
"Dengan siapa Ra? " spontan kedua abangnya menanyakan siapa calonya kepada Adel. Adel menatap kedua abangnya yang tampak kompak dan penasaran. "Saka.... " ungkapnya menyebut nama Saka. Membuat mereka terbelalak.
"Tidak boleh Ra. " lagi ucapan mereka kompak juga membuat Adel heran, ada apa dengan kedua abangnya dan Saka.
"Daddy dan mommy juga gak setuju Ra" Ucap daddy dan mommy nya yang tiba tiba masuk kamar bang Ken. Adel menatap kedua orang tua dan abanya, bukanya Saka itu baik, dia bahkan dekat dengan kata sempurna baginya. Dia yang mencintai tanpa pamrih, ia yang tak harus bertanya tapi tetap ada dalam duka.
"Kenapa sih, kalian semua menentang? " Adel menjatuhkan tubuhnya di bed berukuran zize. Kamar pengantinya bukan disini ya, di kamar baru dan yang pasti sudah didekor sedemikian rupa dengan penuh bunga mawar. Berbeda dengan Arion yang langsung menempati apartemenya, karna mereka sudah punya anak, sehingga mereka tinggal berpisah dari orang tuanya.
"Ra, biarpun Saka tulus sama kamu, tapi hati kamu bukan untuknya, itu tidak adil Ra, kalian tidak akan bahagia. " ungkap Arion kepada Adel. Kenan juga menganggukinya.
"Semua orang tau jelas kenapa sampai saat ini kamu belum mempunyai pacar karna kamu masih mencintai Kevin. "Jelas Kenan.
"Apa sejelas itu sampi kalian kompak menentang hubungnku dengan Saka. " mereka dengan kompak menganggukan kepalanya.
"Daddy saranin, kamu bicarakan ini baik baik sama Kevin, kamu menghindarinya tapi hatimu jelas menginginkanya Ra. Daddy gak mau kamu mengambil pilihan yang salah, dan menyesal kemudian hari. " daddy mengusap kepala putrinya yang menurutnya masih sangat manja.
"Sayang, jika ada masalah bicarakan dengan Kevin, bukan lari, kamu sudah dewasa, jadi berikan alasan kenapa kamu tidak bisa bersama Kevin lagi" momminya menepuk pundak putrinya. Adel menghembuskan nafas beratnya, dan membuangnya kasar.
"Ara gak tau kalian kenapa gak mau terima Saka, jelas jelas Ara putus sama Kevin udah hampir 5 tahun yang lalu. Sudah tidak ada yang perlu di bahas antara Ara dan Kevin. " Adel berjalan dengan wajah suram menuju kamarnya. Ditutupnya kasar kamar Adel, membuat mereka semua menggelengkan kepalanya.
Air matanya sesaat berjatuhan, hatinya saja bimbang, tenggorokannya mulai menggondok. "Ya Alloh sebegitu berat jalan yang aku lalui, apa karna aku tidak pernah mengingat Mu ya Alloh " ungkapnya yang menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.
*
Pagi kabut musih menutup pandangan mata, kedua abangnya sudah bersiap dengan jasnya. Daddy mommy, ayah bunda Letta sudah cantik dengan riasanya. Detik waktu menunjukan pukul 07.30. Sayangnya Adel masih stay dengan selimutnya, mengingat semalam moodnya kurang baik, daddy dan mommy tidak berani membangunkanya.
"Mba Araaaaa.... " teriak Letta yang sudah sangat cantik dengan gaunya, yah gadis itu sudah berumur 12 tahun, ABG yang sangat cantik menurutnya.
"Ya ampun Letta, kamu brisik banget si. " Keluh Adel yang menutupkan bantalnya di telinganya lagi. Letta menarik bantal yang tertutup di wajah Adel.
"Ihh kamu jahat banget deh Ta. " keluh Adel yang mulai mengerjapkan matanya. "Letta kamu sudah cantik? " tanya Adel pada adiknya itu.
"Ia mba Ara, ijabnya udah mau dimulai. " Adel membelalakan matanya, dan berlari ke kamar mandi, Letta dengan lantang menertawai mba nya itu yang berhasil dikerjainya.
