
"Sayang dari mana kamu mengenal om Saka. " Adel yang berdiri tak jauh dari sana merasa was was ia takut Cila akan jujur pada ayahnya.
"Cila gak kenal om ini, Cila sedang mencari pianis yang tadi ayah. " jawabnya membuat Adel lega mendengarnya.
Dering ponsel Adel bergetar dengan kerasnya membuat mereka semua terfokus pada arah dimana ponsel itu berbunyi. Kevin mulai berjalan menuju dimana arah Adel bersembunyi. Hatinya berdegub hebat ia takut Kevin akan menemukanya.
"Ayah... Ayo kita cari pianis yang tadi. " Ajaknya kepada Kevin yang mendekati dimana arah Adel. Adel bernafas lega ketika Kevin menjauhinya.
"ya sayang. " Kevin mendekati Saka, sudah lama mereka tak berjumpa. "Apa kabar Sak? " tanya Kevin menjabat tangan Saka.
"Baik Kev." Tak lama Kinan menyusul Kevin, karena melihat Kevin dan Cila pergi, Kinan berinisitif mencari mereka.
"Mas... Cila... Kalian sedang apa? " tanya Kinan yang mulai mendekat pada Kevin dan Cila.
"Calon loe?" tanya Saka pada Kevin. Kevin hanya mengangguk. Wajahnya tidak ada rasa bahagianya menurut Saka. Kinan mengulurkan tanganya pada Saka.
"Kinan. "
"Saka"
"Loe sedang apa disini Sak? " tanya Kevin basa basi.
"Hampir lupa, gue lagi nemenin temen yang ikut tim medis berjaga dalam acara kegiatan di gedung ini. " jawabnya membuat Saka sesaat mengingat Adel masih disana, sedang bersedih.
"Seorang pemilik Rumah Sakit Bonafit yang bercabang hingga 7 mengikuti acara seperti ini sebagai tim medis, gue yakin yang loe temenin ini spesial. "
"Yah sangat spesial, dan kalau loe tau, loe juga bakalan ninggalin tunangan loe." batinya meremehkan.
"Haaaa memang spesial, jadi gue temenin dia kemanapun dia pergi. Gue cabut dulu Kev." pamit Saka. Percakapan mereka sangat kaku, bahkan tidak bisa disebut sahabat menurut Cila.
Kevin, Kinan dan Cila kembali ke dalam gedung, mereka melanjutkan acaranya yang sempat tertunda. Tak lain halnya Saka juga menghampiri Adel, dan memastikan Kevin sudah kembali ke dalam gedung.
"Masih sedih?" tanya Saka ikut menyenderkan tubuhnya pada dinding di depan Adel. Adel menggeleng, namun raut wajahnya masih terlihat sedih. Saka menarik Adel untuk duduk di depan toilet. Saka mengetikan pesan pada Cila untuk datang sekedar menghiburnya.
"Mau nangis gak.... Bahuku siap menahan kepalamu, bajuku juga siap buat lap ingus kamu." ledeknya membuat Adel menepuk keras pundak Saka.
"Iiih sebel... "
"Lagian melo terus." ucap Saka, Adel menarik ujung bibirnya membuat Saka tersenyum. "Senyum kamu indah Ra, jadi jangan menangis, itu membuat hatiku sakit." ucap Saka memasang wajah seriusnya.
"Bunda.... " teriak Cila yang berjalan ke toilet di gedung A, Saka tak mau ambil resiko jika ada keluarga Adel yang melihatnya. Saka juga memberitahu Cila untuk datang ke toilet di gedung sebelah.
"Cila... Kenapa kesini?" tanya Adel. Adel memandang sekitarnya, ia takut ada yang mengikuti Cila.
"Cila kangen bunda." ucapnya lalu memeluk bundanya.
"Bunda juga kangen sama Cila. Besok bunda libur, apa Cila mau menemani bunda dirumah, kita masak bareng." ajaknya. Cila jelas saja mengangguk, gadis kecil ini sangat senang jika bersama bundanya.
"Baiklah besok bunda jemput ke sekolah. Sekarang Cila balik ke sana nanti dicariin ayah." pinta Adel, ia tak mau ada yang mencari Cila dan bertemu dengan salah satu dari mereka.
*
Suara klakson mobil menggema di depan apartemen Adel, yah siapa lagi kalau bukan Saka. Adel dengan cepat membuka pintu. "Sesenggang itukah kamu, sampai pagi hari begini kamu sudah disini?" tanya Adel heran, bahkan dirinya saja baru selesai mandi.
