
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan Kev. " Kevin mengagguk sambil memainkan anak rambut milik Adel. Kevin memang sangat perhatian jika sedang bersama Adel. Mesra satu kata ketika melihat keduanya bersama, sweet sekali. "Katakanlah sayang. " pinta Kevin dengan senyumnya.
"LUSA aku AKAN MENIKAH dengan SAKA Kev. " kalimatnya sedikit menggetarkan jiwa. Kevin mencoba mengartikan bahwa kalimat yang terucap dari bibirnya adalah lelucon.
"Becandamu kurang seru Ra. " masih mencoba baik baik saja, masih berharap hanya suara angin yang singgah dan pergi. "Katakan kalau ucapanmu itu hanya main main Ra! " Adel masih terdiam. "RA.....! "
"Aku serius Kev. Ini kenyataanya, bahwa aku akan menikah dengan Saka. " Kevin mencengkeram bahu Adel matanya berkaca kaca, memerah dan menahan luka yang dalam.
"Cukup Ra.... Jangan becanda ini gak lucu. " pinta Kevin meminta menyudahi sandiwara Adel. Adel menggelenggkan kepalanya.
"Aku serius Kev. " Adel saja sudah tak bisa berkata kata. Kevin berteriak, lalu menjatuhkan lututnya, diambilnya tangan Adel yang menggantung lemas pada kerangka tubuhnya.
"Ra.... Katakan aku harus apa? Haruskah aku mengemis cintamu untuk kesekian kalinya Ra?" Kevin meletakkan tangan Adel di keningnya. Air matanya mengalir lagi. "Jika ini maumu akan aku lakukan. " Kevin merengkuhkan tanganya pada kaki Adel, lalu memeluknya erat.
"Jangan seperti ini Kev! " Adel ikut menjatuhkan lututnya, mensejajarkan tubuhnya dengan Kevin. "Jangan nangis di depan Kevin Ra, kamu harus bisa, jangan membuat semuanya kacau dengan kamu ikut hanyut dalam kesedihan Kevin." batinya menguatkan hatinya untuk tenang dan tidak menangis.
"Jika kita bersama akan banyak yang tersakiti Kev, mengertilah posisiku. Kamu tidak akan bisa lepas dari Agni. " jelasnya meyakinkan Kevin, bahwa suratan takdir memang kadang sebecanda ini.
"Kita lalui bersama Ra. Aku gak bisa kehilangan kamu untuk kedua kalinya, sudah cukup rasanya selama ini kehilanganmu. " Adel melepaskan tangan Kevin di kakinya, ia beranjak pergi meninggalkan Kevin, tombak di tenggorokanya sangat menyakitkan dan menusuk di dada.
"Maaf Kev. " Adel berjalan meninggalkan Kevin. Air mata yang sedari tadi ia tahan, tumpah dengan deras. Dalam kehidupanya selama ini, mungkin inilah yang terberat dan meninggalkan goresan luka yang dalam untuknya. Sakit dikepalanya bisa ia tahan dan alihkan, tapi hatinya siapa yang akan mengobati.
"RAA... " Kevin menarik tangan Adel, namun Adel tak bisa memperlihatkan air matanya dan rasa sedihnya didepan lelaki ini, lelaki yang sangat ia sayangi, kasihi dan segala apa yang bisa ia korbankan, akan Adel lakukan. Adel menghentikan langkahnya. "Bangunlah Kev, lanjutkan hidupmu. Jangan seperti ini, setidaknya... " Kalimatnya terpotong oleh Kevin.
"Jangan pernah berharap kamu akan bahagia bersama Saka Ra, sampai matipun, aku akan memperjuangkanmu, jika kamu menikah denganya, maka waktu itu kamu akan melihatku untuk yang terakhir kalinya" Ancam Kevin dengan suara seraknya.
"Urusi hidupmu Kev, lupakan aku, aku akan bahagia bersama orang lain begitu juga denganmu." Adel mencoba menggoyahkan pendirian Kevin.
"Bermimpilah Ra, Kamu tidak akan bahagia tanpaku." Ucap Kevin dengan sombongnya, ia mencoba menarik sudut bibirnya, entah ide gila apa yang akan ia lakukan. "AKU AKAN MENGHALALKAN SEGALA CARA UNTUK MENDAPTKANMU. " Kevin berbalik melawan arah dimana Adel berjalan ke arah tangga darurat, sedangkan Kevin berjalan menuju IGD.
Adel menaiki tangga darurat, sepi tidak ada orang, disinilah ia menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan. Kepalanya pening memikirkan kehidupanya. Rumit sangat rumit dan tak pernah sesuai rencana.