30 menit Adel sudah cantik dengan riasanya, begitu mengejutkan karna memang Adel sangat pandai berias. "Mba gak kalah saing kan Ta sama kamu? " Letta mengerjapkan matanya karna Letta akui mba nya itu sangat cantik.
"Ia si, tapi sayang...... "Letta menaikkan kedua alisnya, ia tidak tau apa yang dimaksud dengan Letta karna mengatakan ada pengecualian dirinya. "Apanya yang sayang Ta? "
__ADS_1
"Gak punya pacar Wlee..... "Letta berlari dan dikejar oleh Adel. Membuat semua tamu undangan terfokus pada mereka.
"Ahh... " heels yang digunakan Adel terpleset membuat Adel kehilangan keseimbangan.
"Grep" Saka menangkap Adel dengan erat, ala ala brydal style, dan Kevin yang masih dengan posisi akan menangkap Adel. Adel menatap Saka saksama ia tampak elegant dengan jasnya. "Hai Saka? " Letta berbalik menatap mba nya yang sedang melakukan adegan romantis menurutnya.
"Maukah kamu menjadi pacarku? " Ucap Saka asal kepada Adel, membuat Letta berbalik berjalan dan mendekati Adel. Kevin yang mendengarnya langsung menarik Adel dari posisnya.
"Wah mba.... satu tepuk dapet dua mangsa. " ucap Letta yang melihat Saka dan Kevin berada di samping Adel. Adel dan Saka membenarkan posisinya, karna menjadi pusat perhatian banyak orang. "Letta... Kamu tuh ya, seneng banget godain mba. "
"Kabur.... " ucap Letta. Adel berlari mengejar Letta yang meninggalkanya. Adel lebih baik ikut kabur, mengingat dua lelaki yang selalu menciptakan atmosfir hitam jika bertemu pasti berantem.
Acara pernikahan sangat hikmat, hingga terdengar suara "Sah" dua kali, keempat mempelai sangat bahagia. Derrick yang sedari tadi menarik narik Letta karna Derrick ingin menikmati hidangan makananya.
Disini juga ada Ayla, yah walau bagaimanapun, Ayra masih punya orang tua. Mereka saling sungkem kepada orang tuanya.
Flash Back On
Sore itu Arion dan Ayra datang ke rumah sakit karna mendapat kabar dari Adel bahwa putri Ayla dirawat. "Assalamualaikum, Arion mengetuk pintu ruang rawat putri Ayla.
"Masuk.... Maaf dokter mau bertemu dengan siapa ya. " tanya ibu Ayla itu. Ayra yang bersembunyi dibelakang tubuh Arion pun keluar seperti anak kecil yang punya salah.
"Kami baik bu, cucu ibu juga sangat baik." jelasnya dengan terbata, ia sudah mempersiapkan mentalnya ketika ia akan kena marah lagi.
"Dimana dia Ra? " tanya ayahnya, Ayra hanya menggeleng dan tak menjawab.
"Anak kami sedang sekolah pa bu. " mereka membulatkan matanya mendengar kalimat anak kami dari lelaki tersebut.
Arion berlutut didepan orang tua Ayra disusul oleh Ayra yang menanting Arion. Arion meminta maaf atas apa yang dialami oleh Ayra. "Pa, bu, besok kami akan melaksanakan pernikahan kami, dan kami ingin meminta restu dari kalian. " ucap Arion.
"Apa maksudnya Ra? " tanya ibunda Ayra. Setelah itu Ayra menjelaskan semuanya kepada orangtuanya "Kami merestui kalian, semoga kalian bahagia selalu. "
Flash Back Of
Setelah mereka selesai sungkem, adalah acara melempar bunga dari keempat mempelai. Dimulai dari Ken dan Zela yang secara bersama melemparkan buket bunganya.
3
__ADS_1
2
1
"Grep" semua mata tertuju melihat Adel dan Kevin menangkap bunga bersama. Fotografer pun mengabadikan momen tersebut. Melihat lawan yang sedang memegang buket bunga tersebut Adel melepaskanya. Ia mulai salah tingkah karna kebetulan sekali buket bunga itu jatuh ke tangan mereka berdua.
"Buat kamu aja. " ucap Adel yang kemudian menjauh dari Kevin. Berharap kejadian tadi tidak terulang kembali, karna banyak tamu undangan yang berasal dari rumah sakit. Untuk mempelai Arion dan Ayra mereka sangat antusias melemparkan bunganya, sehingga bunga tersebut melambung jauh, Adel memundurkan badanya ingin menangkap bunga tersebut.
