
"Ya sayang mommy juga sangat rindu. " Keyla begitu bahagia melihat putrinya kembali, sampai ia enggan untuk melepaskan pelukanya.
"Masih berani pulang kamu Ra? " suara berat itu, ya itu milik daddy nya yang turun perlahan menuruni anak tangganya, begitu menyeramkan, wajahnya yang masih tersulut emosi membuat Adel bergetar.
"Mas sudah, Ara sudah pulang, biarkan dia istirahat dulu. " mommy Adel menuntun Adel berjalan masuk ke dalam kamarnya, Arion berjalan mengikuti Adel memasuki kamarnya.
"Dimana Kenan tan? " tanya Arion, sebenarnya ia menghindari Kenan karna takut pasti akan timbul perkelahian diantara mereka, karna Arion membawa pulang Adel. Kenan dan Zela sedang berada di rumah orang tua Zela, membuat Adel dan Arion bernafas lega.
"Ara.... " Arion, Adel, dan mommy Adel berbalik menatap daddy nya. Wajah daddy nya masih tegang dan ada semurat kekecewaan di wajahnya. "Temui daddy di ruangan kerja! " pintanya yang berjalan menuju ruang kerjanya. Hari yang ia takuti akhirnya akan ia lewati.
Adel menarik nafasnya yang berat itu, berharap rasa khawatir dan takut berkurang walau hanya sedikit."Ra jangan khawatir, daddy tidak akan memarahimu." mommy Adel menenangkan putrinya yang wajahnya menegang semenjak daddynya meminta menemuinya di ruang kerjanya.
Adel berjalan menuju ruang kerja daddy nya, ia memegang handle pintu, dengan ragu, berat, dan terpaksa ia menekanya hingga pintunya terbuka menampilkan wajah daddy nya yang menakutkan. Perlahan Adel memasuki ruangan kerjanya, kakinya lemas, gemetar, dan kesemutan.
"Brak" sebuah buku dilemparkan sembarang oleh daddy nya membuat Adel terperanjat karena kaget. Jantungnya seperti terhantam benda. Iramanya meningkat dan ada rasa nyeri juga sesak di bagian ulu hatinya.
"Sudah puas kamu mempermalukan daddy dan mommy kamu?" Adel tertunduk, ia tidak berani mengangkat kepalanya, matanya memanas dan rasanya air mata mulai terkumpul di pelupuk matanya.
"Ma... Af dad. " singkat jawaban dari bibir Adel, ia tau kata maaf tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula, tapi hanya itulah yang bisa ia katakan. Air matanya mulai mengalir begitu saja.
"Hanya maaf? " Daddy nya menatap dengan tatapan sangat marah, berhari hari mommy nya sakit memikirkan Adel, bahkan ia kembali hanya dengan kata maaf. Mau bilang apa, dia tidak mungkin mengatakan kalau ia kabur bersama Kevin, hubungan keluarganya dengan keluarga Kevin tidak baik, akan lebih buruk ketika Adel mengatakan ia kabur bersama Kevin.
Flash Back On
"Ra daddy kamu tidak tau kalau kamu kabur bersama Kevin. " jelas Arion yang sepakat dengan Kenan yang tidak akan membawa nama Kevin. Adel menatap abangnya yang sedang berkemudi itu.
"Maka jangan katakan kalau Ara sudah menikah dengan Kevin bang" pinta Adel tanpa ekspresi, sedangkan Arion menatap Adel dengan heran. Ia bingung kenapa harus disembunyikan.
"Daddy akan sangat marah ketika tau Ara sudah menikah tanpa restunya bang." jelasnya mengingat pernikahanya hanya akan membuat suasana semakin kacau.
"Lalu kehamilan kamu? "Adel menerawang jalanan yang penuh dengan pepohonan, ia saja bingung, pernikahan itu jelas akan membuat daddynya marah, dan akan bertambah murka ketika mengetahui Adel hamil.
"Entahlah, Ara akan menyembunyikan kehamilan ini terlebih dulu bang. Setelah mereda Ara akan jelaskan satu persatu." Ia ingin hubunganya dengan daddy nya baik terlebih dulu, barulah ia akan memikirkan caranya memberitahu pernikahanya dan kehamilanya.
