Gadis Liar

Gadis Liar
34


__ADS_3

Aku sudah berjanji pada daddy mu kalau aku tidak akan mencari kesempatan dalam kesempitan Ra, jadi kamu aman saat ini. " Adel menghembuskan nafas leganya mendengar ungkapan Kevin.


"Maksudku aman saat ini Ra, aku tidak menjamin untuk nanti." Senyum Kevin penuh Arti. Lalu Kevin menyusupkan pelukanya di pinggang Adel. Sesaat Adel begitu terkejut mendapat pelukan dadakan dari Kevin.


"Kev kamu...... " kalimatnya terpotong oleh Kevin yang kepalanya sudah menyelurup di belakang rambut Adel yang terurai, lalu mengecupkan bibirnya di leher belakang, memberikan sebuah tanda kiss mark disana.


"Argghh.... Kev berhenti. " Adel mencoba memberontak. Tetap saja tangan, kaki, dan bibir berkata tidak, namun bahasa tubuh menginginkanya. Pergulatan malam yang cukup melelahkan, walau hanya sebuah pelukan dan ciuman biasa. Namun karna hasrat menguasai mereka. Begitu susah untuk mengendalikanya.


"Diamlah Ra, cukup seperti ini, jangan bergerak kumohon. " pinta Kevin dengan harap. Wajahnya saja sudah penuh dengan gejolak yang tidak bisa ditahan. Adel masih saja memberontak, membuat Kevin menjadi sedikit liar. "Ra.... Jangan bergerak, kalau kamu terus bergerak aku bisa saja kehilangan kendali " jelasnya membuat Adel diam seketika.


"Hanya seperti ini, menurutlah, aku juga berusaha menahan segalanya, agar malam ini tidak akan terjadi apa apa. " Adel menganggukan kepalanya, Kevin menarik nafasnya dalam dalam untuk mengontrol hasratnya. Walau sulit, tapi akan Kevin coba untuk tidak melakukan apa yang diinginkan.


"Tudurlah Ra.... Aku tidak akan berbuat macam macam. " pintanya mengusapkan tanganya di rambut Adel. Sesaat Adel terlelap dengan tidurnya. Namun tidak dengan Kevin, setelah Adel tertidur ia menuntaskan hasratnya terlebih dulu.


Malam yang panjang dan penuh gairah terlewati begitu saja. Tidak ada yang spesial, namun kenangan malam ini akan indah ketika mereka tidak bersama. Tepat pukul 03.00 hujan mereda, angin pun mulai stabil, gambaran cuaca mulai menunjukan awan.


Kevin mengerjapkan matanya perlahan, melihat gadisnya masih tertidur pulas, ia merasa bersyukur, karna malam ini bisa dilewati walau banyak sekali halangan. Adel membuka perlahan matanya, ditatapnya Kevin yang sedang memikirkan sesuatu. "Selamat pagi. " ucap Adel dengan lembut.


"Selamat pagi juga. " Kevin mendaratkan ciumanya di kening Adel. Bahagianya Adel karna Kevin menjaganya. Entah seberat apa Kevin menahanya, yang jelas Adel merasa bersyukur mempunyai lelaki yang mampu menjaga janjinya.


"Kev makasih.... " Kevin menganggukan kepalanya. Lalu merengkuhkan tanganya di tubuh Adel. "Bersiap siaplah Ra, kita akan pulang, aku akan diadili daddy dan abangmu nanti. " Adel beranjak dari tidurnya untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai membersihkan diri Adel merias wajahnya lalu dikuncirnya rambut Adel seperti biasa menyisakan anak rambut yang membuatnya semakin menggoda. Menampilkan leher jenjang yang memikat siapapun yang melihatnya


"Ra, jangan diikat, nanti kamu kena masalah. " ucapnya lalu mengambil ponselnya dan memotret leher Adel bagian belakang. Tampak jelas 2 kiss mark yang berwarna merah kehitaman, dan ketika nanti mereka pulang, dady nya melihat itu, akan jadi petaka bagi Kevin dan Adel.


"Lihatlah. " Kevin menyodorkan ponselnya kepada Adel, sesaat Adel tampak shok melihat tanda merah tersebut. Namun untung saja hanya dua kiss mark yang letaknya di leher belakang, coba kalau yang ia tinggalkan adalah ****** di dalam rahim, mungkin tinggal menunggu hancurnya semua cita cita Adel.

