Gadis Liar

Gadis Liar
44


__ADS_3

"Itu..mmmm Pacaran sama cowo brengsek, udah dapet enaknya ditinggalin gitu aja. " jawab Ayra asal, membuat Arion menyesal karna melepaskan Ayra waktu itu.


"Bisakah kita mulai dari awal lagi Ay. Aku akan menjagamu, dan anakmu walaupun dia bukan darah dagingku " celetuk Arion kepada Ayra, yang spontan membuat mata Ayra melebar maksimal.


Ingin rasanya tertawa sepuasnya "bukan darah dagingmu, dasar lelaki tak berperasaan" gerutunya dalam hati.


"Kita bukan anak anak lagi yang bisa kamu ajak untuk melakukan hubungan pura pura. " tangkisnya dengan kalimat datar, " Sudah lah Ar becandamu gak lucu. Aku akan masuk, bawa mobil Adel pulang. " pinta Ayra kepada Arion. Lalu beranjak turun dari mobilnya.


"Aku serius Ay. " Ungkapnya membuat Ayra menghentikan langkahnya. "Kenapa tidak dari dulu mengungkapkanya, kenapa disaat semua rasa sakit sudah aku lupakan, baru datang dan mengatakan ini ." Batinya lagi lagi menerima ketidakpaduan hati dan keinginanya.


"Apa ada orang tua yang mau menerima calon menantu, yang sudah mempunyai anak diluar nikah dari laki laki brengsek, tidak ada Ar, jadi jangan berkeinginan terlalu tinggi untuk mendapatkan restu dari orang tuamu. " berjalan lurus kedepan tanpa harus berbalik memandang masa lalu adalah hal yang terbaik saat ini.


"Aku akan berusaha meyakinkan mereka. " teriaknya yang mungkin sudah tidak terdengar lagi ditelinga Ayra.


"Siapa bunda, yang teriak teriak? " Derrick menelitinya dari jendela, tampak seorang lelaki tampan yang masih bersandar dimobil.


"Dia orang yang sangat berbahaya sayang, lain kali kalau om itu datang jangan dibukakan pintu. " Derrick masih tertarik melihat Arion pasalnya wajahnya sangat tampan dan ramah untuk dibilang penjahat.


"Tapi dia tampan bunda. " ungkap Derrick yang masih setia menatap wajah tampan milik Arion dari jendela, membuat Ayra mengulum senyumnya.


"Miris..... kenapa takdir sebecanda ini dengan hidupku. Dia memang papahmu na, tapi apa mungkin dia akan menerina mamah yang seperti ini?" jelas Ayra yang kemudian menyiapkan makan malam untuk putranya.


*


*Ra, ada waktu? Kita makan siang bersama.* pesan singkat dari Saka


* Apa si yang gak buat kamu,* balas Adel


*kutunggu*


* ketemu di parkiran aja* pinta Adel


30 menit kemudian, Saka dan Adel bertemu di parkiran rumah sakit. "Siapa dia Ra? " Saka penasaran dengan anak laki laki yang dibawa oleh Adel.


"Kenalin Derrick, dia om Saka. " pinta Adel kepada Derrick, Derrick menyalimi tangan Saka dan mencium pucuk tanganya.


"Dia pacar mommy bunda? " Adel menekuk kakinya agar sejajar dengan Derrick.


"Doakan saja. " Ucap Adel dengan senyum penuh arti. Saka mendekati Adel karna mendengar penuturanya dengan Derrick.


"Jika kamu setuju akan aku halalkan saat ini juga." ucap Saka di telinga Adel. Adel menelan ludahnya sendiri karna ia bermain main dengan sebuah kalimat.


"Ayo jalan, nanti keburu habis jam makan siangmu. " mereka berjalan menuju mobil Saka. Sesaat Adel melihat tunangan Kevin yang turun dari mobil, membuat bibir Adel menutup rapat, ada semurat rasa cemburu dihatinya mengingat panggilan sayang dari gadis tersebut kepada Kevin.

__ADS_1


"Kamu dari mana Ra? "


"Mendaftarkan Derrick sekolah. " jelasnya dengan singkat. Saat ini mereka telah sampai di restaurant terdekat.


"Anak ini sepertinya familiar. "


"Mirip denganku? " Saka menganggukan kepalanya, bahkan tidak mirip sama Ayra.


