
Saka tertidur sambil memegangi tangan Adel. Suara khas monitor di ICU serasa biasa oleh Saka. Bahkan setiap malamnya Saka tidur di ICU demi Adel, sudah hampir 1 tahun ini ia tidur dengan memegang tangan Adel.
Saka membuka matanya, ia seperti memegang jemari yang bergerak. Yah tangan Adel merespon genggaman Saka. Saka mengucek matanya berkali kali. Ia melihat sendiri jemari Adel bergerak.
Saka edarkan pandanganya ke atas dilihatnya mata Adel yang mengedipkan kelopak matanya berulang. Bahagia satu kata yang tersirat dalam hatinya. Perlahan kelopak matanya terbuka membuat Saka benar benar bahagia. "Ara..... "
Kali ini kelopak matanya menampilkan bola mata dengan sklera berwarna putih dan pupil yang sama antara kiri dan kanan. Belum ada respon, Adel berusaha mengingat siapa lelaki didepanya. " Ara. " panggilnya, Saka mengecup tangan Adel, mengusap kedua pipinya lalu memeluknya erat. "Jangan mengingat apapun Ra. " pintanya kepada Adel dengan usapan tanganya di rambut Adel.
"S... ssa..... ka? " panggilnya lirih dan pelan, 6 tahun sudah bibir ini tak bisa berucap, kelopak mata pun telah lama tak menatap seseorang. Ingatanya berputar betapa orang didepanya sangat menyayanginya, dan berkali kali hati itu dilukai olehnya. "Saka"
Saka tersenyum, gadisnya belum melupakanya. Ia berdiri lalu memencet tombol bad bagian atas lalu memposisikan setengah duduk "Cukup Ra, jangan terlalu banyak mengingat." ketika Saka meminta untuk tidak mengingat, respon Adel adalah mencoba mengingat semuanya.
Kali ini ingatanya berputar tentang wajah tampan yang menggetarkan hati dan jiwanya. Bahkan gadis cilik yang sangat cantik mulai berteriak ditelinganya menghamburkan peluk dan ciumnya dengan panggilan bunda, kepalanya berdenyut nyeri. Matanya ia tutupkan membuat cairan kristal itu jatuh menggelinding di pipi halusnya.
"Berhenti Ra, akan berbahaya jika kamu berusaha mengingat semuanya!" bentak Saka, kali ini membuat Adel benar benar berhenti mengingatnya. Bukan karena tidak ingin mengingat, tapi karena memang ingatanya kembali sempurna.
"Bagaimana aku bisa disini Sak? " tanya Adel. Saka mendekat, lalu duduk di dekat Adel. Tanganya ia sususpkan di belakang rambut Adel hingga jarak mereka hanya bisa dihitung dengan inci.
"Keluargamu menyerah atas kehidupanmu." ungkap Saka. Ia dapat ingat, telinganya dapat mendengar ketika Kevin meminta maaf saat akan melepas alat bantu nafas yang terpasang padanya, setelah itu ia tidak mengingat apapun.
"Tahun berapa ini?" tanyanya mengalihkan pembicaraan kepada Saka. Ia ingat terakhir kali memapah Cila ketika usianya 6 bulan setelah itu ia menjadi pasien VPS.
"Sudah 7 tahun kamu terbaring di bad Ra." ungkap Adel, ia ingat jelas, perlakuan Kevin yang lembut, bahkan ketika ia menjadi pasien VPS dirinya menganggapnya seperti wanita normal dan spesial untuknya.
Adel diam, bukan karena ia tidak mengingat apapun, tapi ia tidak sedang ingin membicarakan apapun. Saka mengatakan keburukan tentang keluarganya. Itu yang menbuat Adel lebih memilih diam karna Adel tau yang diucapkan Saka tak benar.
"Kita akan melakukan pemeriksan menyeluruh kepadamu hari ini Ra." ucapnya disela diamnya mereka, yang dimaksud dengan pemeriksaan menyeluruh adalah pemeriksaan fisik head to toe dari kepala sampai kaki, lalu memeriksa laboratorium, penunjang medis meliputi rontgen thorak Ct scan dan MRY.
Satu hari ini Adel menjalani pemeriksaan menyeluruh, dan hasilnya menunjukan keadaan tubuh dalam batas normal. Sesampainya di kamar Adel merasakan lapar yang sangat hebat, yah asupan nutrisinya melalui selang, rasanya membuat Adel tidak kenyang.
