
Kevin mendekatkan dirinya kepada Adel, membuat Adel menatap Kevin serius. "Kamu mau apa? " Kevin tak menjawab tapi langkahnya terus maju untuk mengunci Adel yang berjalan mundur hingga mentok di tembok.
"Merealisasikan ungkapan kamu Ra. " Adel mendelikan matanya, sepertinya ia termakan omonganya sendiri.
"Maksud kamu? "
"Mengikatmu dengan cara terkotor dan terhina agar kamu kembali kesisihku."
"Gila kamu Kev..... " umpatnya, ia ingin menghindar sayang, tangan Kevin mencengkeram tepat di pundaknya. Membuat kedekatanya sangat intim.
"Bodoh kamu Ra, hanya demi membuat Kinan sakit hati kenapa kamu mengatakan hal bodoh yang membuat Kevin seperti ini." batinya, ia mengalihkan pandanganya, karna ia takut khilaf jika menatap mata Kevin, siapa yang tak rindu bahkan rasanya ingin sekali melepaskan kerinduan yang sudah bertahun tahun melandanya.
Kevin mendekatkan bibirnya, hingga sapuan hangat nafas Kevin mengenai anak rambut di kulitnya. Kevin jelas melihat bahwa Adel nervous, wajahnya saja sudah merah seperti tomat membuat sudut bibir Kevin mengembang.
"Cupp" bibirnya mengecup kening Adel dengan lembut, membuat Adel menatap Kevin. Sifatnya berubah, setaunya ia akan memaksa Adel, memciumnya bahkan mungkin akan menggaulinya. Ternyata fikiranya salah kaprah.
"Apa yang kamu fikirkan Ra.... Bodoh... Bodoh... Bodoh." batinya merutuki fikiranya yang kotor.
"Istirahatlah, aku tau kamu lelah, dan kamu belum siap bertemu dan bercerita dengan siapapun." ungkap Kevin bijak. Kevin menangkupkan tanganya di pipi Adel dengan pelan. "Aku akan menunggumu sempai kamu siap menceritakan semuanya." Ucap Kevin lalu melepaskan tangkupan tanganya di pipinya.
Kevin berbalik ia hendak pergi meninggalkan Adel. Kenapa sesaat degupan jantungnya kembali berdebar hebat, hatinya kembali melembut dan berdamai. Sentuhan Kevin mampu membuat suasana hatinya kembali menghangat.
"Grep" Adel memeluk Kevin balik dari belakang. Bukanya kata Saka, Adel sedang tidak ingin diganggu, makanya Kevin mencoba memberi ruang untuk Adel sendiri. Tapi sepertinya berbeda dari dugaanya, mungkin Adel juga sangat merindukanya.
"Sebenatar saja Kev.... Biarkan seperti ini. " Adel menciun wangi tubuh Kevin yang sangat ia rindukan. Mendengar degupan jantungnya yang akan melaju cepat ketika bersamanya, dan pelukan hangat yang benar benar ingin ia miliki selamanya. Itulah hal yang selalu ia rindukan.
Kevin membalikan tubuhnya, hingga mereka berhadapan, lalu berpelukan dengan erat. Melepaskan segala rindu yang terpendam. Kevin usapkan tanganya di rambut Adel yang halus dan wangi, parfum yang senada seperti dulu. Mengingatkanya kepada Cila yang beberapa bulan ini setiap kali pulang wanginya mirip dengan wangi yang disukai Adel. Ia yakin teman wanita yang sering diceritakan oleh Cila adalah Adel.
Adel melepaskan pelukanya dari Kevin, lalu memundurkan dirinya "pergilah! " pinta Adel kepada Kevin.
Semudah itu, bahkan setelah ini Kevin tidak akan melepaskanya sedetikpun.
"Cup" Kevin menautkan bibirnya di bibir Adel. Awalnya memang Adel menolak, namun apalah daya, hatinya sangat menginginkanya. Kevin dengan rakus menyesap bibir Adel, perlahan lidahnya menyusup dan lidahnya bernari ria.
Sedetikpun Kevin tak melepaskan Adel, hingga sebuah deringan terdengar di ponsel Adel. Adel dengan cepat melepaskan tautan bibirnya. Lalu menggeser layar yang bertuliskan nama perawat ICU, ia berjalan menjauhi Kevin yang ada dibelakangnya.
📞" Ya sus ada apa? "
📞"An Arcila sudah sadar dok. GCS 15, vital sign nya DBN " ungkap perawat yang berjaga di ruang ICU.
GCS adalah skala untuk mengukur tingkat kesadaran.
Vital Sign adalah tanda - tanda vital.
