Gadis Liar

Gadis Liar
29


__ADS_3

"Ra.... Satu langkah kamu keluar dari sini, aku anggap kamu memutuskanku. " Kali ini air matanya sudah tidak bisa dibendung. Bibir bawahnya ia gigit dengan kuat untuk menahan isaknya. Adel berbalik membuat Kevin mengembangkan senyumnya. Namun harapanya sirna ketika Adel mengembalikan cincin yang diberikan oleh Kevin. Adel berjalan membuka pintu dan membantingnya kuat kuat.


"Brak" cairan bening yang berasal dari sudut matanya mengalir begitu saja. Awalnya Kevin hanya ingin menggertak Adel, tapi pada akhirnya, hal yang tidak pernah terlintas, terucap seperti mimpi.


Kevin berlari keluar untuk mengejar Adel, ia menyesal karna wajahnya saja sudah tak terlihat. Kevin menjatuhkan lututnya di depan apartemen, ia acak rambutnya dengan kasar. " Kamu bodoh Kev, bodoh bodoh bodoh " rutuknya pada diri sendiri "Raaaaaaa....maaf" teriaknya membuat Adel yang berjongkok disamping pohon menambah isaknya melihat Kevin yang tampak sangat sedih.


Kevin membalikan badanya. Ia bulatkan matanya, lalu memperjelas penglihatanya, apakah benar yang ia lihat adalah gadisnya. "Ara.... " Kevin berjalan mendekati Adel, ia ikut berjongkok lalu memeluk Adel erat erat.


"Ra maaf, maafkan aku. " Kevin mencium tangan Adel dengan lembut, lalu ia letakkan tangan Adel dikeningnya. "Jangan tinggalkan aku Ra, aku mohon. " pintanya dengan harap.


Terkadang seseorang yang jelas jelas memperlakukanya dengan baik diabaikan, namun tidak pernah terlihat dimatanya, dan seseorang yang sering menyakiti, selalu diberikan maaf meski akan mengulang kesalahanya hanya dengan satu alasan yaitu Cinta.


Hal yang mustahil menjadi pasti, yang tidak menjadi ia, yang tidak masuk akal mampu menjadi logika yang pasti. Semua karena cinta.


Seperti itulah cinta, mungkin ini yang disebut dengan Cinta itu buta, bahkan ketika harus selalu tersakiti , mereka memilih untuk bertahan. Karna bersama seseorang yang saling mencintai itu akan lebih membahagiakan, walau harus sering tersakiti.


Diam, suasana yang menggambarkan keheningan di apartemen Kevin. Sampai saat ini Adel masih belum mengucapkan satu patah katapun. Mengingat ucapan terakhir Kevin adalah kata putus, hatinya masih sakit karna dengan mudahnya Kevin mengucapkan kalimat tersebut.


"Ra.... " panggilnya dengan lembut


"Ya.... "


"Masihkah kamu menerimaku kembali? "


"...... " diamnya Adel tidak mampu ditebak oleh siapapun. Namun melihat seperti apa perasaan Adel kepada Kevin, Kevin tau bahwa Adel mencintainya dengan tulus, dan selama ini Kevin sering sekali menyakitinya.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. " jelas Kevin.


"...... " bibirnya masih tertutup rapat, untung saja Adel mau diajak masuk kedalam apartemen lagi, itu menandakan bahwa Adel masih mau memberikanya kesempatan lagi.


"Sebelum kamu memberikan jawabanmu, aku ingin mengatakan satu hal padamu. Setelah itu terserah kamu ingin seperti apa hubungan kita, lanjut atau usai. " seketika mata Adel menatap mata hazel Kevin. Ucapanya seperti memberikan kalimat yang ambigu.

__ADS_1


"Sebenarnya apa maksud Kevin membawaku kembali ke apartemenya, mau meminta keputusan atau mau mengakhiri hubunganya denganku. " Batinya kesal yang merasa sedari tadi perasaanya seperti digantung.


"Ayah dan bundaku 4 hari yang lalu berkunjung ke Indonesia" Adel masih setia menanti kalimat yang diucapkan Kevin." Mereka memintaku untuk melanjutkan studiku di Inggris " Reaksi Adel sedikit berubah, ada rasa kecewa dan sedih di matanya, terlihat dari air mata yang menumpuk dipelupuk mata.


