Gadis Liar

Gadis Liar
71


__ADS_3

"Kev..... " Kevin menjawab dengan tatapan mata lembutnya, seolah seorang putri yang memanggilnya. "Boleh aku bertanya? " Adel menatap wajah Kevin dan dengan rasa takut untuk mengutarakanya.


"Ya? " kali ini Kevin menghentikan langkahnya menyuapi dirinya dan Adel, ia memperhatikan pertanyaan istrinya itu.


"Apa kamu tidak takut jika kelak aku akan pergi meninggalkanmu lebih dulu dan tidak bisa kembali berkumpul denganmu? " garpu dan sendok yang dipegang Kevin terjatuh, pertanyaanya menggoncang perasaanya. Perlahan air matanya mengalir.


Wajah Kevin memerah, hatinya mulai sesak, ia tau jelas kondisi istrinya saat ini, tidak menutup kemungkinan, nanti Adel akan pergi meninggalkanya lebih dulu. Makananya seolah hambar tak berasa. Mata hazelnya tak mampu menatap wajah Adel yang menatap dengan inci lelaki tampan didepanya.


"Apa kamu tidak ingin mengganti topik pembicaraan Ra?" tenggorokanya mendongkol, seperti menahan balok di kerongkonganya. Bahkan hatinya seperti ikut hancur untuk sekedar menjawab pertanyaan tersebut.


"Kamu tau sendiri resiko menikah denganku Kev, pasti akan ada hari aku menanyakan hal ini, dan ada hari dimana kamu mengalami hal tentang jawabanmu Kev." Sudut matanya menatap lurus kepada Kevin, yang tidak berani menatap Adel.


"Kev...." Kevin beranjak dari duduknya, ia tak kuasa menahan sakit di dadanya, air matanya ia usap. Tak lama sebuah tangan melingkar di perutnya, memeluknya dengan erat. Akan ada hari dimana lingkaran tangan ini dan pelukanya sirna dan hanya akan menjadi kenangan yang manis dan menyakitkan.


Kevin membalikan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan, "a.. ku.... tidak dapat menjawabnya Ra, itu diluar kendaliku, membayangkanya saja tak mampu, apalagi menjalaninya, yang jelas aku akan mencintaimu sampai kapanpun, dan tidak akan pernah kuganti dengan yang lain." nadanya begitu berat dan bahasanya lebih mendalam.


Adel memeluk Kevin ia sandarkan kepalanya di dada bidang Kevin. "Jika kelak aku tiada, belajarlah mencari penggantiku." ucapnya dengan senyum walaupun hatinya teriris perih. Wanita mana yang berani berkata demikian. Tapi melihat Kevin yang selama ini tidak bisa move on darinya, membuatnya sadar kelak akan menjadi lara yang begitu dalam dan menggores sebongkah luka di relung hatinya.


"Itu hanya mimpi, jangan mengatakan hal yang membuatmu sakit Ra. Bukankah mengatakan hal demikian lebih menyakiti hatimu, cobalah tidak menebak masa depan yang hanya diketahui oleh Sang pembolak balik hati Ra."


"Berat buatku berat juga buatmu, tapi percayalah, aku ikhlas jika kamu mencintai orang lain Kev " ungkap Adel, ia mencoba membuat Kevin agar tidak terlalu terpaku kepadanya.


"Jangan berfikir macam macam Ra, kita jalani saja, dan setelah kamu melahirkan, kita akan melakukan operasi Ra." jelasnya kepada Adel, Kevin tidak mau larut dalam kesedihan, dan terlebih lagi Kevin tidak mau Adel terlalu memikirkan dirinya dimasa depan, dimana bahkan kehidupanya ditebak tebak membuat hatinya sedih.


"Cupp" Kevin menyapukan bibirnya, membasahi bibir Adel dengan lembut, lalu dicecapnya ranum bibir milik Adel, seolah bibirnya seperti permen yang menggodanya.