Botol transaparan berwarna biru, berisi analgetik dosis tinggi adalah obat penawar nyeri dan penenang yang ia konsumsi sejenak membuatnya mengendalikan aktivitas otak, namun tidak dengan hatinya.
__ADS_1
"Sesulit itu Ra, kamu mengorbankan segalanya demi Kevin, sebesar itu cintamu untuk Kevin. " Saka keluar dari tempat persembunyianya. Ia sedari tadi menonton drama yang dimainkan oleh calon istrinya dan mantanya. Hatinya ikut tersentuh melihat mereka berdua tidak bisa bersama.
"Mungkin selama hidupku aku tidak akan mendapatkan hatimu Ra. " Saka berjalan keluar menuju ruang operasi. Ia bertanya tanya tentang keraguanya menikahi Adel yang sangat mencintai orang lain.
Langkahnya sampai diruang operasi 1, ia berpapasan dengan Kevin yang sudah disana sedang menggosok kukunya, ada operasi darurat, matanya seakan seperti seorang yang siap menerkam musuhnya. Saka tak mempedulikanya, lalu mengganti jubahnya dengan warna hijau tua dan melakukan cuci tangan.
Tak lama Arion masuk ke ruang operasi. Ikut berganti jubahnya dan mencuci tangan. "Operasi apa Sak? " sapanya kepada calon adik iparnya.
"Ventrikulostomi endoscopi" ia langsung masuk ke dalam meninggalkan Arion. Arion menatap Saka lekat lekat, ia tidak yakin memberikan adik kesayanganya kepada Saka, karna kasian jika keduanya menikah, lebih banyak yang terluka.
Endoscopic third ventriculostomy (ETV). Pada prosedur ini, dokter akan membuat lubang di lantai otak yang memungkinkan cairan yang berlebih akan keluar ke permukaan otak, sehingga dapat diserap.
Setelah dua jam mereka berada di masing masing ruang operasinya. Kevin keluar bersamaan dengan Arion. "Kev... " Sapanya kepada Kevin. Kevin memanggutkan kepalanya. "Operasi apa Ar? "
"ORIF" jawabnya singkat, "loe..? " tanya balik Arion pada Kevin. "Angiografi koroner" jelasnya, mereka membuka jubahnya dengan jubah bersih lalu ia mengenakan snellinya.
"Temui aku sepulang kerja nanti. " Arion berlalu meninggalkan Kevin, tanpa ingin mendengar jawabanya.
Angioplasti koroner adalah prosedur untuk membuka penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah jantung.
*
"Dok... "Sapa Desy pada dr. Shava. Adel membalikkan tubuhnya yang sudah bersiap pulang. " Dokter kenapa si akhir akhir ini kurang ceria. " Desy begitu dekat dengan dr. Shava, melihat ia murung, rasanya IGD seperti mati baginya.
"Gak papa Des, hanya lagi banyak pikiran." ucapnya dengan lesu. Saka sudah menantinya di depan IGD. Senyumnya memecah keheningan perawat IGD yang sedang berjaga. Namun bagi Adel, melihat Saka bahagia, ia seolah takut kelak akan melukai hatinya.
"Sudah selesai? " Saka menyisipkan anak rambut yang mulai berantakan. Sweet, pemandangan yang terlihat, walaupun masih ada bisik bisik tentang kedekatanya dengan Kevin, bukan hanya dekat, mereka perawat IGD sering memergoki hubungan Kevin dan Adel yang lebih intim.
Adel menganggukan kepalanya. "Bukanya kamu ada visite pasien. " Adel bukanya tak mau diantarkan pulang, tapi profesionalisme seorang dokter di nomor satukan bagi Adel. Bahkan bagi mereka orang medis, keluarga bukanlah yang utama, pasienlah yang pertama.
"Untukmu Ra, tidak ada yang lebih prioritas dibandingkan kamu. " Saka menggandeng tangan Adel. Hanya sekedar menggandeng tangan, Adel saja masih risih jika digandeng Saka, lain jika dengan Kevin, memeluk mencium, bahkan tidur bersama, Adel tidak merasa keberatan, apakah itu kelebihan cinta.
Setelah mengantarkan Adel, Saka kembali dengan rutinitasnya. Pasalnya besok adalah hari tenang sebelum menikah. Adel saja belum masuk rumah, namun sebuah notifikasi membuatnya kembali membelah jalanan yang ramai.
