
"Ada apa sayang? " Mommy nya menanyakan masalah yang menimpa putrinya.
"Ara akan menikah dengan Saka. " ucapnya membuat mereka semua terbelalak kaget, bukan hanya dua abang dan istrinya bahkan oma dan opanya ikut membelalakan matanya.
"APAH..... " ucap mereka serempak. Ditatapnya Adel oleh Saka lekat lekat, mengingat ucapanya barusan seperti gurauan. Sayangnya hanya keseriusan dan kemantapan dari Adel. "Ra, apa kamu yakin? " Saka meyakinkan sekali lagi niat Adel.
"Aku yakin Sak." ucapnya tegas. Keluarganya menatap intens wajah Adel yang tenang dan serius. Arion menarik Adel menjauhi keluarganya.
"Apa si bang? " Arion ingin marah, sayangnya ini sudah menjadi keputusanya. " Tidak ada gunanya abang menarikku kesini, keputusan Adel sudah bulat. " ditepisnya tangan sang abang itu yang sedari tadi menggandengnya.
"Ini ada kaitanya dengan Agni? " Matanya melebar maksimal mendengar tebakan Arion. "Dari mana bang Ar tau. " batinya. Lalu membuang muka dari tatapan yang mengerikan itu. "Ra....? "
"Sudahlah bang, Ara tak punya pilihan. "Air matanya lolos begitu saja. Lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Arion.Arion memeluk Ara erat, ia berhutang satu nyawa pada Adel, dan kali ini Arion tidak akan membiarkan Adel salah langkah, sudah cukup sang adik menderita selama ini.
"Belum terlambat untuk memperjuangkanya Ra, jangan menyesal seperti abang yang jauh dari orang yang kita cinta Ra. " Arion memastikan Adel tidak salah langkah untuk yang kesekian kali. Meninggalkan Kevin tanpa sebab saja membuat mereka hidup berantakan. Apalagi salah memilih nasa depan.
Saka lelaki yang baik, mungkin saja ia akan bahagia kelak, tapi Kevin juga tidak salah. Bahkan mereka harusnya jauh lebih bahagia. Haruskah dua insan yang saling mencintai terpisah dan tersakiti untuk waktu yang lama.
"Ara gak punya pilihan bang. " pesimis, saat ini perasaanya gundah, ia berkorban begitu dalam, dan menyakiti seseorang yang benar benar dicintainya.
"Pilihan selalu ada Ra, hanya kamu yang bisa memilih, berjuang atau mundur. Abang harap kamu berjuang." Arion tetap mendukung Adel dan Kevin bersama untuk melewati segala cobaanya.
"Ara lelah bang, sangat lelah, dan rasanya Ara ingin menyerah " Pasrah, Adel berjalan meninggalkan Arion yang masih menatap serius wajah adiknya.
"Jika kamu tidak berjuang abang akan berjuang demi kamu dan Kevin Ra. " kalimatnya yang hampir tidak didengar Adel, tapi samar masih jelas terdengar di telinganya. Adel berjalan dan berpapasan dengan Saka yang mendengarkan percakapan Adel dan Arion.
"Saka... " tegurnya, Adel tak lagi menyembunyikan satu rahasiapun kepadanya, hanya keputusan Saka lah yang akan menolongnya. Saka menatap Adel, ia sendiri tau, dirinya hanya sebuah pelarian, namun ia pamrih menolong Adel. Ia berharap suatu saat Adel bisa memberikan cintanya pada Saka.
"Apa kamu keberatan Sak? " tanya Adel yang saat ini ikut menatap dengan penuh harap kepadanya.
"Tidak ada alasan untuk menolakmu Ra. " Saka mengulurkan tanganya, menyambut jari jemari Adel, lalu berjalan menuju ruang keluarga dimana disana ada keluarganya.
"Bagaimana keputusan kamu Ra, masih sama atau.... " kalimatnya terpotong oleh jawaban Adel. "Masih sama mom" mereka bisa apa jika kedua mempelai sudah mantap masuk ke jenjang pernikahan.
"Kalian yakin? "Kenan masih mengulang pertanyaan yang sama seperti Arion. Bahkan saat ini Kenan saja takut jika keputusan adiknya salah.
Saka menganggukan kepalanya. Meyakinkan kegundahan abang dan calon mertuanya. "Jangan karena terpaksa kamu melakukan ini Ra. " pesan Axel kepada putri semata wayangnya. Adel menggelengkan kepalanya dengan berat dan ragu.
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Apa kalian ingin resepsi besar besaran atau sederhana. " Axel pasrah jika putrinya memilih jalan tersulit ini. Sayangnya tidak dengan mommy nya, ia takut ketika Adel memilih jalan yang melukai hatinya.
