Gadis Liar

Gadis Liar
33


__ADS_3

"Aku tidak akan menanyakan alasanya untuk yang ke tiga kalinya Ken. " Zela berbalik masuk berlari kedalam rumahnya, dan kedua tanganya yang diusapkan dipipinya. Bahkan air mata Kenan sudah mengalir dari sudut matanya.


"Lebih baik kita bertiga sama sama terluka, daripada aku dan kamu bahagia diatas rasa sakit Arion. Arion bukan laki laki yang bisa dengan mudah mencintai orang lain, maka dari itu, sebelum Arion mencintai orang lain, aku tidak akan bisa bersamu Zel"


Zela berjalan masuk ke dalam kamar dengan air mata yang berderai. Tampak jelas sedang menangisi sesuatu. "Zel, baru pulang? Tumben Arion gak masuk. " tanya mama Zela yang kurang memperhatikan putrinya, sedangkan Aldi yang memperhatikan putrinya menangis dan berlalu meninggalkan mereka tampak memperhatikan putrinya yang sangat jelas habis menangis.


"Ma.... tengokin Zara sebentar, dia pulang dalam keadaan menangis. " pinta Aldi kepada istrinya, karna memang saat ini sedang menyelesaikan gawainya yang belum terselesaikan dikantor. Zara berjalan menuju kamar putrinya, lalu mengetukan tanganya di pintu kamar Zela. "Zella, Zela.... Kamu kenapa na? Apa kamu sakit atau ada yang mengganggumu? "


"Tidak apa ma, Zela tadi cuma kelilipan. " jelasnya dari dalam kamar tanpa berniat membukakan pintu "Zela mau istirahat ma. " ucapnya mengakhiri percakapan antara mama dan dirinya. Zela memang sangat tertutup untuk masalah pribadinya, bahkan kedua orang tuanya tidak pernah ikut campur urusan pribadi Zela.


"Ya sudah selamat tidur sayang. " ucap mama Zela yang kemudian berlalu kembali ke ruang tengah. "Kenapa Zela mah? " papa Zela penasaran, kenapa putrinya menangis, ada masalah apa dan siapa yang membuatnya menangis.


"Sepertinya berhubungan dengan Arion dan Ken lagi. " ucapnya dengan pandangan mata lurus kedepan. Mengingat Zela yang memang masih menyimpan foto Kenan di dompetnya, membuat kedua orang tuanya menafsirkan bahwa hubungan antara Zela dan Kenan tidak hanya sekedar sahabat. Namun mereka juga tidak pernah tau detail permasalahan anaknya itu, karna menurut mereka Arion lah yang lebih sering muncul dirumah ini, bukan Kenan.


"Anak itu memang tidak bisa ditebak. " ucap papa Zela. Zara mengangukinya, dan memainkan matanya. "Kenapa ma? " Zara tersenyum mendapatkan pertanyaan dan pernyataanya barusan. Bahwasanya sifatnya introvet seperti suaminya.


"Dia mewarisi sikap kamu yang introvet pah. "Jelas Zara. Aldi hanya menganggukan kepalanya. "Biar aku saja besok yang menemui Keyla untuk menanyakan hubungan mereka berdua. " ungkap Zara yang berniat menemui orang tua Kenan.


"Jangan ma, itu urusan anak muda, jangan ikut-ikutan dengan kamu menemui orang tua Kenan, biarkanlah dia seperti itu, Zela gadis yang tangguh sepertimu, dia akan kuat menghadapi masalahnya sendiri. "


Zara menganggukan kepalanya. "Kamu benar mas, Zela gadis yang kuat. Mari kita tidur, sudah larut, besok pagi harus berangkat kerja. " ajak Zara kepada suaminya.


Kenan melajukan mobilnya dengan amat cepat, sesampainya di kamar ia membasuh wajahnya frustasi, selama ini yang bisa ia lakukan hanyalah menyakiti orang orang disekitarnya, begitu juga dengan hatinya, yang tak pernah terlepas dari luka.


"Arghhhhh...... Kenapa gue gak bisa move on dari Zela kenapa!! " teriaknya membuat Keyla yang pulang dari rumah sakit meghentikan langkahnya didepan pintunya tanpa berniat mengetuknya "Kasian kamu nak, tapi mau bagaimana lagi, luka itu kamu yang buat sendiri. " Keyla melanjutkan langkahnya meninggalkan putranya yang lagi lagi sedih dan terluka karna ulah sendiri


*


"Abang, Ara pamit ya... " ucap Adel yang sudah berjalan dengan anggunya menggunakan midi dres berwarna lavender selutut. Rambutnya ia ikat, dan menyisakan anak rambut yang menambah nilai plus diwajahnya.


