang berdiri.
Cila saat ini berada tepat di belakang wanita yang berbaju putih itu. Cila tidak paham, siapa wanita itu, sepertinya ia salah menduga, posturnya tak mirip dengan tante Kinan.
"Maaf apakah kamu mencariku." Suara itu membuat jantung Adel bergetar, dengan cepat ia memalingkan wajahnya, gadis kecil yang sangat mirip denganya berada tepat di depan matanya.
"Cilaaaaaaa.... "
"Bunda......... "
__ADS_1