Gadis Liar

Gadis Liar
52


__ADS_3

Sebuah balok yang diarahkan oleh Ucup kepada Kevin membuat Adel dengan susah payah mencoba mambangunkan tubuhnya untuk menyelamatkan Kevin.


"Brak" sebuah balok menghantam dada Adel hingga ia jatuh dipelukan Kevin.


"Ara.... "Adel memejamkan matanya sesaat. Membuat Kevin semakin panik.


📞 "Bos dia..... Jangan jangan mati bos. " Ucup tampak panik melihat Adel yang diam tak bergerak.


"Ra... Ra... Ara... Jangan tinggalin gue Ra... "Air mata Kevin mulai berjatuhan, hatinya dilanda kesedihan mendalam.


📞" Bodoh kamu, sudah kubilang jangan sampai dia mati, cukup menderita saja. Sudah cepat kabur! " Ucup tergopoh gopoh lari dari gudang bekas pabrik tersebut.


"Jangan lari, kumohon tolong kami. " tangisnya mengeras melihat Ucup dan beberapa preman lainya kabur. "Ra...Ara, sayang bangunlah... Ra... Huuu... Ra jangan tinggalin aku. "


Ara menarik sudut bibirnya, bisa bisanya ia pura pura pinsan membuat Adel ingin tertawa sankartis "Haa... Haa.. Haaaaa " Seketika tangis Kevin berhenti karna senyum Adel. "Kev.... Ya Ampun, aku gak papa, jangan pasang wajah sedih kaya gitu jadi gemas kan aku. " jelas Adel yang kemudian membuka ikatan Kevin lalu menatap Kevin yang sudah menangis.


"Segitu sedihnya kamu Kev, kehilangan aku, apalagi kalau benar aku akan pergi jauh meninggalkanmu. " ungkapnya dalam hati.


"Syukurlah kamu gak papa. "Kevin memeluk Adel dengan erat, seerat eratnya membuat Adel mengerang kesakitan. "Ahhh... Kev sakit, jangan kenceng kenceng meluknya." Kevin melepaskan pelukanya, dan melebarkan senyumnya.


"Mana yang sakit? " Kevin meneliti tubuh Adel, namun ia hanya mengidikkan bahunya. Lalu menggelengkan kepalanya. "Aku gak papa Kev " ucapnya dengan santainya.


"Syukurlah.... Syukurlah kamu gak papa Kev, bagiku nyawaku saja akan aku pertaruhkan demi kamu. " batinya lagi sambil menatap wajah Kevin lalu memeluknya erat. Pelukan ini adalah bentuk rasa sayang yang mendalam dari Adel.


Mereka masih enggan melepaskan pelukanya, bagi Adel pelukan Kevin adalah yang ternyaman. "Ra jelaskan padaku apa yang terjadi? " pinta Kevin melepasakan pelukan Adel. Namun Adel masih bungkam, ia tidak berniat memberitahukanya pada Kevin.


Flash Back On


Sore yang sangat dingin, membuat Adel terbangun dari tidurnya, setelah shift malamnya. Ia menatap jam dinding di kamarnya menunjukan pukul 16.45, diraihnya ponsel Adel, matanya ia bulatkan sempurna melihat sebuah pesan dari Agni yang menampilkan sebuah foto Kevin terikat di sebuah gudang bekas pabrik.


Adel langsung menghubungi nomer Agni, sayangnya panggilanya di reject. Hanya ada pesanya dan pesan gambar, hatinya kalut, sangat khawatir melihat Kevin yang tersekap seperti itu.


* Ada sebuah mobil di depan rumahmu, masuklah dan ikuti supir tersebut maka kamu akan bertemu lelaki tersayangmu, jangan membawa ponsel dan jangan memberitahu siapapun. *


Adel keluar lewat balkon kamarnya, lalu ia berjalan menuju gang depan rumah, hanya dompet kecil miliknya yang di sakukanya. Ia mengikuti arah supir yang membawanya. 2 jam berlalu, sampailah ia di sebuah pabrik tua. Hatinya berdebar tak karuan, rasa cemas, panik dan khawatir menjadi satu.


Agni orang yang nekad pikirnya, ia begitu berani mengambil resiko mencelakai tunanganya sendiri. Ia bilang ia cinta, tapi cintanya menggila mengingat Kevin tak menyukainya.


