Gadis Liar

Gadis Liar
57


__ADS_3

"Apa salahku padamu Ra, sampai kamu tega menyakitiku seperti ini. " kepalanya ia adukan dengan tempat tidur. Tanganya ia pukulkan dilantai dengan keras.


"Ra......... " lagi air matanya berderai mebasahi pipinya, sakit dihatinya sangat membekas. Hingga isakanya terdengar memenuhi kamarnya.


Perasaanya selama ini bertepuk sebelah tangan, entah sudah berapa lama, 10 tahun lebih ia mengorbankan segalanya untuk Adel, sayangnya hanya bertepuk sebelah tangan.


Bahkan Saka sering mencuri waktu mengunjunginya ke Indonesia ketika Adel sedang ada masalah. Ia selalu menemaninya ketika Adel sedih. Sayangnya hanya dipandang sebelah mata.


"Aku kecewa sama kamu Ra, seharusnya kamu tidak menawarkan pernikahan terhadapku, dan seharusnya aku menolaknya " ungkapnya yang hingga detik ini air matanya mengalir deras membasahi pipi.


Besok Saka sudah harus kembali ke Singapure menjalani kehidupanya sebagai penerus ayahandanya dan melanjutkan pertunanganya. Satu kesempatan yang ia minta terhadap ayahanda dan ibundanya untuk meyakinkan beliau bahwa Saka akan membuktikan kesuksesanya dan akan membawa calon menantu untuk beliau sudah berakhir.


*


Detik waktu menunjukan pukul 12.00, infus dengan bentuk stoper di tangan Adel sudah dilepas, kesadaranya berangsur pulih. Perlahan kelopak matanya ia buka. Tidur panjangnya membuat seluruh badanya kaku. Bau parfum khas yang familiar di hidupnya, sesaat membuatnya nyaman kembali. Pelukan hangat itu membuat Adel nyaman.


"Kevin..... " ucapnya lirih, kini matanya menatap dada bidang seorang lelaki yang begitu ia cintai. Tangan kirinya sebagai bantalan tidur Adel, dan tangan kananya memeluk perut Adel. "Kenapa bisa sedekat ini." Adel memiringkan tubuhnya lalu mengecup dagu milik Kevin. Membuat sang pemilik dagu mengeratkan pelukanya.


"Kenapa cuma disitu nyiumnya Ra. " ucap Kevin menggoda Adel. Sesaat Adel membelalakan matanya, ternyata Kevin tidak tidur, membuatnya malu menatapnya.


"Ahh.... Ternyata kamu gak tidur. " Adel melepaskan pelukanya, entah ia lupa atau belum sadar, atau bahkan karena penyakitnya ingatanya mulai menurun tentang pernikahan yang ia tinggal kabur. "Tunggu... " Adel mengingat ingat bahwa dirumahnya sedang mengadakan pernikahanya.


"Kev..... " Adel menegakkan tubuhnya, memorinya berputar ketika Ayra pamit pergi dan setelah itu ia tak sadarkan diri. Ia yakin sekali Ayra memberikan obat penenang kepadanya. "Kamu merencanakan ini dengan bang Ar dan Ayra, ia kan? " ingatanya 100 ℅ kembali dengan sempurna.


Tidak ada jawaban dari Kevin, semua yang Adel katakan benar adanya. Pergelangan tanganya berdenyut nyeri, ia tatap tangan itu hanya ada sebuah tusukan. "Bahkan kamu tega membuat aku tak sadarkan diri Kev " Adel menatap jam dinding sudah menunjukan pukul 13.00.


"Kamu..... "Adel memukulkan tanganya di dada bidang Kevin beberapa kali, air matanya mulai berjatuhan. Ia sadar saat ini semua orang sedang menyumpah serapah Adel sesuka hati mereka. Kevin memeluk kepala Adel dengan erat. "hiks... Hiks... Kenapa Kev.... Kenapa kamu tega lakukan ini. "


Adel memberontak ia bergegas keluar dari apartemem ini. Sayangnya ia tidak tau ini daerah mana. "Ini dimana Kev? Aku harus pulang. "Pintanya dengan nada marah. Tidak ada jawaban dari Kevin "Kevin... " teriaknya histeris.