" Sebenarnya sudah jauh jauh hari mereka mengatakan ini, tapi mereka memantapkan keinginanya kepadaku. " jelasnya. Adel menganggukan kepalanya, pertanda ia mengerti dengan keadaan saat ini.


" Seandainya kamu ingin mengakhiri hubungan ini, aku sudah mempersiapkan hatiku dimana kamu akan mengatakan kalimat putus kepadaku, dan mencari penggantiku. "


Kali ini Adel tau, bahwa selama ini, ayah dan bundanya ada dirumah, mungkin itu juga yang membuat Kevin tidak punya waktu untuk Adel. Mungkin terjadi miss komunikasi diantara mereka. "apa hanya aku yang berfikir bahwa Kevin masih mencintai Citra, pantas saja Kevin marah ketika aku menyinggung Citra, ternyata aku salah paham. " batinya.


"Tapi Ra.... Aku harap kamu memberikanku kesempatan lagi, dan menjalani hubungan kita, walau berjarak. Aku janji aku akan pulang menemuimu jika ada waktu luang. " Adel menganggukan kepalanya sebagai sebuah jawaban kepadanya, membuat Kevin tersenyum lebar.


Kevin menarik Adel lalu memeluknya. "Apa kamu sudah mempertimbangkanya Ra? " Kevin memastikan jawaban Adel. Adel yang berada dipelukan Kevin menganggukan kepalanya lagi.


"Ra makasih. " Hatinya begitu lega mendengar ungkapan Kevin, entah itu hanya sebuah janji belaka, atau hanya sebuah ungkapan manis untuk meluluhkan hatinya yang keras, tapi Adel akui ungkapan Kevin mampu membuat hati Adel sembuh dari lukanya.


Wanita, adalah makhluk yang sangat lembut hatinya, sesakit apapun luka itu, akan dengan mudah memberikan sebuah maaf, dan memberikan kesempatan lagi, untuk memulainya kembali.


Suasana di dalam mobil masih dengan aura yang tidak bisa ditebak, bibir Adel masih tertutup rapat, Kevin sendiri kebingungan untuk memecah keheningan disana. Hanya sesekali mereka melemparkan pandanganya. "Apa kamu sudah baikan dengan daddy mu? " Adel menganggukan kepalanya.


Flash Back On


Hari masih gelap, gadis kecil yang sekarang sudah mulai dewasa itu memaksa membangunkan badanya dari tidur panjangnya. Ia bergegas menuju kamar orang tuanya, yang Adel yakini mereka sedang melakukan sholat berjamaah.


Sebuah ketukan pintu terdengar di kamar Axel dan Keyla, dengan cepat Keyla membukakan pintu, yang jelas masih dengan mukenanya. Keyla tersenyum melihat gadis kecilnya berada di depan pintunya. Di usapnya punggung milik Adel oleh mommy nya itu. "Masuk lah Ra, daddy mu menunggumu. " Axel masih duduk diatas sajadahnya, tampak tenang dan berkharisma.


"Daddy.... "Adel mendudukan badanya disebelah daddy nya, lalu mengambil telapak tanganya dan menciumnya. "Maafin Ara dad. Ara janji gak akan balapan liar lagi. " Axel tersenyum lalu mengusap pucuk kepala putrinya. Begitu juga dengan Keyla yang ikut duduk disamping Adel.


"Jangan janji Ra, karna kamu sering mengingkarinya. " Axel melebarkan senyumnya mengejek putrinya yang sudah sering berjanji untuk tidak mengulanginya, namun diingkari oleh dirinya sendiri.


"Daddy hanya memintamu untuk lebih terbuka kepada abang abangmu atau mommy kamu, bahkan sama daddy juga boleh. " Nasihat itu sudah sering diulang oleh daddynya mengingat putrinya yang ketika datang ke arena balap karena ia sedang mengalami masalah.

__ADS_1


Adel menganggukan kepalanya lalu memeluk daddy dan mommy nya secara bersamaan. "Ara sayang sama daddy dan mommy. " ucapnya manja lalu mencium daddy dan mommy nya.


