Gadis Liar

Gadis Liar
38


__ADS_3

Mobilnya berhenti di sebuah arena sirkuit. Adel saja kaget kenapa Kevin membawanya kesini. Tempatnya sangat sepi, ada dua kursi yang didesain indah membuat Adel tersenyum takjub kepada Kevin. Adel berlari menuju tempat tersebut.


"Aku ingin memberikan ini Ra" jelasnya sambil memberikan kotak kecil. " Adel membukanya, terpampang jelas 1 pasang cincin didalamnya.


"Maukah kamu menikah denganku dipertemuan kedua nanti Ra? " Adel menganggukan kepalanya, bahkan kalau Kevin mengajaknya menikah saat ini juga, ia akan dengan senang hati menerimanya.


"Sinting kamu Ra. " bisa bisanya baru lulus SMA mikirin nikah. Lamunanya kini beralih kepada 2 cincin didepanya, saling menyematkan cincin di jari manis masing - masing. Kevin merengkuh tubuh Adel dengan penuh cinta, rindu, dan sayang.


Hidangan manis telah siap dengan alunan musik yang indah. "Kapan kamu sampai disini? " Kevin menjatuhkan tubuhnya dikursi yang terhias bunga. "2 jam yang lalu. "Bisa Adel rasakan betapa lelahnya perjalanan Kevin kurang lebih 20 jam yang lalu.


"Ra... Maaf karna hubungan kita seperti ini. " pinta Kevin tulus memegang jari jemari Adel. Adel dengan tulus menganggukan kepalanya.


Setelah makan siang, seharian Adel dan Kevin berjalan jalan. Besok pagi juga Kevin harus berangkat kembali ke Inggris, mengingat jadwal kuliah yang sangat padat, membuat Kevin tak bisa berlama lama dengan Adel.


"Kev.... " Adel masih dalam pelukan Kevin, dan enggan untuk berpaling. Kevin saja tak ingin melepaskan sedetikpun kekasihnya itu, ia mainkan rambut Adel yang terurai indah.


"Ia sayang... " jawabnya dengan mesra, lalu memandang gadis yang menurutnya bertambah cantik setelah 1 tahun tak bertemu.


"Aku mau lanjut kuliah di Amrik. " Kevin membatu. Kenapa Amrik, kenapa tidak Inggris atau Indonesia saja, sangat susah jika Kevin harus memantaunya dinegara itu. Sebenarnya jaraknya akan lebih dekat dengan Kevin hanya beberapa jam, tidak menempuh waktu 20 jam. Tapi negara itu terlalu bebas untuknya.


Apalah daya, Adel menerima hubungan jarak jauh denganya tanpa sarat, begitu juga dengan Kevin, ia harus bisa menerima keputusan Adel. Disanalah tempat kelahiranya, mungkin dia lebih nyaman melanjutkan kuliahnya disana. "Aku mendukungmu apapun yang menjadi keputusanmu. "


Senyum adel merekah, ia sangat bahagia karna Kevin sangat pengertian kepadanya. "Fakultas apa Ra? " tanyanya kepada Adel. Adel menangkupkan kedua tanganya di wajah Kevin, lalu mencium keningnya. "Sama sepertimu. " ungkapnya, fakultas kedokteran, mimpinya sejak kecil, bahkan buku kedokteran milik omnya di Amerika, menjadi semangat tudurnya.


"Selamat bergulat dengan aktivitas dan mata kuliah yang tiada habisnya. " ucap Kevin kepada Adel. Kevin melepas pelukanya dari Adel. "Ada apa Kev? "Adel bertanya kenapa Kevin merapikan kemejanya dan beranjak dari tidurnya.


"Sudah jam 20.00 kalau kamu menginap disini, aku akan dengan senang hati menemanimu." ucapnya dengan nada ganjenya. Adel menatap jam ditanganya. Lalu berdiri dari tidurnya. "Ternyata sudah larut, padahal masih rindu." gerutunya sambil memanyunkan bibirnya.


"Besok pagi aku kesini buat anter kamu." ungkap Adel kepada Kevin, dan dianggukinya.


*


Sepulang dari sekolah, Ayra tidak berniat bertemu dengan Arion, apalagi mengiyakan permintaanya berakting menjadi pasangan yang mesra kembali seperti biasanya.


"Ay.... Kamu kenapa menghindariku? " tanya Arion menyusul Ayra yang berjalan masuk kedalam mobilnya.


"Sudah cukup Ar sandiwaranya, kumohon hentikan. Aku lelah menjadi pelampiasanmu " Ayra benar benar lelah jika harus berpura pura menjadi kekasihnya dan diperlakukan seenak jidatnya oleh Arion. Yang Ayra tau, Arion masih sangat mencintai Zela, dan memang benar Ayra hanya sebuah pelampiasan yang dibutuhkan ketika ada teman temanya, bahkan didepan kedua orang tuanya Arion memainkan sandiwara percintaanya.