"Katanya semalem ada yang mau belanja." ucap Saka mengingatkan Adel yang semalam mengajaknya untuk menemaninya ke mall.
"Ya baiklah bosku yang baik hati mau menemaniku ke mall. Tunggu aku 15 menit lagi! " pintanya kepada Saka.
__ADS_1
Setelah membelah jalanan mereka sampai di sebuah mall terbesar. Bahkan Adel saat ini tak memakai masker, polos dengan wajah cantiknya.
Mereka berjalan beriringan, tampak akrab, dan ketika seseorang melihatnya akan seperti orang berpacaran. "Ra kita seperti orang pacaran." ledek Saka. Adel hanya mengangguk kepada Saka.
"inget umur Sak." sepanjang perjalanan mereka saling tertawa berdebat memilih makanan ringan dan minuman.
"Kita kemana lagi? " tanya Saka yang mengikuti Adel berjalan. Tampak Kinan yang nemperhatikan keakraban mereka. Kinan datang bersama dengan Kevin, sayangnya Kevin tak mau menemaninya masuk ke dalam.
"Sak... Yang mana?" tanya Adel yang meminta Saka memilih antara melon dan semangka.
"Aku pilih yang tengah." Adel berdecak kesal kepada Saka.
"Serius dikit ih Sak. "
"Ya aku serius, aku memilih yang tengah. "
"Saka.... " teriaknya kesal.
"Yaaa yaa melon aja." barulah Adel memasukan melon ke dalam keranjang. Saka dengan cepat memasuk masukan sayuran ke dalam keranjangnya.
"Apa apaan ini, nanti aku digadai'in buat bayar Sak." keluh Adel
"Tidak aku yang bayar Ra." ucapnya
"Gak bisa... Aku gak mau dapet inventaris sayuran juga Saka. " tolaknya, mana ada bos yang begitu baik sama karyawanya.
"Aku yang minta kamu masakin, dan aku yang memilih." asal Saka.
"Cuma makan sore aja, lagian kita bertiga jangan menghamburkan uang seperti ini." Adel mulai kesal kepada Saka.
"Aku akan makan setiap hari di rumah kamu, kamu cukup memasaknya, anggap saja bayar hutang." mendengar kalimat bayar hutang Adel begitu bersemangat.
"Tidak masalah." jawab asal Saka.
"Sepertinya aku berbakat menjadi wanita matre." celetuk Adel membuat Saka tertawa.
"Gak perlu matre, kembali sama mantan kamu juga tajir, dan kalau kamu mau, sama aku juga boleh." Adel memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Saka. Sejak tadi Kinan itu memperhatikan dan mendengarkan mereka berdua sambil berbelanja, pasalnya nanti malam mereka akan makan malam bersama dengan Cila. Itulah permintaan Kinan.
Adel memgambil saos yang berada di atasnya, tanganya tak sampai hingga Saka mengambilkan untuknya. "Tumbuh itu ke atas makanya Ra." ejeknya membuat Adel kaget dan terpleset. Saka dengan cepat menarik pundaknya, membuat Adel dan Saka bertatapan.
"Jangan terlalu baik kepadaku Sak, nanti aku cinta sama kamu. "
"Buktinya selama 17 tahun aku selalu baik padamu Ra, tapi kamu tidak jatuh cinta padaku. " Adel masih menatap saksama wajah Saka.
"Apa perlu aku beri kamu kesempatan." Gombal Adel pada Saka.
"Apa kamu serius Ra? Kalau kamu mau boleh dicoba... " jawab Saka dengan penuh harap.
"Aku bercanda" ucap Adel membenarkan posisinya. Lalu melanjutkan berbelanja.
"Grep" mereka mengambil jamur Alba, jamur yang sangat mahal itu tampak menarik perhatian Adel. Mereka saling berebut, hingga pandanganya bersatu.
"Kinan" batinya Adel melepaskan jamur tersebut, Kinan menatap saksama gadis didepanya, ia sangat cantik menurut Kinan bukan hanya cantik memang mirip artis.
"Ra.... " panggil Saka yang melihat mereka saling tatap. Kinan menatap saksama Saka, dan sepertinya memang familiar.
"Ambilah." ucap Adel kepada Kinan. Ia tidak mau berebut sesuatu dengan Kinan.
__ADS_1
"Kamu memberikan milikmu kepadanya, seperti kekasihmu, dengan mudah kamu berikan padanya Ra. " Bisiknya kepada Adel. Adel menginjak keras kaki Saka hingga Saka menahan teriakanya.
