Gadis Liar

Gadis Liar
23


__ADS_3

"Bisakah kamu tetap disini dan mengabaikan telfon itu Kev! " suaranya lirih, namun membuat Kevin menatap wajah Adel tajam. Seperti tidak ikhlas jika ia tetap disini bersamanya.


"akan aku berikan kesempatan kedua jika kamu tetap disini. " itulah kalimat yang keluar dari bibir Adel. Kevin menghembuskan nafasnya perlahan. Berat, itulah pilihan yang ia rasakan saat ini. Kevin tetap diam, saat ini belum ada jawaban baginya.


Melihat Kevin terdiam, Adel merasa bersalah padanya. Air mata Adel hampir saja jatuh ketika menatap wajah Kevin yang sedih demi wanita lain, diedarkan pandanganya ke arah laut yang luas, membuat air matanya tertahan, ditariknya nafas itu dalam dalam, ia tahan sekuat kuatnya, lalu ia hempaskan keluar.


Begitu berulang kali, membuat hatinya semakin lega. Paru paru yang mengembang sempurna membuat pasokan darah lebih efisien. "Pergilah Kev.... Aku tidak mau ada seseorang meninggal karenaku. "


Benar saja Kevin dengan semangat berdiri dari duduknya, lalu meraih tangan Adel. "Kamu serius? " Adel menganggukan kepalanya. Dengan semangat Kevin mencium kening kekasihnya itu.


"Lalu kamu bagaimana? " Kevin bimbang bagaimana dengan Adel jika dia pergi, jika membawanya mungkin Citra akan bereaksi lebih berbahaya. Namun jika diantarkan kembali ke sekolah atau kerumah akan sangat memakan waktu lama.


"Pergilah, aku akan pulang nanti. Citra jauh lebih membutuhkanmu " Adel berusaha sekuat mungkin mengembangkan senyumnya. Dan meminta Kevin untuk cepat mengunjunginya.


"Baiklah aku pergi. Terimakasih Ra" dengan semangat Kevin menurunkan motor boat dan meninggalkan Adel sendiri. Perlahan punggung Kevin mengecil dan samakin hilang dari pandanganya. Air matanya tumpah menahan sakit.


"Kenapa mencintai sesakit ini. " ucapnya lirih. Hampir setengah jam, ia berada di kapal tersebut. Lalu ia keluarkan ponselnya. Ponsel baru yang mungkin Kevin saja belum tau nomornya. Saat ini seseorang yang bisa mengerti Adel hanya Saka. Karna dialah yang selalu membuatnya lega, tertawa dan tidak pernah mengecewakanya sama sekali.


30 menit, Saka sudah berada di dermaga, menjemput Adel yang wajahnya sudah masam. Sebenarnya Kevin menghubungi Kenan dan Arion untuk menjemputnya, namun Saka lah yang lebih dulu mendapatkan pesan masage dari Adel.


"Kamu bolos? " Adel menanyakan Saka yang masih menggunakan seragam lengkap. Saka tidak menjawab, lalu dilepaskanya jaket yang melekat ditubuhnya dan dipakaikan pada Adel.


"Jangan sakit, akan banyak yang repot kalau kamu sakit. " dengan perhatian Saka menggandeng Adel yang saat ini hanya terlihat jaketnya saja, karna tubuh mungil Adel tak terlihat.


"Sak.... " Adel menghentikan langkahnya. Matanya sudah berkaca kaca, menahan sesak yang mungkin tertahan di dadanya. Kepala Adel ditarik oleh Saka lalu ia tempelkan di pundak Saka.


"Menangislah Ra.... hanya dengan menangis semua beban akan berkurang. Meski masalah akan tetap utuh. " Saka tidak bergerak ia juga tidak memeluk Adel, hanya tanganya ia usapkan di rambutnya yang wangi.


"Huhuuuuuu hiks huhhuuuu hiks.... Hiks" isaknya terus mengeras sampai Adel lelah. Saka mengeluarkan sapu tanganya, lalu memberikan kepada Adel. "Lap ingusnya Ra. " Benar saja Adel mengeluarkan ingusnya di baju Saka.


"Dasar jorok kamu." Saka tersenyum meledek Adel. Adel melepaskan kepalanya dari pundak Saka. "Sudah? "Saka meneliti wajah Adel yang masih cantik meski kelopak matanya bengkak dan mata hazelnya lusuh karna air mata.


