Gadis Liar

Gadis Liar
93


__ADS_3

"...... " Adel terdiam


"Jangan menjadi pengecut seperti ini Ra" tantangnya kepada Adel.


Lelaki seperti apa Saka ini, kenapa ia malah menyuruhnya menemuinya dan menyelesaikan kegundahanya. Apa tidak apa apa bagi Saka. "Lalu denganmu? " tanyanya, Adel memang berniat membuka hatinya untuk Saka setelah Kevin menikah.


"Ra aku akan menerimamu kapanpun saat kamu akan berbalik kepadaku."


"..... " Adel masih terdiam, ia hanya takut akan memulainya kembali, antara takut, kecewa dan tidak dapat menghadapi apa yang tidak sesuai dengan keinginanya.


"Ra..... Aku tidak mau bersamamu jika kamu terpaksa, melihatmu bahagia dengan yang lain aku pun senang, walau rasanya sakit. " jawabnya dengan bijak. Saka memegang tangan mungil itu, tangan yang selalu ia pegang dengan penuh sayang.


"Pulanglah, selesaikan urusanmu, pernikahan Kevin hanya dihitung dengan jari, jangan menyesal kemudian." ucapnya menepuk pundak Adel. Siapa yang tidak tahu, bahkan satu rumah sakit mengira Adel adalah kekasih Saka. Sayangnya hanya sahabat karip.


"Aku pulang," dengan nada manjanya ia mencembungkan pipinya "aku akan istirahat dulu." ijinya, namun Saka bergerak cepat menggandeng tanganya, mengajaknya makan bersama.


"Sak mau ajak aku kemana? " tanyanya heran karna Saka menariknya menuju basment.


"Makan dulu" ajak Saka kepada Adel. Mobil kembali membelah jalanan, mobil dengan atap terbuka menyibak bebas wajah dan rambut mereka.


Sesaat mereka berhenti di lampu mereh. "Apa makan bersama bos termasuk inventarisku sebagai dokter? " tanyanya dengan penuh senyum, Saka selalu seperti ini, di depan kru operasi, bahkan didepan pejabat dia terkenal galak, tapi didepan Adel dia lelaki yang sangat lembut.


Saka tergelak, ada ada saja ucapanya yang membuat ia tersenyum. Saka mengusapkan tanganya di punggung tangan, bukan di pundak namun di punggung tangan. "Jika kamu miliku maka semua waktuku milikmu Ra. " jelasnya lalu mengecup tangan Adel.


Disisi lain Kinan yang sedang menuju rumah Kevin melihat Adel dan Saka. Sangat mesra, kenapa Kinan sering sekali memergoki Saka dan kekasihnya.


"Nakal" keluh Adel pada Saka. Saka hanya tertawa jahil.


"Ra, aku ini lelaki normal, jadi jika ada kesempatan kenapa tidak. " jelasnya kepada Adel, membuat pipinya menyemu. Hatinya memang tidak bisa menerima Saka. Tapi perlakuanya itu memang sweet sekali.


Setelah Adel sampai dirumah ia membersihkan tubuhnya, ia berfikir tentang ucapan Saka. Ucapanya memang benar, ia tidak bisa menjadi pengecut seperti ini.


Adel melajukan mobilnya ke rumahnya, ia memakai masker, dan kacamata, rambutnya ia tutup dengan kerudung yang hanya menutup kepala atasnya. Anak rambutnya ia biarkan tergerai bebas. Ia memasuki rumahnya, disana ada security yang berjaga.


"Maaf non, cari siapa? " security tersebut sudah bukan yang dulu, bahkan penjaga rumahnya sudah berganti.


"Bapak Kevinya ada? " tanya Adel dengan ramah.


"Maaf anda siapa? " tanya security tersebut.


"Ahhh... Saya temanya." jelasnya dengan nada santai.


"Silahkan masuk nona. " pinta security tersebut. Adel menyipitkan matanya, tanda ia tersenyum ramah pada security tersebut. Nona, umurnya sudah 34 tahun, tapi masih dipanggil nona, sungguh karismanya begitu luar biasa.

__ADS_1


Langkahnya memberat, nafasnya mulai menyesak. Namun tekadnya ia bulatkan. Ia berhenti di sebuah pohon, melihat Kevin, Kinan, abang, mba Zela, dan kedua orang tuanya begitu akrab, dan bercanda tawa, ada juga tampak Cila yang juga bercakap cakap akrab denganya.


