
"Ceklek" Adel membuka pintu ICU, dimana memang disana tidak bisa sembarang orang masuk. Mereka semua membuka matanya, setelah semalaman terjaga dan baru tertidur beberapa saat, dan dengan berat harus membuka matanya lebar lebar.
Melihat Adel yang hanya berdiri disana tanpa bergerak, Kevin mendorongnya berjalan tepat di depan kedua orang tuanya. Air mata Adel sudah menumpuk dipelupuk matanya. Turunlah air mata yang deras itu melihat mommynya menangis.
"Mommy..... Daddy..... "
"Ara.... "Adel bersimpuh dihadapan orang tuanya. Isaknya tak henti, begitu juga mommy dan daddy nya menyetarakan dirinya dengan putrinya. Dipeluknya erat gadis itu oleh mommy dan daddy nya, 9 tahun sudah lamanya Adel merindukan moment ini. Moment dimana ia bisa memeluk orang yang sangat berjasa dalam hidupnya.
"Maafkan Ara mom.... Dad... Hikss.... Hiks..." ia tidak berhenti menyerukan isaknya. Hingga mommy nya juga terisak.
"Tidak sayang, kamu tidak salah, daddy yang salah, tidak pernah mau mendengarkan penjelasanmu terlebih dulu." daddy nya juga sangat menyesal, bahkan sangat menyesal karna keputusan sepihaknya mengusir putrinya membuat ia merasakan penderitaan yang sangat amat pedih.
"Na.... Bisakah kamu meaafkan daddy mu ini, yang terlalu banyak membawa penderitaan untukmu dan memberi warna yang begitu buruk dihidupmu! " Adel menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah menyalahkan insiden ini kepada siapapun. Hanya karna sebuah kesalahpahaman, dan baginya, bahkan tanpa daddy dan mommy nya ia tau penyakitnya akan membuatnya seperti ini.
Hanya mengucapkan banyak terimakasih kepada seseorang yang membawanya kabur dan membuat dirinya kembali. Dialah Saka, seseorang yang selalu menghapuskan kesedihanya.
Setelah saling memeluk, dan meminta maaf, Adel berdiri, ada kedua abangnya itu yang sedari tadi sebagai penikmat drama yang juga menguras perasaan dan air matanya. Haru itulah yang mereka rasakan, keajaiban seperti ini terjadi bahkan sampai detik ini masih seperti mimpi.
"Abang....." abangnya Kenan memeluk, air matanya sudah bercucuran, begitu juga hidungnya yang penuh air mata.
"Ra..... Abang minta maaf." ucap Kenan, dalam hal ini Kenan juga ikut andil yang besa karna telah menyakiti hatinya, membuat luka yang lama sembuh dalam hidup Adel. Adel menganggukan kepalanya, ia diam tapi air matanya yang deras membasahi pipinya.
"Kalau kamu gak maafin abang, kamu boleh minta gendong abang sepuasnya. " kalimat Kenan mampu mencairkan suasana hatinya, bibirnya tersenyum namun air matanya masih mengalir deras.
Kenan berjongkok hendak menggendong adik kesayanganya. Namun dengan cepat Adel menepuk abangnya dan menariknya bangun. "Abang gak malu apa, ada Kean. " ungkapnya membuat tangisnya lagi lagi bercampur senyum.
Kini tinggal Arion, abangnya yang begitu peka kepada Adel. "Bang Ar..." Adel memeluk abangnya, kini air matanya sudah berubah menjadi senyum. Ayra mengelus kepalanya, membuat Adel malu kepada Ayra, kemarin saat bertemu ia angkuh, bahkan sekedar say hello saja tidak, alasanya karna identitasnya memang masih ia tutupi.
"Ay... Maaf... " Ayra mengangguk, ia mengerti posisinya saat itu. Jika Adel mengerti ketika Ayra pernah dalam posisi seperti itu, maka Ayra pun bisa mengerti perasaan Adel.
"mommy bunda... " panggil lelaki setengah dewasa, tampan dan postur tubuhnya sudah menyamainya. Adel memeluknya dengan sayang, putra kesayanganya kini sudah tumbuh dewasa. "Derrick..... Kamu sekarang sudah besar." ucapnya membuat dirinya mengangguk.
"Bukan lagi besar mommy bunda, Derrick bukanya sangat tampan. " tanya Derrick membuat Adel mengagguk mengiyakan. Disampingnya ada Abi dan Dilan. Adel menyapanya satu persatu.
