Gadis Liar

Gadis Liar
70


__ADS_3

"Masuk! " pinta dr. Obsgin tersebut. "Hei Kev silahkan masuk. "Adel masih mengumpat di belakang Kevin. Membuat kedua dokter tersebut memperhatikan siapa gerangan yang ada dibelakang Kevin.


"Wah siapa ini Kev? Kenalin donk! " tanya dokter obsgin tersebut. Kevin menggeser tubuhnya hingga tubuh dan wajah Adel terpampang jelas didepan dua dokter tersebut.


"Kenalkan dia istriku. " ucap Kevin. Mata Adel menatap seorang dokter yang berada didepanya.


"Adel..... " ucap salah satu dari kedua dokter tersebut. Adel menatap salah satu diantaranya, dr. Arkan ternyata ada disini. Sayang sekali, sepertinya harapanya kandas begitu saja, mengingat 2 kali pertemuanya dengan Adel, ia tidak pernah membahas suami ataupun masalah keluarganya.


"dr. Arkan..... " ucapnya lirih, Kevin menatap keduanya sepertinya memancarkan sebuah keramahan diantara mereka, Adel saja tidak menceritakan bahwa disini ia mempunyai seorang kenalan. Seorang dokter tanpan, mapan, dan lumayan menduduki rating tertinggi di rumah sakit ini.


"Wauhh sepertinya permainanmu selangkah lebih maju dariku sayang, bahkan kamu mengenal seorang dokter yang berkharisma ini." Ucapnya lirih ditelinga Adel, Adel mencubitkan tanganya diperut Kevin, hingga membuat dirinya mengerang kesakitan. "Auhhh sakit Ra. "


"Kalian saling kenal? " celetuk dokter obsgin kepada Arkan dan istri Kevin. Adel menarik sudut bibirnya dengan sedikit malas, ia malas menanggapi lelaki lain selain suaminya sebenarnya. Ia baik terhadap Arkan karna memang dr. Arkan lebih ramah, dan mengingat bahwa taman bunga yang sedang ia kelola setengahnya masih milik Arkan.


"Jahat sekali kamu Ra, menggunakan pesonamu demi uang, sejak kapan kamu begitu matre untuk sesuatu yang kamu harapkan" ucapnya pada diri sendiri, mengingat dia dulunya seorang putri yang ketika ia ingin sesuatu hanya dengan meminta atau melakukan balapan liar, kini memanfaatkan seorang lelaki untuk mencapainya, bahkan lelaki tersebut bukan muhrimnya.


"dr. Arkan mengenal istri saya? " ucap Kevin memecah keheningan yang tiba tiba tercipta, entah apa yang dipikirkan oleh Arkan dan Adel, mereka saling diam dan tidak ada cakap diantara mereka.


"Hanya sebatas kenal, karna dia sering datang ke toko bunga dan mengobrol dengan nenek saya. " Kevin menganggukan kepalanya kepada Arkan, kemudian dr. Obsgin mempersilahkan Adel untuk berbaring. Setelah memeriksanya, Adel tidak terlalu banyak bertanya, yah dirinya juga satu profesi, namun enggan bagi dirinya untuk mengungkap jati dirinya.


Keadaanya dapat dibilang normal, mulai dari GA (gestasional Age), BPD (biparietal diameter), EDD atau perkiraan persalinan, sayangnya jenis kelaminya belum dapat dipastikan.


Kevin mengantarkan Adel pulang ke rumah, ia tampak diam, tidak seperti biasanya. "Kev..... " Kevin hanya menjawab dengan sebuah deheman. Ia meminta sebuah penjelasan tentang perkenalanya dengan dokter Arkan.


Adel mendaratkan ciumanya tepat di bibir Kevin membuat Kevin manatap heran istrinya. "Kev.... Kalau masih diam aku akan ganggu kamu saat menyetir. " ancamnya kepada Kevin, membuat Kevin menarik salah satu ujung bibirnya.


"Jelaskan atau nanti aku hukum kamu Ra" Adel mengedipkan matanya, ia mencoba menjelaskan sejelas jelasnya kepada suaminya, tidak akan ada yang sebanding dengan Kevin baginya dalam hidup Adel bahkan hatinya hanya untuknya.


"Wah, kamu menggunakan pesonamu untuk meraih sesuatu, aku mulai kesal. " ucapnya dengan nada meledek.