Flash Back Of


"Syukurlah kalau kamu sudah baikan sama orang tua kamu. " Kevin mengacak rambut Adel lalu mencubit pipi Adel mesra. Membuat sang pemilik pipi mengeluh kesakitan.


"Iiiiihh sakit tau. "Keluhnya sambil melebarkan senyumnya. Kemudian Adel menatap Kevin yang sedang serius mengemudi. "Apa kamu gak keberatan kalau aku suka balapan. " Kevin menatap balik wajah Adel mesra dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu itu unik, itu yang membuatku tertarik sama kamu. " wajahnya merona mendapat pujian dari kekasihnya itu. "Tapi Ra, kalau boleh kasih saran, jauhi hobbi kamu yang berbahaya itu. " Sesaat kalimat Kevin membuat Adel menatap heran Kevin.


"Mereka yang melarangmu, pasti karna tidak mau kehilanganmu dan yang jelas mereka sangat sayang sama kamu. Larangan itu karna mereka tidak mau hidupmu yang masih muda disia siakan hanya dengan hobbi yang tidak ada manfaatnya. " panjang kali lebar penjelasan yang diucapkan oleh Kevin. Kalimat nya hampir sama dengan yang diucapkan daddinya.


"Aku minta maaf mungkin salah satu alasan kamu melakukan itu juga karnaku. Jadi aku minta, bisakah kamu lebih terbuka sama aku Ra, biar aku tau, apa kekuranganku dalam menjalani hubungan ini. Ini juga demi hubungan kita. "


"Ya" ucapnya lirih. Tak lama mereka sampai di kediaman Kevin, mereka disambut hangat oleh keluarga Kevin. Oma dan opanya sangat akrab dengan Adel, membuat Adel nyaman jika bertemu dengan mereka.


"Masuklah sayang, ada orang tua Kevin didalam. " pinta oma dan opanya kepada Adel dan Kevin. Adel menarik nafasnya dalam, rasanya sangat nervous ketika bertemu dengan orang tua Kevin, karna yang Adel tau Kevin masih keturunan kerajaan di Inggris.


"Nervous? " Kevin memegang jemari Adel yang mulai berkeringat. Lalu Adel menatapnya dengan senyum yang dipaksakan. Sesaat jantungnya tak beraturan. "Mereka baik ko Ra, jadi jangan tegang gitu mukanya, rileks Ra, mereka akan suka sama kamu "


"Ayah, bunda..... " sapa Kevin kepada kedua orang tua angkatnya yang tak lain adalah Alfa dan Anes. Mereka menatap Kevin yang datang bersama seorang gadis cantik. Ayah Kevin menatap gadis tersebut dengan teliti, wajahnya sangat familiar, mengingatkanya kepada seseorang yang pernah singgah dihatinya.


Adel menyalimi kedua orang tua Kevin " kenalin bun, pacar Kevin namanya Adel. " Anes tersenyum melihat gadis didepanya. Lain dengan Alfa yang menatapnya dengan tatapan masih mengingat ingat.


"Jadi ini gadis yang membuat kamu lupa sama bunda dan tidak pernah menghubungi bunda Kev? " Anes merangkulkan tanganya ke bahu Adel lalu menuntunya untuk duduk di sofa.


"Pantas saja, Kevin tidak mau melanjutkan kuliah di Inggris, ternyata ada bidadari secantik kamu. " lagi lagi pujian bunda Kevin membuat Adel semakin tidak percaya diri.


"Tante bisa aja. " senyum Adel mengembang, karna orang tua Kevin sangat ramah padanya. Lain dengan Kevin dan ayahnya yang masih terdiam dan masih dengan posisi berdiri.


"Siapa nama panjangnya Kev? Ayah sepertinya sangat familiar dengan gadis itu " Kevin menatap ayahnya yang seakan masih penasaran dengan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Dia putrinya Keyla dan Axel Fa. " ucap oma dan opanya. Sejenak Alfa membulatkan matanya, ada rasa yang sedikit menyesakkan, mengingat percintaan yang dilalui 2 keluarga secara turun temurun ini, juga harus dilalui Kevin dan Adel.


__ADS_2