
"Kemana Sak? "Kenan tampak penasaran kemana Saka akan pergi, apa ia kembali lagi melanjutkan pertunanganya yang sempat tersinggung tadi pagi oleh ibundanya.
"Ke Singapure. "
"Apa kamu akan menikah dengan wanita yang pernah dijodohkan denganmu lagi seperti yang ibundamu katakan tadi Sak? "
"Gue bisa apa Ken, hanya itu pilihanya, aku kembali kesini hanya untuk memantapkan Ara menjadi kekasihku, tapi sayangnya belum berjodoh. " bibirnya ia tarik setipis mungkin, memperlihatkan senyum yang memang ia paksakan.
"Atas nama Ara gue minta maaf Sak. " Kenan memeluk Saka. Ia sangat salut dengan pribadi Saka. Laki laki yang dari dulu susah dideketin perempuan sekali jatuh malah sama adiknya sendiri, dan malangnya cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Sante lah bro, gue gak akan mati ditinggal Ara." ungkapnya mengganti topik pembicaraan. Tak lama ia berpamitan kepada mereka berdua. Karna memang besok pagi harus ikut ibunda dan ayahanda untuk kembali ke Singapure.
"Kalau nikah kabarin Sak. " Arion menyela peluk perpisahan Kenan dengan Saka. Saka menganggukan kepalanya.
"Pasti.... Dan jangan lupa kalian harus datang." ungkapnya dengan nada ramah. Tidak ada dendam maupun benci, sedermawan itukah hatinya. Bahkan jika Kenan ada diposisi Saka, ia tidak sanggup menghadapinya.
"Selamat jalan Sak. " Saka berlalu meninggalkan mereka berdua. Air matanya sesaat ia tahan agar tak jatuh ke pipinya, melo, itulah Kenan, yang mampu berpose se cool mungkin didepan Zela, tapi hatinya sangat rapuh, apalagi harus berpisah dengan sahabatnya itu merupakam momen tersedih dalam hidupnya, mengingat Saka membawa luka yang masih sangat jelas menggores hatinya yang masih saja merindukan gadisnya, bahkan tidak pernah memikirkan perasaanya.
*
"Mas sudahlah jangan sedih seperti itu. " Zela melingkarkan tanganya diperut Kenan, ia tau bahwa hatinya ikut terluka akibat kejadian adiknya dan Saka yang gagal menikah.
"Mesti cari kemana Zel? " Kenan frustasi karna bahkan tidak ada petunjuk tentang kepergian Adel. Orang tuanya saja tidak tau kalau Adel pergi bersama Kevin. Jika ia tau mungkin akan menjadi keributan yang besar.
Tak lama sebuah ketukan pintu terdengar, suara papanya terdengar dan menanyakan perkembangan pencarian Adel pastinya.
"Adek kamu belum ditemukan Ken? " Kenan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bahkan cctv tidak menampilka adanya Adel yang pergi, karna memang jelas bahwa kamar Adel tidak menpunyai cctv.
"Awas saja sampai pulang, daddy kurung kamu Ra. " ungkap daddy nya. Marah, jelas sudah beberapa kali Adel mengecewakan daddinya, bahkan ia sering sekali membuat daddy nya jantungan karena sering balapan liar. Axel kemudian berlalu meninggalkan mereka.
"Zel.... Bisakah kamu mencarikan Ara dengan koneksi mama kamu Zel? " pintanya kepada Zela, mama Zala mempunyai koneksi IT yang begitu canggih, dan mungkin akan membawakan hasil yang maksimal.
__ADS_1
"Bukanya aku tidak mau Ken, tapi kepergian mereka berdua mungkin juga ada baiknya, bayangkan jika Ara tetap bersama Saka, Ara akan tersakiti begitu juga dengan Kevin dan Saka." ungkap Zela yang justru mendukung Adel dengan Kevin.