Kevin memeluk balik Adel. "Sudah cukup Ra...." Pinta Kevin yang ikut meneteskan air matanya. Ia merasa sangat bersalah telah membuat Adel seperti ini. Kevin merengkuh tubuh Adel erat erat.


"Aku harus menikah sama Saka Kev, antarkan aku pulang. Mommy dan daddy ku pasti kecewa kepadaku. " ungkapnya dengan isakanya.


Kevin melepaskan pelukanya lalu memberikan 2 buku nikah lengkap dengan ktp dan KK nya. Adel membuka buku tersebut. Matanya membulat maksimal melihat namanya dan nama Kevin tertera didalamnya. "Apa maksudnya ini Kev? "


"Kita sudah menikah Ra. " pembuluh darahnya seakan mendidih, tanganya menggenggam erat buku pernikahan tersebut. "Bagaimana mungkin Kev.... Siapa yang menikahkan kita? "


Flash Back On

__ADS_1


Malam itu sesuai rencana Arion, Ayra akan datang menemui Adel, ia membawa sebuah terapi obat diazepam. Terapi obat yang digunakan untuk memberikan efek tenang kepada seseorang.


Ayra sengaja memancing Adel dengan menceritakan Kevin, fikiranya akan kalut ketika Ayra menyebut Kevin. Benar saja Adel meminum air yang dibawa Ayra.


"Bagaimana Ra? " Ayra mengacungkan jempolnya kepada Arion dan Kevin.


"Syukurlah akhirnya misi kita berhasil. Mereka menunggu waktu dimana semua penghuni rumah tertidur, sehingga dengan mudah Arion membawa Adel.


Tepat pukul 00.00 Arion membawa Adel ke dalam mobil, sesampainya didalam mobil, Kevin memasang infus di pergelangan tanganya. Efek samping obat tersebut hanya sementara dan ia harus mendapatkan lanjutan terapi.


Siang itu memang Arion sudah menyewa seorang penghulu untuk menikahkan mereka. Sempat terjadi cek cok karena walinya, namun melihat dari beberapa pertimbangan akhirnya penghulu memberikan solusinya dan menjelaskan tentang bab pernikahan.




Harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai;






Kedua hal tersebut diatur dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Perkawinan Tahun 1974 ("UU 1/1974")


Flash Back Of


"Pernikahan itu tidak sah Kev. " teriaknya kepada Kevin. Kevin tidak peduli, secara negara mereka resmi menjadi pasangan suami istri, dan tidak ada paksaan diantara mereka. Bahkan keadaan Adel yang setengah sadar digunakan Kevin untuk mengikrarkan sumpahnya.


"Aku masih punya orang tua, dan bang Ar tidak bisa menjadi waliku Kev. " Adel heran kenapa Ayra, bang Ar dan Kevin senekad ini, hingga menggunakan obat penenang demi melakukan hal gila ini.


"Abangmu masih wali nasab kamu Ra jadi pernikahan kita sah." kekeh Kevin kepada Adel.


"Antarkan aku pulang. " pintanya dengan memohon "Antarkan aku pulang Kev, setidaknya berikan aku ponselmu untuk menelfon keluarga di rumah. "Kevin menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya punya kamu sekarang Ra. " Adel menatap nanar wajah kekasihnya itu yang sangat ia cintai. Perlahan ia mendekat lalu memegang jari jemarinya.

__ADS_1


"Ra.... Aku meninggalkan semuanya demi hidup bersama denganmu. " jelas Kevin mantap, tidak ada keraguan sedikitpun ia mengambil langkah tersebut. "Kita akan pulang ketika suasana rumah sudah mereda, saat ini orang tuamu pasti sangat marah kepadamu. "


"Kamu tau orang tuaku akan marah lalu kenapa kamu menculikku dan menikahiku Kev? " Adel menundukan kepalanya diatas lutut yang ia tekuk.


"Membiarkanmu menikah dengan orang yang tidak kamu cintai Ra? " suara Kevin meninggi, seolah Adel menyalahkan dan menyesal telah menikah dengan Kevin.


"Tau apa kamu tentang cinta Kev, aku sungguh mencintai.... Saka. " ucapnya dengan penuh keraguan. Ia hanya mengada ngada. Kevin mengambil tangan Adel lalu meletakan diatas kepala Kevin.


