Gadis Liar

Gadis Liar
86


__ADS_3

📞"kondisinya stabil bos, kita akan segera berangkat ke Jerman. "


📞" Kita ketemu disana, siapkan operasinya, pastikan tanda vitalnya baik! " pinta Saka, lalu menutup telephonya.


Sudut bibirnya melebar sempurna tidak sia sia ia berakting seolah tidak tehu apapun."Maaf Kev, kali ini aku yang akan menang, dan akan berada di samping Ara selamanya."


Saka mengusap ujung bibirnya yang terluka akibat perkelahianya dengan Kevin. Demi apa coba, hanya demi menguatkan aktingnya, Saka mengambil resiko ini. Kehilangan Gean dan calon putranya sudah menjadi pukulan berat baginya.


Sekarang hanya sisa satu wanita yang memang sejak bertemu denganya hatinya tak bisa berpaling. Gean wanita yang sangat baik itu memang menjadi sahabatnya sejak kecil. Namun rasa sayangnya hanya sebatas seperti saudara.


Kebaikan Gean dibandingkan keras kepalanya Adel jauh lebih menarik dan menantang bagi Saka, dan itu adalah alasan Saka mencintai keunikan Adel. Wanita ini sejak pertama kali bertemu memberinya kesan buruk, namun lambat hari membuat hatinya membeku, dan tak bisa berpaling.


Adel adalah Cinta pertamanya, ia marah ketika tahu keluarganya menyerah akan Ara. Bahkan usaha menyembuhkan Ara belum maksimal. Itulah kenapa Saka menculik Ara ketika keluarganya telah menyerah terhadapnya.


Flash Back On


Tepatnya 5 tahun yang lalu ketika Saka mengunjungi Adel pertama kali. Ia melihat susunan monitor disana. Sambil melihat betapa parah keadaan Adel, Saka melihat hasil pemeriksaan penunjang lengkap dari pemeriksaan fisik, laborat, CT scan, MRY, dan semua yang mencakup tubuh Ara.


Sistemnya sangat bagus, bahkan Alarm disetel keseluruh ruangan ketika terdapat keadaan buruk seperti code blue, code red, dan keadaan mengancam jiwa lainya. Bukan hanya itu, sistem monitor disini bisa disambungkan ke dalam ponsel dengan mudahnya. Sehingga membuat Saka menyambungkan rekaman cctv ke dalam ponselnya.


Code Red (Kode Merah) merupakan kode yang menunjukkan adanya bahaya kebakaran, sehingga dapat segera mungkin melakukan evakuasi dan pemadaman api agar kobaran api tidak melebar luas.


Sejak saat itulah Saka dapat melihat perkembangan Adel. Semua percakapan di ruangan tersebut tersambung jelas dengan ponselnya. Itulah yang membuat Saka merancang ide segila ini.


Tepat 2 jam sebelum Kevin memutuskan akan melepaskan semua alat bantu pernafasan Adel, Saka meminta seseorang menyuntikan therapi untuk menghentikan jantungnya.


Therapi itu hanya berfungsi 3 jam. Setelah memberikan therapi tersebut seperti dugaan Arion, ia meneteskan therapi tetes mata dan berefek pada pupil yang melebar maksimal.


Sesaat sebelum Kevin melepaskan alat tersebut keadaan irama jantung sudah mulai Asistole, namun Kevin tidak memperhatikan hal itu. Setelah melepas semua alat, dokter dan ustad menyatakan kematianya. Untung saja ustad menyarankan agar cepat dilakukan pemulasaran jenazah. Sehingga waktunya yang hanya tinggal 30 menit itu tidak akan sia sia.


Setelah melumpuhkan petugas pemulasaran jenazah Saka dengan cepat membawa Adel ke dalam mobil jenazah. Didalam mobil jenazah, Saka menyuntikan therapi yang dapat meresusitasikan jantung Adel.


Sesaat jantungnya memang tidak kembali hingga Saka menyatukan tanganya menjadi tinjuan atau bogeman dan menghantamkan pada dada sebelah kirinya dengan keras. Bukan hanya sekali hampir 3 kali irama jantungnya belum kembali.


"Bugh"


"Bugh"


"Bugh"


Saka mengalami waktu putus asa yang berat. Air matanya saja sudah mengalir. Ia takut tidak dapat mengembalikan irama jantung Ara. "Ra kumohon bangunlah" matanya ia tutup membuat cairan kristal mengalir deras. "Ra.... "


"Bugh"

__ADS_1


"Bugh"


"Ra..... " irama jantungnya kembali, pupilnya sudah isokhor kanan dan kiri. Barulah Saka bernafas lega. Matanya terbuka namun tetap saja ia membutuhkan ventilator. Saka dengan cepat memasang Endotracheal tube yang ia bawa. Lalu memencet ambu bag dengan hitungan 1 sampai 5 dan memencet ambu tersebut setengahnya. Karna jika terlalu keras akan memecahkan alveoli di dalam paru.