__ADS_1


Kevin melepaskan ikatan rambut milik gadisnya, hingga rambutnya terjuntai indah memenuhi pundaknya. "Seperti apapun kamu, akan selalu cantik dimataku. " godanya membuat wajah Adel bersemu seketika.


*


Tepat pukul 08.00 mereka sampai dirumah Adel. Bukan hanya daddy Adel Arion, Kenan, ayah dan bunda Kevin sudah menunggunya didepan rumah Adel. Untung saja tidak ada Keyla, karna jika ada, hanya akan membuat canggung Alfa untuk menginterogasi putranya.


"Ra bersiaplah, mudah mudahan mereka tidak melihat tanda dilehermu, " Kevin memberikan semangat kepada kekasihnya. Karna tidak mudah meyakinkan mereka semua dalam hal ini mereka jelas salah pergi berdua dan menginap itu saja sudah fatal.


"Berhati hatilah jangan sampai ada orang yang melihatnya beberapa hari ini, karna jika ada yang melihat, tamatlah kita Ra. " Adel menganggukan kepalanya. Harap harap cemas itulah yang mereka rasakan sebelum turun.


"Berapa lama tanda ini hilang biasanya Kev? " Kevin tampak bimbang, bahkan ini kali pertamanya ia melakukan hal demikian. Bagaimana dia tau hal seperti ini. Kevin lelaki yang sangat kaku terhadap perempuan, namun jika sudah mengenalnya akan sagan bersikap lembut.


"Gag tau Ra, aku gak pernah nglakuin itu ke cewe manapun. " jelasnya. Kevin hendak membuka ponselnya untuk mencari tau hal tersebut kepada mbah google yang serba tau, namun Adel menariknya. "Jangan terlalu lama didalam mobil, nanti mereka tambah curiga Kev! "


Kevin dan Adel turun lalu menyalami mereka semua. Pertama kali yang memberikan pertanyaan adalah ayah Alfa. Wajahnya sedikit tegang, namun masih tenang seperti biasanya. "Apa kamu menjaga Adel dengan baik? " tanya ayah Kevin kepada Kevin. Adel menghembuskan nafas leganya karna mereka tidak memberikan pertanyaan yang susah.


"Ra kamu beneran gak nglakuin yang aneh aneh kan sama Kevin. " Kenan meneliti Adel dari bawah ke atas. Lalu memutar badan Adel. Untung saja bukan leher yang diperiksa. Matilah jika leher yang diperiksa.


"Tenang aja Ken, gue masih waras. Adek loe aman kalau sama gue " jelasnya memberikan penekanan bahwa tidak ada yang terjadi diantara mereka.


"Oke, gue percaya sama loe. Ayo bersiap, gue akan antar Adel ke bandara untuk menemanimu berangkat," Kevin sedikit terkejut mendengar Kenan akan mengantarknya. "maksud loe Ken? "


"Iya loe udah ditunggu orang tua loe untuk berangkat ke Inggris pagi ini. " Adel dan Kevin saling tatap, pasalnya Kevin berangkat dengan penerbangan malam, namun hari masih pagi dan Kevin bersiap berangkat. Hatinya sedih memikirkan bahwa saat ini juga mereka harus berpisah.


"Maaf sayang, kami mengganti jadwal penerbangan, karna cuaca malam sedang buruk. " Adel dengan berat menganggukan kepalanya tanda mengerti. Bunda Kevin memeluk Adel dengan erat. Lalu mengusap kepalanya. "Suatu saat kalian akan bersama. Tante akan menantimu siap menjadi menantu kami." Jelasnya lirih ditelinga calon menantunya.


"Ya udah ayo berangkat, Gue bareng Ara, Kenan sama Arion ikut aja, biar nanti pulang ada yang nemenin Adel. " Ungkapnya sebagai alasan agar Kevin bisa berduaan lagi dengan Adel.

__ADS_1


"Sayang barangmu sudah kami kemas. " jelasnya kepada Kevin. Lalu mereka bergegas pergi. Tidak lama, 20 menit mereka sudah sampai di bandara. Lama penghuni mobil tak muncul. Membuat mereka semua menunggunya.


"Cupp" jangan nakal Ra, aku akan selalu merindukanmu, aku akan setia menantimu, jadi berjanjilah menemaniku dalam duka dan suka. " Adel melebarkan senyumnya.


