
"Ken..... " Arion melepaskan cengkraman Kenan. Lalu menangkis tangan yang hendak dipukulkan Kenan ke pipi Arion "Loe kenapa si? "
"Bisa bisanya loe membohongi kita semua tentang keberadaan Adel! " teriaknya membuat Arion sesaat terpaku, Arion sadar, bahwa ia salah telah merahasiakan dimana Adel berada, tapi apalah daya ini permintaan adiknya. Ia sadar kenapa Kenan sebegitu marahnya mengetahui hal ini.
"Gue bisa jelasin Ken. " ucap Arion, sayangnya emosinya lebih menjadi mendengar Arion akan menjelaskanya.
"Masih mau menjelaskan.... Apa yang perlu dijelaskan. " tawanya menggelegar namun air matanya menetes. "Ini yang kamu sebut saudara Ar, bahkan kami berduka kamu hanya diam." ucapnya yang air matanya terus mengalir.
"..... " Arion terdiam, ia salah, kata hatinya mengakui bahwa dirinya salah, tapi bibirnya kelu untuk mengakuinya. "Ken....."
Kenan terjatuh, ia meraupkan tanganya kasar pada wajahnya "kamu ceroboh, dan karna kecerobohanmu mereka dalam keadaan bahaya. Mereka diserang atas perintah Agni. " Arion terbelalak ia tak percaya semua yang diucapkan Kevin berubah menjadi kenyataan. Kedatanganya membawa petaka bagi Adel dan Kevin.
"Bicara yang jelas Ken." Kenan berdiri ia berjalan meninggakan Arion yang masih penuh dengan seribu pertanyaan. "Ken..... " Arion menarik pundak Kenan berharap Kenan akan menceritakanya. "Apa yang terjadi pada Ara? "
"Bangsat loe Ar.... Loe Brengsek... Kalo saja loe crita Adel di Jogja, kita akan bawa dia pulang, bukan datang kesana sendiri sampai Agni mengetahui keberadaan Ara dan Kevin lalu menyerang Ara lagi." Arion terpukul dengan ucapan Kenan, benar adanya seharusnya Arion memberitahu Kenan.
"Puas loe Ar..... " teriaknya masih menyalahkan Arion. Kenan berjalan meninggalkan Arion. Puas sudah memaki dan memukulnya, karna memang Arion pantas mendapatkan semua ini pikirnya.
Tak lama, Ayra kembali dan mendapati Arion sedang duduk di lantai memangku tanganya di atas lutut yang ia tekuk. Wajahmya sayup, seperti seseorang yang sedang frustasi. "Mas kamu kenapa? " Arion bahkan tak memalingkan wajahnya membuat Ayra khawatir.
"Ara Ay.... " ucapnya terbata, Ayra ikut berjongkok lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Arion. Mengusap air mata yang turun dari kelopak mata indahnya. "Mas....Ara kenapa " Arion menjatuhkan kepalanya di pundak Ayra, berharap mendapatkan sebuah ketenangan dari istrinya. arion masih membisu, tidak ada jawaban dari pertanyaan Ayra.
Diusapnya kepala Arion dengan lembut, lalu ditepuknya pundak suaminya itu. "Mas, kalau belum mau cerita gak papa, tapi tenanglah aku yakin Ara baik baik saja." Ucapnya tenang. Arion sudah berkali kali menelphone Kevin dan Ara sayangnya tidak ada jawaban.
Setelah Arion tenang barulah ia menceritakan keadaanya." aku menyesal tidak memberitahu keberadaan Ara pada Kenan Ay." ucapnya penuh sesal. Ayra menangkupkan kedua tanganya lalu mengelusnya beberapa kali.
"Tidak ada yang salah mas, seandainya kita mengatakan kepada mereka keberadaan Ara mungkin Ara dan Kevin lebih terluka. Mungkin harga diri Kevin sebagai lelaki juga seperti direndahkan. Kamu tau sendiri Kevin sangat takut jika harus kembali ke Jakarta, mengingat disana ia akan dipisahkan dengan Ara."
Berbagai penjelasan dari Ayra, dari sudut pandang keluarga Ara, sudut pandang Kevin, sudut pandang Arion dan Ayra berbeda. Sehingga kita tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini.
*
Hari ini keluarga Ara berniat mengunjungi rumah Kevin. Sekedar silaturahmi, dan memberikan informasi kepada keluarga Kevin mengenai keadaan mereka yang sudah mempunyai putra. Mereka berharap kunjunganya kali ini akan mendapatkan bantuan untuk mencari Kevin dan Adel.