Adel berjalan dengan perlahan dan meneliti area tersebut dengan saksama. Seseorang menodongkan pisaunya di leher Kevin yang tidak sadar membuat Adel berteriak histeris. Ia mulai takut orang suruhan Agni akan menggoreskan pisaunya kepada Kevin.

__ADS_1


Adel akui Agni sangat pintar, karna Kevinlah yang ditodongkan dengan pisau. Jika Adel yang ditodong mungkin sang penodong sudah ia habisi olehnya. Setelah itu Adel berlutut, dengan mudahnya menakhlukan Adel dengan memperalat Kevin.


Flash Back Of


"Ra... " Adel masih dengan lamunanya dalam pelukan Kevin. Lalu tersadar dan menatap Kevin.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan Kev, ayo kita pergi. " Adel membangunkan tubuhnya, tapi badanya serasa remuk.


"Ra, siapa dalangnya? " Kevin menginterogasi Adel. Ia sangat penasaran siapa yang berani memukulnya di arena rumah sakit. Melihat Adel berjalan sempoyongan Kevin memapah Adel ala ala bridal style, tidak ada penolakan dari Adel, rasanya ia ingin sekali berdamai dengan perasaanya saat ini.


Detik waktu menunjukan pukul 23.00. Tidak ada kendaraan yang lewat, hanya mobil dan truk truk besar lewat jalanan sepi di depan. Kevin menghalangi truk tersebut dan meminta tumpangan dari truk truk yang lewat. Hampir 10 truk sayangnya tidak ada yang mau berhenti hingga Adel yang berdiri di tengah jalan dan menghentikan paksa pengemudi truk tersebut.


"Kalian dari mana to mas mba, jam segini udah di jalan wajah babak belur begitu. " tanya sang supir truk. Kevin dengan sopan menjawabnya.


"Kita tersesat dan diganggu oleh preman pa." jelasnya kepada supir truk tersebut. Supir truk tersebut menganggukan kepalanya. "Kalian suami istri. " tanya bapak supir trek tersebut.


"Ya pa, kami suami istri. " jawabnya bohong, karna sangat beresiko bagi Adel ketika ia mengatakan yang sebenarnya. Supir truk tersebut lagi lagi menganggukan kepalanya.


"Pa kita turun di hotel terdekat pa," pinta Kevin kepada supir truk tersebut. Tak lama mereka sampai disebuah hotel kecil di daerah tersebut. Tampak asri dan furniturenya modern.


"Jaga baik baik istrimu nak. Silahkan sudah sampai. " jawab supir truk tersebut. Kevin menganggukan kepalanya kepada bapak tersebut.


Kevin masuk ke dalam kamar membawa setelan baju untuk Adel dan dirinya. Suara gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi. Bahunya memar hingga ke punggungnya. Tak lama Adel bergantian mandi dengan Kevin.


Selama 15 menit Kevin keluar dari kamar mandi dilihatnya Adel yang masih memakai handuknya. "Kamu menggodaku Ra? " Kevin mendekatkan tubuhnya tepat di depan Adel, tubuh Adel begitu menggoda membuat Kevin berbalik dan menuju kamar mandi untuk memakai baju. Adel mengerucutkan bibirnya, melihat Kevin mengatainya.


"Gue gak bisa pakai baju Kev " rengeknya kepada Kevin, ia hanya memakai baju dalamanya saja, dan bra yang belum terpaut. Kevin tersenyum bahagia melihat Adel yang manja seperti ini.


"Pasangin pengait bra aku, tapi tutup mata kamu. " pinta Adel kepada Kevin" awas aja kamu mesum Kev. " ancamnya kepada Kevin sambil mengeluarkan bogemnga.


Kevin mengaitkan bra milik Adel lalu melihat bekas pukulan yang merah dan memar. "Kamu yakin ini gak apa apa Ra? " tanya Kevin khawatir kepada Adel sambil mengusap memar di punggung Adel.


"Kevin, aku bilang tutup mata. Kenapa menyentuhku" Adel meneriaki Kevin yang bukan hanya membuka matanya, namun saat ini ia memegang bahu polos tanpa baju miliknya. "Ra ini bahaya. " Kevin lagi lagi khawatir.