Dipapahnya tubuh Adel yang ringan itu menuju kamar mereka, perlahan Kevin menanggalkan satu persatu kain yang menutupi tubuh Adel, membuatnya polos hanya dengan pakaian dalamnya. "Kev.... " keluh Adel, karna hampir setiap malam Kevin meminta haknya.


"Aku janji pelan pelan. "Ungkapnya yang mulai menjelajahi setiap inci tubuh Adel. Pasrah... Mesti apa kasian juga kan kalau gak dikasih, baru menikah dan langsung diberikan kepercayaan membuat Kevin belum terbiasa jika harus berpuasa.


*

__ADS_1


"Ay..... " Arion menyambut uluran jari Ayra, dengan lembut Ayra menciumnya, Ayra tampak berbeda dari biasanya. Wajahnya kusut seperti memikirkan sesuatu yang berat.


"Ay kamu kenapa?" Ayra bungkam, ia tidak bisa menceritakan masalahnya tentang Adel. Tapi isyarat tubuhnya mengatakan dengan jelas ada yang ia sembunyikan. Bahkan detik panjang menunjuk di angka 23.00, namun matanya masih on. Membuat Arion bertanya ada apa gerangan dengan istrinya.


"Gak papa mas." jawabnya kekeh, dengan cepat Ayra mengambil kemeja yang telah dipakai oleh Arion lalu menempatkan di keranjang baju kotor dan Ayra masih menghindari pertanyaan suaminya.


Setelah selesai mandi ia sempatkan menemui putra tercintanya Derrick, seharian tidak memeluk buah hatinya membuat ia sangat merindukan senyum putranya. "Cup" sebuah kecupan Arion daratkan di pucuk kepala putranya. "Maafkan ayahmu yang selalu sibuk memikirkan pekerjaan nak. "


Arion bergegas kembali ke ruang makan, Ayra dengan tlaten menghangatkan masakanya lalu menghindangkanya didepan Arion. "Hari ini kamu tidak ada operasi? " Ayra menggelengkan kepalanya. Hari ini tidak ada operasi, semua ia limpahkan kepada perawat anestesi. Ia hanya mendapati beberapa konsulan pasien yang akan di operasi.


Wajahnya masih menunjukan bahwa Ayra menyembunyikan sesuatu. "Masih belum mau crita? " Ayra mendadak menatap Arion yang mengerti bahasa isyarat tubuhnya.


"Selesaikan dulu makanmu mas!" pintanya dengan lembut, setelah selesai makan Ayra menyusul Arion ke kamarnya. Ia bingung mau menceritakan dari mana.


"Ay...... "Arion mengusap pipi istrinya, biasanya lesungnya terlihat manis ketika menyambutnya pulang, tapi kali ini tidak seperti biasanya.


"Ara menelphoneku." Arion membulatkan matanya, menajamkan apa yang barusaja ia dengar. Lalu memastikan kembali kepada Ayra tentang kebenaran ucapanya.


"Kamu yakin? " Ayra menganggukan kepalanya. "Bagaimana kabarnya, janinya, dan penyakitnya, lalu dimana saat ini ia tinggal? " Sama halnya seperti Ayra yang protektif kepada Adel, Arion pun menanyakan pertanyaan yang sama.


"Kita berangkat ke Jogja sekarang. " benar saja pemikiran Ayra, ia langsung mengajak Ayra ke Jogja.


"Tunggu mas, aku sudah janji kepada Ara, agar tidak memberitahu kepada siapapun. "Ucapnya cemas, baginya janji tetaplah janji, meskipun itu adalah adik dari suaminya sendiri.


"Ay... Prinsipmu ini yang membuat kamu dan Derrick menderita selama 9 tahun, andai saja antara kamu dan Ayra tidak......... Ahh sudahlah q merasa bersalah jika membahas masa lalu, bersiap siaplah Ay! " pinta Arion, lagi lagi mengingat keduanya antara Ayra dan adiknya memang sangat memegang janji, hingga keberadaan Derrick saja yang sekarat baru mereka mengatakanya.