Ia mengerti lelaki yang terkadang diceritakan oleh putrinya itu. Memang sosok lelaki tampan nan berkharisma baginya. Hanya saja tampilanya begitu cuek kepada Cila.
Terakhir ada Kinan dan orang tuanya, Adel masih merapatkan bibrnya, lalu bersalaman dengan orang tua Kinan, selebihnya ia memeluk Kinan. " bermimpilah untuk mendapatkan Kevin kembali, bahkan sekalipun aku menjadi milik orang lain ia akan berada dibelakangku menemaniku dan menyayangiku. " Kinan mengeratkan giginya, ia kesal kepada Adel karna merebut posisinya
Pelukanya terhenti oleh Kevin, karna ada Saka yang sudah keluar dari ruang ICU. "Saka..... " kehadiranya membuat semua orang disini membisu. "Berbicaralah, kamu ikut andil dalam penculikan jenazahku, jadi mereka meminta sebuah penjelasan darimu. " bisik Adel pada Saka, dengan jarak yang begitu dekat masih saja membuat Kevin cemburu, lalu menarik Adel kembali ke sampingnya.
"Om... Tante.... Ken... Ar dan lainya, saya hanya ingin mengatakan maaf karna pernah membawa kabur Adel. " ucapnya singkat, nemun mereka tidak keberatan, karna usahanyalah yang membuat Adel bisa kembali kepada kita semua.
__ADS_1
"Na Saka justru kami sangat berterimakasih kepadamu karna memberikan hari yang sangat indah ini. " jelas orang tua Adel.
"Gue gak nyangka loe bisa lakuin ini, tapi terimakasih yang sebanyak banyaknya buat loe yang udah memberikan segalanya untuk adik gue." ucap Kenan memeluk Saka.
"Apaan si loe melo banget. " ucap Saka, Kenan hanya tertawa lalu melepaskan pelukanya.
"Katakan apa yang kamu inginkan saat ini Sak, kami akan berikan" tanya Arion.
"Gue pengin nikahin adik kecil loe. " mereka kompak menatap Adel, Adel hanya tersenyum, sedangkan Kevin langsung menarik Adel dalam pelukanya.
Kalimat itu membuat mereka diam, hanya Adel yang memutuskanya. Perlahan Adel mendekati Saka, bahkan Kevin masih menariknya. "Sebentar Kev." pintanya kepada Kevin, Adel melepaskan genggaman tanganya.
Adel memeluk Saka erat. Lalu mengambil sesuatu di dalam sakunya. "Abang jangan main main." ucapnya kepada Saka dengan gemas. Adel memperlihatkan sebuah surat adopsian, bahwa mulai detik ini Adel akan menjadi adik adopsianya.
Flash Back On
Sesaat setelah Adel berganti baju, Saka menemani Adel makan di ruanganya, mereka tampak saling diam, hingga akhirnya Saka memutuskan untuk mengatakanya.
"Ra.... Temui Kevin, kamu merindukanya begitu lama dan menantikan moment ini jauh jauh hari kan." pinta Saka pasa Adel.
"Bagaimana denganmu?" tanya Adel bimbang, sejauh ini pengorbananya pun tidak akan bisa ia balas meski dengan sebuah ikatan pernikahan.
"Mau menikah denganku?" ucap Saka dengan nada becanda. Adel terdiam, tidak menjawab atau menyanggah.
"Aku mengerti hatimu Ra, sejak dulu hanya untuknya seorang. Dan meski kamu memaksa hanya akan menyakiti hatimu, hatiku dan hatinya. Cukup aku yang terluka, jangan bawa orang lain. Lukaku akan sembuh dengan sendirinya " Adel tertunduk, ia merasa menjadi perempuan yang paling jahat, karna entah sudah berapa kali menorehkan luka dihatinya, sudah berapa tahun membiarkan hati itu terus terluka karena mencintainya.
"Maukah kamu menjadi adik adopsiku Ra? " tanya Saka kepada Adel. Adel menatap Saka, bagaimana mungkin menjadi adik kaka, jika perasaanya masih sama terhadap Adel.
"..... " ia diam tak tau akan menjawab apa.
"Dengan aku menjadi kakakmu, rasa sayangku akan terus ada, dan rasa cinta itu akan menghilang seiring berjalanya waktu." Adel mengangguk, hatinya menghangat mendengar pernyataan Saka.
Saka memberikan surat adopsi yang ia rangkap dua, satu menjadi milik Adel dan satunya lagi milik Saka. "Sak terimakasih. " ucap Adel yang kemudian meluncurkan air matanya.