"Gak papa Kev, paling hanya hematom aja. " jawabnya santai lalu meminta Kevin memakaikan bajunya.


Hematom atau memar


Kevin menyuapi Adel dengan makanan, bahagia itu yang ia rasakan saat ini. Setelah makan, Kevin membaringkan Adel di ranjang. "Kev aku mau gosok gigi dulu. " pintanya, dengan semangat Kevin memapah Adel ke kamar mandi, dan membantu Adel gosok gigi.

__ADS_1


Detik waktu menunjukan pukul 00.30, berada di satu ranjang yang sama itu sudah pernah dilakukan oleh Adel dan Kevin. Sehingga saat inipun Adel tak menolak Kevin yang meminta tidur disampingnya. " Ra, bolehlah aku bertanya menyangkut perasaanmu kepadaku. "


"Aku masih mencintaimu Kev, dan tidak pernah terganti oleh siapapun di sini. " Adel mengungkapkan perasaanya, seolah tau apa yang akan Kevin tanyakan.


"Terlalu banyak yang harus kujelaskan.... Tapi bisakah kamu mengerti bahwa cintaku kepadamu tidak pernah sirna. "


"Cup" Kevin menautkan bibirnya. Begitu hangat ketika Kevin mulai mencecap bagian ranum bibirnya. Kevin memberikan gigitan gigitan lembut pada bibir bagian bawah Adel. Lalu diisapnya perlahan sehingga membuat Adel membalas ciumanya.


"I love you Ra. "


"Love you to Kev. "


Tarik ulur bagian lidah menjadi saksi betapa rindunya Kevin kepada Adel. Diabsenya satu persatu gigi Adel yang rapi. Isapan demi isapan semakin memanas.Tubuhnya ia rapatkan untuk lebih menghangatkan tubuhnya.


Kevin melepas tautan bibirnya, lalu menciumi setiap inci bagian wajahnya. Bibir Kevin beralih ke bagian leher, membuat Adel menggeliat dan menaikan hormon **** nya yaitu hormon esterogen.


Tanganya sampai di kedua bulatan kenyal milik Adel, leguhan demi leguhan membangkitkan hasrat Kevin. "Bolehkah Ra? " Adel tidak menjawab, maupun menolak, membuat Kevin melanjutkan aktivitasnya.


Kevin mengambil posisi di atas Adel ingin melanjutkan hasrat yang begitu besar dalam dirinya. "Ahh, sakit Kev. " keluh Adel dengan jeritan kecil. Bahunya terasa sakit ketika Kevin menekan badanya. Kevin menjatuhkan badanya di samping Adel.


"Tidurlah Ra! " dengan nada kecewa Kevin menarik nafasnya dalam dan mengatur iramanya. Juniornya sudah berdiri sangat tegap. Ia berjalan menuju kamar mandi. Lagi lagi harus dituntaskan disini di kamar mandi.


Malam yang pendek akhirnya dilalui dengan tenang, Kevin membelai wajah Adel yang saat ini sudah mau mengatakan dengan jujur tentang perasaanya. "Ra bisakah kita mulai dari awal. " Adel menatap wajah Kevin yang tenang.


"Selesaikan dulu masalahmu dengan tunanganmu Kev." Kevin menganggukan kepalanya, dan mencium kening Adel.


*


"Ada apa Ra? " Saka berjalan mendekati Adel. Ditatapnya wajah anggun milik Adel yang sangat memikat itu.


Adel menarik Saka ke ruang tamu, semalaman ia sudah berfikir matang matang, pesan Agni yang setiap harinya mengancam akan mencelakai Kevin membuatnya sangat takut Kevin kenapa kenapa. Jalan satu satunya adalah meyakinkan Agni bahwa Adel tidak akan mendekati Kevin lagi.


"Mom, dad, dan abang, Ara pengin bicara penting. " pandangan mommy dan daddynya terpusat kepada Adel dan Saka.


"Ada apa sayang? " Mommy nya menanyakan ada masalah yang menimpa putrinya.


"Ara akan menikah dengan Saka. " ucapnya membuat mereka semua terbelalak kaget, bukan hanya dua abang dan istrinya bahkan oma dan opanya ikut membelalakan matanya.


"APAH..... " ucap mereka serempak.

__ADS_1


__ADS_2