Gadis Liar

Gadis Liar
85


__ADS_3

"Sebaiknya almarhumah dengan cepat dibawa ke rumah dan dimandikan." saran pak ustad kepada keluarga. Axel dan Keyla dengan cepat mengiyakan saran pak ustad.


Mereka serempak pulang dari rumah sakit, untuk mempersiapkan memandikan jenazah. Kevin masih frustasi, mengingat dirinyalah yang melepas semua alat penunjang yang terpasang pada tubuh Adel


Jenazah telah tiba dirumah, dan hendak dimandikan. Semua keluarga terutama wanita bersiap memandikanya. Kevin merasa ada yang aneh dengan jenazahnya, dengan cepat Kevin membuka resleting kain penutupnya.


Kevin tersentak melihatnya. "Dimana jenazah Ara. " kalimatnya membuat suasana gaduh seketika di kediaman Axel." Keyla, Axel, Arion, Kenan, Zela sekalipun dan keluarga besar mereka menghampiri Kevin yang terperanjat kaget melihat jenazahnya berubah menjadi panthom.


"Ini phantom rumah sakit. " ucap Attala ayah Arion. Arion mengiyakan kalimat ayahnya. Hati mereka kembali dilanda sedih. Siapa gerangan yang berani mengambil jenazah Adel.


Boneka phantom adalah alat peraga untuk pengetahuan tentang anatomi atau faal tubuh yang digunakan oleh siswa-siswi sekolah kebidanan, kedokteran, atau keperawatan dalam menangani pasien.


Setelah semua tetangga yang berniat bertaziah dibubarkan, mereka keluarga besar Adel dan Kevin bersama di ruang tamu. Mereka masih syok dengan apa yang terjadi hari ini.


Belum habis duka kematian Adel yang harus pergi karna keputusan keluarganya. Kini harus menghadapi bahwa jenazah Adel dicuri orang. Kevin saja tidak habis fikir, lelucon apa ini, sampai menimpa istrinya.


Kevin dengan segera meminta pihak rumah sakit yang bekerja di bidang IT untuk datang. Yah seseorang datang membawa rekaman cctv di ruangan Adel. "Putar rekaman cctv pengambilan jenazah. " pinta Arion. Kevin dengan saksama menatap layar di depanya. Rekaman tersebut hilang dan terpotong. Menyisakan ruangan khusus itu yang tiba tiba kosong.


"Kita kecolongan " ungkap Kevin kesal. Ada sesuatu yang Kevin lewatkan disini. " Sekarang kita ke rumah sakit, kita cari tahu siapa yang bertugas mengambil jenazah." pinta Kevin. Namun belum langkahnya keluar dari sini, sebuah panggilan berdering, menampilkan rumah sakit milik keluarga Attala.


📞"Hallo " ucap Arion


📞" Maaf pa kita mau menginformasikan bahwa petugas pemulasaran jenazah dan tim securiti ruangan yang bertugas membawa jenazah disekap di ruangan bassment dekat dengan lift khusus. " jelas ketua pemulasaran jenazah.


📞"Baik, trimakasih atas informasinya." ucap Arion, wajahnya penuh dengan kekecewaan.


"Ada apa Ar? " tanya bunda Arion, bahkan mereka semua sudah tidak sabar ingin mendengar berita apa yang hendak Arion katajan.


"Petugas pemulasaran jenazah dan srcurity disekap di bassment dekat lift khusus yang menguhubungkan ruangan Ara dirawat ." jelasnya membuat mereka sesaat memaksimalkan bola matanya.


"Tidak ada cctv di ruangan tersebut. " ungkap Attala yang jelas tau seluk beluk rumah sakitnya.


"Hanya orang yang mencintai Ara dan pendendam kepadaku yang berani melakukan hal ini." ungkap Kevin lalu menatap Arion. "Apa kamu sepemikiran denganku Ar?" tanyanya menatap Arion yang masih berfikir keras siapa dalang semua ini. Arion menganggukan kepalanya.


"Saka" ungkap mereka kompak. Membuat Kenan menggelengkan kepalanya. Karna setaunya, Saka sudah lama berada di luar negeri semenjak istrinya meninggal karna kecelakaan mobil.


"Bukan, sudah setahun Saka diluar negeri melakukan pengobatan Gean, yang cidera karna kecelakaan. " jelas Kenan membuat keduanya menatap Kenan.