"Ayolah Kev, aku hanya tidak mengungkapkan tentang statusku. " Adel merajuk, demi suaminya yang sedang kesal terhadapnya, ia berantusias membuat Kevin tidak marah padanya.


"Ra.... Kamu tidak berfikir bahwa Arkan menyukaimu kah, kamu dengan mudahnya mematahkan hatinya" Lagi lagi perkenalanya dengan seorang lelaki membuat sang lawan menyukainya. Adel menggelengkan kepalanya. "Jangan sekali kali kamu gunakan parasmu untuk menarik perhatian seseorang, jawabanya jelas Ra, mereka akan langsung menaruh hati kepadamu."


"Aku gak peduli. " ucapnya kesal, ia mengatubkan bibirnya rapat rapat, ia kesal membahas seseorang yang tidak penting, bahkan tidak masuk dalam urutan pembahasan baginya. "Tidak bisakah menbahas hal yang lebih penting. " gerutunya, dipasangnya headset miliknya, ia coba tak menggubris ucapan Kevin, melihat kelakuan istrinya Kevin hanya mendesah gemas.


"Jangan marah Ra, aku hanya tidak ingin kamu dalam masalah. Lain kali jelaskan statusmu agar tidak ada orang yang mengharapkanmu " Kevin mengelus pucuk kepala istrinya dengan lembut.


Tak lama mereka sampai dirumah mereka. Adel masih diam, ia enggan untuk mengucapkan beberapa patah kata, sesampainya di kamar ia menggulingkan tubuhnya di bad berukuran king zize itu.

__ADS_1


Kevin berjalan menuju dapur, lalu dibuatkanya susu hamil untuk Adel lengkap dengan cemilanya. "Sudah dong marahnya Ra! " Adel kembali memalingkan kepalanya. Wanita, sejatinya seperti ini, seharusnya Kevinlah yang marah, namun kenapa sekarang Kevin yang haus akan maaf dari Adel.


"Jangan marah lagi ya sayang. " Kevin memeluk Adel erat, ia mencoba mencairkan suasana yang membuat Adel marah. Sayangnya Adel masih cemberut. Hingga sebuah deringan ponsel terdengar.


📞" Ya... "


📞" dok pasien akan segera dikirim ke ruang operasi. " jelas seorang perawat.


📞" ya baiklah, saya segera menuju ke rumah sakit. "


Kevin mengecup kening istrinya lalu mengucapkan beberapa patah kata kepada Adel, "teruslah seperti ini, maka aku akan menghukummu hingga pagi sepulang aku kerja" ucapan ini mampu membuat Adel menegakkan badanya, ia tidak percaya mendapatkan ancaman sepele seperti ini dari Kevin.


"Masih mau ngambek? " Adel menggeleng, sebenarnya ia hanya ingin mengetahui respon Kevin, sayangnya malah ia yang kena batunya mendapat ancaman dari Kevin.


"Ya... Ya... Ya... Gak ngambek lagi... Sudah... sudah Kev.. ayo aku antar ke depan" Adel mendorong Kevin dengan kuat, hingga keluar sampai di gerbang rumahnya, menanti Kevin keluar dengan mobilnya.


"Jangan lupa minum susunya." pinta Kevin kepada Adel yang dijawab dengan anggukan, Kevin memberikan sebuah kecupan hangat di bibir Adel. "Aku berangkat, assalamualaikum. "


"Waalaikum salam. " jawabnya lalu menutup gerbangnya. Ia kembali ke kamarnya dengan wajah sumringah, bagaimana tidak, belum ia sampai di kamar Kevin sudah menggodanya dengan pesan pesan alai bukan alai lagi melainkan sangat romantis.


Setelah beberapa jam, Adel mulai kesepian lagi, bahkan tidak ada teman untuk mengobrol, ia mulai mengotak atik ponselnya, satu nomor yang sangat ia hafal adalah milik Ayra. Adel mengetiknya lalu memencet tombol hijau di ponselnya. Tak lama panggilan pun tersambung.


📞"...... " Adel masih diam, terdengar suara Derrick membuat air matanya mengalir begitu saja.


📞"Hallo ini siapa? " lagi Ayra menanyakan siapa yang menelphonenya. Fikiranya tertuju dengan Adel. Ia yakin ini adalah Adel. "Ra.... " panggilnya dengan nada lembut, tak ada jawaban namun isaknya membuat Ayra yakin bahwa ini Adel.


📞"hiks... Hiks..."