Saka memasuki kamar Adel yang saat ini sudah berpindah ke ruangan VIP, dengan makanan yang ia beli diluar. Adel tersenyum, sejak dulu Saka memang selalu tau apa yang ia inginkan, dan selalu ada ketika ia butuhkan, bahkan sampai saat ini.
Setelah menikmati makan sorenya, Saka memberikan beberapa paper bag, isinya semua baju milik Adel, serta keperluanya.
Hari demi hari Adel lalui dengan fisiotherapis, seorang ahli yang membantu Adel membiasakan gerakanya yang masih kaku. Adel sangat bersemangat menjalani fisioterapi, ia sangat ingin berlari, agar nanti bisa menggendong Cila.
*
Sudah setahun lebih bahkan hampir 2 tahun semenjak hilangnya jenazah Adel. Keluarga Adel tak bisa menemukan keberadaanya, begitu juga keluarga Attala dan Markle. Membuat Kevin pusing, ditambah dengan keluarganya bahkan setiap hari meminta Kevin untuk bertemu dengan seorang wanita yang dijodohkan denganya.
__ADS_1
"Kenapa Kev?" tanya Arion heran melihat Kevin tampak frustasi. Kevin dengan lesu menjatuhkan tubuhnya ke sofa di rumah Arion. Yah Kevin sering datang ke rumah Arion, karna Cila sering disini bersama Derrick.
"Orang tua dan mertua kompak kompakan jodoh - jodohin lagi. " Kevin memijat pelipisnya, ia heran bahkan Adel saja belum jelas keberadaanya.
"Mereka tau yang terbaik buat Cila Kev. " jelas Arion menepukan tanganya di pundak Kevin.
Kevin bergegas pergi meninggalkan Arion "tau lah, pusing.... Ar gue cabut, nitip Cila, katanya dia pengin main sama Derick." ucapnya meminta tolong kepada Arion untuk menitipkan Cila pada Derrick.
"Ya siap." jawabnya, kemudian melihat Derrick yang sedang asik mengajari Cila. Saat ini Ayra dirumah, karna Derrick akan mempunyai adik kecil dengan jenis kelamin perempuan.
Tak lama teman teman Derrick datang membuat gaduh suasana ruang tamu. "Rick.... Temen temenya datang tuh." ucap Arion memberi tahu. Hari ini Arion meminta cuti, karna ingin menemani Ayra yang sedang hamil tua.
Usia Derrick saat ini sudah 14 tahun, ia duduk di bangku kelas 3 SMP. Sedangkan Adel berada di bangku kelas 2 SD. "Cila.... Temen temen abang mau datang, kamu mau gabung atau mau tidur?" tanyanya kepada Cila.
"Cila ikut aja bang. " jawabnya, kemudian ia bersama dengan Derrick menemui teman temanya.
"Siapa Rick? " tanya teman Derrick, mereka berjumlah 2 orang, yang satu cuek yang satu suka tebar pesona.
"Kenalin adekku." Jawab Derrick memeperkenalkan Cila kepada sahabatnya yang bernama Abi dan Dilan. Dilan berbisik kepada Derrick yang jelas ia langsung tertarik terhadap gadis ingusan itu. "Rick punya adek secantik ini gak dikenalin sama gue." ucap Dilan pelan ditelinga Derrick namun masih terdengar di telinga Cila.
Cila dengan ramah mengulurkan tanganya kepada kedua temanya. Abi bahkan tidak mau repot repot menjabat tangan Cila, dengan nada sombongnya menyedekapkan tanganya di dadanya, membuat Cila memanyunkan bibirnya.
Berlawanan dengan Dilan, dia malah langsung mencium pipi Cila dengan lembut.
"Edan loe Lan." ledek Derrick dengan nada sedikit marah, jelas saja marah itu adiknya. Derrick mendorong Dilan yang posisinya sangat dekat dengan Cila. "Itu adik gue bege, jangan loe mainin." ancam Derrick pada Dilan.
"Cih... Murahan." jelas Abi dengan nadanya yang mengejek, entah siapa yang dicap murahan, namun kalimatnya mampu mengusik Cila, dan membuat Cila kesal terhadap Abi.
"Abang, Cila ke dalam ajalah, sama tante Ayra. Sebel sama temen abang yang mulutnya kaya mercon" ucapnya dengan nada sedikit jengkel. Dilan dengan cepat menarik tangan Cila.