__ADS_1
"Sederhana saja" keduanya dengan kompak mengucapkanya. Mereka saling pandang dan melemparkan senyum. "Semoga ini memang keputusan yang terbaik untuk semua. " batin Adel dalam kegundahanya.
"Bisa kah mommy bicara 4 mata denganmu Ra. "Adel menggeleng, ia menolak dengan keras berbicara 4 mata dengan mommy nya. Ia sangat takut pendirianya goyah, karna mommy nya tau persis perasaanya.
"Baiklah, mommy tidak memaksa." ia berjalan mendekati putri semata wayangnya. "Mommy hanya bisa berdoa agar kamu bahagia. " Ia mencium putri semata wayangnya Adel saja rasanya ingin menangis, tapi apalah daya.
*
"Sayang. " Arion yang mengeratkan pelukanya kepada Ayra, mereka selalu harmonis, karna Arion memperlakukan Ayra dengan sangat baik. Demi menebus waktu 8 tahunya, ia rela mengorbankan apapun untuk wanita yang telah ia lukai perasaanya. "Ya... "
"Adakah ada yang ingin kamu ucapkan tentang Ara? Aku mengetahuinya, namun aku hanya menebak, dan menunggumu menceritakan rahasia yang kamu tidak akan membagikanya denganku. "Ayra terpengarah dengan kata kata Arion.
"Ara memintaku untuk tidak menceritakan kepada siapapun Ar. " ungkap Ayra, namun sayangnya Arion sudah terlebih dulu mengetahuinya, entah dari mana, mungkin dari hasil laboratorium milik Adel. Ayra berjalan menuju almari, ia membuka sebuah amplop berwarna putih lalu menyerahkanya.
Matanya membulat sempurna melihat hasil MRY dan CT Scan milik Adel, serta hasil laborat dengan tinta merah. Ada sebuah cap dengan tulisan duplo. Tubuhnya terhuyung kebelakang melihat berkas kesehatan milik Adel. Ia pejamkan matanya dengan berat, dan menarik nafasnya kuat.
Duplo menandakan bahwa pemeriksaan dilakukan dua kali untuk memastikan hasil.
"Mau sampai kapan kamu berniat menyembunyikan ini Ay. " sesaat air matanya menumpuk di pelupuk mata. Ayra pasrah, ia menghela nafasnya berat. "Seharusnya Arion tidak akan sesedih ini jika ia bilang sudah tau rahasia terbesar Ayra. Apa jangan jangan yang dimaksud Arion berbeda dari yang aku tangkal," ia merutuki kebodohanya. Bagaimana ia bisa terpancing oleh suaminya itu.
"Aku pikir kamu sudah tau." jelas Ayra. Arion mencengkeram pundak istrinya dengan kuat. "Ar maaf, kalau selama ini aku menyembunyikanya, tapi Aralah yang meminta. "
"Bagaimana gadis sekecil itu bisa mengalami hal semacam ini. Astaghfirulloh." Sedih itulah yang ia rasakan, hatinya seperti dihancur leburkan ketika tau bahwa adiknya menderita penyakit mematikan itu.
"Jangan katakan ini kepada siapapun Ar, alasan dia menikah dengan Saka mungkin juga karna Saka mengetahui penyakitnya." rasanya seperti tersambar petir Saka saja bahkan tau, kenapa Arion tidak.
"Saka sudah tau Ay? "Ayra hanya mengangguk, lagi lagi Arion dibuat Kecewa oleh Ayra. Melihat tahun terjadinya kecelakaan dan memprediksi operasinya sangat memungkinkan bahwa operasinya akan gagal ketika operasi pertama.
*
Adel berjalan beriringan dengan Saka dari bassemen hingga IGD, disana Saka disambut hangat oleh teman temanya. "Ra aku kerja dulu. " pamit Saka kepada orang yang sangat ia cintai, Adel dengan semangat menganggukan kepalanya.
"Katanya mau kerja, kenapa masih disini." Tegur Adel yang melihat Saka masih menggandeng tanganya. Saka menyimpulkan senyumnya dengan indah.
"Gag tega ninggalin calon istri, maunya dibawa aja. " kalimatnya seakan menggoda Adel. Adel menepuk jidatnya dengan tangan kirinya. Melihat kelakuan calom suaminya.
"Sak, udah sana kerja! " Bukanya melepaskan tangannya Saka malah memeluk Adel. "Ishhh nie anak, gak malu apa? " Adel memperhatikan ruang belakang IGD yang sepi, hanya cctv sebagai saksi kemesraan Saka kepada Adel.
