Gadis Liar

Gadis Liar
26


__ADS_3

"Ya... Kenan memang sangat mencintaimu, aku hanyalah mantan yang diminta Kenan untuk berpura pura berpacaran denganya. " jelas Asha yang membuat Zela menajamkan pendengaranya dan mengartikan semua ucapan Asha.


"Kenapa kamu... "


"Kenapa aku mengatakanya? Karna sudah terlalu lama aku mengenal Kenan, dia menyayangiku karna aku seperti adiknya, dan itu bukan cinta, melainkan hanya rasa peduli sebagai teman. " jelas Asha yang kemudian memegang bahu Zela. "Dia takut Arion terluka jika kalian bersama, jadi dia menjadikanku tameng. "


"Apa yang kamu katakan benar itu Sha? " Zela menanyakan kebenaranya, mengingat Ken masih baik padanya saja Asha sangat berterimakasih. Sudah cukup rasanya Asha membohongi orang lain.


"Jujurlah Zel pada Arion, aku yakin Arion akan melepasmu dengan senyuman. Karna hidup dengan orang yang tidak kita cintai itu menyiksa. " Asha berlalu meninggalkan Zela yang


masih membisu dan fikiranya entah kemana.


"Apa mengakui perasaanmu sesulit itu Ken. " kecewa itulah yang dirasakan oleh Zela, untuk kedua kalinya, Ken membohongi perasaanya.


*


Pagi ini bahkan semua penghuni tenda sudah bangun dengan aktivitas paginya. Arion, Ken, Saka, Kevin, Ayla dan Ayra sedang memainkan voli pantai dengan lawan Axel, Attala, Aldi, Asha, Adel, dan Lea.


Entah kenapa gadis kecil Axel memang sangat hobi dengan semua jenis olahraga, dirinya dengan lihai melakukan smash. Bahkan serv atas yang selalu diumpan akan membuat tangan lawan terasa panas.


Keyla, Zara, dan Zela, mereka asik menyiapkan makanan untuk semuanya. "Key putrimu sangat mahir kalau bermain voli. " puji Zara pada Adel. Keyla memganggukinya, pasalnya gadis itu memang menyukai olahraga sejak kecil. Mengingat di Amerika dia selalu dipadatkan dengan ekstrakulikuler diluar jam sekolah.


"Dadd Ara jadi toser. " ucapnya berpindah posisi dengan Axel. Memang giliran Adel melakukan serv. Sengaja ia umpankan pada Ayra yang tidak terlalu jago bermain volli. Jika dilihat memang lemparan bola yang dilakukan Adel diputar, sehingga ketika serv atas, bola itu memutar dan akan terhempas keluar jika yang menerima kurang pandai.


"Ay... Tuker posisi" teriak Kevin pada Ayra. Mengingat Adel sudah melakukan serv atas 5 kali, dan itu mengarah ke Ayra. "Tetap diam disitu, dan jangan bergerak ketika bola melesat didepanmu. "Pinta Kevin.


Benar saja Adel mengumpankan bola pada Ayra, namun posisi Ayra yang diam, membuat pemain lain sangat mudah menerima bola. Pukulan pertama mengarah ke tosser sehingga diumpankan pada pamain kedua untuk melakukan smash. Ken melakukan smash dengan sangat pelan yang diarahkan tepat mendekati net.


Tidak dengan tangan, karna bola jatuh samping Adel. "Bugh" 1 tendangan membuat bola melambung sangat tinggi ke atas. Adel berlari menjauh untuk memberikan posisi kepada pemukul kedua untuk menerima bola. Lagi lagi bola diarahkan kepada Adel dengan sangat cantik. Membuat tangan Adel gemas untuk melakukan smash tepat mengenai pojok lapangan yang membuat posisi belakang susah menerimanya.


"Yess.... Teriaknya riang membuat semua pemain lawan mengeluh karena poin sudah mencapai 25. Akhirnya game over dan dimenangkan oleh tim Adel.


"Ara kan menang, jadi boleh donk minta apa aja. " pintanya dengan senyum manjanya. Ken dan Arion sudah berfikiran negative, sudah pasti permintaanya yang aneh aneh. "Jangan aneh aneh Ra. " Ken lagi lagi menasehati adiknya.


"Bang Ken gendong daddy, terus bang Ar gendeng bunda, Ayla gendong Asha, Saka gendong ayah, Kevin gendong om Aldi, dan Ayra gendong Adel. " sesaat ucapan Adel membuat tim lawan mendesah kesal. Keyla, Zara dan Zela tersenyum mendengar permintaan Adel yang aneh.