"Jelas saja dia anak bang Ar, dan masih ada hubungan darah denganku. " batinya.


Makan bertiga bagaikan keluarga yang sangat harmonis, membuat siapa saja yang memandangnya iri. Mendengar ghibahan ibu ibu sebelah meja, membuat Saka ingin menjahilinya. Saka menyuapkan makananya ke mulut Adel.


"Ishhh dasar nakal." Adel ikut menyuapkan makananya ke mulut Saka. Lalu dengan iseng Adel membuka mulutnya membuat Saka tertawa dan menyuapkan makananya lagi ke mulut Adel.


"Romantis banget yah mereka, jarang jarang punya anak segede itu masih seromantis ini."


"Iah bener jeng. Kalo anak udah segede itu, boro boro diajak diner, makan bersama dirumah juga jarang."


Bahkan ada Kevin yang melihat pemandangan itu. Ditemani tunanganya bersama Agni Syaena Arkeley. "Kamu kenapa sayang?" Agni tampak perhatian kepada Kevin, namun Kevin seakan sangat dingin kepadanya. Baginya hubungan pertunanganya hanyalah ikatan tanpa cinta yang dipaksakan oleh kedua keluarga.


"Ayo cepat makan, setelah ini aku ada operasi." Melihat Saka dan Adel berlalu, membuat Kevin mempercepat makanya.


*


Shift malam yang panjang, dilaluinya dengan aman, detik waktu menunjukan pukul 06.50. "Dok sudah mandi? " tanyanya, Adel dengan semangat menganggukan kepalanya.


Benar kata orang tuanya, Kevin adalah orang yang nekad, apalagi jika menyangkut perasaanya. Adel takut akan membuat hubungan Kevin dengan tunanganya dan orang tuanya merenggang.


"Ikut aku. " Kevin menarik Adel, namun Adel memberontak.


"Kita gak sedekat itu Kev untuk pergi bersama. Disini kamu atasanku, dan aku hanyalah seorang dokter. "


"Kamu bisa pergi bersama Saka dan bermesraan denganya dimanapun, tapi kenapa tidak denganku? " Adel membulatkan pupilnya, sejak kapan Kevin memata - matainya pikirnya tak jelas mendengar kecemburuan Kevin yang tak berdasar.


"Kamu hanya masa lalu Kev, dan ingat kamu sudah mempunyai tunangan. "


Tegur Adel pada Kevin lalu melepas paksakan kedua tangan yang dicekal oleh Kevin.


"Lepasin Kev...! " teriak Adel kepada Kevin. Kevin memegang bahu Adel dengan kuat dan menyandarkanya di pintu mobil.


"Cupp" Dengan paksa Kevin menciumnya, seolah Adel masih miliknya. Pupilnya melebar maksimal, sapuan hangat di bibir Adel seakan mengungkapkan perasaanya yang memang masih utuh kepada Kevin.


Sesaat matanya terfokus, Adel menggigit bibir Kevin dengan kuat, agar Kevin melepaskanya. "Kamu gila Kev. " jelasnya yang kemudian mendorong Kevin agar menjauh lalu Adel membuka pintu mobilnya.

__ADS_1


"Rasa cintamu masih utuh untukku Ra, munafik jika kamu berkata sudah tidak ada perasaan yang tersisa untukku. "


"Persetan dengan cinta Kev " Adel membanting pintu mobilnya dengan keras lalu melajukanya kencang, tampak berpasang pasang mata yang menyaksikan kejadian mesra antaranya dan atasanya.


"Gila... dasar Kevin gila. " Adel melajukan mobilnya menuju rumah Ayra, saat ini hanya Derrick yang mampu menghiburnya. Sesampainya dirumah Ayra, Adel menatap mobil abangnya yang terparkir jauh di samping rumah Ayra. Ayra sudah bersiap dengan snellinya, ia adalah seorang dr anestesi.


"Nitip Derrick ya Ra." pinta Ayra. Adel menganggukan kepalanya, lalu mengikuti langkah Ayra keluar,"udah sana, bang Ar nungguin dari tadi. " Adel mendorong Ayra sampai didekat Arion. Memang misinya adalah membuat mereka bersatu, namun Adel belum ingin memberitahukan identitas Derrick pada abangnya.


*


Tepat pukul 14.00 Adel melenggang masuk dengan tas ranselnya. Belum sampai di ruang IGD, banyak sekali karyawan yang berbisik bisik, entah apa yang dibisikanya.


