
"Kevin mengahamili seorang wanita dan wanita itu bunuh diri karena Kevin tak mau bertanggungjawab, apa alasan itu belum cukup untuk menghentikan perasaanmu pada Kevin Ra? " Teriakan Kenan mampu membuat Adel yang keras kepala, bertekuk lemas dihadapan Kenan.
"Menghamili seorang wanita,,, tidak mau bertanggung jawab... Bunuh diri" kalimat itu berputar memenuhi isi kepalanya. Seakan berteriak menggoyahkan pendirianya.
"Enggak bang.... Enggak... Kevin bukan lelaki seperti itu. " tolak Adel dengan prasangka abangnya
"Tau apa kamu tentang Kevin? Abang yang berteman sampai 4 tahun, dan setelah itu kita seperti orang asing. "
Adel lagi lagi frustasi mendengar penuturan Ken.
"Kevin bilang abang salah paham. " jelasnya mengingat ucapan Kevin untuk tidak percaya pada ucapan abangnya
"Salah paham? Orangnya sudah meninggal dalam keadaan hamil, masih dibilang salah paham. WARAS sedikit kamu Ra, jangan karna cinta kamu BUTA sampai memilih orang yang SALAH. " suaranya melengking membuat Adel menutup rapat telinganya
"Buka mata kamu Ra, dan asal kamu tau, Kevin mendekati kamu karna kamu sangat mirip dengan CITRA, dia periang, pemberani, pembela kebenaran, jago bela diri, tidak suka kesenioritasan, dan tidak kalah cantik sepertimu. " jelasnya melemahkan pendirian Adel.
Adel menangis dengan terisak, isaknya bahkan tersendat menambah sesaknya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Adel tidak pernah menyangka bahwa dirinya mungkin hanyalah sebuah pelarian.
Goyahlah pendirian Adel. Hatinya kembali sakit dan sangat terluka mengetahui kebenaranya. Bahkan kalimat abangnya dibuktikan dengan foto dibalik almari Kevin yang masih menyimpan foto kenangan denganya.
Ponsel Adel berdering, nama Kevin terpampang jelas di ponselnya. Cairan kristalnya kembali membasahi wajah halusnya. Mengingat hubunganya baru saja dimulai dan harus berakhir.
"Brak" ponselnya berubah menjadi pecahan kaca bahkan kacanya hancur seketika terkena lemparan ponsel Adel. Kacau, melihat Adel yang seperti ini, hanya akan membuat orang tuanya sakit.
Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali arena balap yang akan menenangkan. Adel membuka jendela balkonya, ia keluar lewat pintu belakang. Apartemen yang paling dekat adalah apartemen Saka. Ia berencana mengunjungi Saka.
Ting
Tong
Tak lama Saka membukakan pintunya. Saka kaget melihat siapa yang datang, Adel hanya memakai celana jeans pendek, kaos oblong, jaket dengan topi untuk menutupi wajahnya yang lebam.
"Ara.... Kamu kenapa. "Adel seperti mayat hidup yang menampakan wajah masamnya. Saka menutup kembali pintunya, lalu mengajak Adel duduk.
"Sebentar gue ganti baju dulu. " Saka berganti dengan baju santai dengan celana jeans. Disambarnya kunci mobilnya lalu menarik Adel keluar.
Sesaat mobilnya terparkir di arena balap. "Mau main sekarang atau nanti? " tidak ada jawaban, namun Adel menyambar kunci mobil lalu bergegas menuju area sirkuit yang sudah siap dengan bendera bendera dan wanita sexy.
Wanita pemanis yang selalu berada di arena balap mengangkat bendera. Pertanda balap liar pun dimulai. Saka menggelengkan kepalanya melihat Adel melesat dengan kecepatan yang tidak wajar. Bila saja Adel pulang hanya dengan nama, mungkin Saka akan dipenggal oleh Kenan dan orang tuanya.
Namun lebih dari profesional, Adel memang tidak pernah mengecewakan, entah sejak kapan gadis tersebut menekuni balapan liar seperti ini. Dia masih muda 16 tahun. Namun ia seperti pembalap yang mempunyai serep nyawa dengan jumlah 9.
__ADS_1
Bahkan jika dia diijinkam oleh orang tuanya, mungkin dia akan menjadi orang terkaya karna tidak pernah mengalami kegagalan.
"Mau pulang, makan atau mau kemana lagi" Adel tak menjawab, Saka membawanya ke tempat makan yang masih buka. Pasalnya sudah jam 2 pagi, bahkan Saka sudah pusing mesti gimana sama cewe ini.