Langkahnya berhenti disitu. Apakah tekadnya benar, ia tidak mau merusak kebahagiaan ini. Toh lambat hari Kevin akan mencintai Kinan, apalagi kalau Kinan kelak punya anak. Lagian Kinan juga wanita baik baik, kenapa ia tidak bisa seperti Saka, yang mencintai tanpa pamrih. Jarinya saling meremas, ia takut, sedih dan juga sakit hati melihat pemandangan tersebut.


Adel berbalik, ia berlari keluar dari rumahnya sendiri. Benar rumah ini sudah bukan rumahnya lagi, bahkan kehadiranya sepertinya tidak diharapkan. Matanya memerah, ia sudah tidak kuat ingin menumpahkan cairan bening di matanya. Hingga ia melewati post security, dan masuk ke dalam mobilnya, barulah ia duduk termenung dan menangis.


Mobilnya terparkir agak jauh dari rumahnya, sehingga ia bisa dengan leluasa menumpahkan air matanya. Rasa sedihnya begitu dalam, siapa yang tak sedih, orang tua, kekasih dan anaknya bahagia bersama wanita lain yang akan jadi keluarga barunya. "Sedangkan aku apa.... Siapa aku bagi mereka. " kepalanya ia pukulkan di stir mobil. Ia berjalan dengan mobilnya menyusuri jalan, dimana kemudinya mengarah ke arah sirkuit.


Saka yang sedari tadi memantau Adel, ia menemukan bahwa Adel berada di sirkuit, dengan cepat ia berlari menuruni lift, rasa khawatir menguasainya. "Kenapa dengan Ara, kenapa ia sampai di temat ini kebali? " tanyanya penasaran.


Sesampainya di area sirkuit, Saka meneliti kembali dimana lokasi Adel. Mobilnya berjalan cepat di arena sirkuit, lalu Saka menyusulkan mobilnya dengan cepat pula. Mobil mereka saling berkejaran, hingga Saka menambah kecepatan untuk membuat mobil Adel dalam keadaan posisi tersudut.


"Ckiit" Kepala Adel terbentur dengan keras pada stir mobil. Saka dengan cepat membuka mobil Adel yang sudah lecet dan rusak.


"Ra..... " teriak Saka, hingga Adel menatap Saka.


"Biarkan aku mati Sak! Biarkan aku mati. Hidupku seperti sudah tak ada artinya." jelasnya frustasi, ia menjatuhkan kepalanya di stir bundarnya, dengan cepat Saka. memegang keningnya agar tidak terbentur stir.


"Ra... Dengar.... Aku setengah mati melakukan segala cara agar kamu kembali, sekarang kamu seperti ini, hanya karena seorang lelaki? "


"Bukan hanya Kevin, kedua orang tuaku, abang, istrinya dan anaku bahkan tidak mengharapkan diriku." jelasnya. Mengingat Cila memang sudah dua hari tidak menghubunginya. Ia ingat pertengkaranya dengan Cila terakhir kali karna Cila bersikukuh akan menggagalkan pernikahan ayahnya.


"Ra.... Meski seluruh dunia membencimu, aku akan selalu dibelakangmu, mendukungmu dan menjadi penguatmu Ra." Saka merengkuhkan kepala Adel di pundaknya, iba itulah yang dirasakan Saka pada Adel.


Bagi Saka kesehatan Adel adalah yang utama, bahkan dirinya masih mengontrol keseluruhan fungsi tubuhnya. Mengingat ketidaksadaran Adel selama hampir 8 tahun itu merusak memori dan fungsi syarafnya.


*


"Mas bagaimana kalau yang ini? " tanya Kinan mencoba memakai gaun yang berwarna peach. Lamunanya terhenti, ia teringat Adel yang waktu SMA ia tolong dari dalam kolam renang memakai gaun peach. Lamunanya tak henti dan menatap Kinan dengan serius.


"mas... " panggil ulang Kinan pada Kevin.


"Ia Ra.... " jawabnya, membuat Kinan mengatubkan bibirnya, ia kecewa hingga sekian lama Kevin masih belum melepaskan ingatan tentang Adel.


"Maaf Ki, aku teringat...... " Kinan memotong kalimatnya dengan berbalik dan pergi ke arah ganti.


"Ki.... "


"Ki... " teriak Kevin pada Kinan, ada rasa kecewa kepada Kevin karna ia belum bisa melepaskan mantan istrinya.


"Ki maaf... " ucap Kevin menarik tangan Kinan. "Maaf kalau aku.... "


"Kenapa harus minta maaf, aku ini hanya wanita yang kamu cari sebagai pengasuh Cila." ambeknya.