"Rasanya pengin cepet cepet halalin kamu. " ungkap Saka tepat di telingan Adel. Adel tersenyum kaku. Hatinya beku, bahkan harusnya saat saat seperti ini ia sangat bahagia, tapi ini adalah kebahagiaan sepihak.
__ADS_1
"Sabar donk Sak, lusa apa menurutmu sangat lama? " tanya adel kepada Saka. Saka menganggukan kepalanya.
"Setelah kamu menikah denganku, tidak akan aku biarkan kamu lepas dari genggamanku Ra. Ini pilihanmu, dan kamu sudah terlanjur masuk ke dalam perangkap cintaku. Jelas Saka yang masih memeluk Adel
"Ini ancaman, atau.... "Kalimatnya terpotong dengan cepat oleh Saka. "Ya ini ancaman, katakan jika kamu berubah pikiran Ra?"
"Ara... " Kevin berteriak dengan keras memenuhi ruangan belakang IGD. Mereka spontan melepaskan diri dari pelukanya masing masing.
"Kevin... " ia marah melihat wanita ini bahkan belum lama mengungkapkan perasanya kepada Kevin, kenapa saat ini bersama Saka.
"Apa maksudnya ini Ra." Adel mulai takut menjawabnya, kalimat ini akan sangat melukai Kevin. Bahkan mungkin dia bisa saja mengamuk.
"Dia miliku Kev. " Saka menggenggam erat tangan Adel! Kuminta, kamu menjaga jarak denganya! " sebuah ultimatum kepada Kevin. Saka takut Kevin akan hilang kendali ketika tau bahwa mereka akan menikah.
"Gue gak tanya loe Sak." Kevin menatap Adel dengan tatapan menuntut sebuah jawaban. Adel mau menjelaskan apa, bahwa lusa mereka menikah. Gila saja, Kevin akan melakukan hal gila jika aku mengatakanya.
"Sak, bisakah kami bicara berdua. " lagi lagi Saka yang harus tersingkir, tapi apalah daya, mungkin mereka memang butuh waktu untuk berbicara.
"Baiklah.... " Saka berjalan menjauhi Adel. Tidak ia palingkan wajahnya kepada mereka berdua, karna hanya ada rasa sakit yang ia dapat.
Kevin memeluk Adel dengan erat, lalu menciumnya kasar. "Kev...." Adel sudah menolak, sayangnya Kevin memaksanya. "Kevin lepas. " teriaknya mendorong dada bidang Kevin.
"Jangan bermesraan dengan lelaki lain Ra." pinta Kevin dengan sangat. Ia masih memeluk Adel tanpa berniat melepaskanya. "Kamu berjanji akan memulai lembaran baru denganku. " ucapnya mengingatkam kalimatnya pada malam itu.
"Apa kamu sudah putus dengan Agni Kev? " dilepaskanya pelukan Kevin kepada Adel. Ia belum memutuskan pertunanganya dengan Agni. Sudah ia duga memutuskan wanita iblis seperti dia tidaklah mudah.
"Aku akan segera memutuskanya Ra" Kevin membelai anak rambut Adel, dengan lembut lalu menciumnya.
Masih ada Saka yang memperhatikan mereka. "Semudah itu Kevin menciunya, gue aja yang jadi pacarnya gak pernah melakukan itu. " tanganya ia kepalkan, rasa cemburu yang akhir akhir ini menguasai dirinya tidak bisa terkontrol.
"Kev..... " panggil Adel mesra kepada Kevin. Kedua tanganga ia tangkupkan di kedua pipinya " Hidupmu dan keluargamu akan berantakan jika kamu memutuskan Agni. Bukan hanya mereka yang tersakiti, aku juga akan terancam. " jelas Adel.
"Agni wanita yang baik Ra, dia akan mengerti jika aku mencintai wanita lain" jelas Kevin dengan mantap. Ia tidak tau bahwa Agni adalah ular yang kemarin malam menerkamnya dan melampiaskan kemarahanya kepada Adel.
"Kamu tidak akan tau Kev, Agni itu.... " Kalimatnya terpotong oleh jari Kevin yang di letakkan tepat di bibir Adel. Kali ini Adel tak bisa mengungkapkan jati diri Agni, " sudahlah biarkan saja, toh aku akan menikah dengan Saka. " batinya.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan Kev. " Kevin mengagguk sambil memainkan anak rambut milik Adel. Kevin memang sangat perhatian jika sedang bersama Adel. "Katakanlah sayang. " pinta Kevin
"LUSA aku AKAN MENIKAH dengan SAKA Kev. "
__ADS_1