"Gean kecelakaan? " tanya Arion. Kenan dengan cepat menganggukan kepalanya. Pasalnya kecelakaan itu terjadi ketika Gean sedang mengandung anak Saka. Jelas menjadi pukulan berat, kepergian Gean dan kehamilanya direnggut oleh kejamnya kecelakaan lalu lintas.


"Sudah hampir setengah tahun Saka tidak kontak denganku." ucap Kenan. Sepertinya masuk akal, karna setau Arion, Saka juga tidak pernah mengunjungi Adel kecuali 5 tahun yang lalu ketika Kevin dan Saka adu tonjok bersamanya.


"Saka menemui Adel itu hampir 5 tahun yang lalu Kev. " ungkapnya membuat mereka berhenti mencurigai Saka.

__ADS_1


"Hanya Saka yang bisa melakukan ini. Kita putar 2 jam sebelum pelepasan alat bantu nafasnya." pinta Kevin membuat petugas cctv memutar mouse dan mengeklik waktu yang diinginkan Kevin.


"Ada beberapa detik rekaman yang hilang." jelas petugas cctv. Kevin semakin yakin dengan pendirianya.


"Kenapa dengan cctv 2 jam sebelum pelepasan alat bantu nafas Kev? " tanya Kenan ingin tahu. Yah hanya seseorang yang mahir dalam resusitasilah yang tau akan hal ini.


"Ketika aku melepaskan alatnya, bahkan irama ekg sudah asistole. " ini menandakan bahwa ada seseorang yang memberikan therapi untuk mengistirahatkan jantung Ara dalam beberapa detik yang lalu.


"Maksud kamu Kev? " tanya Arion sangat ingin tahu. Bukan hanya Arion keluarga Adel pun penasaran.


"Ada therapi obat yang membuat seseorang jantungnya arrest dalam beberapa jam, sehingga ia dikatakan mati. Tapi tindakan ini hanya dapat dilakukan beberapa jam dan sangat beresiko" ucap Kevin dengan segala penjelasanya.


"Itu sangat langka dan sangat beresiko, jika waktunya tidak pas, pasien akan mengalami Arrest selamanya." ucap Attala menjelaskan.


Arrest atau henti jantung


"Makanya saya bilang seseorang yang melakukan ini adalah orang gila dan yang jelas sangat memahami bidang kedokteran".


"Lalu bagaimana dengan pupil yang midriasis maksimal" tanya Arion, ia belum connec dengan hal seperti ini, namun sesaat kepalanya menemukan jawabanya. "Apa mata Ara juga ditetesi cendo tropine sebelum pelepasan alat penunjang kehidupanya, sehingga matanya tampak seperti mati? " Kevin dan ayah Arion menganggukan kepalanya.


Midriasis adalah kondisi dimana kedua pupil mata melebar maksimal. Hal ini adalah salah satu tanda kematian.


Kali ini jelas, hanya Saka lah tersangkanya, selain dia sangat memahami ini, pastinya ia sudah merencanakam jauh jauh hari. Dengan cepat Arion dan Kevin berjalan keluar menuju kediaman Saka.


*


"Sak... keluar loe brengsek. " teriak Kevin dengan nada ingin membunuh. Saka dengan cepat membuka pintunya melihat siapa yang melakukan kegaduhan.


Setelah melihat Kevin, Saka memasang wajah terkejutnya. Dengan cepat Kevin meletakan tanganya di kerah Saka, lalu menghantamnya dengan pukulan keras.


"Bugh" beberapa hantaman mengenai pipinya hingga pipinya merembeskan darah di pucuk bibirnya cairan merah kehitaman. Sakit jelas saja sakit, ini pipi yang dipukul bukan balon.


"Maksud loe apa, bikin gaduh di rumah gue Kev?" Saka menahan pukulan Kevin, dan dengan bantuan Arion yang menenangkan Kevin.


"Kev jaga emosimu." ucap Arion memperingati. Membuat Kevin berhenti menghantamkan bogemnya pada Saka.


"Dimana Ara Sak?" Saka membulatkan matanya, ia kaget ketika Kevin mencari Ara disini.


"Ara.... Kenapa kamu mencari Ara, apa yang terjadi pada Ara Kev? " matanya penuh dendam mendengar Kevin menyebut nama Adel. Apa Adel kenapa kenapa fikirnya.


"Gak usah sok polos, sekarang kasih tau gue dimana Ara Sak?" emosi Kevin menculat kembali. Saka dengan cepat bergantian memukulkan bogemnya kepada Kevin.


"Bugh... " ia tidak terima dituduh mencuri Adel. Mungkin dengan satu pukulan akan membuat Kevin berhenti menuduhnya.