Sesampainya di IGD Adel melihat perkumpulan perawat yang sedang melihat layar gawai masing masing. Matanya terpaku pada Adel, lalu kembali ke ponselnya. "Pada kenapa si, perasaan masuk rumah sakit auranya aneh. "Adel menyambar ponsel Desi. Matanya terbelalak melihat berderet deret foto mesra miliknya bersama Kevin yang terdapat di grup RS.


"Siapa yang mengirimkan foto ini Des? " Adel mengambil ponselnya dan mengecek di grup RS. Air matanya mulai berkaca kaca, melihat foto foto tersebut.


"Dok, apa bener foto ini..." Desi dan teman temanya mengkonfirmasi ulang kepada Adel. Adel menarik nafasnya yang berat, hendak menjelaskan apa, disini Adel lah sebagai pihak ketiga diantara Kevin dan Agni tunanganya.


"Dia hanya mantan yang belum bisa move on dariku." jelasnya singkat, benar saja masalah ini lebih rumit dari yang ia duga. Pemilik rumah sakit berbondong bondong datang ke Indonesia, mungkin salah satunya karna masalah ini.


"dok, anda disuruh menghadap direksi. " perkiraanya sangat tepat, bahkan masalah ini akan sampai kepada orang tua Kevin.


Sudah ada Kevin disana Adel menarik kursinya lalu duduk didepan ayahanda Kevin dan eyangnya yang baru datang. Keadaanya mirip seperti waktu mereka menemuinya di Amerika.


"Jelaskan ini Kevin. " Kevin hanya diam, tidak ada yang ingin ia katakan, karna memang perasaan Kevin masih sama, masih sangat mencintai Adel.


"Itu foto masa lalu" Adel berbicara tanpa ada intruksi dari mereka. Ayahanda Kevin mengambil ponselnya lalu menyodorkan sebuh Video sewaktu Kevin memeluknya didepan ruangan direktur, lalu memapahnya dan mengantarkanya pulang.


Adel sudah memperkirakan kejadian ini, lalu mereka menyodorkan video di parkiran ketika Kevin menciumnya. Seperti apa Adel akan menjelaskan. "Bagaimana dengan video ini, dan bagaimana kalian akan menjelaskan "


"Bukanya jelas, di video itu hanya Kevin yang memeluk dan mencium saya, apa menurut anda saya yang berinisiatif mendekati putra anda?" Adel tidak mau mengakui bahwa ia masih mencintai Kevin.


"Maaf saya tidak tertarik membahas masalah ini, karna putra andalah yang masih mencintai saya bukan saya. Jadi selesaikan masalah ini dengan putra anda bukan dengan saya." Hati Kevin seperti tersayat, mendengar bahwa Adel sudah tidak mencintainya. Adel berbalik dan hendak keluar dari ruang tersebut. Air matanya yang sedari tadi ia tahan mulai berjatuhan.


"Tunggu..... " Kalimat itu membuat Adel berhenti. Sakit sekali rasanya mengatakan perasaan yang menyakiti orang yang jelas jelas masih sangat ia cintai, dan bahkan tidak bisa ia ganti dengan orang lain.


"Mari kita buat kesepakatan lagi" mata Kevin terbelalak, kata kata kesepakatan lagi itu menjadi pertanyaan besar baginya.


"Maksud eyang apa? Kesepakatan lagi" Kevin mulai tersulut emosi. "Apa yang menyebabkan kamu meninggalkanku ada hubunganya dengan kesepakatan kalian Ra? " Adel ikut membelalakan matanya mendengar Kevin yang mengetahui bahwa mereka pernah membuat kesepakatan lain.


"Eyang jawab! Apa kalian pernah meminta Ara meninggalkanku? "


Jika masalah ini terkuak bukan Adel saja yang hancur tapi hubungan Kevin dengan orang tuanya juga akan hancur. Adel berbalik menghadap mereka bertiga.

__ADS_1


"Tidak Kev, mereka datang disaat hubungan kita berusia 2 tahun, dan dua tahun kemudian kita baru putus." Kevin berbalik menatap Adel, ia ingin penjelasan yang rasional dari Adel. "Lalu kenapa kamu meninggalkanku Ra? "


"Karna aku mencintai orang lain Kev. " jawabnya singkat lalu meninggalkan mereka semua.


__ADS_2