
"Siapa Zel? " tanyanya karna samar mendengar Zela menyebut nama Arion.
"Arion, sepertinya penting mas, soalnya dijam segini, kalau gak penting gak mungkin sepagi ini telphone. " jelasnya memberikan ponsel Kenan kepada pemiliknya.
📞"ya Ar... Ada apa? " tanyanya ramah kepada Arion, bahkan pertengkaran mereka belum berakhir dengan kata maaf. Namun sikap mereka seperti biasa tanpa ada masalah.
📞" Adel dan Kevin ada di Bali Ken. " Kenan kembali menajamkan telinganya yang sesaat seperti terpanggil dari alam lain... Ya alam mimpi maksudnya. Sesaat belum ada jawaban dari panggilan Arion, membuat Arion memanggil Kenan kembali. "Ken.... "
Kesadaranya berangsur kembali kini nyawanya seperti kembali 100 % " loe yakin Ar kalau Ara dan Kevin di Bali? " tanyanya meyakinkan kembali kepada Arion. Mengingat Arion yang memberikan informasi sepertinya sangat valid. Namun kenapa Kenan merasa aneh dengan perubahan Arion. "Kenapa loe kasih tau gue? " tanyanya kembali pada Arion.
"Karna perkiraan keadaan Ara yang sudah mulai memburuk, apalagi dengan kondisi ekonomi yang menipis saat ini Ken." Jelasnya, hatinya ikut sakit mengingat keadaan Ara memburuk dan dalam keadaan sulit. Gadis yang dulu begitu manja hidup dengan bergelimang harta. Kini harus mengikuti aturan hidup yang serba kurang atau tidak berkecukupan.
"Aku akan ke Bali, apa kamu.... " pertanyaanya belum ia tanyakan sepenuhnya, dengan cepat Arion mengatakan bahwa ia akan berangkat bersama menuju Bali.
"Kita bersama Ken. " jelasnya, membuat Kenan mengangguk lalu menutup kembali ponsel tersebut. Ia bergegas bangun dari ranjangnya, kabut tebal begitu gelap menutup malam, namun ini kesempatan satu satunya untuk membawa kembali ke rumah.
"Mas mau kemana? " tanya Zela yang sedari tadi mendengarkan percakapan suaminya dengan Arion. Kenan kembali duduk ia mengusapkan tanganya di perut Zela, Kenan mengusap usap lembut dengan cara memutar perlahan, lalu mengecup perut yang sudah membuncit sedikit.
"Mas mau menjembut Ara, Arion bilang dia ada di Bali. "Ucapnya memberikan pengertian dengan lembut kepada istrinya. "Jagoan papa jangan nakal ya sama mama. Jaga mama untuk papa... Dan satu lagi, jangan aneh aneh nyidamnya kasian mama kamu! "Ucapnya berbicara dengan perut yang masih rata. Zela terkekeh mendengar penuturan suaminya. Tak lupa ia kecupkan bibirnya di kening istrinya.
Ya... Zela tengah mengandung putra pertama Kenan, dan diusia mudanya bahkan ia sering mengalami morning sickness, serta sesekali ia dirawat di rumah oleh mama mertuanya karna HEG. Kenan dengan cepat menanggalkan bajunya berganti dengan kaos santai dengan sweaternya.
Morning sickness adalah mual muntah yang terjadi saat hamil.
HEG atau Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang muncul secara berlebihan selama hamil.
Ia menjatuhkan tubuhnya di bad berukuran king zize itu lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetikan nama om Alfa. Ya Kenan tau ia sangat cemas dengan keadaan Kevin, mengingat mungkin hubunganya kurang baik dengan istrinya karna kejadian yang menimpa Kevin dan Ara.
📞" hallo om... Assalamualaikum"
📞"Waalaikumslama Ken ada apa sepertinya penting kamu menelphone di jam sepagi ini? "
__ADS_1
📞" Ia sangat penting om. Kevin dan Ara di Bali om, saya akan menuju rumah Arion dan berangkat bersamanya. Apa om..? "
📞" Ya saya ikut Ken, kita ketemu di bandara saja." jelasnya lalu menutup sambungan telephone.