Saka mengeluarkan coklat milk dairy berwarna ungu lalu memberikan kepada Adel. Senyumnya mengembang seketika. Seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen. "Makan dulu, aku tau energimu habis untuk menangis. " lagi senyum kecil Adel terlihat sangat menawan.

__ADS_1


"Naik! " pintanya setelah Adel menghabiskan milk diary nya. Saka sudah menaiki motor ninjanya, dengan cepat Adel naik ke punggung motor Saka, lalu melingkarkan tanganya di pinggang Saka. "Hanya sedekat ini mampu melajukan jantungku secepat ini Ra. " Saka menatap kedua tangan di pinggang nya, tangan indah yang memeluknya saat ini berharap akan selalu begini. "Mimpi kamu Sak. " Saka lalu melesat dengan cepat.


Motor Saka diparkirkan bebas di area bermain TMII "Kenapa kesini? " Adel tampak heran kenapa Saka mengajaknya kesini. Tampak Saka yang menggidikkan badanya. Ia kedinginan karna jaketnya dipakai sama Adel. "Kamu kedinginan Sak? " masih saja Saka menggelengkan kepalanya. Bahkan bibirnya sudah membiru.


"Ayo masuk Ra. " ajaknya. Adel dengan semangat mengajak Saka mengitari semua permainan disana. Saka tampak lelah, bagaimana tidak lelah semua permainan dari Kereta Api Kelinci, Mandi Bola, Kolam Renang Sendang Sejodo, Bumper Car, Air Plane, Monorail, Komedi Putar, Roda Tamasya, Kiddy Boat, Baterry Car, Pesawat Capung, Roller Coaster, Fancy Animal, Giring Ombak, dan ATV Motor, Adel naiki.


"Ayo pulang Ra, mabok aku kalau semua permainan kita naik semua. " keluh Saka yang sudah lelah mengikuti Adel. Bahkan saat ini badanya kaku semua.


"Roller Coaster sekali lagi ya. " pintanya mengedipkan matanya. Saka benar benar sudah sangat lelah, namun permintaan gadis kecil ini memang tidak bisa ia tolak. "ya baiklah"


"Oekkk oekkk oekkk" Saka memuntahkan cairan bening berwarna kuning setelah turundari roller Coaster. Adel memijat mijat leher Saka, lalu membelikanya minyak kayu putih.


"Sak... Loe gak papa. " Adel tampak cemas melihat kondisi Saka. Lalu ia memapah Saka duduk. "Kamu belum makan dari pagi? " tanyanya khawatir. Saka menggelengkan kepalanya. Membuat Adel merasa sangat bersalah padanya. Adel membawa Saka untuk makan di tempat makan sembarang.


*


Sudah pukul 17.30, bahkan Kevin sudah berada di rumah Adel menanti kembalinya Adel. Deru mobil memasuki garasi rumah, yah mereka menggunakan jasa grab, karna tidak mungkin mereka mengendarai motor, mengingat Saka yang sudah terlalu lelah, membuat Ken, Arion dan Kevin keluar dari kediamannya. Adel berjalan membawa 4 boneka besar, beserta arumanis, satu kantong coklat dan masih banyak lainya.


"Sial, kerjaan loe nie, 16 wahana permainan dicobain semua. Bisa mati berdiri nie Ra" umpatnya kesal pada Adel. Mereka tak sadar sudah ada Arion, Kenan dan Kevin dibelakang mereka. Adel mengedipkan matanya pada Saka, lalu meminta maaf dengan manjanya pada Saka. "Ya Saka, jangan gitu, maaf deh. " ucapnya tulus pada Saka sambil menggandeng tangan Saka. Kalau bukan Saka mungkin saat ini Adel masih dikamar mengurung diri tidak mau keluar dan tidak mau makan.


Ara mengalihkan perhatianya dengan memanggil pembantunya untuk membawa semua boneka besar yang Saka beli tadi, arumanis, balon, yang sedari tadi dipegang Saka, bunga mawar lengkap dengan potnya, bunga hias dan satu kontong kresek coklat kesukaanya.


"bang Ar..... " Adel mendekati Arion dengan manjanya. Membuat Ken dan Kevin saling adu pandang. "Kerokin Saka ya, tadi dia naik Roller Coaster 2x terus muntah muntah. " Arion mendadak tertawa mendengar seorang Saka mabok gara gara Roller Coaster.


"Brisik loe Ar, udah ayu cepetan, gue gak tahan nie. " keluh Saka menarik Arion masuk ke rumah Adel. Masih Kevin perhatikan Saka yang lunglai akibat ulah Adel. "Sebegitu bahagianya kah dia pergi dari jam 8 sampai jam 17 bersama Saka. " batinya.