Mobilnya ia belokkan disebuah tempat makan nasi goreng dipinggiran jalan. Lalu memesan 2 porsi nasi goreng dan 2 jeruk hangat. Setelah selesai makan, Adel meletakan piring dan sendoknya. Lalu bergegas ke dalam mobil lagi.
Saka mengantarkan Adel sampai dirumah, mobilnya ia parkirkan jauh dari rumah Adel. "Pulanglah sudah malam! " Adel beranjak turun dan menutup pintunya. Namun langkahnya terhenti memandang Saka yang masih setia menunggu Adel masuk melalui pepohonan yang menjulang tinggi disamping kamarnya. "Sak..... Makasih. "
Saka menggelengkan kepalanya melihat Adel dengan cepat menaiki pohon tersebut, dan erlalu meninggalkan area pekarangan rumah Adel. Bahkan hanya sebuah ucapan makasih. Namun dengan sabar Saka menemaninya.
Pagi ini Adel berniat membolos sekolah. "Ara sayang, bangun udah siang. " panggil momminya sambil mengetuk pintu kamarnya.
"Ara bolos mom. " jelasnya. Tidak panjang lebar Keyla tak mempermasalahkanya. Lalu berbalik menuruni tangga.
"Mana Ara" tanya Kenan yang berjalan menuruni tangga dengan tasnya disampirkan pada satu lenganya.
"Bolos katanya. " ungkap Keyla pada putranya
"Kebanyakan dipengaruhi adat orang barat dia. " gerutunya yang memasang wajah masamnya.
"Bang, Ara kamu apakan? " Axel menanyakan perilaku Kenan semalam hingga anak gadisnya sampai siang begini ngambek dan mogok sekolah.
Kevin berjalan menuju kelas Adel. Ia menanyakan Adel pada Ayla dan Ayra namun jawabanya sama, nomornya tidak dapat dihubungi. Fikiranya kalut, kekhawatiran menyelimutinya. Ia berencana menemui Kenan dikelasnya. Namun ia butuh Zela. Karna Zela lah yang tau detailnya.
"Gue butuh loe Zel. " ungkapnya panik. Zela menatap wajah Kevin yang sudah tak semangat. "Loe kenal Adel kan? " Zela menganggukan kepalanya. Kevin menceritakan detail permasalahanya dengan Kenan dan Adel. Zela menganggukan kepalanya pertanda mengerti.
Kevin berjalan menuju kelas sebelahnya yaitu kelas X11 IPA 1. Kenan menatap sadis wajah Kevin yang masih ada sisa lebam diwajahnya. "Banci, kesini ngajak temen. " Kenan meledek Kevin karna kedatanganya dengan Zela.
"Gue ada perlu sama loe Ken, sebentar. " ucap Kevin santai. Kenan tersenyum mengejek. Arion yang disamping Kenan memperhatikan wajah Zela yang sejak kepulanganya tidak pernah bertutur sapa denganya.
"Kenapa.... Loe diputusin adek gue? " tawanya pecah seketika menjadi tontonan anak satu kelas. Saka dan Arion saling melempar pandangan. "Ternyata Kenan sudah tau, pantas saja Adel semalam seperti orang yang sedang banyak masalah. " batin Saka.
"Gue cuma minta waktu loe sebentar" Pinta Kevin masih dengan nada santainya.
"Sudahlah lupakan, Adek gue gak akan mau lagi sama loe. Cowo brengsek kaya loe, gak pantes bersanding sama adek gue. " lagi Kenan memancing emosi Kevin. Kevin mengepalkan jarinya membuat vena dipergelangan tanganya tampak jelas.
"Marah, masih berani loe sama gue? " wajahnya mulai muak melihat Ken yang sok berkuasa dan sombong.
"Bugh"
"Bugh"
__ADS_1
"Bugh"
3 pukulan mengenai Kenan. Bahkan Arion dan Saka tak berani melerai mereka. "Jangan loe pikir gue gak berani sama loe Ken, gak ada sejarahnya loe lebih dari gue. Gue cuma menghargai Adel, dan gue harap Adel tidak akan pernah melihat gue memukul kakanya sendiri. " jelasnya.
Kenan hendak memukul Kevin, dengan cepat Kevin menghindar dan menghadiahi bogem diperutnya, ia pukulkan tanganya di punggung Kenan. Hingga Kenan jatuh tersungkur "Brengsek loe Kev. " ucapnya lemas tak berdaya.