"Zel.... Lebih baik kamu yang pamitkan sama mama dan papa, bilang saja ada meeting pagi. Lagian ini juga hampir subuh, mereka tidak akan tahu kalau aku pergi sepagi ini. " Ungkapnya kepada Zela, lalu Kenan berjalan keluar rumah dengan cara mengendap ngendap.
Semenjak mereka mengetahui keadaan Adel, bahkan senyumnya tidak pernah terukir. Memikirkan hal tersebut membuatnya kesal. Ini juga salahnya, bukan hanya salah kedua orang tuanya. Lelaki yang seharusnya tau jelas seperti apa adiknya, bahkan tidak tahu apapun tentangnya.
Arion bersiap untuk pergi ke Bali, ia meminta Ayra untuk tetap tinggal di rumah, karna Derrick besok masih harus sekolah. "Ay.... Baik baik dirumah. " ucapnya mengusap kening Ayra. Ayra hanya bisa berharap bahwa Adel masih sehat, dan dapat kembali bersama denganya.
*
Hari masih pagi, perbedaan waktu antara Bali dan Jakarta membuat Kevin sudah bersiap dengan aktivitasnya untuk membantu Adel menjereng cucian. Adel yang sedari tadi enggan bangun dari tidurnya, hanya berguling - guling bersama Cila.
Kepalanya berdenyut tiada henti, menandakan ia tidak baik baik saja. Namun melihat senyum Cila yang begitu menawan membuat Adel mampu mengalihkan rasa nyerinya. Sesaat Cila tertidur setelah menyusu. Adel beranjak dari tidurnya, ia ingin sekali mencari suaminya itu.
"Ra.... kenapa kesini? " tanyanya manja kepada istrinya, saat ini wajah pucatnya terekspose jelas didepanya, membuatnya sedikit khawatir. Kevin dengan cepat memapah istrinya. Ia benar benar khawatir saat ini.
Tensimeter, atau yang lebih tepatnya disebut sfigmomanometer, merupakan alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah.
"Kita ke rumah sakit Ra. "Ajaknya kepada Adel. Adel dengan cepat menggeleng, ia hanya ingin bersamanya saat ini. Penolakan Adel membuat Kevin takut sesaat.
"Bisakah kamu tinggal kali ini Kev, aku ingin bersamamu. " ucapnya dengan senyum. Wanita seperti apa Adel hingga sudut bibirnya masih bisa tertarik sempurna dalam keadaan menahan sakit yang luar biasa ini. Ya analgetik jenis opioid ini adalah therapi anti nyeri dosis sedang hingga berat. Seseorang yang menggunakanya pasti merasakan sakit yang luar biasa.
Analgesik opioid digunakan untuk mengurangi nyeri sedang sampai berat, terutama pada bagian viseral.
Adel berhambur dalam pelukan Kevin. Perlahan air mata Kevin jatuh, ia balas pelukan hangat istrinya itu dengan rasa sayang yang begitu dalam. "Tuhan bisakah moment seperti ini aku rasakan kembali suatu saat nanti." ucapnya dalam hati, dekapan Kevin mengerat, sepertinya ia sedang terisak.
Jemarinya jatuh begitu saja, tubuh yang didekap erat mulai melemas, bahkan saat ini bisa ia rasakan bahwa istrinya lemah lunglai. "Ara.... " matanya memerah, air matanya berjatuhan, hatinya seperti puluhan bahkan ratusan jarum menusuk. Jantungnya berdebar hebat. "Tidak........... Tidak Ra, kumohon jangan sekarang.... jangan tinggalkan aku Ra. " ucapnya, ia bergegas memeriksa nadi karotisnya yang berada di leher.
Nadinya begitu cepat namun denyutanya sangat lemah. Ia pasangkan infus di tangan kirinya dengan transfusi set. Ia memapah istrinya ke rumah sakit terdekat, ia sambungkan sebuah selang dengan tabung oksigen di dalam mobilnya.
__ADS_1
Rumah sakit dimana referensi yang Kevin pilihkan dengan rencana untuk merawat dan mengoperasi istrinya. Setelah Adel berada di mobil, ia berbalik mengambil Cila, Cila tidur dengan tenang. Kevin meletakan Cila dipangkuanya, sambil menyetir dengan khawatir, bagaimana tidak penumpangnya saat ini adalah istrinya sendiri.
