
Sepertinya kamu sangat lelah. Lagi - lagi Harun merebahkan kepalanya di sandaraan sofa dengan mata tertutup.
Tidak, aku hanya sedang menikmati kebersamaan ini. Rasanya begitu menyenangkan bisa duduk berdua denganmu menghabiskan waktu seperti ini.
Apanya yang menikmati ?? Diakan cuma duduk diam menutup mata seperti itu. Tapi ya sudahlah aku juga sangat bahagia kan bisa melihatnya seperti ini. "Batin ica".
Jika kamu lelah istirahatlah di dalam, kita masih bisa duduk seperti ini lain waktu...
Tanpa menjawab Harun langsung mengubah posisi duduknya lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Ica.
Mas...
Hussttt. Jari Harun membungkam mulut Ica. Sebentar saja please ...
Sepertinya kamu sedang banyak pikiran, apa ada masalah di tempat kerjamu ??
Tidak, aku hanya merasa sedikit capek.
Heh bagaimana kamu tidak capek jika setiap hari selalu pulang larut. Ketus Ica.
Harun membuka mata membalikkan tubuhnya menatap Ica. Maaf !! kini Harun melingkarkan tangannya di pinggang Ica, menenggelamkan kepalanya di perut datar istrinya.
Mas..... Ihhh gelli tauk !! Ica memberontak merasa tak nyaman.
Harun tak bergeming justru semakin mengeratkan pelukannya.
Diamlah biarkan aku beristirahat sejenak. Suara Harun sedikit mengeras.
Membuat Ica bungkam seketika.
__ADS_1
"Ihhh apaan sih nih orang suka semaunya sendiri." batin Ica
Degdeg degdeg, jantung Ica mulai berontak. Duhh enggak akan di dengar sama dia kan ?? Gimana kalau iyah ?? Yah Tuhan malunya diriku ?? Ica terus saja membatin.
Harun tak hentinya mengulum senyum mendengar detakan jantung Ica yang seakan sedang menabuh dram. Kamu harus bisa mencintaiku !! Katanya dalam hati.
---------
Ayah bunda .. Harun dan Ica pamit. Harun menciumi Punggung tangan Herman dan Lidya, bergantian dengan Ica.
Hati - hati nak, sampaikan salam ayah dan bunda untuk mama dan papamu.
Baik yah.
Melihat perubahan raut di wajah Lidya, Harun merengkuh tubuh mertuanya itu dalam pelukannya. Jangan sedih bundaku sayang, besok aku akan membawa Ica mu pulang.
Seulas senyum terukir di wajah Lidya, bunda tidak akan sedih jika Ica bersamamu. Terima kasih !! Lidya mengusaap lembut pipi Harun.
------
Di mobil..
Harun tak bersuara hanya fokus pada jalan di depannya.
Ica menatap separuh wajah Harun intens.
Kenapa dia bisa begitu baik ?? Dia bahkan memperlakukan orang tuaku sama seperti orang tua kandung nya sendiri. Ica kembali mengenang momen pertamanya melihat ke akraban Harun dan Sinta, kemudian mengingat kejadian di rumahnya tadi. Tidak ada kecanggungan sama sekali, bahkan matanya menunjukkan ketulusan. "Perang batin Ica."
Kenapa menatapku begitu lama ?? Apa kamu sangat merindukanku ?? Tanya Harun tanpa menoleh.
__ADS_1
Issshh apaan sih mas, Ica menggembungkan pipinya kessal. Kenapa dia selalu bisa tahu apa yang ku lakukan, bahkan tanpa melihatku.
Mataku mungkin tidak melihat, tapi hatiku bisa merasakannya. Kata Harun seolah tahu apa yang di pikirkan Ica.
Tuh kan !! Upss ica membungkam mulutnya dengan tangan. Kok bisa keluar sih, ketahuan beneran kan.
Harun terkekeuh melihat tingkah istrinya.
Sudah mengabari mama ?? Tanya Ica mengalihkan.
Harun menggeleng.
Ica mengambil ponsel dalam tasnya. Lalu mengirim pesan singkat pada Sinta.
"Mah Ica mengirimkan hadiah untuk mama, sebentar lagi mungkin akan datang" Ica
"Kenapa repot seperti itu sayang." Sinta
"Tidak mah, Ica tidak merasa di repotkan." Ica
Chatingan sama siapa kok senyam senyum gitu ??
Ehh !? enggak kok mas, bukan siapa - siapa. Ica tersenyum kikuk mengayunkan ponselnya.
Harun menatap penuh curiga.
..
..
__ADS_1
..
..