
"Gue mau nikah. " ucapnya membuat mata mereka berdua sesaat melebar, tidak percaya dengan kabar yang dibawa Saka.
"Hah.... Nikah? " ucap Kenan dan Arion secara kompak. "Pergi kurang lebih 2 bulan pulang membawa kabar bahagia, gue penasaran seperti apa calon istri loe." ucap Kenan penasaran.
"Sebentar lagi dia kesini, soalnya lagi ada pasien tadi. " ucapnya ramah, yah mau bagaimana lagi, Saka yang sekarang lebih pendiam, dibandingkan yang dulu, usil apalagi ketika ada Adel, ia selalu mencari perhatianya darinya, berharap akan diperhatikan lebih oleh Adel.
"Bagaimana kabar Adel Ken? " mereka bungkam ketika ditanya Adel, bahkan Saka belum lama ini berjumpa denganya, dalam keadaan sangat memprihatinkan, leher penuh luka, dan dalam keadaan penuh dengan air mata. Ia hanya tau ceritanya dari Gean, yah tunanganya menceritakan tentang Adel yang hamil tanpa suami.
Namun Saka belum mengungkapkan kepada Gean siapa wanita yang selama ini mengganggu pikiran Saka, hingga dulu ia memutuskan pertunanganya dengan Gean. Entah akan ia ungkapkan atau tidak, mengingat menyebut nama Adel saja bagi Saka sangat menyakitkan. Goresan luka itu benar benar membuat Saka trauma.
"Dia sempat pulang kemarin dalam keadaan hamil, dan saat ini kabur bersama Kevin lagi. " ia tidak kaget, karna Gean sudah menceritakan detail keadaan pasienya yang bernama Adel.
"Assalamualaikum" suara halus lembut nan merdu itu milik Gean, yah ia baru datang disela sela kesibukanya di rumah sakit. Cantik itulah satu kata yang terucap dari Kenan dan Arion. Sayangnya Arion mengenal dokter tersebut.
"Bukanya kamu dr. Obsgin yang waktu itu merawat Ara. " tanya Arion yang memang mengetahui Ayra sempat berbincang bincang dengan dr. Gean. Arion yakin ia tidak salah duga, dunia sesempit ini, ternyata pasien dr. Gean adalah mantan kekasih calon suaminya.
"Maaf saya agak lupa, Ara siapa yah?" dr. Gean menanyakan dan mengingat - ingat kapan dan dimana ia bertemu, seingatnya tidak ada pasien yang bernama Ara.
"Adellaura Shava Arettha, dia adik saya yang mempunyai riwayat Trauma otak." Jelas Arion menjelaskan detail gadis tersebut. Saka terbelalak, bagaimana Arion tau kalau Adel mempunyai riwayat trauma otak.
"Sejak kapan Ara menceritakan penyakitnya kepada kalian? " tanya Saka penasaran. Arion dan Kenan menatap Saka, kenapa Saka bisa mengetahui hal itu, dan darimana ia tau.
"Bagaimana kamu tau Sak? " Kini semua mata tertuju kepada Saka, keduanya saling tatap, dr. Gean mulai bingung dengan arah percakapan mereka. "Jangan-jangan loe mau nikahin Ara karna loe tau penyakit Ara?" terka Kenan kepada Saka, membuat dr. Gean membulatkan matanya, hatinya berdenyut, rasa nyeri menyerang dadanya.
"Sungguh dunia ini sangat sempit, wanita itu..... Ternyata calon istri Saka yang tidak mencintai Saka, memanfaatkan Saka dan kabur bersama laki laki lain tepat dihari pernikahanya.
Saka tidak menjawab, ia menatap Arion dan Saka bergantian, mengkodekan bahwa ada calon istrinya di sini. Arion dan Kenan mendadak mengganti topik pembicaraan. Melihat dr. Gean yang menampilkan wajah sayup, membuat Saka merasa bersalah kepadanya "Kenalin dia calon istri saya, namanya Gean. " mereka saling berjabat, dan mengganti topik pembicaraan.
"Kapan nikah loe Sak? " Kenan mencoba mengganti topik pembicaraanya, sudah cukup Saka menyakiti Gean. Mengingat dirinya begitu lembut, dan tidak pernah menuntut apapun darinya.
__ADS_1
Flash Back On
Malam itu Saka dan keluarganya berencana menemui keluarga Gean, untuk membicarakan acara pernikahanya. Saka menemui Gean di rooftop rumahnya. Gean tampak menatap wajah Saka yang sedih, seolah ia tak ingin melanjutkan hubunganya ke jenjang yang lebih serius.
"Saka.... " ucapnya lembut, Gean tipikal wanita yang lembut dan tak pandai memikat seorang lelaki. Saka menatap Gean dengan wajah sedih, seolah mengatakan bahwa ia tidak mau melanjutkan hubunganya dengan Gean.
"Ge... Aku mencintai wanita lain. " hatinya sakit mengingat 6 tahun bertunangan dengan Saka, ia pikir Saka mencintainya, ternyata memang karakter Saka sangat lembut kepada semua wanita. Kepribadianya begitu mengagumkan, siapa yang tidak jatuh cinta padanya. Lelaki tampan, lembut dan berasal dari keluarga berada.
Gean mengalihkan pandanganya ke luar, ia tatap langit yang cerah yang mungkin memberikan harapan kepada Gean, sayangnya cerahnya langit bukan untuk Gean.
"Ge.... Ingat, jodoh tidak akan kemana, kamu akan bertemu dengan lelaki yang jauh lebih baik dari Saka, percayalah Ge kepada sang pembolak balik hati." ucapnya dalam hati, tanganya mengepal memberikan kekuatan kepada hatinya, bahwa lelaki didepanya bukan tercipta untuknya.