"Anak daddy cantik sekali, mau kemana? " Axel menanyakan putrinya yang sudah rapi dengan tas selempang berwarna hitam. Adel hanya melebarkan senyum tipisnya. Lalu mengecup pipi daddinya. "Ara mau main dad Assalamualaikum. " pamitnya berlalu pergi karna tidak mau dibom dengan banyak pertanyaan oleh daddy nya.


" Waalaikum salam hati hati Ra! " ucapnya sambil menggelengkan kepalanya "Adekmu itu bang, kalau ditanya sukanya kabur. " gerutu Axel kepada putranya. "Mungkin herediter. " celetuk Kenan membuat daddinya mendelikkan matanya mendengar ucapan putranya.

__ADS_1


Herediter atau keturunan


"Kamu itu kalau ngomong langsung ngena ke hati Ken. " jelas Axel. Kenan hanya tersenyum simpul menanggapi daddinya.


"Memangnya siapa yang punya sifat sepertiku kalau bukan daddy. " Kenan memainkan matanya mengejek daddinya. Lalu berjalan menaiki anak tangga. "dad apakah persiapan yang aku minta sudah beres? " Kenan berbalik menatap daddynya.


"Sudah Ken, apa kamu benar benar ingin kuliah diluar negeri, tidakkah kamu ingin menemani mama dan papa disini. " Kenan menganggukan kepalanya. Ia mendapatkan beasiswa di Oxford University. Sudah jelas Kenan akan memanfaatkan kesempatan ini dan tidak merepotkan orang tuanya.


"Lagian mama dan papa juga kan sibuk semua, jadi Kenan pengin cari pengalaman baru. "Jelasnya dengan singkat, mau seperti apapun, kedua anaknya memang keras kepala. Dimana mereka sudah bertekad tidak ada yang bisa mengubahnya.


Sudah ada Kevin yang menanti Adel di dalam mobil. Adel berlari memasuki mobil Kevin. "Aku gak pamit dulu Ra? " Adel menggelengkan kepalanya sambil memasang seatbeltnya "aku sudah pamitin Kev" jelasnya. Kevin memutar kemudinya lalu melajukan mobilnya, kurang lebih 5 jam mereka sampai di Bandung. Sedari tadi Adel terlelap dalam tudurnya, sedangkan Kevin terjaga dengan kemudinya.


Tepat pukul 11 siang mereka sampai di Farmhouse Lembang. Lembang adalah tempat wisata dengan kategori ternyaman di kota Bandung. "Kita cek in dulu Ra. Mataku tak bisa dikondisikan. " jelas Kevin yang memang sudah sangat mengantuk. Adel membulatkan matanya mendengar kalimat Cek In. Fikiranya berkelana jauh membuatnya melamun, lalu Kevin menyentil kening Adel. "Gak usah ngeres deh Ra. " Kevin menggandeng tangan Adel memasuki sebuah Villa yang sudah dipesan.


Benar saja sesampainya di Villa Kevin terlelap dengan tidurnya. Namun lain halnya dengan Adel yang sedari tadi memainkan ponselnya, hingga ia bosan. Setelah 1 jam Kevin bangun dari tidurnya, dan pemandangan yang begitu indah ketika melihat Adel berada disampingnya bermain game online. Kevin melingkarkan tanganya di pinggang Adel, membuat Adel bergeliat karna merasa geli.


"Kalau kaya gini jadi pengin halalin kamu deh Ra. " ungkap Kevin yang kemudian meletakkan kepalanya di paha Adel. Wajahnya mulai bersemu mendengar penuturan Kevin yang ingin menghalalkanya.


Setelah 10 menit mereka sudah bersiap untuk mengunjungi wisata di kota Lembang. Ada 24 titik wisata disana, diantaranya ada 5 curug, sendang, park zoo, lembang wonderland, taman bogonia, kebun teh dan banyak lainya.


Waktu sangat cepat berlalu, hingga hari menjelang gelap, tujuan terakhir mereka adalah puncak bintang, yang akan lebih indah jika dinikmati pada malam hari. Waktu sudah menunjukan pukul 19.45. Tapi semakin malam tempat ini semakin indah. Membuat mereka enggan untuk pulang.



"Ra bisakah kamu berjanji, akan menungguku, dan jangan pernah mencari lelaki lain. " Adel menganggukan kepalanya. "Aku janji Kev aku akan menunggumu pulang. " jawabnya.


"Bolehkan aku mendengar ungkapan cintamu kepadaku, sejauh ini, hanya aku yang mengungkapkan perasaanku, kamu hanya menjawab dengan kalimat Ya " Adel melebarkan senyumnya. Kevin itu seperti anak kecil, fikirnya geli mendengar permintaan Kevin.