"Kita impas. " jelasnya mengejek Kenan. "Ar, gue minta loe sama Saka pegangin Kenan dan ikut gue. " Arion hanya menganggukan kepalanya, Mereka membawa Kenan ke area parkir.
Kevin dengan cepat melajukan mobilnya menuju sebuah RSSHJ atau rumah sakit jiwa dr. Soeharto Heerjand Jakarta. Mereka sesaat terheran kenapa sampai di tempat ini. Arion dan Saka hanya memainkan matanya. Sesampainya di ruang perkutut, ruangan khusus untuk remaja yang mengalami gangguan kejiwaan.
Seorang kepala ruang menemui Kevin, pasalnya Kevin memang rutin berkunjung menemui Citra. Namun akhir akhir ini semenjak kehadiran Adel ia mengurangi jadwal kunjungnya.
Sudah hampir 2 tahun Citra disini. Gadis cantik dari keturunan orang terpandang. Memang gayanya seperti Adel, Liar, namun Adel tidak pernah terjerumus dengan alkohol. Apalagi bermain dengan para PL di club. Awalnya Kevin tidak mengetahui sisi lain Citra yang seperti ini, keluarganyalah yang memberitahukan sifatnya pada Kevin.
"Citranya sedang tidak stabil kondisinya na Kevin, apa nak Kevin tetap mau menemuinya? " ucap salah seorang perawat. Kevin menganggukan kepalanya. Sudah sejauh ini, dan sudah membawa ke 4 temanya. Maka tidak ada lagi yang harus ditutup-tutupi.
Arion dan Saka terbelalak kaget mendengar nama Citra disebut, dan lebih kaget lagi ketika Citra duduk didepanya. Rambutnya terurai menutupi wajahnya sebagian, kumal 1 itulah tampilanya.
"Saya boleh pinjam buku catatan harian pasien pa? " ungkap Kevin. Perawat tersebut memberikan buku catatan harianya yang berwarna pink.
"Kevin..... Citra kangen banget sama Kevin. " Citra memeluk erat tubuh Kevin. Air matanya keluar secara bersamaan. Miris melihat orang yang sangat Kevin cintai berakhir seperti ini. "Citra minta maaf karna Citra menghianati Kevin. " mungkin dalam ingatan Citra, Kevinlah yang sangat ia cintai.
Arion Saka dan Zela meneteskan air matanya. "Apa maksudnya ini Vin? " tanya Saka meraih kerah baju Kevin
Arion menarik tangan Saka, untuk mengendalikan emosinya sebelum tau cerita sesungguhnya.
"Pasti ada sesuatu, sampai sampai kita diajak kesini Sak, jadi kita ikuti cerita ini dulu!" ujar Arion yang sebenarnya sudah sangat penasaran dengan cerita Citra selama ini.
Citra masih memeluk Kevin dengan erat. Rambutnya menutup wajahnya. Kevin menatap haru wajah Citra yang sangat cantik, lalu menjepit rambut Citra, dan menghapus air matanya.
Citra menggendong bayi yang terbuat dari boneka. "Kev... Ini anakku, dia sangat mirip dengan papanya." jelasnya menggendong boneka mainan yang ia sebut anaknya.
"Citra minta maaf karna membuat Kevin sakit hati." di dalam ingatan Citra, ia sadar bahwa Kevinlah lelaki yang sangat ia cintai, namun Citra menghianatinya.
Samar Kenan mendengar suara Citra. Ia mulai mengerjapkan matanya, mencoba mengenali siapa gadis yang ada didepanya. Kevin mengambil sebuah ember berisi air penuh dan gayung. Diisinya gayung tersebut dengan air, lalu Kevin mengguyurkan air tersebut secara kasar kepada Kenan. Bahkan bukan hanya gayungnya, Kevin mengambil ember tersebut lalu menggerujukkan semua isi air kekepala Kevin.
Sekejap Kenan tersadar, ia mencoba melihat siapa gadis yang ada didepan matanya. "Apa gue mimpi? " keluhnya yang kemudian mencubit pipinya dan nengucek matanya.
"Liat Ken, apa perlu gue guyur lagi dengan 3 ember air. " ancam Kevin pada Kenan. Kenan mencoba menyadarkan dirinya, setelah 100% sadar barulah ia melihat secara teliti wajah didepanya, yang sedang berbicara dengan boneka.
"CITRA.... "
__ADS_1