"Kita tidak tau alamatnya mas. " ucap Ayra, Arion mengganti piyamanya dengan kaos santai dan celana pendek. "Mas... " panggilnya ulang kepada Arion. Arion menyambar ponselnya lalu menanyakan ponsel Ayra.


"Dimana ponselmu? "Ayra menyerahkan ponselnya. Lalu melihat sebuah nomor yang baru baru ini menghubunginya. Ia mengetikkan sebuah pesan entah kepada siapa, yang jelas pasti seseorang yang lebih professional dalam bidang IT. "Bersiap siaplah Ay, Derrick nanti biar aku saja yang gendong. " pintanya kepada Ayra dengan menepuk pelan pundaknya.


*

__ADS_1


Pagi ini Arion menginap di sebuah hotel karna ia sudah sampai di Jogja. Tak berselang lama Arion mengajak Ayra dan Derrick untuk cek out dari hotel tersebut. Mereka sampai sekitar pukul 3 dini hari. Arion sudah izin kepada daddinya meminta libur, karna hampir seminggu ini Derrick meminta libur kepada Arion hanya sekedar berlibur bersama.


"Ay sayang bangun! "Diciumnya Ayra dan putra kesayanganya yang masih tertidur pulas. Ayra hanya menggeliat, lalu berputar dan memeluk putranya.


"Ay.... Perlu kupakai cara yang lain untuk membangunkanmu? " Sebuah bisikan nakal dari Arion yang menggelikan di telinga Ayra, sehingga membuatnya terbangun. Lelah sekali pasti baginya. Setiap hari bekerja, bahkan on call dan mengurus anaknya. Untung saja mereka tinggal di apartemen Arion yang cukup sederhana. Sehingga tidak terlalu lelah jika harus mengurus rumah.


" Aku lelah mas... " rutuknya kesal, baru 2 jam tertidur rasanya, sudah dibangunkan oleh Arion, dan lagi tubuhnya seperti ditusuk tusuk semua.


"Belum kuminta hakku, kamu sudah menolaknya mentah mentah." ucap Arion sedikit kesal mengingat malam ini seharusnya mendapatkan haknya, namun karna perjalanan jauh sehingga harus ditunda keinginanya.


"Siapa suruh ngajakin ke Jogja tengah malam. "Ucap Ayra menjatuhkan kepalanya di dada bidang Arion.


"Yah... Maaf.... "Arion mendaratkan ciumanya di pucuk kepala Ayra. "Mandilah sayang. " pintanya dengan lembut.


"Ayah... kalian mau kemana? " tanya Derrick yang tersadar dari tidurnya dan mendengar perdebatan perdebatan kecil kedua orang tuanya. Derrick mengucek matanya namun melihat suasana hotel yang seperti berada di tempat asing.


"Kita mau jalan jalan sayang." ucap Ayra gemas kepada putranya.


"horee kita jalan jalan." tawanya begitu lepas membuat Arion bernafas lega. Ayra dan Derrick bersiap siap untuk mandi.


Menempuh waktu sekitar 45 menit Arion sampai disebuah rumah sederhana, tepat dipinggir jalan menuju arah gunung berapi. Udaranya begitu sejuk membuat Derrick bahagia manatap pemandangan indah gunung berapi tersebut.


Tok


Tok


Tok


Sebuah dentingan bell berbunyi. Ini adalah week end sehingga Kevin pun ada dirumah, memanjakan istrinya dan memenuhi keinginanya. "Mau kemana? "Tanyanya ketika didapati sebuah dentingan bel yang berbunyi nyaring di pagi hari. Yah memang detik waktu menunjuk arah 06.50


"Sebentar Kev, ada yang bertamu." ungkapnya dengan nada tergesa gesa. Ia berjalan menuju sumber suara. Siapa gerangan yang bertamu sepagi ini, sepertinya ia masih baru menempati daerah ini, sehingga sangat jarang Adel menerima tamu.

__ADS_1


"Ceklek" Adel membuka handle pintu. Betapa kagetnya ketika sosok wajah yang ia rindukan muncul dihadapanya.


"Abang..... "


__ADS_2