"Pergilah Sak, kejar cintamu, biar nanti aku yang menbuat alasan kepada orang tua kita. " pintanya kepada Saka, dengan tatapan sendu dan air mata yang hendak terjatuh.
"Kamu yakin? " Gean menatap Saka dengan menarik ujung bibirnya, meskipun sakit, ia akan berusaha tersenyum. "Terimakasih Ge. " ucap Saka yang kemudian menarik Gean turun ke ruang tamu.
"Yah, bun, Gean masih belum siap untuk menikah dengan Saka. " Saka memalingkan matanya menatap Gean, kenapa harus Gean yang mengatakan itu. Apa demi Saka, Gean rela melepaskanya dan mengatakan bahwa ia tidak siap untuk menikah.
"Ge... Kenapa begitu? " tanya kedua orang tua Saka yang sangat mengetahui bahwa Gean sangat menyukai Saka, Sakalah yang mencintai wanita lain. Karna memang ia sempat mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia tidak mencintai Gean, dan mencintai perempuan lain.
"Tunggu Gean selesai kuliah dulu tan. " alasan ini memang masuk akal, Gean menutupi sifat Saka yang mungkin bagi orang tuanya perilakunya sangat tidak pantas.
Flash Back Of
" 4 hari lagi, kita akan menikah. " jelas Saka kepada mereka berdua, "oh ia salam buat om dan tante, katakan padanya bahwa lusa aku akan menikah di Singapure, lalu acara di Indonesia 2 hari kemudian. " jelas Saka kepada Arion dan Kenan.
Melihat Gean yang bahkan tidak mengeluarkan percakapan, Arion dan Kenan mencari seribu alasan untuk pergi meninggalkan mereka. Atmosfir disana sudah mulai berubah, yang tadinya ramah menjadi terlihat marah. Sudah jelas setelah ini mereka akan bertengkar.
Sepeninggalan mereka berdua, Gean masih diam membisu, ia tidak bisa berfikir jernih, wanita yang sering ia ceritakan kepada Saka ternyata adalah mantan kekasih Saka. "Kenapa tidak memberitahuku Ka. " tanya Gean yang menahan sedikit amarahnya.
__ADS_1
"Aku takut kamu terluka. "Ucap Saka, bibirnya seakan manis memperhatikan Gean, tapi ia sedang menutupi luka hatinya yang mungkin lebih sakit karna bertemu dengan wanita yang meninggalkanya dalam keadaan seperti itu.
"Dia wanita yang tegar, cantik dan..... " kalimatmya terhenti oleh Saka yang berdiri dari sofanya.
"Sudah lah Ge jangan mengungkitnya, dia masa lalu aku, dan kita akan menikah lusa, apa tidak keterlaluan membahas hal seperti ini di hari dimana kita akan segera menikah." ucap Saka dengam mood sedihnya.
"Perasaan tadi kamu biasa aja ketika membahas nama Ara." ucap Gean mengungkit Adel. Lagi lagi Gean mengungkit namanya membuat Saka jengah.
"Ge.... Apa kamu tidak sakit mengungkit nama wanita yang sampai saat ini masih utuh di hatiku? " jelasnya dengan nada sedikit berteriak, kalimat itu lolos seiring dengan air mata yang tumpah ketika Saka mengungkapkan bahwa hatinya masih utuh milik Ara.
Gean menahan isaknya, ia meremas jari jemarinya, dadanya sakit mendengar kalimat itu. Gean mengambil tas kecil miliknya lalu berlari meninggalkan Saka. Saka saja tidak mengejar, mungkinkah Gean tidak ada artinya sama sekali oleh Saka.
*
"Ra.... " Kevin membanjiri pipi Adel, dengan ciuman mesra.
"Ra.... Sayang bangunlah, aku akan berangkat ke rumah sakit. " yah 2 hari ini Kevin resmi menjadi dokter di rumah sakit S, sebuah rumah sakit rujukan terbesar di Jogjakarta, atas rekomendasi temanya. Banyak wanita yang terpikat olehnya, bahkan menggodanya terang - terangan.
"Emmmmm...... " suaranya yang disusul dengan geliatan tubuhnya, membuat Kevin menatap indah tubuh istrinya. Kevin menutupkan selimutnya di dada Adel, karna bagain dadanya membelah menampilkan pemandangan yang sungguh menggoda.
"Ini masih pagi sayang jangan menggodaku." ucap Kevin kepada Adel, tubuhnya ia rengkuh dengan hangat. Adel masih mengucek matanya, membuat Kevin menanggkupkan kedua tanganya. "Jangan dikucek. " ucapnya yang kemudian meniup mata sang istri dengan penuh kehati hatian.
"Aku pengin disuapin. " ucapnya manja sambil mengedipkan matanya. Kevin dengan sigap memapah tubuh mungil Adel, kemudian ia dudukkan diatas sofa diruang santai. Disuapinya suap persuap makanan tersebut ke dalam mulut Adel hingga makanan tersisa sedikit.
"Ra, coba kamu lihat media sosial, sepertinya sedang ramai. " ungkap Kevin yang meminta Adel mengecek ponselnya. Adel mengurungkan niatnya, ia tidak mau nanti ada yang mengetahui alamatnya ketika mengecek informasi medsosnya.
"Udah ngomong aja Kev, ada apa si? " tanya Adel antusian. Kevin menelan ludahnya sendiri, istrinya ini lebih keras kepala ketika sudah menikah fikirnya.
"Saka menikah hari ini. " kalimat Kevin menghentikan langkah Adel yang sedang mencicipi makanan Kevin.
__ADS_1