__ADS_1


Setelah sesi gendong menggendong selesai, mereka menikmati makananya dan berencana pulang ke rumah masing masing.


"Om, Kevin mau pamit ngajak jalan Ara. " pamit Kevin pada Keyla dan Axel, dengan senang hati mereka memberikan restu. Membuat Adel bersorak ria. "Hati hati dijalan Vin. " pinta sang mommy kepada kekasih putrinya itu.


Saka tampak murung melihat. Kevin dan Adel bersama. "Biasa aja ngliatinya Sak, gue tau loe naksir adek gue. " Ken menyenggol lengan Saka yang sedari tadi pandangan matanya tak lepas dari genggaman tangan mereka.


"Ngomomg apa loe Ken? " Kenan memainkan matanya menggoda Saka. Lalu tertawa mengejeknya "loe kalah start si sama Kevin. " jelas Arion yang membuat Saka semakin kesal kepada Arion dan Ken.


"Ayo kita pulang. " teriak Ayla dan Ayra yang bersiap untuk pulang. setelah selesai beberes akhirnya mereka kembali ke kediaman masing masing. Seperti biasa Kenan mengantarkan Asha sampai kerumahnya.


"Ken, aku ingin bicara. " Kenan mengikuti Asha masuk kedalam rumahnya. Seperti biasa Kenan dengan santainya duduk di sofa ruang tamu.


"Bisakah kita akhiri hubungan ini. " pinta Asha membuat Ken membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Asha. Kembali ia tajamkan telinganya seolah yang didengar itu salah.


"Apa ucapan mamahku kemarin mengganggumu? " Asha tersenyum, menatap lelaki yang memang masih sangat ia cintai.


"Ken, sadarlah, naluri seorang ibu juga meminta yang terbaik untuk anaknya, jadi hubungan pura pura ini tidak harus diteruskan. Rasanya akan menyakiti orang lain, dan aku..... " lidahnya kelu seakan tidak bisa melanjutkan ucapanya.


Kenan memeluk Asha, seribu kesalahan kepada Asha karna memanfaatkanya hanya sebagai tameng. "Maaf Sha. "


"Tidak Ken, kamu memang benar mencintai tidak harus memiliki, tapi melihatnu bersamaku, namun hatimu bersamanya itu membuatku merasa kejam. " jelas Asha yang air matanya sudah turun seperti air hujan.


"Ken..... " panggil Asha yang dijawab dengan sebuah deheman yang halus. "Bagiku, kamu masih menganggapku teman itu sudah cukup, jadi berhentilah membohongi diri kamu sendiri, dan kalau boleh memberi nasihat jujurlah kepada Zela. "


"Kapan aku mengatakan kalau aku suka Zela. " Asha tersenyum menatap wajah Kenan. " Memang kamu tidak pernah mengungkapkan apapun, tapi perilakumu menjelaskan segalanya Ken. "


"Sebegitu terlihatnya kah, sampai kamu benar benar jelas melihat perasaanku pada Zela? " Asha mengangguk.


"Sangat jelas Ken, jadi berhentilah seperti anak kecil. " Kenan tersenyum melihat Asha yang sudah tidak menangis namun sudah cerewet kembali.


"Kita teman. " Ken menunjukan jari kelingkingnya untuk disatukan. Asha dengan semangat mengeluarkan kelingkingnya lalu menautkan ke kelingking Kenan.


*


Sudah lama Kevin ingin mengajak Adel bertemu dengan oma dan opanya. Sore ini oma dan opanya dirumah, sehingga Kevin mengajak Adel untuk mengunjungi mereka. "Ini rumah siapa Kev? " masih saja Adel memanggilnya dengan nama, tidakkah kurang mesra, tapi baginya panggilan sayang itu begitu alay.

__ADS_1


"Wah Kevin siapa ini? " tanya oma Kevin memainkan matanya, opanya sedang asik menyiram bunga di taman depan. Kevin langsung memeluk oma dan opanya, kemudian disusul oleh Adel yang ikut mencium pucuk jari oma dan opanya.


Mereka masuk ke dalam rumah yang elit, tidak terlalu besar namun menampilkan furniture langka yang harganya menguras ATM. Seorang Art dengan sigap membuatkan minum dan hidangan kecil untuk Adel dan Kevin.


"Cantik.... nama kamu siapa? " tanya oma Kevin yang sedari tadi sedang menatap Adel dengan tatapan penuh tanda tanya. Ya Adel ingat wanita ini adalah wanita yang pernah ia tabrak di lift ketika Adel datang mengunjungi Kevin di rumah sakit.