Gambar Ambu bag


"Bersiaplah untuk transfer pasien ke luar negeri. Aku akan pulang untuk merubah strategi terlebih dulu. " pinta Saka yang kemudian pulang ke rumah. Kecurigaan Kevin seperkiraan dengan Saka. Ia tidak ingin Kevin mencurigainya makanya ia menemui dan berpura pura untuk mengelabuinya.


Flash Back Of


Saka berjalan membawa mobilnya. Tidak ada barang yang ia bawa. Ia hanya membawa mobilnya lalu singgah di bandara, untuk menaiki jet pribadinya. Hanya sampai di bandara transit Bandara Changi adalah bandara transit terbaik. Selain tempat kelahiran Saka juga mengecoh Kevin yang jelas jelas akan mengawasinya.


Ia kenal betul dengan Kevin, seseorang yang tidak akan berhenti sampai disini, ia akan memata matainya sampai kecurigaanya benar benar hilang. Itulah Kevin, teman sewaktu SMA nya, mereka terhitung dekat, hanya saja perselisihanya dengan Kenan membuat Kevin menjauh dari ketiganya.


*


"Bagaimana Kev?" tanya Kenan, mereka masih stay di kediaman Arettha. Yah mau bagaimana lagi, Kevin akan tinggal disana, demi Cila mendapat kasih sayang seorang nenek, memang tidak mendapat kasih sayang dari seorang ibu, namun neneknya dan Zela mampu menggantikan sosok Adel bagi dirinya.


Terlebih lagi Derrick dan Ayra yang juga setiap satu pekan menginap disana, demi Cila yang membutuhkan perhatian lebih setelah kehilangan bundanya. Derrick, Cila dan Kean putra Kenan dan Zela bernama Kean Pribumi Aretha. Selisih Derrick dan Cila 7 tahun, sedangkan usia Cila dan Kean berselisih 1 tahun kurang.


"Bukan Saka." ucapnya lesu. Lalu menjatuhkan tubuhnya pada sofa empuk di deretan orang orang yang menatap dengan wajah sedihnya.


"Daddy juga."


"Om juga. "


Arion menganggukan kepalanya. Begitu juga dengan Kenan. "Kita akan cari Ara bersama Kev." jelasnya membuat Kevin seketika merasa bahwa kekuatan keluarga ini sangat kuat, tiba tiba rasa hangat dan tentram menerobos hatinya. "Coba dulu mereka akur, kejadianya tidak akan seperti ini." batinya


"Istirahatlah Kev, kami tau kamu tidak bisa tidur sejak semalam." pinta mereka. Kevin dengan cepat menganggukan kepalanya. Ia lelah, sangat lelah dan ingin mengistirahatkan hatinya. Rasa sakit dan sedih bercampur menjadi satu.


"Dimana Cila mom? " tanya Kevin. Ia sangat merindukan Cila. Wajahnya yang sangat mirip dengan Adel akan mampu mengurangi rasa sakitnya.


"Dia di kamar Ara Kev." jawab mommy nya. Dengan cepat Kevin berjalan ke kamar Adel.


"Ceklek" dilihatnya peri kecilnya yang sangat cantik. Gadis kecil yang sudah mulai mengerti apa itu kasih sayang. Ia sangat dekat dengan Kevin, bahkan ia akan dengan cepat memeluk ayahnya itu ketika melihatnya. Memang benar kata orang tuanya dan mertuanya ia butuh kasih sayang seorang wanita.


Mungkin setelah ini, ia akan dicarikan kekasih lewat perjodohan. Dan mau tidak mau ia harus menerimanya demi Cila. Kevin tipe penyayang, dan lembut. Meski kadang ia terlalu tegas kepada Cila. Namun untuk masalah pengganti bunda untuk Cila. Kevin tak bisa mengambil keputusan.


Sudahlah itu urusan nanti, dengan siapa wanita itu, tidak akan berpengaruh terhadapnya. Kevin akan tetap mencintainya. Kevin menginjakan kakinya pertama kali di kamar ini, karna selama 4 tahun ini Kevin tinggal di rumah sakit.