"Cup. " Adel mencium bibir Kevin dengan lembut dan mencecapnya, dengan semangat Kevin membalas Adel. Suasananya begitu romantis, membuat seseorang enggan untuk berpindah dari sini.


"Apa ini belum cukup untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu Kev? " Kevin menjawab dengan menciun keningnya. "Sudah cukup Ra, I love you. ''


"Love you too" jawab Adel semangat lalu mengeratkan pelukanya di tubuh Kevin. Detik waktu menunjukan pukul 22.00 sudah terlalu larut untuk pulang. Hujan lebat menemani malam yang gelap penuh petir, dan angin. Kevin memutar stirnya kembali ke Villa, membuat Adel membelalakan matanya.

__ADS_1


"Kenapa..... " Adel belum selesai meyanggah kelakuan Kevin yang membawanya pulang ke Vila lagi. "Pinjam ponselmu" Kevin meminjam ponsel Adel untuk menelfon orang tuanya. Melihat Kevin mengetik nama daddy di ponsel Adel, Adel dengan cepat menarik lagi ponselnya.


"Apa kamu gila Kev, jangan gegabah, aku bisa mati dicincang daddy kalau aku menginap disini bersamamu." Kevin menarik kembali ponsel Adel. "Kalau kita nekat pulang, kita akan sampai hanya dengan nama tanpa nyawa. " jelasnya. Mengingat perjalanan yang dilalui memang sangat menanjak, curam dan rawan longsor. Tidak mungkin mereka pulang saat ini.


"📞Hallo Ra.... Loh Kevin ada apa" Kevin menghubungi daddy Adel dengan vidio calling.


"📞Hallo om, apa Adel diijinkan menginap bersamaku di Bandung om?" Adel menepukkan kepalanya di jidatnya merutuki kebodohan Kevin yang berani mengajaknya menginap bersama.


"📞 Apa terjadi masalah disana Kev.? " Axel dan Keyla seperti naik darah, namun melihat kondisinya yang tidak memungkinkan pulang, karna di vidio menampilkan beberapa kilat yang sangat mengerikan.


"📞Kita di Bandung dan terjebak saat jalan pulang oleh hujan, petir, dan angin, kemungkinan jalanan longsor. " jelasnya dengan jujur.


"📞Baiklah jika hujan reda pulanglah Kev. Om titip Adel, " dengan mudahnya orang tuanya memberikan ijin kepada Kevin.


"Semudah itu Kev. " Kevin menganggukan kepalanya. Lalu Adel muncul dilayar vidio antara Kevin dan daddy nya.


"Kev, jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, berani kamu menyentuh putriku, kamu akan langsung menikahinya. " tantang Axel kepada Kevin.


"Saya memang berniat menikahinya om, cepat atau lambat, kalau didijinkan besok juga saya nikahi. " jelasnya dengan senyum tipis penuh kemenangan. Adel mencubit Kevin dengan kerasnya membuat Kevin menjerit kecil.


"Baiklah kupegang janjimu. Ara jangan nakal dan cepat pulang jika memungkinkan. " pinta daddy nya serius, lalu menutup panggilanha.


Mobilnya ia lajukan ke Vila yang tadi dipesan. "kamu memang licik, menelfon orang tuaku ditengah jalan yang ada pohon tumbang, kilat dan angin. " Kevin mengembangkan senyumnya penuh arti. Entah ini sudah direncanakan olehnya atau memang sebuah kebetulan. Fikir Adel yang sedari tadi merasa cemas.


Sesampainya di dalam Villa mereka membersihkan dirinya, dan berganti dengan pakaian yang tersedia di Villa tersebut. Pakaianya memang sangat menonjolkan bagian dada Adel, membuat Kevin tidak berkedip melihatnya "Kevin tutup matamu. " teriaknya membuat Kevin sadar apa yang sedang ia lihat.


Adel membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, lalu merebahkan tubuhnya di bad yang berukuran besar itu. Setelah melihat Adel tertutup rapat dengan selimutnya, Kevin ikut merebahkan tubuhnya disamping Adel.


"Kenapa tidur disini Kev. " protesnya kepada Kevin yang tidur disampingnya. Adel membelakangi Kevin dengan sengaja, karna takut Kevin benar benar akan memangsanya.


"Aku sudah berjanji pada daddy mu kalau aku tidak akan mencari kesempatan dalam kesempitan Ra, jadi kamu aman saat ini. " Adel menghembuskan nafas leganya mendengar ungkapan Kevin.


"Maksudku aman saat ini Ra, aku tidak menjamin untuk nanti." Senyum Kevin penuh Arti. Lalu Kevin menyusupkan pelukanya di pinggang Adel. Sesaat Adel begitu terkejut mendapat pelukan dadakan dari Kevin

__ADS_1


__ADS_2