__ADS_1
Cafe yang biasa ia tongkrongi dengan Ayra, disinilah mereka, sayangnya bukan bersama Ayra, namun dengan Agni, yah orang yang mengiriminya pesan adalah Agni. Duduk berdua dengan seseorang yang pernah mencelakainya, baginya tidak ada rasa takut.
"Katakan, waktuku tidak banyak." Desak Adel kepada Agni. Agni melebarkan senyumnya, ia salut kepada Adel yang tidak punya rasa takut padanya.
"Kamu terlalu meremehkanku dok. " ucap Agni pada Adel. Adel menggebragkan mejanya, ia tampak marah, sejak kejadian penculikan bahkan Agni masih sering mengancamnya. "Aku bisa saja membunuhmu. " ancam Agni.
"Apa kamu pikir aku takut, bahkan 10 anak buahmu bisa aku lumpuhkan termasuk dirimu, asal jangan kamu bawa Kevin dengan masalah ini." Agni menepukan kedua tanganya, ia salut terhadap pribadinya yang berani mengancam balik dirinya. "Nyawaku bahkan tidak ada artinya untukku, apalagi nyawamu. " tantang balik Adel pada Agni.
"Selamat karna langkahmu lebih cepat dari perkiraanku. " ucap Agni yang merasa menang mengetahui bahwa Adel akan menikah dengan Saka lusa.
"Hanya itu, kamu sangat mengganggu waktuku. " ucapnya lalu berjalan meninggalkan Agni.
"Jangan pernah mendekati Kevin lagi." suaranya nyaring membuat Adel berhenti. Ia membalikan tubuhnya.
"Aku yakin Kevin jauh lebih pandai memilih perempuan yang layak untuknya, bukan wanita iblis sepertimu." Agni mengepalkan tanganya, marah rasanya diejek oleh lawan yang jauh lebih unggul darinya.
*
Arion menunggunya dibassement, melihat mobil Kevin yang stand by ia berjalan masuk ke dalam mobil Arion. "Sudah lama? " tanyanya lalu melepaskan snellinya, dan memakai seatbeltnya. Arion tak menjawab ia terus melajukan mobilnya, lumayan jauh, tidak biasanya Arion seserius ini.
Sesampainya di restoran dengan fasilitas private room, Arion masih belum membuka percakapan. Arion mengunci pintu tersebut setelah memesan makanan dan minuman "Apa rencanamu Kev? "
"Menggagalkan rencana mereka untuk menikah. "Arion mengangkat alisnya, ada sedikit rasa bahagia melihat Kevin mempunyai rencananya.
"Kamu siap dengan segala resikonya? " Kevin menganggukan kepalanya. "Meskipun keluargamu menentang, meskipun hidup kalian akan penuh dengan liku liku perjalanan yang lebih sulit dari ini? " Kevin menganggukan kepalanya lagi.
Arion menjabat tangan Kevin, dengan mantap Kevin menyambutnya "Gue berhutang nyawa sama Ara, berhutang kebahagiaan, dan berhutang janji untuk membuatnya bahagia, karna selama 8 tahun ini dia menjaga Ayra dan putraku. " jelasnya, bagi Arion, Adel adalah tanggung jawabnya meskipun Kenan cenderung menyetujui hubunganya dengan Saka.
"Alasan Ara melakukan semua ini adalah karna tunanganmu. " Kevin membulatkan matanya tak percaya. Namun Arion membawakan bukti penyekapan Adel dan Kevin, pertemuan Agni dan Adel, bahkan mata mata Arion mengirimkan video percakapan barusan dengan Agni.
Kevin kecewa kepada Agni yang baginya adalah wanita baik, kalem ramah, dan dari keturunan bangsawan, sangat disayangkan kelakuanya seperti iblis tak bermoral. " Gue mesti bikin perhitungan sama Agni. " Kevin beranjak dan melangkahkan kakinya.
Arion menarik pundak Kevin. "Tunggu dulu, masih banyak hal yang harus gue bicarain sama loe. Percuma saja kamu menemui Agni saat ini." Cegah Arion kepada Kevin. "Duduklah kembali. " Kevin menjatuhkan tubuhnya ke kursinya lagi. "Tenangin pikiran loe dulu. "
__ADS_1
Setelah beberapa menit nafas Kevin mulai teratur ia mampu menguasai emosinya. Arion memberikan sebuah amplop berwarna coklat, perlahan ia membuka amplop tersebut. Tanganya mulai bergetar melihat hasil CT dan MRY milik Adel.
"Ini alasan Ara meninggalkanmu 5 tahun yang lalu, dan kamu harus tau, kecelakaan itu terjadi tepat setelah orang tua dan eyangmu menemuinya untuk meminta Ara meninggalkanmu."