"Bersumpahlah Ra bahwa kamu tidak mencintaiku melainkan kamu mencintai Saka. Maka aku akan melepaskanmu dan mengijinkanmu bersama Saka. " tangan Adel saat ini diatas kepala Kevin, bibirnya kelu, tak mampu mengucapkan kalimat tersebut. "Katakan Ra....! " Kevin membentaknya dengan keras, berharap bisa menyadarkan keegoan Adel yang begitu kuat.


Hanya sebuah tangis yang ia dapat dari Adel, lalu ia mengatakan dengan kalimat terbata. "Aku aku.... " Adel melepas paksakan tangan yang berada diatas kepala Kevin. Ia berpaling menatap jendela yang bahkan tempat itu sangat asing baginya.


"Kenapa Ra, kamu tidak bisa? " Kevin menantang Adel kembali untuk mengungkapkan tentang perasaanya. Lalu Adel membalikan tubuhnya dan menatap Kevin.


"Aku tidak mencintaimu Kev. Aku membencimu.... Sangat membencimu" ucap Adel dengan mantap seolah memberitahukan Kevin untuk menjauh dari hidupnya.


"Karna penyakitmu, atau karna ancaman Agni sehingga kamu sangat membenciku Ra? " Nadanya datar, seolah tidak ada penekanan, namun tatapanya mengintimidasi dengan wajah kecewa karna ketidakjujuran Adel kepada Kevin.


Deg


"Apa maksud kamu Kev? " Adel panik, ia takut seseorang yang bahkan seumur hidupnya tidak akan pernah ia beritahu tentang penyakitnya kini tau semuanya.


"Seberapa lama kamu akan merahasiakan ini Ra dan sampai kapan kamu akan mengorbankan dirimu demi keselamatanku dan kebahagiaanku? " Adel dibuat bungkam oleh Kevin, ia tau semua tentang rahasianya, tentang hal yang membuatnya ingin menjauh dari Kevin, dan tak ingin terlibat denganya.


" Apa Ayra memberitahukan ini kepadamu Kev? " kenapa sahabatnya tega mengatakan ini semua, bahkan ia berjanji tidak akan mengatakan kepada siapapun. Meskipun seseorang memintanya membuka rahasia mereka, mereka telah berjanji untuk menyimpan rahasia itu bersama.


" Sekarang jawab aku Ra, masihkah kamu menyangkal perasaanmu kepadaku setelah apa yang telah kamu lalukan untukku? " Adel menggelengkan kepalanya, ia kehabisan kata kata untuk menjawabnya.


"Betapa sakit aku Ra, kamu mengalami semua ini karna keluargaku, kecelakaan itu terjadi tepat setelah orang tuaku memintamu meninggalkan aku kan?Dan kamu masih melanjutkan hubungan kita sampai kamu..... " Kevin tak kuasa meneruskan kalimatnya. Adel dengan erat memeluk Kevin.


"Sudah cukup Kev, semuanya telah berlalu, jangan diungkit, aku tidak pernah menyalahkan siapapun dalam insiden kecelakaan itu. " jelasnya menenangkan Kevin.


"Tidak Ra, tidak seharusnya kamu menjadi tamengku ketika Agni melukaimu. Seharusnya kamu melawanya, kenapa kamu malah mempertaruhkan hidupmu demi aku." ucapnya keras membuat Adel tersadar bahwa perilakunya salah.


"Karna aku mencintaimu Kev. Bukanya kamu tau jelas jawabanya. " ucap Adel kepada Kevin. Ia mengakui perasaanya lagi. "Bisakah kamu berjanji Ra..." Adel melepaskan pelukanya lalu menatap Kevin yang masih dalam pelukanya. Adel menganggukan kepalanya.


"Jangan pernah merahasiakan apapun dariku lagi Ra! " pinta Kevin tulus kepada Adel. Adel hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Aku berjanji Kev, aku minta maaf karna telah membohongimu menyakitimu, meninggalkanmu dalam waktu yang sangat lama." ucapnya tulus minta maaf.

__ADS_1


"Sudah aku maafkan." mereka kembali mengukir senyum indah di bibirnya. "Bersediakah kamu menerima pernikahan ini Ra? "


__ADS_2