"Mau kamu kita seperti apa? " ucap Arion memberikan pilihan kepada Ayra. Ayra tidak menjawab, ia hendak menutup kaca mobilnya.

__ADS_1


"Ay.... " Arion menyusupkan tanganya lewat jendela lalu mematikan kunci mobil Ayra. Ayra menghembuskan nafas kasarnya. "Apalagi?" Ucap Ayra cuek, hatinya semakin sakit mengingat Arion tidak pernah mengerti perasaanya.


"Sekali ini saja Ay, temani aku berkumpul dengan temen temenku di rumah Ara, ada Ken, Saka dan Zela juga. " Ayra memutar kuncinya tak menghiraukan ucapan Arion. Namun Arion memaksa masuk kedalam mobil Ayra dan memutar kemudinya menuju rumah Ara.


10 menit mereka sampai dirumah Ara, begitu juga dengan Adel dan Kevin yang baru datang. Adel melihat Arion yang sedang memaksa Ayra masuk ke dalam rumah Adel, namun Ayra memberontak.


"Kev, sepertinya mereka sedang tidak akur." ucap Adel kepada Kevin. Adel dan Kevin tidak berniat mengganggunya, hanya memperhatikanya dari jauh. "Masalahnya lebih rumit dari yang kita kira Ra, lebih baik kita menonton saja."


"Lepas Ar.... " Arion tetap memaksa Ayra masuk kedalam, namun Ayra bersikukuh tidak mau mengikuti instruksi Arion. "Kamu kenapa keras kepala seperti ini si Ay? " keluh Arion pada Ayra. Ayra tampak marah dikatai keras kepala.


"Kalau aku keras kepala, hubungan kita tidak akan sejauh ini Ar." Ayra menepis tangan Arion yang sedari tadi mencekal pergelangan tanganya. "Lalu mau kamu apa ?" Arion seakan frustasi melihat Ayra yang akhir akhir ini berubah dan tak patuh padanya.


"Sudahlah aku mau pulang" kesal Ayra kepada Arion. Ayra berjalan menuju mobilnya dan hendak masuk. "Ay..... " teriak Arion kepada Ayra. Mereka tidak sadar sedang diperhatikan oleh Saka, Kenan, Kevin, Adel, dan Zela.


"Jangan temui aku lagi Ar. " ucapnya lirih, lalu Ayra membuka pintu mobil dan hendak masuk, namun langkahnya terhenti ketika Zela dan Kenan menegurnya. "Masuk dulu lah Ay, berantemnya nanti lagi." pinta Kenan dan Zela kompak sambil bergandengan tangan, sepertinya Arion tidak lagi memikirkan Zela, buktinya Arion lebih memperhatikan Ayra yang sedang ngambek meskipun hubungan mereka hanya pura pura. Disusul oleh Adel dan Kevin yang juga tampil mesra lalu meminta Arion dan Ayra masuk.


"Wah kalian kompak sekali jadi triple date, gue nganggur gak punya cewe." ucapnya tidak penuh semangat, membuat mereka tidak enak hati kepada Saka yang tak berpasangan sendirian.


"Tenang bro, gue udah punya tunangan di Singapure. " kalimatnya sesaat membuat mereka semua terbelalak melihat Saka memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya. Membuat Saka mau tidak mau menjelaskan bahwa ia sekolah disana karna tunanganya juga disana.


Tunanganya adalah jodoh masa lalunya yang diyakini orang tuanya akan membuat Saka membawa keberuntungan. Gadis yang cerdik dan baik menurutnya. Namun tetap saja perasaanya hanya untuk Adel.


Kisah malam ini berakhir begitu saja, Kevin dan Kenan yang berangkat ke Inggris meninggalkan kekasihnya. Adel yang melanjutkan studinya di Amerika, Zela dan Arion yang menetap di Indonesia. Serta Saka yang kembali ke Singapure.


*


Adel berjalan keluar dari bandara. Masih ingat 10 tahun yang lalu ia juga berada disini menanti abangnya untuk menjemputnya. Koper cantik berwarna lavender ia hentikan paksa di sisinya. Kacamata hitam yang hanya aksesoris itu ia lepas. Ponselnya ia keluarkan dan mengetikan nama Kenan.


"Abang dibelakangmu Ra. " Adel membalikkan tubuhnya dan mematikan sambungan telephonya, lalu mencubitnya kasar, hingga sang pemilik tubuh yang dicubit mengerang kesakitan. "Sakit Ra... Ampun, adek laknat, kelakuan masih aja kaya anak kecil. " gerutunya kepada Adel.