Mereka berdua turun dari mobil, tatapan mereka saja sudah jelas "bukankah baru saja berpisah setelah 24 jam lebih bersama, masih saja kangen kangenan di dalam mobil. Kevin lagi lagi memeluk Adel dengan erat. Seakan enggan untuk berpisah. " Sudah Kev, sudah waktunya berangkat. " ajak Alfa kepada putranya, dengan terpaksa Adel melepaskan pelukanya.


"Di halalin sekalian Kev, kalau gak mau pisah. " celetuk Arion kepada Kevin membuat mereka semua tertawa. "Maunya gitu Ar, sekalian dihalalin, tapi Adel belum lulus. " ungkap Kevin yang sukses membuat ekspresi diwajah Alfa berubah seketika. Bukan tidak direstui, melainkan memang masa lalu orang tuanya yang memberatkan hubungan mereka.


"Ra aku pamit, tunggu aku, aku akan sering pulang menemuimu " Lagi lagi Kevin mencium kening Adel. Kevin berjalan sambil memandangi wajah kekasihnya itu. Sungguh semelo ini berpisah dengan kekasih.


Adel mengedarkan pandanganya, mengalihkan rasa sedihnya, entah berapa lama lagi ia tidak akan bertemu dengan kekasihnya. " Nangis nangis aja Ra. " ejek Arion pada Adel. Adel langsung memelukkan tubuhnya pada Arion. Lalu menangis terisak di dada bidang abangnya itu.


Sesaat rambut belakang Adel membelah dengan sendirinya menjadi dua, sehingga dengan samar Arion melihat jejak kissmark di leher Adel. Namun Arion akan tutup mulut demi Adel, karna ketika ada orang lain tau, Kevin dan Adel akan diadili lagi.


"Ken nyetir sendiri, aku bareng Adel. " jelasnya dan dengan mudah disetujui oleh Kenan. Ditengah perjalanan Arion memberhentikan kemudinya " kenapa bang berhenti di sini. " Arion menatap Adel dengan penuh tanda tanya. Lalu menyingkapkan rambutnya. "Ini apa Ra? "


"Deg" sesaat jantung serasa berhenti memompa, wajahnya memucat, rasa khawatir menyelimutinya. Adel tak bisa menjawab, namun Arion melanjutkan kalimatnya. " Ara.... Jawab abang, apa yang kamu lakukan dengan Kevin semalam. " teriakan Arion melengking ditelinganya membuat Adel berjingkrak ketakutan.


Adel menarik nafasnya dalam dalam lalu memeperhatikan wajah abangnya yang penuh kecewa. "Abang percaya sama Ara. " Arion mencoba mendengarkan apa yang diucapkan oleh Adel. Meskipun rasanya sangat marah "Ara gak ngelakuin apa apa sama Kevin bang. " Arion tampak murka mendengar jawaban Adel.


"Ra.... jawab dengan jujur, kehormatan kamu bukan dagangan." Arion sudah marah bahkan emosinya kini meluap. Membuat nyali Adel menciut. "Ara berani sumpah, Ara tidak melakukan hal hina itu bang. " jelasnya dengan air mata yang terisak. Tumpahlah semua air matanya, mendengar abangnya sendiri tidak mempercayainya.


"Lalu ini bekas apa Ra? " Adel lagi lagi hanya terisak dan merasa bersalah. "Itu hanya kissmark abang, gak lebih dari itu, dan Ara berani bersumpah, Ara masih virgin. " Adel menelungkupkan kepalanya di atas lutut yang ditekuk, wajahnya tampak frustasi. Benar kata Kevin sekali terlihat masalahnya akan sangat panjang.


Melihat Adel yang menangis terisak dan tak berhenti sedari tadi, membuatnya yakin bahwa Adel memang tidak melakukan apapun. "Baiklah Ra, abang percaya. Sudah jangan menangis" Arion menepuk pundak adiknya. Setelah itu mereka kembali ke rumah Adel. Adel masih terdiam mungkin shok karna tidak mendapatkan kepercayaan dari abangnya.


"Bang.. bisakah abang rahasikan hal ini? " pinta Adel kepada abangnya. kalau dilihat dari tingkah laku dan sifatnya, ia adalah lelaki yang akan menutup rapat masalah. Namun kali ini, berbeda masalahnya.

__ADS_1


"Tidak semua hal bisa kamu sembunyikan Ra, hadapilah, jika meyakinkanku saja, kamu tidak sanggup, apalagi meyakinkan mereka semua. "


__ADS_2