Mereka sampai disebuah rumah sakit swasta terbaik di Bali. Beberapa perawat membawa brankar untuk memindahkan pasien. Lalu menarik Adel ke dalam ruang IGD, disana hanya terpisah pisah oleh sekat korden. Tidak ada pintu sehingga dengan mudah perawat memantaunya.
"Maaf tuan anak kecil dilarang masuk. " ucap salah satu perawat. Dadanya menyesak, seharusnya ia bisa memberikan perawatan pertama pada istrinya, kendalanya sekarang ada putrinya.
"Dia menderita cidera otak traumatik berat, dengan ketergantungan analgetik golongan opiod selama bertahun tahun. Priksa ureum, creatinine dan widalnya, dia mempunyai riwayat GERD. " ucapnya dengan jelas.
Ureum dan kreatinin adalah kadar yang dinilai dalam darah untuk menilai fungsi dari ginjal, dimana jika kadarnya meningkat dapat menandakan fungsi ginjal yang menurun ataupun mengalami kegagalan terutama jika kadarnya meningkat sangat tinggi.
GERD (gastroesophageal reflux disease) merupakan kondisi ketika cairan asam lambung naik ke kerongkongan (esofagus) hingga mulut.
"Apa anda seorang..... " tanya salah satu tenaga medis di ruang IGD. Kevin dengan cepat menganggukan kepalanya.
"Pasien tersebut juga seorang dokter. "Ucapnya membuat kru IGD melepaskan apa yang sedang mereka lakukan. Sensitive satu kata ketika tenaga medis menerima pasien dengan title tenaga medis juga, apalagi gelarnya seorang dokter. Segala tindakanya bisa saja digurui, atau segala tindakan intensifnya akan ditanyakan kevalidanya.
"Tolong mas keluar terlebih dulu, kami akan mengkaji mas nanti, jika ada yang kurang jelas." pinta perawat yang sedari tadi dengan santun meminta Kevin untuk membawa putrinya keluar dari ruangan IGD.
Kevin menjatuhkan tubuhnya, ia tidak tau apa yang akan ia lakukan, apalagi keadaan ini sangat mendadak. Coba saja Adel mau diajak ke rumah sakit waktu itu, semuanya akan baik baik saja. "Ra..... Maaf Ra.... " tangisnya kembali pecah, ia tidak siap jika harus ditinggalkan lagi dan lagi. Apalagi untuk tidak kembali bersamanya.
"Maaf mas, dokter akan menjelaskan kondisi istri anda, silahkan masuk ke ruang dokter." ucap salah satu perawat. Yah metode pemberian informasi itu, tidak didepan pintu, seperti yang kalian lihat di televisi, melainkan disebuah ruangan, dan harus ada saksi, serta paraf antara pemberi informasi dan penerima.
Pembukaan informasi juga harus jelas dengan wali pasien, jadi tidak sembarang keluarga dapat mengakses resume pasien, apalagi hanya tetangga, jelas itu melanggar kode etik.
Kode etik adalah suatu sistem norma, nilai & juga aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar & baik & apa yang tidak benar & tidak baik bagi profesional.
Setelah berdiskusi panjang kali lebar, dr. Igd dengan Kevin sampai di tahap dimana Kevin mendapatkan pukulan berat atas hasil yang diterimanya. "Hasil ureum dan creatinin sangat kritis (duplo). " Kevin menatap lembaran yang bahkan hasilnya meningkat hingga 5 kali lipat. "Pasien harus melakukan cuci darah, setelah cuci darah ia harus melakukan operasi. "
Deg
Sungguh kalimat ini sangat menusuk hatinya. Bahkan kini ginjalnya rusak. Harapanya begitu tipis terhadap kehidupan Adel. Penggunaan analgetik jangka panjang sangat menakutkan. Bahkan dapat dengan mudah mengancam nyawa.
__ADS_1
"Lakukan operasi itu." seru suara dari bilik pintu yang memasukk ruang dr. IGD. Suara ini sangat familiar, membuat Kevin sesaat menatap suara yang selama ini bahkan tidak pernah ia harapkan.