
Keputusan Harun untuk hidup berdua dengan istrinya ternyata melebihi ekspektasinya.
Hubungannya dengan Ica semakin dekat, rasa cinta di antara mereka terus bertumbuh setiap harinya.
Mereka layaknya seorang remaja yang tengah di mabuk kasmaran.
Bahkan terkadang Dita merasa risih melihat sepasang suami istri itu.
----
Dita dan Ica baru saja menyelesaikan kelasnya, seperti biasa Ica selalu keluar dengan terburu - buru karena Harun selalu meluangkan waktu untuk menjemputnya.
"Ica..... Tungguin !!" teriak Dita berlari mensejajari langkahnya dengan sahabatnya itu.
"Selalu deh kayak gini, kenapa sih enggak mau banget nungguin aku, kan enggak lama," protes Dita memanyunkan bibirnya.
Iya maaf, kamu kan tahu mas Harun menunggu di depan.
Ya elah Cha, kayak mas Harun bakalan marah saja kalau kamu telat keluar beberapa menit.
"Yah enggak bakalan marah sih, tapi kan kasian. Kamu saja enggak suka di suruh menunggu." Tuding Ica melirik dengan kesal.
Melihat Harun yang keluar dari mobilnya, Ica langsung berlari kecil menghampirinya, meninggalkan Dita yang Semakin mendengus kesal karena kembali di abaikan.
Harun menyambut kedatangan istrinya dengan senyum yang mengambang sempurna, di raihnya tubuh itu ke dalam pelukannya sembari mengecup singkat pucuk kepala Ica yang terbungkus kerudung.
"Maaf yah mas, kamu kelamaan nunggunya." sesal Ica dengan suara manjanya.
Tidak kok sayang, mas Harun belum lama datangnya.
Dita semakin menggeleng melihat adegan di depannya.
Cih, dasar abg !! Enggak lihat apa ini tempat umum, malah sayang - sayangan di sini. Ahhh, jiwa jomblo ku serasa terzolimi, hikss.
"Mas Harun !!" sapa Dita yang sudah berdiri di samping Ica, melirik kesal ke arah sahabatnya itu.
Ica malah tersenyum tak berdosa.
__ADS_1
Ehh Dita, kamu mau sekalian ikut kita ??
"Ahh, tidak mas, Dita ada mobil kok," tunjuk Dita ke arah parkiran.
Harun, mengangguk setelah melihat ke arah yang di tunjuk Dita.
"Kalau begitu kita duluan yah," pamit Harun dan segera melajukan mobilnya.
------
Di mobil..
Mas, kamu langsung ke kantor habis ini ??
Iya sayang, maaf yah meninggalkanmu sendirian lagi.
"Hem, enggak apa - apa kok mas." Ica tidak lagi melanjutkan pembicaraannya, ia hanya menatap kosong ke arah jalanan yang seolah bergerak begitu cepat. Harun meliriknya sesaat, lalu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Loh mas, kok malah jalan terus, rumah kita kan....." Ica menggantung kalimatnya, menunjuk bingung ke arah jalan yang seharusnya di lalui suaminya.
Harun tersenyum penuh arti membuat Ica semakin bingung karena tak mendapatkan jawaban.
"Apa ini kantornya mas Harun yah ??" fikir Ica masih mengedarkan pandangannya, sejak menikah ia memang sama sekali tidak pernah datang ke kantor Harun.
Tanpa berkata apapun, Harun menggandeng tangan istrinya menuju lift dan segera membawa Ica ke ruangannya.
Karyawan yang lalu lalang menyapa dengan sopan, karena beberapa dari mereka sudah pernah melihat Ica saat acara resepsi pernikahan atasannya itu.
"Haii Ica, apa kabar ??" Sapa Dito dengan bahagianya, sebelum Harun dan Ica memasuki ruangan.
"Haii kak, alhamdulillah baik kok." jawab Ica dengan kikuk.
"Tolong ambilin minuman dingin yah To',"pinta Harun, lalu segera membawa Ica masuk ke ruangannya.
"Mas, ini kantor kamu ??" tanya Ica tanpa melihat suaminya, matanya masih sibuk menjelajahi seisi ruangan itu.
" Kok malah ngajak Ica ke sini mas ??" imbuhnya.
__ADS_1
"Dari pada kamu bosan di rumah sendirian, lagi pula sudah hampir jam pulang kantor, kalau ada kamu di sini, mas kan jadi punya alasan untuk tidak lembur," jelas Harun sambil cengengesan.
"Dasar !!" Ica malah tertawa melihat ekspresi suaminya. Tak butuh waktu lama Dito sudah datang dengan membawa dua minuman kaleng beserta snacknya.
"Mas, berhenti memelukku seperti ini, kapan pekerjaanmu akan selesai jika kamu seperti ini terus." Ica mulai risih dengan sikap Harun yang malah manja - manjaan di kantornya.
"Hemm, biarkan seperti ini, aku ingin memelukmu sebentar saja, diamlah dan jangan cerewet seperti itu."
"Lain kali aku tidak mau lagi ikut denganmu ke kantor. Cerewet cerewet, siapa yang tidak akan cerewet jika memiliki suami sepertimu, heh ?"
Harun berdecak kesal melepaskan pelukannya, dengan perasaan dongkol dia kembali ke mejanya.
Ica tertawa kecil melihat kekesalan suaminya.
Siapa yang akan menyangka leleki dingin sepertinya memiliki sifat yang begitu manja.
Saat sedang asyik membaca novel tiba - tiba Wirawan masuk ke ruangan Harun.
"Ehh, anak kesayangan papa ada di sini," seru Wirawan lalu mengecup pucuk kepala Ica.
"Kok enggak ngomong sih istri kamu ada di sini, malah si Dito tuh yang ngasih tau papa," lirik Wirawan pada anak semata wayangnya.
"Maaf pa, Harun langsung lanjut kerja, jadi lupa mengabari papa."
"Heh, langsung lanjut kerja dari hongkong ??" gumam Ica melirik sinis suaminya.
Bagaimana kuliahmu nak ??
Alhamdulillah lancar pah.
Mmm, Wirawan menganggukkan kepala. Mereka berdua mengobrol cukup lama, membiarkan Harun menyelesaikan pekerjaannya.
..
..
..
__ADS_1
..
..