__ADS_1
"Kamu yakin? "Adel menggeleng pelan. Arion saja bingung, apalagi Adel. "Kalau tidak yakin kenapa melakukan semua ini Ra. Apa perlu kita putar balik? "
"Lalu Ara harus apa bang. Abang tau kelakuan Agni yang tidak hanya sekali dua kali ingin mencelakai janin Ara? " Air matanya meluncur bebas di area pipi, rona wajahnya tampak bimbang. Seharusnya kehamilan dan pernikahan pertama adalah hal yang sangat membahagiakan, sayangnya tidak denganya yang harus ia hadapi seorang diri.
"Kasian kamu Ra, masih sekecil ini tapi hubungan asmaramu sesulit ini." batinya yang ikut menyesal telah membawanya dalam kesengsaraan. Bahkan membahas tentang operasi saja Arion urungkan, masalah demi masalah silih berganti tiada henti dalam kehidupan Adel.
Flash Back Of
"Hukum Ara.... Dad" Kalimatnya terpotong oleh jawaban daddy nya yang sudah berdiri dari kursinya.
"Masuk kamarmu, jangan pernah keluar sampai daddy memaafkanmu. " Daddynya berjalan keluar dari ruang kerjanya dan membanting pintu dengan kasar.
*
Pagi itu Adel hanya tiduran dikamar, ia tidak tau apa yang akan ia lakukan hingga sebuah ketukan pintu terdengar di telinganya. Sosok abangnya yang sangat Adel rindui muncul di balik pintu tersebut. "Bang Ken." Adel memeluk erat abangnya itu, ia sangat ingin meluapkan rasa sakitnya tapi apalah daya. Hanya akan membuat hubungan antara Kenan dan Kevin lebih rusak.
"Kemana Kevin, sampai kamu pulang kesini sendiri. " Adel membisu, tidak ada jawaban dari bibirnya, ia memilih bungkam dari pada mengatakan kebenaranya. Abangnya saat ini tidak berada di pihaknya, perlu segudang penjelasan untuk membuat abangnya kembali percaya padanya. "Kamu mengecewakan abang Ra. "
Air mata Adel lagi lagi berjatuhan. "Tuhan, kenapa kau ciptakan begitu banyak air mataku, tidak bisakah kau hapus saja, agar rasa sakitnya tak seberat ini. " tanganya ia usapkan di pipi nya, hatinga seperti teriris ketika seseorang menyebut nama Kevin.
*
"Kev.... Kita akan menikah 1 minggu lagi. " jelas Agni bergelayut manja di lengan Kevin yang masih berada di dalam kamar dan dijaga beberapa pengawal.
"Menggelikan Ag.... Rasanya aku sangat ingin tertawa. " Kevin menarik ujung bibirnya, ia paksakan untuk tersenyum mengejeknya.
"Kamu hanya akan menikah dengan ragaku, tidak dengan cinta, hati dan tubuhku. " jelasnya dengan sorot mata tajam, membuat Agni mengepalkan jemarinya. "Wanita iblis sepertimu tidak pantas bersanding dengan siapapun. " imbuh kalimatnya mengejek Agni. Habislah kesabaran Agni.
"Berani sekali kamu Kev...... " Agni melepas gelayutan tanganya, lalu menatapnya tajam kepada Kevin. "Ha... Ha.... Haaaa" gelak tawanya memenuhi kamar Kevin." Kamu lihat ini Kev." Agni menunjukan sebuah hasil laboratorium pemeriksaan pp test milik Adel, matanya terbelalak melihat hasilnya positive samar.
"Ara hamil.... " Kevin menjatuhkan lututnya, butiran kristal jatuh begitu saja, ia mensujudkan kepalanya di lantai, rasa senang begitu besar dalam relung hatinya, tapi rasa takut tiba tiba membuatnya sedih. Sedih mengingat wanita iblis disampingnya akan mencelakainya.
"Baik baiklah kepadaku Kev, kalau kamu ingin Adel bersama putramu baik baik saja. " ancam Agni kepada Kevin yang masih terkulai di atas lantai. Rasanya Kevin sangat ingin menemuinya, pasti saat ini Adel sangat sedih, dihari yang bahagia seharusnya ada Kevin tapi.....
