Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
ujian sekolah


__ADS_3

"Bunda, Ica berangkat dulu yah," ucap seorang gadis ketika baru saja keluar dari kamarnya.


Khaliesah gadis sma berusia 16 tahun. Dia adalah gadis sederhana yang menutup kepalanya dengan sebuah jilbab. "Ica" begitulah orang di sekelilingnya memanggilnya. Dia bukanlah gadis cantik yang seksi atau berkulit putih, namun Ica adalah gadis manis berlesung pipit, gadis sederhana yang begitu hangat dan ceria.


"Ehh enggak sarapan dulu nak ?" ucap bunda Lidya yang sedari tadi menyiapkan sarapan di atas meja.


"Enggak bun Ica lagi buru-buru soalnya ada ujian. " jawab Ica sambil berjalan menuju sang bunda untuk salim (mencium punggung tangan bunda Lidya) dan segera berangkat kesekolah.


Pukul 06.45


Ica tiba di sekolah.


"Assalamu alaikum cha'." Icha berbalik menatap ke arah sapaan itu.


Dengan tersenyum manis Ica pun membalas salam tersebut.


"Wa'alaikum salam Danu."


Danu adalah siswa XII ipa. Dia adalah murid yang bisa dibilang cukup pintar di kelasnya. Sudah sejak setahun ini Danu memiliki perasaan pada Ica. Anak ips yang selalu terlihat hangat di matanya.


Mereka pun larut dalam obralan sambil berjalan masuk ke sekolah.


"Ica kamu sibuk enggak sabtu ini, " tanya Danu saat mereka akan berpisah untuk menuju kelas masing-masing.


"Nggak sih, emang kenapa ? " ucap Ica dengan senyum khasnya yang menunjukkan lesung pipinya, yang membuatnya terlihat begitu manis.


Danu pun di buat salah tingkah melihat senyuman itu. "Mmm boleh gak kalau aku ngajak kamu jalan ?" tanya Danu dengan suara lirih. Danu takut jika Ica akan menolak ajakannya untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


Yahh Danu memang sudah sering mengajak Ica jalan karena Danu memang ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan gadis itu. Tapi sayangnya Ica selalu menolak ajakannya.


Ica memang bersikap hangat dan baik pada semua temannya tapi tak sekalipun ia pernah terlihat memiliki hubungan yang spesial dengan siswa manapun di sekolah.


Beberapa siswa pun sering mendekatinya dan bahkan menyatakan cinta padanya. Tapi tak sekalipun Ica menerimanya, ia tak pernah ingin berpacaran dan sejujurnya sang ayah pun melarangnya untuk berpacaran.


Ayah Herman pernah bilang. "Kamu adalah amanah yang harus ayah jaga. Jadi jangan pernah kecewakan ayah".


Ica pun hanya tersenyum sejujurnya ia tak paham apa yang di maksud oleh sang ayah.


Namun Ica tak pernah membahas masalah itu. Karena sejujurnya ia tidak mempermasalahkan permintaan Herman itu karena Ica memang tak ingin mengganggu sekolahnya dengan membuang waktunya untuk berpacaran.


,. Kembali ke Danu.


Ica tersenyum menatap Danu.


"Kamu udah tau kan jawaban aku apa," jawab Ica sambil tetap tersenyum simpul pada d


"Sekali saja cha please." pinta Danu sedikit memohon.


"Nggak bisa Danu, Maaf yahh." Ica menepuk lengan Danu dan pergi menuju kelasnya.


Tak lama ujian pun berlangsung.


"Cha ntar belajar bareng yuk," ucap Dita saat menghampiri bangku Ica. "Masih ada beberapa soal yang belum aku mengerti buat ujian besok," lanjut nya.


"Boleh boleh!! "

__ADS_1


"Kalau begitu kita pulang bareng saja, biar langsung kerumahku." Dita


"Ehhh enggak usah aku harus pulang dulu belum ijin sama bunda nanti bunda malah panik nyariin." Ica


"Mmmm ok deh chat aku aja kalo kamu mau kerumah. Pulang yuk !!" Dita menggandeng tangan Ica berjalan keluar kelas.


Dita rahayu Sahabat Ica sejak awal masuk sekolah. Dia adalah siswi berparas cantik bertubuh tinggi dan berkulit putih. Dita sangat populer di sekolahnya. Karena wajahnya yang cantik dan sikapnya yang ramah dan periang. Dita mudah bergaul dengan siapa saja, karena itu banyak pria yang menyukainya di sekolah.


"Dita !! " teriak Danu berlari menghampiri Dita.


Dita hanya mengernyitkan keningnya melihat Danu yang sudah ngos-ngosan memegang lututnya.


"Dita please dong bantuin aku, Ica lagi-lagi nolak ajakan jalan aku tadi," rengek Danu sambil memegang lengan Dita.


Dita hanya diam, ada perasaan getir didadanya melihat Danu yang hingga setahun ini masih saja kekkeuh mengejar Ica sahabatnya.


Yahh, sudah sejak lama Dita menyukai Danu, namun dia tak pernah mengutarakan perasaannya karena Dita tahu Danu hanya menyukai sahabatnya.


Dita tersenyum melepas tangan Danu dari lengannya. "Kamu kan tahu Ica, jadi percuma saja aku membantumu karena jawaban Ica akan tetap sama." ucap Dita dengan tenang berharap Danu tidak akan melihat kekesedihan dimatanya.


"Dita please..." Danu menangkup kedua tangannya, menggosok-gosokkan telapak tangan itu, memohon dengan wajah memelas.


..


..


..

__ADS_1


..


..


__ADS_2