"Inget ucapan gue, kelak loe akan gue jadiin pacar. " senyum Dilan mengembang, menaik turunkan alisnya. Lain dengan Abi yang jengah melihat kelakuan sahabatnya yang play boy ini.
*
"Bersiaplah Ra, aku akan mengajakmu ke suatu tempat! " pinta Saka kepada Adel. Adel melajukan kursi rodanya. Lalu berganti baju dengan pakaian yang cantik menurutnya.
Saka dan Adel menaiki jet pribadi, Adel saja heran kenapa Saka mengajaknya pergi jauh. Entah berapa lama, karna authornya gak tau waktu tempuh dari Jerman ke Eropa.
"Kenapa kesini Sak? " tanya Adel yang sudah tiba di belahan Eropa tepatnya di Islandia tempat yang sering muncul Aurora borealis.
__ADS_1
Aurora adalah fenomena alam yang menyerupai pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer, yang terlihat di Kutub Utara atau Selatan. Tampilannya mirip lampu warna-warni biru, merah, kuning, hijau, dan oranye bergeser dengan lembut dan berubah bentuk seperti tirai yang bertiup lembut.
Aurora Borealis adalah Aurora yang berada di belahan bumi utara.
"Hari ini ada Aurora Borealis, aku ingin mengajak kamu kesana." jelasnya kepada Adel.
Hampir seharian ini mereka berkeliling di sini, tepatnya sore hari menjelang malam, Aurora borealis mulai tampak. Banyak wisatawan dan penduduk pribumi yang menyaksikan fenomena alam indah ini.
Indah, fenomena ini benar benar membuat hati luluh. Namun tidak dengan Adel, ia mengingat Kevin kembali, sosok kelaki yang selalu ada dalam fikiranya. Hampir saja air matanya menetes keluar karena sangat merindukanya.
Saka dengan cepat berjongkok di depan Adel, lalu mengecup bibir Adel yang berwarna ranum itu. Memang tidak ada penolakan, namun air mata Adel menjawab semuanya.
Saka melepaskan tautan bibirnya. "Kenapa Ra?" tanya Saka, ia berharap membawa Ara kesini akan meluluhkan hatinya. Adel menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa mengungkapkan hatinya saat ini.
"Ra, aku masih mencintaimu, maukah kamu kembali bersamaku?" tanya Saka kepada Adel dan memberikan sebuah kotak berisi cincin. Ini adalah cincin pernikahan mereka 8 tahun yang lalu.
Air matanya begitu deras, hatinya sakit mendengar ungkapan Saka. "Aku.... tidak mencintaimu Sak." jawab Adel dengan isaknya.
"Maka buatlah perasanmu mencintaiku Ra. " paksa Saka yang menatapkan wajah Adel pada wajahnya. Adel dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Ra.... " Suaranya naik 1 oktaf. "Mengorbankan cintamu demi seseorang yang telah menyelamatkanmu.... Tidak bisa kah kamu lakukan sebagai balas budi Ra? "
"Maaf Sak.... Hatiku milik Kevin, seutuhnya miliknya."
"RAAAAAA.... " teriaknya, membuat Adel berjingkrak karna kaget.
"Saka.... " teriak Adel balik, berusaha membuat Saka sadar bahwa tidak ada ruang dihatinya untuk Saka.
"Lalu untuk apa aku menyelamatkanmu Ra, jika kamu tidak bisa bersamaku. "
"Aku tidak minta kamu untuk menyelamatkanku Sak, dan kalau aku harus memilih, hidup bersamamu atau mati dengan membawa cinta Kevin, maka aku akan memilih mati dengan membawa cinta Kevin, bukan hidup bersamamu Sak" ucapnya dengan berderai maghligai air mata di pipinya.
"Deg" Saka terkulai lemah jawabanya membuat ia sakit hati, benar benar sakit hati, tapi inilah jawabanya. Jawaban yang sejak dulu tidak bisa berubah dari diri Adel.
"Kamu.... cinta.. per.. tamaku Ra. " Suaranya serak penuh dengan isakan.
"Kevin juga cinta pertamaku Sak. " balasnya seimbang dengan jawaban Saka.
__ADS_1
"Kevin sebentar lagi akan menikah dengan orang lain Ra" Lagi lagi Saka memperkeruh suasana antara Adel dan Kevin.
"Tak apa Sak, meskipun aku hidup kembali, maka akan aku simpan cinta Kevin tanpa harus memilikinya. "