"Adellaura Shava oma namanya." jelas Kevin. Namun omanya menggelengkan kepalanya, pertanda bukan hal itu yang dimaksud. "Kamu gadis yang bertemu dengan oma waktu di rumah sakit kan? Apa waktu itu juga kamu mengunjungi Kevin? " Kevin membelalakan matanya, sedangkan Adel hanya tersenyum malu dan mengangguk.


Kevin menatap Adel dengan tatapan penuh penjelasan. "Ra... Jelasin! Apa maksud oma? " opa dan oma Kevin hanya tersenyum melihat perdebatan kecil diantara mereka.


"Ia waktu kamu dirawat, aku datang mau menjengukmu tapi tidak jadi. " jelasnya dengan rasa malu. Bahkan Adel mengutarakan bahwa sejak saat bertemu Kevin, Adel juga merasa terganggu dengan kabarnya.


Senyum Kevin melebar, ia sangat bahagia walau hal ini sudah terlewat lama, namun rasanya lega, karna perasaannya dan Adel sama. "Oma, kenalin dia gadis yang menolongku waktu itu. " jelas Kevin dengan bangga memperkenalkan gadisnya.


Oma dan opanya kaget, seorang gadis cantik seperti Adel berani mengambil resiko menolong seseorang yang sedang di kejar 5 preman. "Wah, opa salut sama kamu na, kamu kecil tapi pemberani. " puji opanya kepada Adel, membuatnya seperti terbang dengan segala pujian oma dan opa Kevin.


"Oh ia, dia juga adeknya Kenan. " seperti sebuah tradisi atau takdir bahwa percintaan yang turun temurun, namun sejarahnya memang tidak pernah ada yang berjodoh, dan semoga saja Adel dan Kevin berjodoh sampai dipelaminan dan sampai tua nanti. Begitu harapnya mereka kepada hubungan Kevin dan Adel.


Setelah lama berbincang, karna memang Adel sendiri sangat ramah, membuat mereka asik mengobrol. Kevin berpamitan untuk mengantarkan gadisnya pulang.


"Masih ingin jalan atau pulang. " Kevin memberikan 2 opsi untuk Adel, pasalnya memang mereka jarang sekali bersama, semenjak kelas XII sering melakukan try out dan tambahan pelajaran di sore hari.


"Jalan" ungkap Adel malu. Kevin menganggukan kepalanya sambil memegang jemari Adel, rasanya sangat bahagia bisa bersama dengan kekasihnya, ingin rasanya waktu seperti ini berhenti begitu saja. Sepertinya Kevin belum ingin membahas tentang kelanjutan studinya. Karna masa hangat seperti ini masih ingin mereka lalui.


Makan disebuah restoran bersama saja membuat hatinya berbunga bunga, apalagi bersanding denganya selamanya. Mengenal lebih jauh tentang pasanganya bagi keduanya adalah sejarah yang akan terukir indah suatu saat nanti.


"Ra..... " Adel sesaat beralih dari jalanan yang ramai ke wajah Kevin yang memanggil namanya dengan senyum yang indah. "Bisakah kamu berjanji, akan selalu menungguku seberapa lama itu." Adel dengan semangat menganggukan kepalanya.


"Apa kamu juga akan menungguku seberapa lama pun itu." dengan yakin Kevin menjawabnya "Pasti, ini janjiku untukmu Ra. " jelas Kevin.


Tak lama mereka sampai di depan rumah Adel. Mereka masih setia duduk dimobil, Kevin merogohkan tanganya ke sakunya, untuk mengambil cincin yang sedari tadi disimpanya


"Ra.... " Kevin memasangkan sebuah cincin yang cantik, sesaat membuat Adel seakan terhipnotis dengan cincin manis yang disematkan oleh Kevin. Lalu diciumnya punggung tangan Adel dengan lembut. "Makasih" ucap mereka secara kompak.


Kevin merangkulkan tanganya di pundak Adel. Adel masih asik bermain dengan ponsel Kevin, tanpa berniat turun dan masuk ke rumah. Sesaat ia terfokus dengan beberapa notifikasi yang diabaikan oleh Kevin.

__ADS_1


"Kev..... " Adel memperlihatkan ponsel Kevin. Tampak jelas beberapa panggilan dari pihak rumah sakit jiwa, tetap diabaikan, mengingat janjinya, Adel akan menjadi prioritasnya. Namun Adel membuka pesanya, dan betapa terkejutnya melihat pesan yang dikirim oleh pihak rumah sakit Jiwa.


"Kev... " Adel memperlihatkan sebuah pesan yang tidak pernah diduganya. Kevin dengan sigap merebut ponselnya, dan kembali menghubungi nomor rumah sakit. Air matanya mulai berjatuhan membuat Adel ikut meneteskan air matanya.


__ADS_2