📞" Saya segera kesana." ucapnya, lalu berbalik badan, sialnya Kevin tepat dibelakangnya, membuat Adel lagi - lagi menyapa wajah tampan Kevin dalam jarak yang begitu dekat.
"Kevin... " protesnya lalu mendorong Kevin ke belakang.
"Ada apa? " tanya Kevin penasaran.
"Cila sudah sadar. " ucapnya lalu bergegas ke ruang ICU. Namun langkahnya dihentikan oleh Kevin.
"Maaf untuk yang tadi. " ucapnya menyesal kepada Kevin. Bagaimana mungkin Adel tak dapat mengontrol keinginanya. Kevin menganggukinya sebagai pertanda ia memaafkanya.
__ADS_1
"Aku ke ruang ICU dulu. " jelasnya kepada Kevin, ia ingin menghindari Kevin untuk saat ini.
"Ra.... Bolehkah aku menyarankan? " Adel terhenti dari langkahnya, ia memelankan jalanya untuk mendengarkan ucapan Kevin.
"Temui orang tuamu, sejahat apapun mereka, tetap saja dia orang tua yang selalu sayang kepadamu, meski memang ada begitu banyak kesalahpahaman yang terjadi antara kamu dan orang tuamu. Tapi selama aku bersama mereka, mereka menunjukan sifat penyesalan karena telah menyianyiakanmu di masa lalu. "
Adel berjalan meninggalkan ruanganya, ia tidak menjawab kalimat Kevin. Namun hatinya menghangat, "bahkan didalam hatiku mereka adalah orang tua yang selalu aku sayangi, sebesar apapun salah mereka, akan aku maafkan." ucapnya dalam mantap dalam hati.
Kevin meneliti seluruh ruangan Adel, disana banyak foto Adel dengan putrinya. "Kenapa aku tidak pernah tau bahwa Adel dan Cila sudah lama bertemu. Seharusnya aku lebih memperhatikan hal kecil tentang Cila, bagaimana mungkin hal sepenting ini bisa terlewat olehku. " Kevin merutuki kebodohanya yang selama ini seperti orang dungu di depan anak dan istrinya.
Matanya menemukan sebuah foto mesra antara Adel dan Saka, sebenarnya hanya foto bersama dan saling berhadapan, namun tetap saja, wanita di dalam foto tersebut miliknya, akan terasa menyesak ketika melihatnya bersama lainya.
Flash Back On
Sesampainya Kevin di rumah sakit Saka, ia berjalan mengelilingi ruangan, ia mencari Adel dan Saka. Hingga matanya bertemu dengan Saka.
"Sak.... " sapa Kevin pada Saka. Saka berhenti di depan Kevin.
"Mereka di ICU. " ucap Saka membuat Kevin mengangguk.
"Gue perlu bicara sama loe. "
"Ikut gue." ajak Saka pada Kevin. Mereka sampai di ruangan Saka, yah disanalah mereka dengan leluasa berbicara tanpa ada yang mendengar.
"Makasih" ucap Kevin
"Maaf" ucap Saka.
"Di dalam kamus Ara hanya ada namamu Kev, bahkan namaku tidak pernah ada dalam sejarahnya." Kevin menatap Saka dengan tatapan tak percaya, lalu Saka menceritakan awal mula ia mencuri Adel, tentang ungkapan perasaanya, hingga saat ini mereka bersama seperti kekasih, namun hanyalah berstatus sahabat karib.
"Awalnya aku pikir Adel juga akan menerimaku, tapi..... " kalimatnya berhenti, Kevin hanya menatap Saka iba, memang benar cinta tak dapat dipaksakan hanya karna hal baik yang sudah diberikan. Tapi menurut Kevin, cinta bisa datang karna kebaikan yang diberikan seseorang.
"Ada Cila dan kamu yang mengikat hatinya begitu kuat, sehingga aku tak dapat masuk hanya sekedar mengisi hatinya yang kosong sesaat Kev"
"Aku tidak tau mesti mengatakan apa kepadamu, bahkan jika Adel mencintaimu, aku rela memberikanya kepadamu demi membalas semua yang telah kamu lakukan Sak. " ucapnya dengan penuh pasrah.
"Sayangnya perasaanya hanya untuk kamu Kev. Terimakasih untuk niat baikmu kepadaku " Saka lagi lagi menahan perasaanya, untuk kesekian kalinya perasaanya tak terbalas.
"Temui dia, dia sangat merindukanmu" ucapnya yang kemudian menegakan badanya dan hendak pergi.
"..... "Kevin masih diam, ia tidak percaya Saka mengalah begitu saja.