"Kamu mendukung Ara dengan Kevin?" Kenan menatap Zela dengan tatapan aneh, ada rasa tidak suka ketika Zela mendukung Kevin dan Adiknya. Zela menggeleng."Bukan begitu Ken, dengerin aku dulu!" jawabnya memotong kalimat Kenan. Kenan berlalu meninggalkan Zela.
Zela menyusul Kenan masuk ke kamar, "apa karena Kevin masih saudara kamu, kamu membelanya? " Zela hendak menjawab sayangnya Kenan berjalan keluar kamar untuk menghindari Zela, membuat Zela mengejar Kenan kembali.
"Ken..... apa kamu fikir hidup bersama orang yang tidak kita cintai itu bukan penderitaan, bahkan selama hampir 3 tahun aku menunggumu itu menyakitkan Ken." jelasnya menyangkut pautkan hidupnya yang digantung oleh Kenan.
"Jangan menyamakanya dengan kita Zel." Kenan menatap balik Zela. Sepertinya mereka mulai tersulut emosi.
"Apa bedanya, bahkan diantara kita ada Arion, ada cinta segitiga, dan adik kamu mempunyai alasan kenapa dia tidak bersatu dengan Kevin, aku yakin itu Ken. "
"Alasan apa yang dia punya Zel, dia hanya suka bermain main, dari dulu selalu seperti itu. Dia terlalu dimanja, sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang liar." keluhnya kesal kepada Adel. Entah kenapa memang antara Kenan dan Adel tidak terlalu dekat, sifat tertutup keduanya membuat hubungan mereka jauh. Bahkan Kenan lebih cenderung cuek terhadap Adel.
Mengingat kembali Kenan sewaktu kecil sering di tinggal oleh orang tuanya ke Amerika, karena mamanya mengurus papanya yang berobat ke Amerika. Membuat sifat Kenan tertutup kepada siapapun. Bahkan setelah Kenan berusia 6 tahun papa dan mamanya baru kembali dari Amerika, dan kembali mengurus Kenan yang sudah terbiasa tanpa kedua orang tuanya.
*
"Ibunda, haruskah pertunangan ini disambung kembali?" Saka yang sudah lengkap dengan jasnya membuat ia menjadi laki laki yang benar benar tampan dan perfect.
"Ia Saka, bahkan tunanganmu masih mau menunggumu, dia gadis yang baik, tidak sepantasnya kamu memperlakukan ini semua kepadanya. " timpal ayahandanya yang juga siap dengan jas berwarna putih.
Saka menghela nafasnya berat, wanita yang akan ia nikahi memang sangat baik, bahkan gadis itu yang menawarkan kepada Saka untuk mengejar cintanya. Bukan karena tidak cinta, tapi mengingat bahwa Saka sangat care terhadap Adel lah yang membuat tunangan Saka meminta hal demikian.
"Setidaknya jangan menikah dengan seseorang yang terlalu sering menyakiti Sak. " ujar ayahandanya.
"Jika kamu membandingkan antara menikahi seseorang yang sangat kamu cintai, dan menikah dengan seseorang yang sangat mencintaimu, kamu akan lebih diuntungkan ketika seseorang itu sangat mencintaimu. " Ya ucapan ibundanya memang benar adanya hanya ada rasa sakit hati ketika kita berjuang sendiri.
Cinta bisa saja tumbuh dengan sendirinya, tapi jika kamu menikahi seseorang yang jelas jelas tidak menyukaimu, dan seluruh hatinya diberikan kepada orang lain. Berhentilah, cinta itu hanya akan menyakiti.
*
__ADS_1
"Sejak kapan kemu belajar memasak Ra? " Kevin menghampiri Adel yang sedang memasak, dilingkarkanya lengan kekar itu di pinggang Adel, membuat Adel menatap wajah Kevin. Adel mendaratkan ciumanya di pipi Kevin, membuat sang pemilik pipi membalas mencium bibir Adel sejenak.