Begitu banyak kenangan di kamar ini, membuatnya tersenyum bahagia. Hampir 1 jam, Kevin terbawa suasana kenangan yang manis bersama Adel. Barulah ia beranjak dengan cepat membersihkan dirinya lalu ikut merebahkan dirinya di samping Cila.

__ADS_1


*


Jerman adalah negara tujuanya, disinilah Adel berada, Saka berjalan menuju ruangan operasi. "Bagaimana operasinya sudah siap? " tanyanya kepada kru operasi yang sudah siap dengan jubah jubahnya.


"Mess" Saka menerima pisau bedah, lalu menggoreskanya perlahan pada kepala yang sudah tidak ada rambutnya. Ia goreskan di bagian terluar Durachmater lalu berlanjut pada Piamater, setelah terlihat jaringan yang mirip laba laba disebut Arachnoid, begitu seterusnya.


"CCH" Saka mulai mengebor bagian tengkoraknya lalu mengambil flap Adel. Operasi selesai, dan flap Adel tetap akan dibiarkan selama beberapa bulan. Saka selalu mempelajari kondisi fisiologis Adel dengan cermat.


Semua cara akan ia lakukan demi Adel. Bahkan jika kemungkinanya sangat kecil akan Saka lakukan demi Adel kembali ke dunia ini.


6 bulan kemudian Saka memasangkan flap tersebut, sayangnya Saka bukan dukun, dan keajaaiban seperti di televisi tidak datang pada dunia mereka.


"Kita lakukan operasi lagi." ucapnya setelah beberapa bulan pemasangan flap namun Adel belum juga kembali. Ia mengingat bahwa ginjal dan jantungnya memang mengalami kerusakan.


"Apa kamu gila Sak? " ucap Arkan. Yah dr. Arkan memang bersama Saka, membantunya. Meski tak sebesar rasa cinta Saka pada Adel, Arkan peduli kepada Adel.


"Mundurlah jika kamu tidak berani. " pinta Saka kepada Arkan untuk menyerah. Arkan dengan cepat nelepaskan jubahnya. Ia tidak mau mengikuti Saka yang gila. Gila karna cintanya, buta karna hasrat ingin memilikinya.


"Aku pergi." ucap Arkan. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan yang dingin itu. Orang orang di ruangan ini seperi robot, yang mengotak atik tubuh manusia tanpa hati nurani.


"Tunggu.. " cegah Saka pada Arkan, membuat langkahnya menetap pada lantai berwarna putih.


"Jika Kevin tau bahwa Ara ada bersamaku, bahkan sampai anak dan istrimu akan aku kejar Ar. " ucap Saka mengancamnya.


Arkan membalikan kepalanya lalu berkata " aku bukan seseorang yang menjual informasi demi menghianati persahabatan kita Sak. " jelasnya disusul langkah yang lurus, maju ke depan tanpa menengok ke belakang kembali.


"Kita lakukan transplantasi ginjal dan jantung. " ucap Saka, membuat Kru nya melotot, tak lama beberapa dokter masuk ke ruangan, lengkap dengan dr. BTKV dokter penyakit dalam dengan sub spesialisnya yaitu dr. Sp. PD-KGH.


KGH adalah Konsultan Ginjal Hipertensi


Hampir 10 jam operasi berlangsung, dan operasi ini belum selesai, silih berganti, hingga lelah dan mengantuk operasi belum juga selesai. Saka saja sudah berganti dua kali dan beristirahat. Mereka melakukan operasi secara bergantian.


Melakukan operasi craniotomi, dan transplantasi secara bersamaan membuat mereka bekerja ekstra. Tidak cukup 25 dokter, bahkan dengan 10 perawat, mereka hampir saja tak sangggup menyelesaikanya.


Lampu berganti dengan warna hijau setelah 12 jam. Pasien siap dibawa ke ICU untuk mendapatkan pemantauan khusus. Saka tertidur sambil memegangi tangan Adel. Suara khas monitor di ICU serasa biasa oleh Saka. Bahkan setiap malamnya Saka tidur di ICU demi Adel, sudah hampir 1 tahun ini ia tidur dengan memegang tangan Adel.


Saka membuka matanya, ia seperti memegang jemari yang bergerak. Yah tangan Adel merespon genggaman Saka. Saka mengucek matanya berkali kali, ia takut ini hanya mimpi. Ia melihat sendiri jemari Adel bergerak.


Saka edarkan pandanganya ke atas dilihatnya mata Adel yang mengedipkan kelopak matanya berulang. Bahagia satu kata yang tersirat dalam hatinya. Perlahan kelopak matanya terbuka membuat Saka benar benar bahagia. "Ara..... "


Bonus Visual dr. Saka


__ADS_1


__ADS_2