__ADS_1


"Bukan gitu Ki... " Kinan berjalan dengan cepat menuju area parkiran di samping jalan, ia berjalan menyusul Kinan yang ngambek. Kevin dengan cepat memeluknya, ia meminta maaf karna selama ini memang perasaanya tak bisa berpindah begitu saja.


Disisi lain ada Saka yang sedang mengemudi dengan Adel, ia juga akan mencari gaun untuk datang ke pesta pernikahan Kevin dan Kinan. Sesaat percakapan mereka terhenti membuat Saka meneliti apa yang membuat Adel terdiam.


Saka dengan cepat memalingkan wajah Adel, "cukup Ra, jangan buat hati kamu sakit, esok adalah hari pernikahanya, tidak baik kamu terlalu larut dalam kesedihan. " pintanya kepada Adel. Adel masih menurut, ia masih dalam rengkuhan Saka. "Coba saja perasaanmu sejak dulu untukku, kamu akan aku buat sebahagia mungkin." batin Saka.


*


Tibalah hari dimana Kevin dan Kinan menikah, Cila sangat cantik dengan gaun berwarna navy, Ayra masih yakin akan menggagalkan pernikahan Kevin dengan membawa Adel kemari, tapi batang hidung Adel saja tidak terlihat.


Suasana sangat meriah di gedung milik keluarga Kinan, namun wajah Kevin cemberut. Ia sudah tidak tahu cara menggagalkan pernikahanya, atau mungkin ini jodohnya.Tapi hatinya tetap tidak tenang.


Keluarganya begitu bahagia, apalagi semua keluarga besar dari keluarga Markle, Kinan, Kenan, Zela dan Attala berada disana.


Sedari tadi Cila mondar mandir, ia menanti bundanya. Hingga tubuhnya tak terasa menabrak Abi yang juga datang ke kediaman Kinan. "Kamu kenapa mondar mandir Cil? " tanyanya kepo.


Cila menatap dengan tatapan tak suka. Lalu Dilan datang menyusul Abi dan Derrick. "Hai putri cantik bagai bidadari turun dari surga. "


Cila, Abi, bahkan Derrick memanyunkan bibirnya jengah, mendengar gombalan Dilan, dan mereka membuang muka. "Alai banget loe Lan." ucap Derrick mengejek Dilan.


"Biarin wlee.... " Dilan menjulurkan lidahnya lalu merangkul Cila. Cila dengan kasar menarik tanganya dan memelintirnya.


"Sakit Cil... " ucapnya sambil mengerang kesakitan.


Dilain tempat Saka dan Adel sudah membelah jalanan "nervous Ra? " tanya Saka meledek, Adel memanyunkan bibirnya.


"Ketebak yah?" Saka menganggukan kepalanya. Lalu mengambil jari Adel, mengusapnya dengan pelan. Tak lama mereka sampai di halaman gedung tempat Kevin dan Kinan menikah.


"Sak, berhenti di taman aku mau ketemu Cila." pintanya kepada Saka, dengan cepat Saka memarkirkan mobilnya di samping taman.


Hari sudah semakin larut, detik waktu menunjukan pukul 20.00 dimana waktu pernikahan akan dimulai, Kevin dan Kinan sudah duduk bersama di depan meja penghulu, Ayra sangat cemas, bagaimana ia membuktikan bahwa Adel masih hidup bahkan orangnya saja tidak terlihat.


"Ay.. Kamu kenapa?" tanya Arion, Ayra hanya menggeleng, ia tak berani mengaku, karna tidak ada bukti kalau Adel masih hidup. Sekalipun ia memberitahukan kepada semua orang, jika Adel tak muncul ia akan diremehkan.


"Bagaimana.... kalian sudah siap? " tanya Axel kepada keduanya. Kevin tampak diam ia tidak menjawab, namun anggukanya menandakan ia menyetujuinya. "Baiklah mari kita mulai.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau......... " Kevin tampak meneteskan air mata, hatinya sakit ketika akan menjawabnya.


"Saya trima nikah dan kawinya Kinan....... Dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai. " kalimatnya bergetar ia sangat takut mengucapkan kalimat sakral ini.


"Bagaimana saksi sah? "


"Tidak sah" semua orang menatap Zela yang mengatakan bahwa pernikahanya tidak sah.

__ADS_1


"Ada apa ini Zel? " tanya Kenan kepada Zela, Zela dengan cepat mengatakan dengan lirih kepada Kenan. Lalu Kenan membisikan kepada Axel dan Keyla.


__ADS_2