__ADS_1
Hanya ada Axel dan Keyla yang berkunjung ke sana, mungkin dengan Axel berbicara baik baik dengan Alfa akan membawakan hasil yang maksimal.
"Maaf pa bu kalian mencari siapa? " tanya seseorang memakai seragam hitam yang sedang berjaga di rumah Alfa.
"Apa tuan Alfanya ada? " tanya Axel kepada penjaga rumah tersebut. Penjaga rumah tersebut menatap Axel dan Keyla dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Hanya ada tuan besar dan nyonya besar, tuan Alfa sedang tidak dirumah." ucapnya membuat Axel mendesah kesal. Tapi tidak apa, orang tua Alfa adalah teman baik orang tua Axel. Kemungkinan akan lebih mudah jika orang tua Alfa yang menyampaikan langsung.
"Baiklah, saya ingin bertemu dengan tuan besar saja." ucapnya kemudian penjaga membawa mereka ke taman belakang dimana orang tua Alfa sedang duduk menikmati teh hangatnya.
"Maaf tuan... " sapa penjaga tersebut membuat orang tua Alfa menatap kedatangan Axel. "Mereka ingin bertemu dengan tuan besar. " Orang tua Alfa mengangguk, Axel mengenal dekat dengan orang tua Alfa. Dengan cepat Axel menuju dimana orang tua Alfa yang sedang duduk.
"Xel silahkan duduk" orang tua Alfa mempersilahkan mereka untuk duduk. "Gimana kabar kamu? " tanyanya ramah, Axel ikut melebarkan sudut bibirnya lalu menarik kursi untuk Keyla duduk dan ikut menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ia tarik sendiri.
"Baik om, kami sekeluarga baik, om gimana kabar? " tanyanya ramah kembali menanyakan keadaan mereka.
"Kami sehat alhamdulillah, ada apa Xel, tumben kalian kesini, adakah sesuatu yang penting. " tanyanya, dilihat dari kedatangan Axel bukanlah hanya sekedar berkunjung, pasti ada sesuatu yang mendesak, urgent dan kemungkinan menyangkut putrinya.
Orang tua Alfa tidak tahu menau tentang pernikahan Kevin, yang ia tau Kevin kabur dengan Adel karna menghindari perjodohan. Bahkan penculikan Kevin mereka tidak ketahui.
"Bagaimana bisa Xel? " tanyanya dengan rasa ingin tahu yang sangat besar. Mendengar semua cerita Axel, membuat mereka merasa bersalah, ia tau betul Kevin sangat mencintai Adel, hanya saja Alfa memang tidak pernah menyukai Adel, mengingat Adel adalah putri dari Keyla, seorang wanita yang pernah sangat ia cintai.
Kali ini orang tua Alfa tidak akan tinggal diam, ia seakan marah karena Alfa tidak bisa berfikir realistis, apalagi hanya diam ketika mantan tunangan Kevin melukai dan mengancam nyawa Adel, Kevin dan anaknya berkali kali.
Axel undur diri, mereka tidak berlama lama disana, tak lama Alfa pulang, dan orang tuanya memanggil Alfa untuk berbicara 4 mata denganya. "Pah... Ada apa?" Tanyanya menanyakan tujuan papah Alfa memanggilnya.
"Plak.... " sapuan tangan yang berat mendarat di pipi Alfa. Membuat mama Alfa memegang lengan suaminya. Ia tidak suka melihat putranya diperlakukan keras. Alfa kembali ke posisi semula, ia menatap wajah papahnya, ada semurat rasa marah yang besar tersirat di wajah papahnya.
Rahangnya begitu kuat menyatukan giginya seolah senyum memang enggan keluar dari bibirnya. "Apa salah Alfa pa? " Kali ini papa Alfa hanya diam, lalu bergegas pergi meninggalkan Alfa tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Yah, mamah Alfa lah yang akan menjelaskanya, ia tidak ingin jika timbul perkelahian anak dan bapaknya. Karna mereka berdua sangat keras kepala, dan sejauh yang mama Alfa tau, keduanya tidak akan ada yang mengalah.
"Bereskan kekacauan yang kamu buat Fa, sebelum papa yang bertindak. " ucapnya disela sela langkahnya ia hentikan. Matanya ia pelototkan membuat mama Alfa takut benar benar akan timbul berkelahian diantaranya.