"Selama 6 bulan lebih ia di Indonesia, dia selalu menangis Kev, melihatmu bersama Kinan, melihat Kinan tertawa bersamamu dan keluarganya, melihat semua itu membuat hatinya remuk, dan hampir saja ia kembali menggunakan mobilnya untuk kembali di sirkuit itu lagi." Kevin tak percaya Adel pernah seterpuruk itu. Bahkan disaat ia pernah mengalami hidup seperti mayat selama 6 tahun, ia masih berani menginjakan kakinya di sirkuit karna perasaan kecewa.
Rasa takut seseorang ternyata bisa kalah oleh rasa sakit yang melanda. Buktinya seseorang yang takut, bahkan akan melawan ketika hatinya kecewa, marah dan sakit hati.
"Sayangi dia Kev. Ingat akan ada aku dibelakangnya ketika sedih, jadi jangan sia siakan dia. "
Flash Back Of
Kevin kemudian menyusul Adel ke ruang ICU karna sudah pasti Cila akan menanyakanya. Bukanya jelas bahwa Cila dan Kevin sangat dekat, selain karna hanya Kevin yang dipunyai Cila, Kevin juga merangkap menjadi ibu bagi Cila.
*
__ADS_1
Adel memasuki ruang ICU, hari sudah berganti pagi, namun keluarganya masih stay di depan ICU. Tiba tiba merasa kelakuan Adel sangat kejam kepada mereka. Ia ingat kata Kevin, bahwa mereka sangat merindukanya, dan sangat ingin bertemu denganya.
"Bunda.... " panggilnya lirih. Adel dengan cepat mendekatkan dirinya kepada Cila.
"Yah sayang." jawabnya dengan lemah lembut.
"Ayah mana?" tanya Cila, yah siapa lagi yang ditanya, selama 8 tahun Cila hidup dengan Kevin, jelas saja mereka sangat dekat. Tiba tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya. Membuat Adel menatap seseorang yang menepuknya.
"Kevin.... "
"Ayah.... " panggilnya, Cila dengan manja lalu menarik tangan sang ayah.
"Apa ayah jadi menikah dengan tante Kinan?" tanya Cila penasaran.
"Tidak Cila, ayah hanya akan menikah dengan bunda kamu." ucapnya, kemudian mengeratkan rangkulanya di pundak Adel.
"Benar bunda?" pertanyaan ini memang sengaja Kevin katakan kepada Cila, agar Cila mendesaknya untuk menikah dengan Kevin. Adel menganggukan kepalanya. Yah pertanyaan ini sebenarnya entah nanti entah esok akan ia temui. Dan jawabanya jelas, Adel masih cinta kepada Kevin, dan hatinya sepenuhnya milik Kevin seorang.
"Sayang...apa yang kamu rasakan sekarang? " tanya Adel kepada Cila, ia sengaja mengubah topik, karna tidak mau terlalu membahas tentang hubungan.
"Cila bahagia. "
"Apa Cila mau pindah ruangan, soalnya ada oma, opa, om, tante, Derrick dan lainya yang ingin bertemu denganmu." Cila dengan cepat menganggukan kepalanya.
"Baiklah. " Adel berjalan menuju nurse station ICU dan menekan tombol, sehingga perawat mendekat.
"Sus tolong pindah pasien ke ruang biasa. " pinta Adel kepada mereka. Mereka dengan cepat bergegas akan memindah Cila ke ruang VVIP.
"Ra temuilah mereka, biar aku yang menemani Cila pindah ruang. " Adel masih terdiam membuat Kevin mendekatinya.
"Ra.... Semakin kamu menundanya...." kalimatnya terpotong oleh Adel.
"Temani aku." pinta Adel kepada Kevin. Kevin merasa Adel yang dulu memang sudah kembali. Buktinya dia memintanya untuk menemaninya.
"Dengan senang hati." jawab Kevin. Kevin berpamitan kepada Cila terlebih dulu lalu menceritakan alasan Kevin tak bisa menemani Cila pindah ke ruang VVIP, Cila dengan patuh mengiyakanya. Setelah itu Kevin meminta perawat memindahkan Cila terlebih dulu.
"Ceklek" Adel membuka pintu ICU, dimana memang disana tidak bisa sembarang orang masuk. Mereka semua membuka matanya, setelah semalaman terjaga dan baru tertidur beberapa saat, dan dengan berat harus membuka matanya lebar lebar.
Melihat Adel yang hanya berdiri disana tanpa bergerak Kevin mendorongnya berjalan tepat di depan kedua orang tuanya. Air mata Adel sudah menumpuk dipelupuk matanya. Turunlah air mata yang deras itu melihat mommynya menangis.
"Mommy..... Daddy..... "
"Ara.... "
Bonus Visual
Adel
Kevin
__ADS_1