__ADS_1
Kevin menulis sebuah kertas lalu meminta maid tersebut mengirimkanya kepada Adel. Disana tertulis bahwa ia akan menemuinya 1 munggu lagi. Hatinya sangat bahagia saat ini, tapi batinya begitu tersiksa memikirkan istrinya itu. Bagaimana mungkin Adel bisa bahagia, bahkan aku disini tidak menemaninya di kehamilan pertamanya.
"Ra maaf... Ma... Af hiks... Hikss" isaknya tersendat mengingat semua luka yang telah ia berikan kepadanya. Bahkan setelah menikah ia malah meninggalkanya, berjuang sendiri tanpa kabar darinya.
*
Adel terduduk lemas disebuah kursi didalam mobil, kedua tanganya diikat dengan kencang hingga pergelangan tanganya terasa nyeri. Lehernya serasa perih karna sedari tadi bergesekan dengan sebuah pisau yang melukainya.
"Apalagi yang kamu inginkan, bunuh saja sekalian aku Ag, jangan menyiksaku seperti ini. " darahnya mangalir sedikit demi sedikit dari lehernya. Disini ada sebuah pembuluh darah besar yang sekali gores dalam hitungan menit akan membuat seseorang syok karna kehilangan banyak darah.
"Dalam hitungan hari, aku minta kamu pergi dari Indonesia. " ucapnya dengan menusukkan sedikit pisau tersebut ke vena jugularis membuat Adel meringis kesakitan.
Vena jugularis adalah vena yang terletak di leher
"Ahhh..... " rintihanya membuat Agni semakin tertawa lepas. Agni menarik pisaunya, lalu ia pindahkan di perut Adel membuat Adel melebarkan pupil matanya. Tubuhnya gemetar hebat, dan air matanya berjatuhan.
"Gue gak akan sakiti dia kalau loe nurut dan pergi jauh dari hidup Kevin." Adel menggelengkan kepalanya, membuat Agni murka, ia mengeluarkan obat kecil dan menatapnya dengan bahagia.
Lalu meminta pengawalnya memberikan obat tersebut kepada Adel memaksa meminumkanya. Pengawalnya mulai memasukkan obatnya dengan paksa, Adel memberontak sekuat tenaganya dan melepehkanya.
"Agni kamu brengsek. " rutuknya kesal karna Agni memberikan obat tersebut kepada Adel.
"Haa haa haa.... Ini akan masuk ke dalam perutmu jika kamu masih menginjakkan kakimu di Jakarta." Ancamnya sekali lagi.
"Aku akan pergi... Aku janji aku akan meninggalkan Kevin. " janjinya kepada Agni. Ia menyesal memenuhi panggilan Agni tadi pagi yang mengatasnamakan Kevin akan bertemu denganya, padahal ia tau bahwa itu nomor Agni.
*
"Dimana Ara ma? " daddy nya murka ketika membuka handle pintu dan tak melihat putrinya. Keyla ikutan panik dan mencari Adel ke kamar mandi dan keruangan lain. Seorang Art datang dan mengatakan bahwa ia melihat Adel pergi dengan tergesa gesa.
Mommy dan daddy nya berjalan keluar dari kamar Adel namun langkahnya terhenti mendengar sebuah dering ponsel dari sebuah tas milik Adel. Mereka berbalik memasuki kamarnya dan mengambilnya. Disana tertera nomor tak dikenal menelfon. Sesaat setelah diangkat ponselnya mati. Keyla kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas, dan sebuah surat dengan amplop coklat terjatuh dari dalam tasnya.
"Mas..... " panggilnya kepada suaminya, ia menatap jeli sebuah kertas pemeriksaan beridentitas Adellaura sehingga membuat tubuhnya terhuyung ke belakang dan jatuh di atas bad.
__ADS_1
"Kenapa ma?" Daddy Adel panik melihat istrinya yang tiba tiba jatuh karna menatap kertas berwarna hijau itu. Axel menarik lembar kertas berlogo rumah sakit negeri dan hasil pemeriksaanya. "Ara hamil? "