📞"Kamu dimana Ra? " Ayra kembali menanyakan keberadaan Adel. Hingga akhirnya Adel membuka suaranya.


📞"Ay... Aku rindu kalian. " ucapnya dengan terbata. Ayra saja ikut menangis mendengar Adel terisak.


📞"Apa kamu menderita? " tanya Ayra


📞" aku bahagia Ay, Kevin begitu menyayangiku, bahkan aku tidak diijinkan untuk melakukan pekerjaan rumah apapun. "


📞 "katakan dimana kamu sekarang Ra, dan bagaimana keadaanmu, bayimu, dan penyakitmu? " begitu banyak rentetan pertanyaan dari Ayra.


📞 " aku di Jogja, aku baik, janinku juga baik, kalau masalah penyakit, akhir akhir ini jarang kumat Ay. " Ayra bernafas lega, begitu jelas suara hembusan nafas Ayra.

__ADS_1


📞"Ra pulanglah, kamu harus mendapatkan perawatan yang intensive. " pinta Ayra khawatir.


📞"aku tidak mau pulang... Daddy dan mommy pasti akan..... "


📞"tidak Ra, Arion sudah memberitahukan semuanya, termasuk penyakitmu dan pernikahanmu. Mereka sangat khawatir terhadapmu, jadi kumohon pulanglah! " Ayra menjelaskan secara detail kedua orang tuanya yang sampai detik ini begitu menyesal telah mengusir Adel dari rumah.


📞"Kumohon Ay, jangan beritahu siapapun keberadaanku disini. " jelasnya kepada Ayra. Ia tidak mau kepergianya yang kedua harus berakhir dengan perpisahan seperti pertama kali kembali ke Jakarta.


📞" lalu bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu? " Kevin sudah menerima semua resiko hidup denganya, apapun yang terjadi Adel akan bersama Kevin begitu juga sebaliknya.


*


"Ra.... sayang bangunlah, aku membawa makanan kesukaanmu. " Kevin mengelus kening Adel, mencoba membangunkanya dari tidurnya. Detik waktu menunjukan pukul 20.00, begitu banyak operasi yang dilakukan Kevin, belum lagi visite dokter dan praktek untuk pasien rawat jalan.


"Malam sekali pulangnya Kev? " tanyanya yang kemudian membangunkan badanya. Tanganya mengucekkan ke matanya, pertanda bahwa ia masih sangat mengantuk.


"Ia sayang, maaf tidak bisa menemanimu. " ucapnya penuh sesal, dikecupnya kedua tangan Adel dengan penuh semangat.


"Mandilah, badanmu bau." pinta Adel kepada Kevin. Adel membantu Kevin meraih snellinya, dasi dan membuka kancing baju milik suaminya.


"Baiklah tunggu aku mandi ya. " Kevin mendaratkan ciumanya di kening Adel lalu berjalan menuju kamar mandi. Sebenarnya Kevin sudah mandi di rumah sakit, banyaknya virus yang menyebar membuat sebagian tenaga medis akan membersihkan dirinya di rumah sakit, lalu sesampainya dirumah akan kembali membersihkan tubuhnya.


Setelah beberapa menit mereka menikmati makan malam bersama. Bahkan Adel tidak menggunakan tanganya untuk makan, karna Kevin menyuapinya. Bahagia, Adel sangat bahagia melihat Kevin yang sangat perhatian dan memanjakanya. Fikiranya teralih dengan pertanyaan Ayra tadi siang.


'Bagaimana jika kondisimu tidak sesuai yang diharapkan Ra, lebih baik kamu pulang. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. '


"Kev..... " Kevin menjawab dengan tatapan mata lembutnya, seolah seorang putri yang memanggilnya. "Boleh aku bertanya? " Adel menatap wajah Kevin dan dengan rasa takut untuk mengutarakanya.


"Ya? " kali ini Kevin menghentikan langkahnya menyuapi dirinya dan Adel, ia memperhatikan pertanyaan istrinya itu.


"Apa kamu tidak takut jika kelak aku akan pergi meninggalkanmu lebih dulu dan tidak bisa kembali berkumpul denganmu? " garpu dan sendok yang dipegang Kevin terjatuh, pertanyaanya menggoncang perasaanya. Perlahan air matanya mengalir.


Bonus Visual


Adellaura Shava Arretha



Kevin Keyndra Markle

__ADS_1



__ADS_2