"Bukanya kamu Saka, teman Kevin. " Saka berpura pura tidak mengenalnya. Hingga Kinan malu karena sok kenal.
"Aku calon istrinya Kevin." barulah Saka meng oooh riakan ungkapanya.
"Kenalin calon aku." ucap Saka merengkuh pundak Adel
"Saka..... " Adel tampak tidak suka melihat Saka memperkenalkan Adel sebagai calonya.
"Calon yang masih dikejar maksudnya." Ucap Saka membuat Kinan juga membalas ohh ria.
"Sama Kevin? " tanya Saka kepada Kinan. Kinan mengangguk membuat Adel jantungan.
"Tapi Kevin di mobil gak mau turun. " Adel menarik Saka yang masih bercakap dengan Kinan. Menyerednya untuk cepat kembali. Ia tak mau bertemu dengan Kevin diwaktu waktu seperti ini. Benar saja mereka tak berpapasan karena Kevin menaiki lift dan Adel menuruni eskalator.
"Sudah selesai? " tanya Kevin, Kinan mengangguk, lalu Kevin membawakan belanjaanya.
"Tadi aku ketemu Saka dan pacarnya." Kevin terbelalak mendengar Kinan kenal dengan Saka, ia kemudian ingat dirinya kemarin memperkenalkanya pada Saka.
"Pacar... " Kinan mengangguk
"Yah pacarnya cantik banget, mereka mesra banget lagi." ucap Kinan. Kevin tidak menanggapi cerita Kinan. Ia hanya membayar tagihanya lalu berjalan pulang membawakan belanjaanya.
*
Abi sahabat Dilan dan Derick sering memergoki Cila yang berjalan di area kompleknya dan bukan sekali. "Rick ko gue sering lihat adek loe di area komplek gue ya? " ungkapnya saat sedang maba dirumah Derrick
"Yang bener loe? " Derrick kaget ketika Abi mengatakan hal itu.
"Coba deh loe pastiin, soalnya orang orang di apartemen gue itu banyak yang lajang, gue takut aja Cila mainya gak bener. " ucap Abi perhatian.
"Sebentar gue hubungi mommy aja kali ya, biar suruh ngecek ke alamat yang loe maksud." jelasnya yang kemudian mengetikan pesan pada sang mommy.
"Perhatian banget loe sama Cila, padahal pas ketemu aja kaya kucing dan tikus." ledek Dilan.
"Asalkan Cila gak sama kalian aja, gue gak rela adek gue dimangsa kalian berdua." jelas Derrick.
*
Saka dan Adel kembali ke apartemen, yah memang satu komplek dengan perumahan Abi, dan Abi memang sering memergoki Cila disana.
Adel dan Saka kaget ketika mendapati Cila yang sudah tertidur di kamar. "Cila.... Ko Cila udah di sini?" tanya Adel heran."Cila gak bolos kan? " Cila dengan mata ngantuknya menggelengkan kepalanya.
"Cila pulang lebih awal karna gurunya rapat bunda. " Adel meng'oohkan jawaban Cila, lalu meminta Cila untuk mandi dan berganti baju.
Setelah mereka disibukan dengan memasak dan akhirnya menikmati makanan yang nikmat, Cila terkapar di depan ruang santai, sambil menikmati cemilan ringan bersama Saka. Mereka sangat akrab, bahkan seperti anak dan ayah.
"Om masakan bunda tak ada duanya."
"Siapa dulu dong bunda kamu."
"oh ia Cila, tadi om ketemu sama calon mama kamu, dia belanja sayuran banyak, emang mau ada acara apa. " Cila menepuk kepalanya, "Cila lupa kalau malam ini ada janji dengan ayah dan tante Kinan untuk makan malam." jelasnya, sesaat membuat Adel cemburu, namun perasaan itu ia tepis, lalu meminta Cila pulang sekarang, namun Saka dengan cepat menawarkan jasa grabnya, dan Cila pun menyetujuinya.
*
Malam berlalu, waktu sudah menunjukan pukul 21.00, Adel bahkan membayangkan makan malam romantis antara Kinan, Kevin, dan Cila, hatinya merasa sakit mengingat itu. Air matanya pun lolos dari kelopak matanya.
__ADS_1
Namun tangisnya dikejutkan oleh sebuah dentingan di depan pintunya. Adel dengan cepat membuka pintunya. "Apa lagi yang tertinggal Saka.... " matanya membulat, ia kaget siapa yang ada di depan apartemenya.
"Ara..... " teriak seseorang yang bertamu.