"Grep" bunga tersebut digapai oleh Saka yang sedari tadi memperhatikan Adel dan Kevin. Saka berjalan membawa buket bunga menuju Adel, lalu berlutut didepanya. "Ra maukah kamu menjadi kekasihku? " ungkapnya sambil berlutut dan memberikan bunganya kepada Adel.
Lengan kokoh yang mulai menegang, dan kepalannya semakin kuat, venanya nampak jelas menandakan sang pemilik tangan merasa emosi melihat Adel menerima bunga tersebut dengan senyum yang mengembang." Cinta segitiga diantara mereka baru dimulai. " ucap Kenan.
"Tapi tetap saja, tidak ada diruang dihatinya Ken, semua kisahnya hanya tentang Kevin, dan hanya Kevin yang bisa membahagiakanya. " jelas Arion, Ayra hanya menganggukan kalimat suaminya, ya status mereka semua suami istri, jelas saja Ayra sekarang harus patuh kepadanya.
Adel menganggukan kepalanya, lalu menerima dan mencium buket bunga tersebut. Saka mengeluarkan sebuah kotak yang terpampang indah sebuah cincin dengan mata berwarna pink. Adel mengulurkan jarinya agar Saka dapat menyematkan cincinya di jari Adel.
Kevin mengusap wajahnya yang air matanya seperti akan jatuh, ia berlalu meninggalkan kerumunan itu. "Mereka resmi menjadi sepasang kekasih. " ucapnya yang meninggalkan kerumunan tersebut.
*
"Dimana dr. Shava?" Kevin menuju IGD menemui Adel. Desi tampak takut melihat aura Kevin yang seakan menelan orang. "Di kamar dokter dok. " ungkap Desi kepada Kevin.
Kevin berjalan masuk ke dalam kamar dokter yang dikhususkan dokter beristirahat. Tidak ada orang tapi terdengar gemericik air yang berjatuhan di kamar mandi. Kevin masih menunggunya, ia ingin memastikan hatinya sekali lagi. "Astaghfirulloh.... Kevin! Ngagetin aja. "
Kevin tidak merespon keluhan Adel, ia mendekatkan tubuhnya kepada Adel, namun Adel menjauhkan tubuhnya selangkah demi selangkah hingga ia jatuh diatas bed yang kecil. "Apa mau kamu Kev." Adel memalingkan wajahnya, ia tidak mau menatap wajah Kevin yang berjarak beberapa inci diatasnya.
"Putuskan Saka." kalimatnya begitu berat hingga membuat jantungnya bergetar. Adel masih diam, dan bingung mau menjawab apa.
"Ra putuskan Saka!! " teriak Kevin kepada Adel. Adel memberanikan diri untuk menatapnya. Kini sapuan nafas yang mengenai kulitnya terasa hangat. "Tidak akan, aku tidak akan memutuskanya." tolak Adel. Membuat Kevin menindih tubuh Adel yang kemudian memekik suaranya karna ia ingin meprotesnya tindakanya.
"Putuskan dia Ra.... Atau.... " kalimatnya berhenti lalu hendak menempelkan bibirnya tepat di leher. "Apa hak kamu Kev? " kalimat Adel sedikit berteriak, berharap akan ada yang membantunya.
"Cupp" Kevin memberikan sebuah tanda merah di leher dengan warna yang sangat jelas, membuat Adel mendesah akibat ulah Kevin.
"Apa kamu anjing, suka sekali menggigitku. " Adel merasa kesal karna kelakuan Kevin, yang jelas akan membuat semua mata menatapnya wanita murahan, apalagi kemarin ia baru jadian dengan Saka, tapi sekarang malah bersama Kevin.
"Coba saja Ra, jika kamu tidak memutuskanya, aku pastikan kamu tidak akan bahagia. " ancam Kevin pada Adel.
__ADS_1
"Persetan dengan ucapanmu Kev. " Adel marah, jelas saja, Kevin berbuat seolah Adel masih kekasihnya.
"Hanya aku yang akan memilikimu seutuhnya Ra. Bahkan jika itu kutebus dengan NYAWAKU. "