"Sejak aku mengurus Derrick, dia seperti putraku sendiri." ungkapnya membuat Kevin menatap wajah Adel yang sedang serius memasak opor ayam tampak lebih cantik. Leher jenjangnya ia biarkan tanpa tertutup rambut membuat Kevin menyesap kulit putih itu. Wangi di leher Adel masih membuat Kevin ingin menikmati istrinya itu, sayangnya wangi serehnya lebih menggoda penghidunya dan menyengat di hidung membuat perut Kevin sangat lapar.
"Pantas saja Arion sangat care padamu, ternyata kamu menjaga putranya dengan baik." Adel menganggukan kepalanya. Bahkan bukan hanya kasih sayang yang Adel berikan kepada Derrick, semua yang dikirim daddy nya ia bagi bersama Ayra. Ayra sebatangkara disana bersama Adel, hidup Adel yang sederhana membuat ia tau bahwa hidup tak semudah yang ia tau.
Tidak dipungkiri Adel bahkan setiap minggunya selalu mengikuti balapan demi menghidupi Ayra dan Derrick. Baginya pengorbananya ia harap bisa mengganti posisi Arion sebagai bentuk tanggung jawab abangnya itu. Ayra sendiri melakukan kerja part time demi menghidupi dirinya.
Keadaan ini tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun, karna janji Adel kepada Ayra l. "Selesai... Ayo makan. " ucapnya yang sudah selesai menyiapkan makan malam bersama suaminya.
"Ra..... Kapan kamu akan melakukan operasi kraniektomi dekompresi? " Adel tersedak mendapat pertanyaan Kevin yang tiba tiba itu, apalagi menyangkut penyakitnya itu.
Hambar makanan yang ia masukan seketika membuat mood makanan seperti hilang rasanya. Ia masih sensitive jika ditanya tentang penyakitnya itu. Mengingat kembali bahwa penyakit itu masih sangat susah ditangani, belum lagi selama 2 bulan ia harus merasakan keadaan tidak sadar, terpasang ventilator dan tidak dapat melihat orang orang yang ia sayangi.
Kemungkinan tidak sadar kembali itu hampir 50%, itulah alasan mengapa ia menunda operasinya sampai saat ini, kali ini ada Kevin yang membuat hidupnya lebih berharga. Sebelumnya bahkan ia tidak berencana melakukan operasi itu. Bahkan baginya kehidupanya tidak ada artinya, sebelum ia menikah dengan Kevin.
"Ra....?" lamunanya terhenti ketika Kevin memanggilnya ulang, membuat ia mau tidak mau harus menjawabnya.
"Setelah pulang dari sini, kita akan meminta restu dari orang tua kita Kev, dan aku akan menceritakan semuanya." ungkapnya jelas, membuat Kevin bernafas lega.
Kevin memegang jemari Adel, ia tersenyum bahagia mendengar jawabanya yang pasti itu." Ra jangan pernah menanggung semua masalah sendiri, kamu miliku, dan selamanya akan menjadi miliku, kamu adalah tanggung jawabku sekarang maupun nanti Ra." ucapnya membuat hati Adel tenang seketika.
Bisa memiliki Kevin seutuhnya adalah hal yang paling membuat ia bahagia. Membuat semangat hidupnya kembali lagi. Tidak ada yang membuat ia sebahagia ini, karna hatinya selalu ada Kevin, Kevin, dan Kevin. Bahkan selama hidupnya ia rela memberikan nyawanya demi Kevin.
*
"Bagaimana, apa ada kabar dari Kevin? " seorang wanita yang sedari tadi mondar mandir di kamarnya sambil menggenggam telephonya.
"Maaf nona, sepertinya ada yang menghapus semua data yang bersangkutan dengan kepergian Kevin dan dokter tersebut" ucap bawahanya.
"Siapa dia? "
__ADS_1
"Maaf nona kita tidak dapat melacaknya. " jawab bawahanya, membuat Agni seketika meremas dan membanting vas bunga di meja kamarnya. Ya wanita ini adalah Agni.
"Saya tidak mau tau, cari keduanya, kalau bisa bunuh wanita ****** itu." pinta Agni kepada bawahanya.