"Syukurin lagian iseng banget si ngerjain Ara. " Adel berjalan menuruni anak tangga, lalu menuju mobil abangnya itu. "Daddy masih dirumah sakit bang? " Adel menanyakan kabar daddy nya yang akhir akhir ini sering sakit sakitan.


"Daddy lagi ngantor Ra, makanya abang yang jemput kamu." ujar Kenan yang menjawab dengan asal. Adel membelalakan matanya seolah tak percaya dengan ucapan abangnya.


Flash Back On


8 tahun sudah Adel tidak pernah menginjakkan kakinya di Indonesia, ia lebih nyaman hidup disana. Berbagai alasan yang dilakukan oleh orang tuanya agar Adel kembali pulang ke Indonesia.


📞 " Ra, daddy sakit." Mommy nya memperlihatkan daddy nya yang terbaring di ruang ICU, terpasang monitor dengan mulut yang tertutup NRM 12 lpm.

__ADS_1


NRM atau Non Rebreathing Mask



📞"Bisa Ara bicara dengan dokternya mom. " ujar Adel yang ingin memastikan keadaan daddy nya. Saat ini Adel sedang melanjutkan kuliahnya menjadi seorang dr. Spesialis Bedah syaraf atau di bagian departemen neurologi.


📞" kamu gimana si Ra, jelas jelas daddy sakit disini juga ada mommy, apa kamu gak kawatir sama daddy. " tekan Kenan kepada Adel


📞"lalu Ara mesti gimana bang?" Adel pasrah, mungkin kali ini Adel terpaksa pulang, walau harus berhenti melanjutkan studinya yang tinggal 1 hingga 1,5 tahun lagi.


📞" pulang Ra, nanti abang yang akan mengurus stydimu disini." jelas abangnya. Saat ini abangnya menjabat sebagai seorang CEO sukses termuda, berbeda dengan Arion, Saka, Kevin yang belum menyelesaikan studinya, dikarenakan fakultas yang mereka ambil menuntut untuk 10-12 tahun duduk dibangku kuliah.


📞 "Baiklah. " pilihanya adalah kembali ke negara tercinta Indonesia. Dimana Adel menemukan cinta sejatinya, dan dalam hitungan tahun hubungan itu harus kandas.


Flash Back Of


30 menit mereka sampai di rumah yang sudah berganti gaya, dulu berwarna lavender, dan sekarang sudah berganti dengan warna abu. Ia disambut ramah oleh mommy dan daddy nya.


Sebuah pelukan hangat menyelimuti hatinya, rasa sayang yang begitu besar dari orang tua dan abangnya yang selama ini dicurahkan, namun Adel dengan egois tak mau kembali hanya karena tidak mau bertemu dengan mantan kekasihnya." Daddy katanya sakit, kenapa sudah sehat walafiat" terka Adel dengan nada kesal karna dibohongi.


"Daddy memang sakit sayang, akan bertambah sakit jika jauh dari putri cantik yang tidak pernah menuruti daddynya. " Setelah lelah dengan pelukanya, Adel berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Dibukanya perlahan kamar yang masih setia dengan warna lavender dan langit langit serta dindingnya berwarna putih "Setelah 8 tahun bahkan semua kenangan manis tentang Kevin masih tersimpan jelas dimemoriku. "


Dipandangnya dua cincin yang tersemat di jari manisnya. Menandakan bahwa sampai saat ini posisinya memang belum tergantikan.


Sesak, itulah yang dirasakan oleh Adel, perasaan pening juga menyerangnya, membuatnya menjatuhkan badanya di atas kasur.


Sebuah panggilan video masuk dari sahabatnya yaitu Ayra yang menempuh studi bersama di Amerika.


Adel dengan cepat menggeser tombol hijau ke atas.


📞" Baru sampai cintaku" ucapny manja, sambil tersenyum kepada anak laki laki yang berusia 7 tahun lebih 3 bulan. Ayra mengulum senyumnya mendengar percakapan putranya dengan Adel yang memanggilnya mommy bunda.


📞" mommy bunda tunggu aku pulang ke Indonesia ya." Adel tersenyum melihat lesung pipi yang sangat tampan seperti abangnya itu.


📞" mommy bunda akan tunggu kamu sayang." jelasnya singkat


"Anak siapa itu Ra? " Kenan yang sedari tadi memperhatikan percakapanya dengan seorang anak lelaki tampan membuat Adel dan Ayra kaget. Ayra langsung mematikan panggilanya.

__ADS_1


"Abang, sejak kapan disini" Adel dibuat bingung dengan jawabanya.


"Abang tanya anak siapa itu Ra? "


__ADS_2