Ken, Arion dan Saka masuk kedalam kamar Kenan, sedangkan Kevin dibiarkan bersama Adel, mungkin mereka butuh waktu berdua. "Ra.... " Kevin mengikuti Adel sampai di kamarnya.


Seperti tak terjadi apa apa, Ara dengan santainya menanyakan keadaan Citra. "Bagaimana keadaan Citra? " tanyanya tulus, ia sengaja tidak memperlihatkan wajahnya yang cemburu.


"Dia baik, sudah tidak berontak lagi. " Adel melepas jaket milik Saka, Kevin tampak memperhatikan jaket Saka yang sedari tadi melekat pada tubuhnya "Sepertinya Saka sangat perhatian sama kamu. "Adel berbalik menatap Kevin, memperhatikan wajah Kevin yang cemburu.


"Gak usah cemburu, toh kamu sama Citra, aku juga baik baik aja. " balasnya enteng, bahkan hatinya saat ini berkata lain. Sama.... cemburu dan terluka itulah yang Adel rasakan.

__ADS_1


"Ra.... Citra itu gak waras sedangkan Saka itu jelas kalau.... " kalimatnya terpotong oleh Adel.


"Tolong tutup pintunya dari luar Kev, aku lelah, debatnya kita sambung besok, aku mau mandi. " Adel dengan cepat masuk kedalam kamar mandi. Air matanya kembali mengalir deras, mengingat Kevin yang pergi meninggalkanya demi Citra.


Terusir secara halus, bagi Kevin ini adalah suatu bentuk balas dendam Adel padanya karna Kevin meninggalkanya tadi pagi. Kevin berjalan meninggalkan kegaduhan di sebelah kamar Adel.


"Ken lanjut donk kerokanya, gue disuruh bunda pulang. " Arion bergegas pergi setelah melihat sebuah notifikasi pesan masuk.


"Siap, sini koinya, 1 juta satu garis Sak. " ungkap Kenan memeras Saka.


"****** loe Ken, itu namanya pemerasan bego. "Umpatnya kesal pada Kenan. Sesaat Kenan terdiam melihat Arion yang pergi setelah mendapatkan pesan. "Kenapa gak jujur aja si kalau mau ketemu Zela. " batin Ken yang sebenarnya tadi meihat sebuah notifikasi nomor baru, namun Kenan hafal dengan foto profinya.


*


"Sudah lama Zel? " tanya Arion yang mendapati Zela sudah duduk di depan rumah Arion. Zela dengan senyumnya yang mengembang menganggukan kepalanya.


"Ayo masuk. " ajak Arion pada Zela. Mereka berjalan masuk kedalam rumah Arion. Tidak ada orang, hanya Art yang tampak lalu lalang dirumah sebesar ini.


"Dimana tante Lea? " Zela menanyakan ibunda Arion yang biasanya selalu dirumah. Arion menjatuhkan tubuhnya disofa, Zela menatap wajah Arion yang selalu ramah tenang dan baik padanya.


"Dia di butik, bersama oma biasanya. " jelasnya, matanya kemudian ditatapkan pada sosok sahabatnya yang sangat ia rindukan.


"Tumben loe kesini. " Arion berujar, seharusnya Arion marah, karna Zela bahkan tidak pernah menganggapnya ada. Tapi apalah daya, Arion siapanya Zela, hanya sahabat, yang tidak sama sekali penting.


"Ar... Masihkah perasaanmu sama kepadaku? " Zela langsung ke pokok permasalahan. Arion dibuat kaget oleh Zela yang menanyakan perasaanya.


"Maksud kamu Zel? " tanyanya bingung. Kearah mana Zela sedang mengajaknya berbicara.


"Masihkah ada perasaan cinta dan sayangmu untukku Ar? " kalimatnya lebih jelas dari sebelumnya membuat Arion kaget, dari mana Zela tau tentang perasaanya.


"Masih Zel, perasaan itu tetap sama. Maaf, karna aku tidak bisa mengatakanya padamu. " jelasnya merasa bersalah. Zela menggelengkan kepalanya.


"Bisakah kamu cintai aku lagi Ar? Kita mulai lagi dari awal, dan aku akan mencoba mencintaimu dengan tulus. "

__ADS_1


Nb: cerita ini masih panjang karna menceritakan masa putih abu abu, perkuliahan dan masa bekerja. Untuk konflik tidak terfokus pada satu titik masalah.


__ADS_2