"Jelaskan terlebih dulu pa, apa salah Alfa." ucapnya membuat papa Alfa berbalik, ingin rasanya ia memukulkan bogemnya kepada anaknya.
__ADS_1
"Agni mengancam dan mencoba membunuh Kevin beserta istri dan anaknya, kamu masih diam Fa? Apa sebegitu bencinya kamu sama Adel sampai kamu tidak merestui hubungan mereka? " Alfa ikut membelalakan matanya, ia tau bahwa Kevin sudah menikah dengan Adel, tapi ia tidak tau jika Agni mencoba membunuh Adel dan cucunya, cucu.....? Bahkan Alfa tidak tahu Kevin sudah mempunyai anak?
"Anak pa? " tanyanya mencoba memperjelas ucapan papahnya.
"Ia Adel sudah mempunyai anak, apa kamu tau bahwa ia mempunyai cidera otak traumatik, bukankah melahirkan dalam keadaan ini sangat beresiko? " lagi lagi Alfa terdiam, bagaimana jika Anes (istri Alfa) tau bahwa Kevin sudah mempunyai anak, dan Agni mencoba membunuhnya. Ia akan sangat terluka mengingat Anes sangat menyetujui hubungan Adel dan Kevin. Sayangnya orang tua Anes melarangnya.
"...... " Alfa masih terdiam
"Taukah kamu Fa, siapa yang menyebabkan Adel menderita cidera otak traumatik berat..... Kamu dan ayah mertuamu. Kamu ingat waktu kamu menemui Adel di Amerika memintanya untuk meninggalkan Kevin, malam itu juga Adel mengalami kecelakaan hebat dan meninggalkan luka yang berat sehingga Adel benar benar meninggalkan Kevin " jelasnya membuka lebar hati dan mata Alfa, bahwa semua derita yang Adel lalui selama ini karna Alfa.
*
"Ra, aku mau ke swalayan dulu, apa kamu mau ikut? " tanyanya kepada Ara yang sedang menyusui putrinya. Sayangnya putrinya sudah terlelap, dan mulai melepaskan gigitanya pada ****** Adel. Adel menggeleng pelan kepada suaminya, lalu melihat putrinya yang benar benar terlelap karna begitu kenyang menyusu.
Ia sendawakan terlebih dulu putrinya agar tidak terjadi aspirasi."Kamu saja Kev, kasian Cila baru tidur." pintanya kepada Kevin, lalu meletakan Cia di tempat tidurnya. Kevin mencium kening istri dan putrinya dengan lembut lalu berdiri menyambar jaketnya.
Aspirasi paru adalah kondisi masuknya benda asing ke dalam saluran pernapasan akibat tertelan atau terhirup.
"Baiklah aku sendiri saja, ada yang kamu butuhkan Ra? " tanyanya kepada istrinya yang sedang menyelimuti putrinya.
"Beli apa saja yang diperlukan Kev. " ungkapnya pasrah kepada suaminya.
"Baiklah aku pergi sayang, baik baik ya. " ucapnya berlalu meninggalkan istri dan anaknya.
"Ia.... hati hati. " balas Adel kepada Kevin yang mengikutinya sampai garasi mobil. Melihat bayanganya di spion mobil hingga tak terlihat lagi wajah tampan suaminya.
Ia kembali ke dalam rumah, langkahnya sampai di samping bad dimana Cila tertidur, bahkan pintu belum ia tutup. Namun rasa nyeri di kepala belakang menyerang dengan hebat. Jika dikaji dengan pengkajian Wong Beker skala nyerinya sampai di angka 10. Dan itu menandakan bahwa rasa nyeri tidak dapat dialihkan.
Pengkajian nyeri menurut Wong Beker
Adel berjalan hendak meraih pereda nyerinya, namun langkahnya terhenti karna serangan hebat itu membuatnya hilang kesadaranya. Ia terjatuh ke lantai dan tak sadarkan diri. Hampir 1 jam Adel tak sadarkan diri, hingga sebuah tangisan bayi terdengar nyaring ditelinganya.
__ADS_1
Bayi yang berusia 4 bulan ini, sudah mulai berpindah posisi tepat di pinggir bad. Cila hampir terjatuh, sedangkan Adel perlahan membuka matanya, dengan berat kelopak matanya ia buka, namun suara tangis itu membuat ia harus berdiri. "Cila..... " pekiknya lirih berusaha berdiri dari lantai namun apalah daya, badanya seperti mati, air matanya mulai bercucuran, ia takut anaknya terguling ke lantai.
"Cila...... "