"Bahagialah bersama Kevin, jika kamu tak bahagia ada aku disini Ra." Saka menarik kepala Adel ke dalam pundaknya. Entah keberapa kalinya Saka melakukan hal ini, setiap kali hati Adel terluka, bahunyalah yang menjadi penawar lara, membuatnya tersenyum kembali melupakan rasa sakit hatinya.
Flash Back Of
Adel sudah tak akan takut kehilangan keduanya, panggilan abang akan selamanya tersandang oleh Arion, Kenan dan tambah satu lagi Saka. Ia tidak akan kehilangan keduanya.
"Gue pikir loe bakalan nikahin adek gue beneran" ucap Arion, dan diiyakan oleh Kenan yang juga merasa kaget.
__ADS_1
"Sebenarnya lamaranku sudah kuungkapkan entah beberapa kali, sayangnya adik kecilmu ini menolak mentah mentah. " Jelas Saka kepada mereka. Saka mengusap lembut rambut Adel, membuat mereka semua melihat betapa tulus rasa sayang Saka pada Adel.
Kevin mengambil tangan Saka di kepala Adel, yah masih saja ia cemburu kepada Saka. "Heh.... Sopan dikit sama kakak ipar loe." ucap Saka meledek Kevin. Mereka semua tertawa melihat Kevin dan Saka, kebahagiaan ini sudah lama Adel inginkan, sayangnya kebahagiaan ini kurang lengkap karna tidak ada Cila.
"Cila sudah di ruang VVIP, mari kita jenguk, dia menanyakan kalian semua. " jelasnya kemudian menggiring keluarganya keruang VVIP.
Sesampainya di sana benar saja, Cila begitu antusias menyapa mereka. Bercerita, tawa, canda yang bahkan tidak dapat diungkapkan betapa besar rasa bahagia ini.
"dad... Mom... Abang...
Pulanglah, ajak keluarga kalian pulang, kalian butuh istirahat, ini sudah tengah hari, kalian pasti akan sangat lelah jika harus seharian disini. Cila sudah membaik, dan hb nya pasti akan naik esok, nanti transfusi kedua masuk setelah 6 jam. "
"Baikah kita akan pulang, nanti sore kita akan kembali." ucap mereka, disusul dengan pamit pulang.
Setelah mereka satu persatu pulang keluarga Attala datang menjenguk. "Ra... Kamu pasti sangat lelah... Pulanglah, kita bisa bergantian menjaga Cila. " ucap Lea kepada Adel. Awalnya Adel tak mau pulang, namun dia juga butuh istirahat dan memutuskan untuk pulang terlebih dulu.
"Tant... Nitip Cila ya." pamitnya kepada mereka, ketika Adel keluar dari lobi rumah sakit sebuah mobil berwarna putih sudah terparkir, dibukanya pintu mobil tersebut dan..... Keluarlah sang pangeran hati.
Adel memasuki mobil Kevin, namun wajahnya cemberut. "Kenapa Ra. "
"Sebenarnya aku malas naik mobil ini " ungkapnya kesal, Kevin menaikan ujung alisnya, ada yang salah atau kenapa fikiranya berkelana jauh.
"Kenapa? "
"Aku benci mamakai bekas wanita lain, apalagi wanita itu tak selevel denganku." Kevin tersenyum, wanitanya masih saja cemburu.
"Biarpun ini bekas orang lain, tapi hatiku masih utuh milikmu. " gombal Kevin pada Adel
"Tetap saja, aku membenci dia wanita yang bahkan mengaku seorang guru tapi cara bicaranya seperti tak pernah kenal tatakrama" jelasnya, membuat Kevin tertawa
"3 tahun tak bertemu bicaramu semakin tajam Ra." ucap Kevin, Adel hanya tersenyum simpul.
"3 tahun tak bertemu bibirmu juga semakin manis kepada semua wanita." sindirnya membuat Kevin kesal. Sesampainya di apartemen Kevin, ia dengan cepat menarik dirinya, ia tidak terima jika dibilang menjanjakan ucapan manisnya untuk wanita wanita tak jelas seperti yang diucapkan Adel.
"Kamu mau apa Kev" Kevin tetap menarik Adel masuk ke apartemen Kevin.
"Kev.... "
"Aku ingin memberimu pelajaran karna bibirmu yang semakin tajam itu Ra. "
"Aku tidak mau. "
__ADS_1
"Aku tidak menerima penolakan Ra. "