__ADS_1


"Masih mau pura pura, apa profesimu sekarang berganti menjadi aktor Sak?" tanya Kevin dengan mengejek. Saka yang tidak terima dengan hinaan Kevin menghantamkan tanganya sekali lagi.


"Bugh... " suaranya nyaring, membuat Arion menelan ludahnya seolah ikut menahan sakit yang dirasakan Saka.


"Bicara yang jelas banci." ejek Saka penuh emosi pada Kevin. Arion menghentikan keduanya. Sepertinya mereka salah menuduh seseorang.


"Loe kan yang nyuri jenazah Ara? " lagi lagi Saka membulatkan matanya, ia seperti kaget mendengar kata jenazah.


"Jenazah Ara.... Maksud loe..... " Saka menarik kerah Kevin lalu mendorongnya kuat pada dinding yang kokoh membuat Kevin meringis kesakitan.


"Akhh... " Rintih Kevin yang punggungnya menghantam dinding. Sakit jelaslah, coba dindingnya terbuat dari busa.


"Apa maksud dengan jenazah Ara Kev.... Apa Ara sudah meninggal? " matanya memerah mendengar Kevin menyebut jenazah Ara. Sepertinya Kevin benar benar salah menuduh, fikir Arion.


Dengan cepat Kevin melepaskan tanganya, ia sadar bahwa ia salah menuduh orang. "Berikan ponsel loe."pinta Kevin kepada Saka.


"Jelasin dulu Kev, apa maksudnya ini?" pinta Saka kepada Kevin. Kevin menarik nafasnya dalam, lalu mengambil ponselnya di saku Saka. Ia meneliti semua chatnya dan panggilanya, tidak ada yang mencurigakan, lalu ia mengembalikan ponsel Saka.


"Ara meninggal dan jenazahnya hilang." Saka terkulai, kakinya lemas mendengar Adel cinta pertamanya meninggal dunia. Kevin berbalik meninggalkan Saka, dan menarik Arion, Saka dengan cepat menarik Kevin kembali.


"Jelasin dulu Kev, apa yang terjadi dengan Ara!" Kevin menepisnya, lalu menjelaskan singkat kepergian Adel yang tiba tiba itu.


"Maaf karna menuduhmu Sak." Saka masih menelaah kata demi kata. Kevin pergi meninggalkan Saka yang masih mematung, tampak ia shock terhadap cerita Kevin.


Kevin dan Arion memasuki mobilnya. Mereka berfikir keras, siapa yang berani menculik Adel kecuali Saka. "Apa kamu punya musuh Kev? " tanya Arion ingin tahu. Kevin mengingat ingat siapa seseorang yang menjadi musuhnya.


Sepertinya tidak ada, hanya Agni, dan kemungkinan bukan Agni. Ia akan mencari tahu, mungkin saja benar Agni yang melakukanya. Ia seseorang yang sangat mendendam kepada Adel, dan mencintai Kevin.


"Sepertinya tidak, tapi aku tetap mencurigai Saka." ungkap Kevin, membuat Arion heran kepada Kevin.


"Saka saja kaget dan syok ketika mendengar Adel meninggal bagaimana mungkin ia yang menculiknya." Kevin menggelengkan kepalanya, lalu memutar kembali stir bundarnya.


Sedih, Kevin saja sedih kehilangan jenazah Ara, tapi hatinya merasa lega ketika ia tau bahwa Adel belum meninggal. Separuh hatinya tak ikhlas ketika mengambil keputusan akan melepaskan peralatan yang menunjang kehidupan Adel.


*


Saka memasuki rumahnya, ia berjalan dengan santainya, tak lama ponselnya bergetar. Bukan ponsel yang ada di sakunya, melainkan ponsel yang ada di meja kamarnya. Ia buka laci tersebut sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Saka dengan cepat menggeser tombol hijau tersebut.


📞"Bagaimana keadaanya." wajahnya tenang tanpa sedikitpun rasa gelisah di hatinya.


📞"kondisinya stabil bos, kita akan segera berangkat ke Jerman. "


📞"Kita ketemu disana, siapkan operasinya, pastikan tanda vitalnya baik!" pinta Saka, lalu menutup telephonya.

__ADS_1


Sudut bibirnya melebar sempurna tidak sia sia ia berakting seolah tidak tehu apapun. "Maaf Kev, kali ini aku yang akan menang, dan akan berada di samping Ara selamanya."


__ADS_2